• info@lazismu.org


Ramu Model Bisnis Sosial, KL Lazismu Manggarai Kembangkan Kuliner Pizzamu

26/09/2019

Jakarta – LAZISMU. Menghadapi era industri 4.0, pemerintah memacu pertumbuhan wirausaha baru untuk penguatan struktur ekonomi. Ketimpangan ekonomi dan sosial adalah pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai. Peran negara untuk melakukan perubahan sosial masih di nanti agar program-program yang menyentuh pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat berjalan semestinya.

Untuk menggali potensi pemberdayaan masyarakat, industri kecil dan menengah dianggap dapat memberikan solusi karena sifatnya yang berkelanjutan dan menyasar pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Indonesia membutuhkan 4 juta wirausaha baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

 

Meski jumlah pelaku wirausaha masih sedikit, peluang itu masih terbuka lebar agar hukum pasar yang berbunyi profit-oriented dapat dimaknai dengan tujuan finalnya yakni pemberdayaan. Merujuk beberapa studi bisnis yang sedang berkembang, untuk sewindu terakhir ini, para ahli dan praktisi masih mengharapkan model bisnis sosial (social entrepreneur) sebagai salah satu solusi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di era digital sekarang ini, berbagai macam gagasan platform terus melaju seiring dengan tumbuhnya marketplace. Salah satu upaya strategisnya adalah membuka keran air bisnis sosial.

 

Potensi dana yang dicari bisa dari mana saja, seperti Corporate Social Responsibility (CSR), Crowdfunding dan dana zakat yang sudah dikembangkan oleh beberapa lembaga filantropi Islam di Indonesia.

 

Belakangan ini, lembaga amil zakat nasional seperti Lazismu, terutama di Kantor Layanannya yang ada di Manggarai, Jakarta Selatan, menelurkan model bisnis sosial yang diwujudkan dalam bentuk usaha kecil dan menengah. Dengan mengadopsi implementasi pilar ketiga dakwah Muhammadiyah di bidang Ekonomi, Kantor Layanan (KL) Lazismu Manggarai menggarap industri kecil kuliner.

 

Terlepas dari usianya yang terbilang baru, tim media Lazismu menelusurinya. Apa sebetulnya di balik nilai bisnis sosial yang tengah dijalankannya. Untuk mengulik lebih dalam, Lambang Saribuana selaku Ketua KL Lazismu Manggarai, mengisahkan ikhtiar di balik dapur pemberdayaan ekonomi itu melalui dua model konsep (25/9/2019).

 

Awalnya ide ini terbesit ketika dirinya berkenalan dengan Desvan. Kira-kira setahun yang lalu. Kadang-kadang saling berbagi kabar. Memang sejak kenal Desvan, kata Lambang, kawannya itu sudah berbisnis salah satunya bisnis pizza. Lambang mengaku jika dirinya juga seorang pelaku usaha. Namun dunianya berbeda. 

 

Suatu waktu, Desvan mengajak saya untuk bertemu. Ia ingin berkunjung ke rumah saya. Akhirnya dengan sengaja datang. Desvan mengajak saya untuk menjadi coach bisnisnya. Kebetulan kata Lambang, dirinya memang sebagai coach pengembangan bisnis di Lazismu yang sedang merintis inkubasi bisnis sosial.

 

Namun saya menolak. Karena dia ulet, rajin dan pantang menyerah selalu menghubungi saya. “Desvan selalu kirim pesan melalui whatsapp untuk berdiskusi. Dia kreatif dalam berbisnis,” terang Lambang. Pada akhirnya, hati saya luluh. Tapi dengan catatan Desvan harus bisa bersinergi dengan Lazismu. 

 

Lambang memberanikan diri untuk kembali bertemu Desvan membicarakan soal konsep bisnisnya. Hanya saja, Lambang hadir bersama Bu Irma Nirmala yang pernah aktif di Aisyiyah. Di awal pertemuan itu, Desvan meminta Lambang untuk menjadi coach Pizza Diva miliknya. Lantas, Lambang menjawab tidak berminat. Persoalannya bukan karena tidak menarik, tapi karena jarak yang jauh dan waktu yang tidak memungkinkan.

 

Tak berhenti sampai di situ, Lambang balik bertanya, jika anda berminat, apakah Pizza Diva mau menghibahkan bisnis modelnya ke dalam Lazismu. Desvan mengerutkan dahi, maksudnya bagaimana, tanya Desvan. Lambang menjawab, bolehkah Pizza Diva direbranding ulang jadi Pizzamu?

Pertanyaan yang tak diduga sebelumnya oleh Desvan. Setelah diskusi panjang, Desvan luluh juga untuk menerima tawaran Lambang. Keduanya menyetujui untuk melakukan model bisnis sosial. Seminggu lalu, Lambang dan Desvan bersepakat ke notaris untuk bersinergi mengembangkan  model bisnis ini dalam ikatan kerja sama.




 

Lambang mengatakan tujuannya sudah jelas, memberikan kesempatan kepada orang lain untuk membuka usaha dan mengembangkan bisnisnya jika sudah ada keinginan yang kuat. Bahkan bagi amil Lazismu, lanjut Lambang, juga bisa untuk memulainya termasuk aktivis Muhammadiyah yang ingin merintis usaha dari bawah.

 

Pada prinsipnya Pizzamu menggunakan dua model bisnis, pertama dengan pendekatan waralaba (franchise), kedua dengan pendekatan crowdfunding. Lambang merinci, untuk produknya ada dua segmen berbeda, pertama hanya untuk orang Muhammadiyah, kedua untuk masyarakat kelas menengah ke bawah.      

 

Lambang membayangkan amil Lazismu kelak menggantungkan pendapatannya dari usaha yang lain. Tidak lagi dari seperdelapan asnaf, tapi dari pendapatan mengembangkan usaha dari Pizzamu. Pizzamu sendiri sekarang sudah ada di lima titik. Semuanya berada di Bekasi, seperti di Summarecon, Alun-alun Bakasi, Rumah Makan Wulansari Bekasi, dan lainnya. “Bulan ini di Jakarta akan di buka satu titik lagi,” jelas Lambang.

        

Pizzamu adalah salah satu produk dari PT. Surya Bangun Negeri yang didirikan oleh Desvan. Dan, seluruh keuntungan dari model binis sosial ini masuk ke dalam program pemberdayaan ekonomi KL Lazismu Manggarai. Produk ini sangat mudah dijalankan dengan investasi yang ekonomis. Cocok untuk usaha di lingkungan amal usaha Muhammadiyah, bagi yang berminat silakan datang ke KL Lazismu Manggarai. (na)