• info@lazismu.org


Pipit Anak Petani yang Go International (1)

11/09/2019

Karanganyar - LAZISMU. 1 Juli 2019, Youth Break Boundaries, mengumumkan informasi tak terduga. Sebuah yayasan yang fokus pada pengembangan dan pemberdayaan pemuda untuk mempersiapkan pemimpin masa depan menampilkan 10 nama sebagai delegasi yang lolos dalam International Youth Leadership and Entrepreneurship Summit (ILYES 2019).

Di antara nama-nama yang lolos, ada nama Nur Fitri Fatimah. Biasa dipanggil Pipit. Perempuan berusia 25 tahun itu berasal dari Karanganyar, Jawa Tengah. Pipit lolos diajang bergengsi ini hasil dari ikhtiarnya yang panjang.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Pipit terbilang sosok yang gesit. Selalu berprestasi menjadi juara kelas di SDN 02 Giriwondo. Di tingkat sekolah menengah pertama, dia aktif diberbagai kegiatan, mulai dari OSIS dan Pramuka. Prestasinya cemerlang, peringkat 1 dipertahankannya sebagai siswa bertalenta dan cerdas. Di SMPN 1 Jumapolo, Pipit tergolong luwes dalam bergaul.  

Beranjak ke sekolah menegah atas, SMAN 1 Karanganyar adalah pilihannya, karena di bumi Intanpari, sekolah ini masuk kategori favorit. Selain menjadi pengurus inti Pramuka, Pipit tercatat sebagai delegasi Olimpiade Sains Nasional bidang Kimia mewakili SMA di tingkat se-Jawa Tengah dan DIY.

Saat itu, jarak rumah ke SMAN 1 Karanganyar sekitar 22 kilometer, setiap hari dilaluinya dengan gembira meski berasal dari desa yang terpencil di kabupaten itu.  Anak ketiga dari 4 bersaudara pasangan Loso dan Kiftiyah ini tak pernah patah arang.

Pada 2012, setamat dari SMA, keinginan Pipit untuk berkuliah membuncah. Dia sadar dirinya berasal dari keluarga yang pas-pasan. Skenario Tuhan memberikan jalan berbeda, Pipit mendapatkan beasiswa kuliah S1 di Universitas Sebelas Maret. Setiap bulannya mendapatkan uang pembinaan dari pemerintah.

Kesempatan itu tidak disia-siakan. Kata Pipit, dia tidak ingin menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja. “Menjadi mahasiswa luar biasa adalah pilihan,” katanya. Membahagiakan keluarga dan banyak orang adalah pilihannya. Salah satu caranya, sambung Pipit, harus mengembangkan dan mengenal potensi yang ada dalam dirinya.

Medan kampus tentu berbeda dengan SMA, Pipit memberanikan diri ikut organisasi yang ada di kampus dan di luar kampus. Meski masih semester awal, dirinya aktif di Himpunan Mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia, Kovalen. Di kampus itu pula, Pipit mengikuti kegiatan ekstra kampus di Forum Mahasiswa Islam Karanganyar (Formaiska), Kajian Seluruh Pemuda-Pemudi Karanganyar Bersinergi (Inspirasi), hingga berlabuh di RRC, atau dikenal dengan Rumah Resolusi Cerdas.

Berbagai keterampilan diikuti, mulai dari menulis, kajian ilmiah, hingga pengabdian masyarakat. Semester tiga adalah masa di mana identitas itu begitu membayangi perjalanan hidupnya sebagai mahasiswa. Yang pada akhirnya, Pipit memutuskan untuk bergabung di organisasi baru tingkat fakultas dengan aktif di Lingkar Studi Pendidikan.

Membuka Jendela Dunia

Menyandang status sebagai mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kimia di Kota Batik, merupakan sesuatu yang istimewa. Kondisilah yang memantik Pipit untuk bergiat di berbagai kegiatan, dan tak satupun melunturkan kecemerlangan akademisnya. Dunia sangat luas, karena itu bagi Pipit, membuka jendela dunia penting lewat berbagai cara.

Hal-hal kecil dilaluinya, bahkan sejal semester 3 sampai semester 7, Pipit terpilih sebagai Asisten Mahasiswa untuk mata kuliah Kimia Dasar, Kimia Fisika, dan Kromatografi - Elektrometri. Seminar demi seminar dia ikuti. Menjadi pembicara seminar motivasi hingga berperan sebagai moderator dan pembawa acara di berbagai acara kampus maupun ekstra kampus.
 



 
Berbekal pengalamannya dalam berorganisasi inilah jalan menjadi mahasiswa berprestasi diraihnya. Pipit mengatakan, pernah lolos proposal kreativitas mahasiswa yang didanai Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi sebanyak dua kali. Pipit termasuk dari salah satu utusan dalam delegasi temu nasional bidikmisi.

Selain prestasi itu, beberapa lomba kepenulisan esai dan karya tulis di tingkat fakultas, universitas, provinsi, nasional diikutinya yang berlangsung di berbagai kota di Indonesia. Pipit mendapatkan banyak relasi dari seluruh Indonesia dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Kuliah Pipit berlangsung tertib. Dia lulus tepat waktu pada tahun 2016.

Pipit mengisahkan kembali, jika keluarganya berasal dari latar belakang ekonomi yang lemah. Ayahnya buruh tani. Menggarap sawah milik orang lain yang upahnya tidak seberapa. “Sejak sekolah dasar ayah membantu sawah tetangga,” terangnya.

Rasanya tidak mungkin jika dirinya bisa menempuh pendidikan dijenjang kuliah. Dirinya bersyukur bisa menamatkan kuliah. Pipit selalu mencari beasiswa agar kuliah tetap berlanjut. Ayah selalu mendampingi di rumah ketika anak-anaknya sedang belajar. Tidak terbesit sedikitpun ayah meninggalkan keluarga merantau ke kota besar mencari nafkah. Perhatian ayah pada pendidikan anak-anaknya begitu kuat, kenang Pipit.    

Pipit tidak menyerah begitu saja, dia ingin melanjutkan kuliah strata dua. Doanya terkabul. Saat ini Pipit tercatat sebagai mahasiswa pascasarjana Pendidikan Sains di UNS. Di tengah keterbatasan itu Pipit berusaha memaksimalkan potensinya. Justeru keterbatasannya menjadi cambuk motivasi untuk merubah keadaan menjadi lebih baik lagi. (na)

Kisah selanjutnya tentang Pipit, klik Link berikut : Ajang Internasional