• info@lazismu.org


Perkuat Pilar Ekonomi Desa, Bronikmu Jawaban Mengurai Kusutnya Kartel Peternak Ayam

06/11/2019

Klaten – LAZISMU. Kolaborasi produktif antara Lazismu dan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah meluncurkan gerakan pemberdayaan berbasis jama’ah melalui ternak ayam organi (Bronikmu) di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten pada Selasa, 5 November 2019 adalah ikhtiar mewujudkan pilar ekonomi Muhammadiyah sebagai amanat Muktamar Muhammadiyah pada tahun 2015.  

Ketua MPM Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Klaten, Husni Tamrin, menyambut peluncurannya dengan rasa syukur. Katanya, ini menjadi program yang kali pertama ada dan diprakarsai oleh MPM di wilayahnya.

 

Bronikmu sendiri merupakan jenis ayam sayur yang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan jenis ayam broiler lain. Di antaraya, waktu produksi dan pelihara yang relatif singkat, tekstur daging ayam yang hampir sama dengan daging ayam kampung, serta masa pertumbuhan yang relatif lebih cepat dibandingkan ayam lain yang sejenis.

 

“Ayam sayur ini dikelola dengan cara organik, sama sekali tidak menggunakan pakan pabrikan, sehingga zat kimia tidak terkandug di daging ayam. Karena untuk pakan dan vaksinasinya menggunakan bahan-bahan yang berasal dari buah dan sayur,” jelasnya.

 

Ternak jenis ayam Bronikmu dinilai efisien, mulai dari tebar sampai panen dibutuhkan waktu sekitar 24-25 hari, maka bobot ayam per ekornya sudah mencapai 1,4 kg. Program yang dijalanakan ini rencananya akan dilakukan secara simultan ke daerah-daerah lain, di seluruh Klaten. Tidak menutup kemungkinan untuk dijalankan secara nasional.

 

Sementara perwakilan dari PDM Klaten, Abdul Rodhi, mengatakan, program ternak ayam Bronikmu menjadi yang kali pertama ada di PDM Klaten. Dirinya merasa bangga dan berharap program ini berhasil. Dampaknya meluas dan memengaruhi daerah-daerah lain, sehingga warga persyarikatan dan masyarakat umum lainnya semakin sejahtera.

 

Ia juga berpesan untuk menghasilkan pembeda (difrensiasi) antara produk yang dikelola oleh Muhammadiyah dengan produk sejenis lainnya, ia menilai, perlu upaya memposisikan produk Muhammadiyah di pasar, dengan demikian, konsumen bisa membedakan mana produk Muhammadiyah dan yang bukan.

 

Menyambung hal tersebut, Ketua MPM PP Muhammadiyah, M. Nurul Yamin, mengatakan,  konsep jama’ah ternak Muhammadiyah merupakan kepanjangan aksi dari strategi pendekatan metode dakwah yang dilakukan oleh Muhammadiyah, yang dikenal dengan Gerakan Jama’ah Dakwah Jama’ah (GJDJ). Yamin menganggap penting hal ini untuk diterapkan, karena ajaran Islam harus disebarkan keseluruh penjuru bukan hanya di masjid-masjid.

 

Persebaran dakwah Islam ‘diluar masjid’ ini yang serius digarap oleh MPM, diharapkan konsep Islam sebagai rahmatan lil alamiin mampu mengisi ruang-ruang kosong umat Islam di manapun berada. Karena selain mengisi dan mengguyur iman umat dengan tauhid murni, metode dakwah ini juga bisa meningkatkan kesejahteraan umat. Harapannya, umat Islam terbebas dari ketertindasan, baik secara kultural maupun struktural.

 

“Jama’ah ternak ayam Bronikmu sebagai usaha untuk mengurai kusutnya dominasi kartel peternak ayam di Indonesia. Selain jama’ah ternak, MPM juga membuat jama’ah tani. Bukan hanya di sawah, Muhammadiyah juga memperluas jaringan dakwahnya di hutan, di laut dan di lereng-lereng gunung,” katanya.

 

Yamin juga memuji keberhasilan jama’ah ternak Bronikmu Klaten, di mana sebelumnya telah melakukan uji coba dengan keberhasilan 100%. Dari keberhasilan tersebut mampu meningkatkan kepercayaan umat kepada Muhammadiyah melalui Lazismu untuk menyalurkan zakatnya. (an/muhammadiyah).