• info@lazismu.org


Mengayuh Di Jalan Dakwah, Lazismu Serahkan 10 Unit Sepeda ke Santri Ponpes Zam-zam

20/01/2020

Banyumas – LAZISMU. Suasana di desa santri Pondok Pesantren Modern Zam-zam Muhammadiyah Cilongok telah banyak berubah sejak berdiri beberapa tahun silam. Seiring dengan inovasi tata kelola dan bangunan fisik pondok, kini Ponpes Zam-zam banyak diminati masyarakat dari dalam dan luar Jawa.

Ponpes Zam-zam berdiri sebagai pusat ilmu pengetahuan dan agama berbasis pesantren modern Muhammadiyah yang telah mencetak generasi yang islami dan unggul. Tercatat 1.358 santriwan dan santriwati saat ini tengah mondok dan belajar di ponpes ini.

Dalam upaya membangun masyarakat desa di sekitar pondok, Ponpes ini memiliki program di bidang keagamaan salah satunya para santri diterjunkan ke masyarakat untuk mengajar TPQ dan membimbing generasi muda supaya lebih kuat dalam ilmu agama. 

Setiap sore beberapa santri berkeliling ke masjid dan musala di sekitar pondok untuk mengajarkan anak-anak supaya bisa baca tulis Al-Qur'an, dan menguatkan ilmu agama. Derap langkah kaki para santri setiap harinya dapat meninggalkan jejak ilmu bermanfat dalam jalan-jalan desa menuju tempat pendidikan Al-Qur'an.


 
Dengan keterbatasan fasilitas, Ponpes Zam-zam bersinergi bersama Lazismu Banyumas dalam menjalankan kegiatan program TPQ tersebut. Lazismu Banyumas memiliki program bernama Dai Mandiri dengan salah satu kegiatannya adalah penguatan guru TPQ serta Dai Pedesaan.

Program ini sebelumnya telah dijajaki sebagai penilaian. Selanjutnya, Lazismu Banyumas telah menyerahkan 10 unit sepeda untuk para santri pengajar TPQ. Sepeda tersebut diserahkan secara simbolis oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah ( PDM ) Banyumas, Ibnu Hasan dalam acara peresmian gedung kantor PDM Ahad lalu. Sehari setelahnya sebanyak 10 unit sepeda dikirim dan diserahkan langsung kepada santri pengajar TPQ oleh divisi program Lazismu Banyumas, Habib Amrillah.

Habib menyampaikan tujuan program ini untuk memfasilitasi dan menguatkan para santri dalam mengajar TPQ, karena tanpa guru TPQ mustahil anak-anak bisa baca tulis Al-Qur'an selain di sekolah dan lingkungan keluarga. “Para santri masih remaja maka mereka lebih senang bersepeda berkeliling bersama teman-temannya,” tandasnya.

Sepeda-sepeda itu kini telah berada di tangan para santri yang siap mereka kayuh di jalan dakwah. Dalam rangka menggembirakan dakwah di desa-desa dan mencetak anak-anak yang pandai baca tulis Al-Qur'an dan berjiwa Qur’ani. (hb)