Mengenal Kampung “Pemulung” Kiringan Binaan IMM dan Lazismu Kota Magelang, Tiga Tahun Idul Adha Tanpa Hewan Kurban

14/08/2020

Magelang – LAZISMU. Di Magelang Jawa Tengah, terdapat sebuah kampung yang bernama Kiringan. Sebuah kampung yang berada di Kelurahan Tidar Utara, Magelang Selatan. Orang pada umumnya mengenal sebagai kampung pemulung. Mayoritas warganya bermata-pencaharian sebagai pemulung.

Ciri khas kampung ini, hampir sama dengan lokasi-lokasi kampung pemulung lainnya, kumuh, setiap petak rumah berdinding kayu atau triplek. Lokasinya yang terpencil, menandakan kampung ini lebih tampak seperti lapak apalagi berada di sisi sungai Dadali.

Kampung ini pernah ditertibkan oleh pemerintah kota setempat. Perhatian pemerintah dan masyarakat juga tertuju bagaimana kampung ini memiliki kelayakan hunian yang aman dan nyaman.

Di mata mahasiswa, kampung ini sudah sangat dikenal. Seperti komunitas mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Magelang, pernah melakukan pemberdayaan hingga sampai saat ini yang berkolaborasi dengan Lazismu Kota Magelang. Lokasi ini menjadi tempat sebagai kampung binaan mereka.  
 
Abdul Qodir salah seorang amil Lazismu, mengabarkan bahwa kampung itu belakangan ini menjadi perhatian. Bermula dari informasi komunitas IMM Magelang. Karena itu, sebagai langkah pembinaan di dalamnya ada Taman Pendidikan Alquran (TPA) yang dikelola IMM Magelang, tiga kali dalam sepekan.

Idul Adha kemarin, Lazismu Kota Magelang menyalurkan hewan kurbannya di kampung pemulung ini. Sebanyak 15 ekor kambing disembelih sebagai amanah pekurban. Kurang lebih ada 10 kepala keluarga yang menghuni kampung itu. Abdul menambahkan, tiga ekor kambing dibagikan kepada warga setempat, dan daging segarnya dimasak untuk dinikmati makan siang.

Seorang amil Lazismu Kota Magelang, Fury Fariansyah, menyeritakan, ketika kambing-kambing yang akan dikurbankan itu diturunkan di pinggir jalan, puluhan warga menyambutnya. Mereka mengawal untuk membawa sampai di kampungnya. Jalannya gelap tanpa penerangan. Bermodalkan senter ponsel cerdas, hewan kurban itu siap di antar hingga kambing pun enggan berjalan.

Karena gelap, dan jalan setapak, salah seorang warga terjatuh ke dalam semak-semak. Jembatan bambu itu rapuh yang mengakibatkan dia terjatuh, kata warga lainnya. Namun, semua tetap yakin karena perjuangan harus tetap berjalan, akhirnya hewan kurban dari para pekurban yang menitipkan di Lazismu Kota Magelang tiba di Kampung Pemulung Kota Magelang.

Selebihnya, ada dua belas ekor kambing yang kita salurkan di sekitar kota Magelang. Sebanyak 250 kantong dibagikan kepada masyarakat yang berhak menerima sesuai data yang ada dari Kantor Layanan Lazismu di tiga kecamatan, Magelang Tengah, Magelang Selatan, dan Magelang Utara.




 

Ketua Lazismu Kota Magelang, Andi Triyanto, mengutarakan, bahwa di tahun ini, Lazismu melaksanakan dua program. Pertama, mengemas daging kurban dalam bentuk kaleng Rendangmu, dan kedua, menyalurkannya kepada penerima manfaat secara langsung setelah di sembelih di hara raya kurban.

“Ini bagian dari program kurban secara nasional yang bertema Qurban Untuk Ketahanan Pangan. Di saat pandemi Covid-19, Lazismu berupaya membuat program daging kurban dalam bentuk Rendangmu yang bisa diawetkan selama kurun waktu dua tahun,” pungkasnya.

Ia berharap dengan dikemas daging kurban akan lebih tepat sasaran bagi penerima manfaat, meski kurban sudah berlalu. Lazismu juga menyalurkan hewan kurban di lereng Merapi di Desa Wonolelo, Sawangan sebagai program penguatan syiar dakwah di kawasan Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu (PM3).
                
Tahun ini Lazismu Kota Magelang mentasarufkan amanah kurban sebanyak 18 kambing dan 1 sapi. Kami Lazismu Kota Magelang mengucapkan terima kasih atas kepercayaan para sahibul kurban yang telah mengamanahkan hewan kurbannya melalui Lazismu Kota Magelang. Semoga menjadi amal baik dan bermanfaat.

Suroso selaku Koordinator Kampung Pemulung, mewakili warganya menyampaikan terimakasih kepada Lazismu Kota Magelang yang selama ini selalu peduli dengan kawan-kawannya yang senasib menjadi pemulung. Menurutnya, salah satu kegiatan kurban ini sangat bermanfaat. “Karena sejak tiga tahun tinggal kampung ini, baru kali ini ada hewan kurban yang dislaurkan di sini untuk warga,” tandasnya. (fhr)