• info@lazismu.org


Kolaborasi MPM - Lazismu Deklarasikan Jatam, 5 Sumur Artesis di Sigi Resmi Dimanfaatkan Petani

04/09/2019

Palu – LAZISMU. Pemberdayaan petani bagian dari gerakan Al-Maun yang diinisiasi Muhammadiyah. Dalam usaha penguatan kapasitas petani, pengenalan produk pertanian yang bernilai ekonomi tinggi merupakan sebagian dari pendekatan Muhammadiyah dalam mengedukasi agar para petani dapat melakukan inovasi.

 

Suatu lahan pertanian perlu difasilitasi dengan sarana pengairan yang memadai. Selain sebagai sumber penghidupan lahan pertanian, sumber air juga menghidupkan keberlangsungan masa tanam dan masa mengetam bagi petani. Langkah ini ditempuh Majelis Pembedayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah dengan menginisiasi gerakan Jamaah Tani Muhammadiyah (Jatam).  

 

Jatam dideklarasikan dengan memfasilitasi petani dengan penggalian lima sumur artesis. Sumur artesis langsung diresmikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir di Sigi, Palu, Sulawesi Tengah (31/8/2019). Disaksikan para petani yang tergabung dalam Jatam, Haedar mengatakan, PP Muhammadiyah menghargai upaya yang dirintis MPM yang merambah Sulteng untuk Jatam pertama di luar pulau Jawa.

 

Buah kerjasama MPM dan Lazismu selama ini senafas dengan gerakan Al-Maun Muhammadiyah, kata Haedar. Selain ada MDMC yang mengurus bidang kebencanaan, keberadaan MPM di beberapa tempat di kawasan tertinggal, terluar dan terpencil (3T) turut membuktikan kiprahnya.

 

MPM telah mengupayakan peningkatan usaha tani mulai dari produksi dan pasca usaha tani. "Nikmat Allah tidak bisa dihitung. Betapa diberi nikmat Allah SWT sedemikian rupa, alam dan kekayaan yang besar. Indonesia sangat kaya, bagaimana memanfaatkan anugerah itu secara berkemajuan," sambung Haedar.

 

Haedar berharap Jatam Sulteng harus menjadi petani berkemajuan. Menurut Haedar, kelemahan pertanian kita jika sering didiamkan tidak akan mengalami kemajuan. Banyak produk yang bisa diproduksi tetapi masih impor. Bangsa penjajah datang ke Indonesia salah satunya memperebutkan kawasan yang kaya produk pertanian dan perkebunan. 

 

"Di Donggala ini menghasilkan Kopra. Petani bukan jamaah yang malas. Jika pertanian tidak maju, yang disalahkan petani kita malas. Padahal bukan. Banyak yang menyebutkan penelitian, petani kita gigih dan pekerja keras. Memiliki sifat komunal, perasaan jiwa bersama. Dan tidak kenal lelah. Kelemahan kita mungkin di sektor teknologi," terang Haedar.

 

Maka Jatam, lanjut dia, Muhammadiyah perlu melakukan inovasi teknologi untuk meningkatkan produk pertanian. Sektor teknologi harus kuat. Di samping SDM juga perlu ditingkatkan. Petani harus punya jiwa mandiri.  Percaya yang dilakukan dan tidak meminta bantuan ke orang lain, tetapi terbuka untuk bekerja sama.

 

Dia menjelaskan watak seorang petani di antaranya sabar, tekun, tidak kenal lelah, telaten, dan  mandiri. "Banyak jalan menggerakkan persyarikatan, salah satunya lewat Jatam,” tutupnya. (muhamamdiyah.or.id/na)