• info@lazismu.org


Guru Ahsin Memilih Mengabdi di SD Muhammadiyah Meski Lulus Seleksi Non-ASN

17/09/2019

Semarang – LAZISMU. Perawakannya sedang, kulitnya sawo matang, murah senyum dan ramah kepada siapapun. Itulah kesan pertama yang terpantul dari seorang guru muda, yakni Ahsinun Nikmah. Biasa disapa Ahsin, usianya 23 tahun. Sehari-hari mengabdi di sekolah dasar milik persyarikatan Muhammadiyah Kota Semarang.

Berprofesi menjadi guru adalah cita-citanya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Terlahir dari orang tuanya yang berprofesi sebagai guru. Darah guru yang mengalir di tubuhnya berasal dari sosok ayah yang dulu merangkap kepala sekolah di sekolah dasar (SD) Muhammadiyah 16. Di sekolah itu Ahsin pernah menjadi peserta didik dan sekarang bertugas mengajar di sana.

Baginya banyak kenangan masa kecil yang bisa diceritakan di setiap kesempatan saat melihat di berbagai sudut sekolah itu. Menjadi guru, kata Ahsin adalah panggilan jiwa. Di sekolah inilah ide-ide kreatifnya terasah untuk mengembangkan kemampuan dirinya dalam dunia pendidikan. Apalagi sekolah yang berada di jalan Tegalsari Perbalan, Wonotingal, Kecamatan Candisari, Kota Semarang.

Ahsin mengajar sebagai guru kelas mata pelajaran Bahasa Inggris. Di lain waktu Ahsin juga meluangkan waktunya memberikan keterampilan kepada siswa-siswi dan aktif membina peserta didik dalam kegiatan pramuka. Di sekolah Ahsin dipercaya juga sebagai asisten kepala sekolah untuk tata kelola administrasi perkantoran dan kegiatan di luar sekolah.

Di tengah rutinitasnya Ahsin mengaku senang. Mengabdikan diri untuk lembaga pendidikan merupakan pengalaman yang mengasyikkan. Kepala sekolah SD Muhammadiyah 16, Nur Fuadah, mengatakan, memercayakan tugas kepada Ahsin karena ingin memberikan kesempatan pada guru yang lebih muda untuk berkembang. “Dengan menyalurkan potensi, Ahsin diharapkan dapat berkreasi lebih maksimal untuk sekolah,” katanya.

Mengajar adalah tantangan tersendiri bagi Ahsin. Di antara puluhan anak didiknya, justeru dia banyak belajar dari karakter anak yang beragam. “Ada yang penurut dan tidak sedikit juga yang bermasalah,” kisahnya. Tugas guru mendampingi dan memberikan motivasi agar peserta didik dan guru bisa memecahkan persoalan bersama-sama.

Salah satu peristiwa yang membuat terharu kepala sekolah, ketika beberapa waktu lalu, Ahsin mengikuti seleksi dan lulus sebagai calon pegawai non-Aparatur Sipil Negara (ASN). Kabar gembira itu membuat kepala sekolah bahagia. Ahsin mengungkapkan, kepala sekolah memberikan kebebasan kepada semua guru sekolah untuk mengikuti seleksi ASN maupun non-ASN.

Pada saat pemberkasan non-ASN, beberapa guru yang dinyatakan lulus tes non-ASN tidak hadir di sekolah. Kepala sekolah merasa kehilangan beberapa guru berkualitas seperti Ahsin. Dalam kondisi itu kepala sekolah harus segera mengambil tindakan guna menjaga kelangsungan proses pembelajaran di sekolah. Dia harus menyusun ulang semua rencana kegiatan yang telah berjalan, rapat darurat pun di gelar siang itu.

Berbagai kemungkinan dengan bayangan resikonya berkecamuk dalam pikirannya. Dalam kondisi itulah dirinya benar-benar merasa kehilangan seorang asisten dan guru yang banyak memberikan motivasi dalam membantu menyukseskan setiap kegiatan sekolah. Seakan dirinya mendadak kerdil.

Kepala sekolah menunggu rapat dimulai dengan memikul kegundahan. Memandang setiap guru yang masuk ruangan dengan harapan yang tidak menentu. Meski semua guru sudah hadir, tidak seorang pun dari mereka yang mampu mencairkan suasana. Dengan suara berat, kepala sekolah tetap memulai rapat darurat hari itu juga.

Rapat sudah berjalan, tiba-tiba terdengar suara salam dari luar ruangan. Hadir seorang yang tidak diharapkan. Betapa terkejutnya semua orang, ternyata yang datang Ahsin. Harusnya Ahsin mengikuti pemberkasan calon pegawai non-ASN. Nyatanya, Ahsin memilih hadir di ruang rapat sekolah.

Sontak suasana di ruang rapat berubah total. Isak tangis kepala sekolah dan guru-guru lainnya pecah karena kedatangan Ahsin dengan komitmen yang tak terduga. Semua terharu, kepala sekolah langsung menggagalkan rapat yang sedang digelar, kedatangannya sudah cukup menjawab semua permasalahan yang dipikul sekolah tersebut.

Berdasarkan penelusuran tim media Lazismu, sekolah dasar tempat Ahsin mengajar menjadi bagian dalam program pendidikan di Lazismu. Karen aitu, Lazismu, menjadi satu lembaga amil zakat nasional yang memiliki peran dalam mendukung sekolah dasar itu dalam fase perkembangannya.

Hasan selaku Kepala Kantor Lazismu Kota Semarang saat dihubungi (17/9/2019), mengatakan peran Lazismu selama ini antara lain memberi bantuan beasiswa, bantuan guru, dan bantuan fisik sekolah. Bahkan setiap bulan, lanjut Hasan, melalui program Save Our School (SOS), Lazismu membantu operasional rutin kepada 5 sekolah.

Pada semester pertama 2019 beasiswa diberikan kepada 280 siswa SD, pada semester ini ditingkatkan menjadi 400 siswa. Termasuk bantuan guru yang akan diberikan pada bulan November, saat peringatan milad Muhammadiyah. Tidak hanya di sekolah tempat Ahsin mengajar, Lazismu juga memberikan bantuan beasiswa dan bantuan guru untuk 28 sekolah dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menegah atas.

Bagi Ahsin sendiri, ketika ditanyakan tentang peran Lazismu, terhadap dunia pendidikan, Ahsin menilai peran Lazismu selama ini sangat strategis untuk membantu mereka yang membutuhkan melalui donasi dan amanah donatur (muzaki). Pendidikan merupakan pilar terpenting dalam pemberdayaan masyarakat lewat dana zakat, infak dan sedekah.

Dalam kacamata Lazismu, Guru Ahsin merupakan sosok guru yang memegang teguh komitmennya. Diperlukan guru yang luar biasa untuk mengajar di sekolah yang biasa-biasa saja. Karakter pantang menyerah Ahsin dalam menghadapi segala keterbatasan bukanlah segalanya. Komitmen itulah yang telah dibuktikan dengan tindakan seorang guru, seperti Ahsinun Nikmah yang telah banyak menyumbangkan prestasi di sekolah itu. (cs)