• info@lazismu.org


Pengobatan Skabies Lazismu-FK UI, 50 Persen Santri Daarul Ishlah Sembuh

23/07/2019

Jakarta Selatan – LAZISMU. Hidup yang bermanfaat dapat diwujudkan dengan membantu antar sesama manusia. Kebermanfaatan itu dilakukan oleh Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI).

Melalui pilar kesehatan, Lazismu bekerjasama dengan FK UI menyelenggarakan Program Peduli Kesehatan Skabies kali ketiga di Ponpes Daarul Ishlah, Warung Buncit, Jakarta Selatan, Sabtu (20/7/2019).

dr. Rahmaniar Desianti Kuraga, Dokter FK UI mengatakan pengobatan skabies ini haruslah serentak. “Dari Depkes sudah jelas, pengobatan skabies itu harus massal. Karena penyakitnya menular. Minggu pertama diobatin, minggu kedua diobatin kembali, dan ini minggu keempat ada yang sembuh berapa, yang belum sembuh berapa.” ucapnya saat ditemui awak media Lazismu, Sabtu (20/7).

Untuk pertemuan yang ketiga ini, pengobatan skabies pada santri ponpes Daarul Ishlah dikatakan sebagian besar sudah sembuh. “Alhamdulillah sebagian besar sembuh, jadi tidak perlu dioleskan (obat) lagi” jelas dr. Niar.

Namun, ia mengatakan ada yang masih gatel-gatel, dan itu perlu dioleskan obat lagi. Selain itu, masih ada infeksi seperti kutu air, atau alergi-alergi yang gejalanya mirip skabies, tapi sebetulnya bukan skabies.

Dokter FK UI itu menambahkan, untuk penyakit skabiesnya sendiri sebagian sudah selesai (sembuh). “Karena skabies ini sebagian kecil masih belum sembuh, maka masih memiliki potensi untuk muncul kembali, karena sifatnya menular.

 “Skabies ini sebagian kecil, masih dapat menular. Potensi nya sangat tinggi untuk menularkan karena mereka tinggal barengan, satu kamar, sangat mungkin menularkan ke temannya. Jadi, tidur dialas yang sama, sarung bergantian, kontak sama temannya.

Maka, pihaknya menargetkan edukasi kepada santri untuk mencegah agar tidak saling menular skabies dan memahami gejala skabies dini.

“Target kita edukasi, gimana caranya agar tidak saling menular. Pertama mereka harus tau gejala temennya yang kudis itu gimana; gatel malam hari di sela jari tangan, pergelangan tangan, ketiak, bokong, puser, dada, mohon maaf kemaluan, atau sela jari kaki itu sangat mungkin terjadinya kudisan/skabies lagi. Jadi kalau bisa, hindari tukeran pakaian, hindari tidur di kasur yang sama,” jelasnya.

Laporan perkembangan pengobatan skabies ini, dari minggu pertama ditemukan 90 santri positif skabies, kemudian di minggu ke dua itu 60-70 santri masih terdapat gejala skabies. Yang positif skabies saya hitung 90 santri, terus yang minggu kedua itu 60-70 santri yang gejalanya masih ada, positif tungou nya masih ada,” terangnya.

Pihaknya berharap, untuk minggu keempat ini semuanya dapat sembuh. “Di minggu keempat ini kita harapkan semuanya hilang (sembuh). Jadi, yang udah sembuh sekitar 50 %,” tutupnya di sela-sela kegiatan tersebut. (bp)