• info@lazismu.org


Rumah Suyono Di Mata Lazismu

02/12/2019

Semarang – LAZISMU. Namanya Suyono, seorang guru sekolah madrasah di Semarang Timur. Pengabdian hidupnya sebagai guru sudah berjalan puluhan tahun. Meski demikian, tidaklah menjamin kehidupan ekonominya menjadi baik. Baginya menjadi guru adalah jalan dakwah,  sekaligus pengabdiannya pada bangsa dengan mendidik murid-murid di sekolah yang sebagian mereka berasal dari keluarga duafa.

Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya Suyono menjual kerupuk yang digoreng sendiri, dikemas dalam kantong plastik ukuran kecil, lalu dititipkan ke warung-warung sekitar rumahnya. Usaha itu sempat dilakoni beberapa tahun, namun karena keuntungannya sangat kecil dan tidak mampu meningkatkan taraf ekonominya, dia mencoba peruntungan dengan berjualan es dan minuman segar.

 

Di awal usahanya dia merasa cukup bagus. Dia merasakan ada harapan untuk usahanya bisa merubah nasibnya. Namun tidak berlangsung lama, belakangan dagangannya kurang laku. Sehari hanya terjual sekitar 10 – 15 gelas, dan hasilnya tidak kembali modal. “Kalo sehari dua hari mungkin masih kuat mas, kalo terus-terusan siapa yang kuat, mending saya hentikan, kata Suyono.

 

Hari Rabu, 27 November 2019, amil Lazismu sempat berkunjung ke rumah Suyono bersama Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Semarang Timur, Bapak homadi sebagai penunjuk jalan, yang lebih menguasai peta wilayah tempat tinggal Suyono. Rumahnya terletak di jalan Sleko, RT 03/011 Bandarharjo, Semarang Utara. 

 

Tempat itu berimpitan dengan sungai Semarang dan berdekatan dengan pusat kota lama Semarang. Jalan masuk ke rumah Suyono cukup sempit, bahkan untuk parkir kendaraan roda dua pun harus di luar gang agar tidak mengganggu orang lewat. Gangnya gang buntu di mana rumah Suyono berada di sisi kanan ujung gang tersebut.

 

Tampak dari depan rumah Suyono, sebuah sumur gali tradisional yang sudah tua, kira-kira seumuran orang tuanya yang tinggal di tanah itu. Di belakang sumur bangunan rumah tinggal Suyono berada dengan lebar muka 3 meter dan ke belakang kira-kira 5 meter panjangnya.

 

Ruangan disekat menjadi dua, ruang yang belakang dipakai sebagai tempat tidur, sedangkan ruang depan dipakai sebagai ruang tamu, yang berfungsi juga sebagai dapur. Lantainya dari semen yang sebagian ditutup menggunakan kertas agar lebih nyaman untuk duduk.

 

Rumah itu dibangun oleh orang tuanya, Mohadi pada 1980. Saat itu Suyono masih muda, dia ingat betul orangtuanya membangun rumah dengan susah payah, sehingga dia harus membantu mengaduk semen, mengangkut material dan menjadi kenek  pelayan tukang.

 

Orangtua Suyono meninggal pada 2000 yang lalu. Sejak itu, ia tinggal di rumah warisan orang tuanya  bersama kakak kandungnya Sukemi. Kondisi fisik kakaknya yang sakit-sakitan dan tidak mampu bekerja, menjadikan Suyono menanggung seluruh biaya hidup kakaknya.

 

Rumah yang dibangun 39 tahun lalu itu belum pernah direnovasi, kayu penyangga sudah lapuk dimakan usia, juga dimakan rayap. Kalau hujan turun atap banyak yang bocor karena penyangga genteng sudah keropos, mengakibatkan gentengnya geser dan tidak rapat. Ada keinginan Suyono untuk merenovasi rumahnya, disela-sela kesibukannya dia sempatkan mengumpulkan kayu-kayu bekas bongkaran bangunan yang dia perkirakan masih bisa dipakai. “tapi berat mas sepertinya saya nggak kuat merenovasinya”.

 

Ketika amil tanyakan di mana kamar mandi dan tempat buang air, Suyono menjawab sambil menunjuk keluar “Tempat mandinya di pinggir sumur yang terbuka itu mas, kalo mandi tetep pakai celana basahan, tidak telanjang” terang Suyono. Dia menjelaskan bahwa sumur peninggalan leluhurnya itu dipergunakan untuk umum, beberapa tetangga yang tidak berlangganan air PDAM juga mengambil air dari sumurnya. “Kalau musim kemarau panjang saat PDAM sulit ngalir, yang mengantri air di sumur saya bertambah banyak”. Suyono juga menyampaikan bahwa sebagian warga kampungnya yang nggak punya WC kalau mau buang air besar mesti berlari ke pinggir sungai, demikian keterangannya.

 

Melalui program Benah Rumah, Lazismu menyalurkan zakat, infak juga sumbangan kemanusiaan guna membantu memberdayakan yang lemah, yang terhimpit keadaan sehingga sulit bangkit dari keterpurukan. Dalam penilaian Lazismu rumah Suyono perlu dibenahi dan di bangun MCK supaya memenuhi standar kesehatan lingkungan dan standar rumah layak dihuni. Saat ini sedang direncanakan tindakan renovasi rumah dan kamar mandi milik Suyono oleh tim Lazismu Kota Semarang bekerjasama dengan beberapa pihak terkait.

 

Zakat berarti bersih, dengan zakat akan membersihkan harta kita dari hak-hak orang lain yang masih menempel pada harta yang kita dapatkan. Zakat juga berarti berkembang, bertambah, dengan zakat menjadikan harta bertambah, dan manfaat berkembang. Semoga Allah memberikan barokah kepada umat-Nya yang selalu memenuhi perintah melaksanakan zakat dan bersedekah karena Allah. Barokallahu fiikum. (cs)