• info@lazismu.org


Relawan Muhammadiyah, Berhasil Masuk ke Kampung Terisolir di Kawasan Bogor

06/01/2020

Bogor – LAZISMU. Relawan Muhammadiyah yang bertugas dalam respons bencana banjir dan longsor di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, dikabarkan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Indonesia kepada Lazismu (6/1/2020), berhasil menembus Kampung Sarongge, Desa Cisarua, yang merupakan kampung paling terisolir akibat bencana banjir yang terjadi pada Minggu, 5 Januari 2020.

Keberhasilan menembus Kampung Sarongge, berawal dari rangkaian assesment atas situasi di di lokasi-lokasi terdampak  banjir longsor yang cukup parah dan terisolir. Lokasi sasarannya selain Kampung Sarongge,ada Kampung Leuwijamang dan Kampung Pojok. Pelaksana assesment yang berhasil masuk ke kampong terisolir itu berjumlah 6 orang yang berasal dari MDMC PP Muhammadiyah 2 orang, MDMC Kabupaten Bogor 3 orang dan 1 orang MDMC DIY. 

Untuk menuju Kampung Sarongge tim relawan harus menempuh perjalanan panjang dan sangat berliku sejauh 28 km dari pos pelayanan Muhammadiyah dalam tanggap bencana longsor di Kampung Parigi, Desa Harkat Jaya, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor.

Sebagai gambaran panjang dan berlikunya jalur yang dilalui dari pos layanan Muhammadiyah menuju Balai Desa Harkat Jaya berjarak sekitar 1 kilometer dari pos layanan, itu pun masih bisa ditempuh dengan kendaraan. Beberapa puluh meter dari balai desa itu jalan terputus total sepanjang 2 kilometer.

Itu baru titik pertama tempat terjadinya longsor, masih ada sekitar 27 km jalan untuk sampai Kampung Sarongge. Sepanjang jalan menuju Sarongge,bisa melihat pemandangan banyak punggung bukit yang sudah dan akan longsor (red: ada rekahan-rekahan), jumlahnya mungkin sampai ratusan.

Kampung Sarongge memang tidak terdampak secara langsung terkena longsor namun akses jalan satu-satunya menuju kampung-kampung terdekat di Desa Cisarua terputus total tertutup material longsor berupa lumpur dan pepohonan. Areal yang tertutup material longsor sepanjang sekitar 500 meter yang tersebar di beberapa bagian.

Untuk bisa keluar dari kampungnya warga membuat jalur darurat disela-sela material longsor yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Meskipun masih bisa dilalui, tapi risiko melewati jalur sangat tinggi karena kontur medan mempunyai kemiringan lebih dari 70 derajat dan berada di bibir jurang yang dalam. 





 
Kondisi Kampung Leuwijamang

Sementara itu Kampung Leuwijamang adalah kampung yang terdampak paling parah di Desa Cisarua, letaknya sebelum Kampung Sarongge. Di kampung ini ada 20 rumah terkena banjir dan longsor. Dari 20 rumah tersebut 17 rumah hilang tak berbekas, sementara untuk korban baik luka maupun meninggal dunia tidak ada.

Lokasi hilangnya ke-17 rumah tersebut,merupakan kawasan relokasi warga Leuwijamang dari lokasi tinggal sebelumnya masih di kampung yang sama namun berpotensi longsor. Siapa sangka di tempat relokasi yang baru ditempati 3 tahun tersebut, warga justru tertimpa banjir dan longsor yang sebelumnya dihindari.

Untuk mencapai Kampung Leuwijamang membutuhkan perjuangan berat karena jalur jalan menuju ke sana terputus di tiga titik akibat longsor. Di titik pertama tebing di samping kanan jalan longsor menimpa bahu jalan sehingga menyebabkan bahu jalan tersebut ikut longsor dan hanya tersisa sedikit bagian saja yang bisa dilalui.

Di titik longsor kedua lebih parah lagi karena bahu jalan tertimpa longsor dari tebing di samping kanan dan amblas longsor semua, tanpa menyisakan sedikitpun bahu jalan. Untuk bisa menuju Leuwijamang dan Sarongge melalui jalur tersebut, warga terpaksa harus menuruni tebing dengan kemiringan sekitar 80 derajat dengan kondisi penuh lumpur.

Sedangkan titik longsor ketiga bahu jalan hanya tersisa kurang dari satu meter dan amblas ke jurang yang dalamnya puluhan meter serta sangat curam. Bahu jalan tersisa itu berlumpur dengan kedalaman bervariasi 5-50 cm. 

Saat ini kebutuhan mendesak warga adalah bahan makanan pokok seperti beras, minyak goreng, ikan, roti, telur, daging, mie dan bumbu dapur. Bahan hunian seperti tenda terpal ukuran 4x6 maupun yang rol. Sarana penerangan berupa mesin pembangkit  (genset) untuk lampu emergency yang bisa diisi tenaganya dan peralatan masak seperti tabung gas, kompor, panci, wajan dan dandang. (Sapari-MDMC)