• info@lazismu.org


TB Aisyiyah dan Lazismu Berikan Pendampingan Nutrisi dan Masker Bagi 43 Pasien Tuberkulosis

14/11/2019

Yogyakarta – LAZISMU. Penyakit Tuberkulosis menjadi ancaman yang mematikan bagi negara-negara di dunia. Data dari WHO Global Tuberculosis Report 2016, disebutkan bahwa Indonesia dengan jumlah penduduk 254.831.222, menempati posisi kedua dengan beban TB tertinggi di dunia. TB di Indonesia juga merupakan penyebab nomor empat kematian setelah penyakit kardiovaskular.

Meski tergolong penyakit yang mematikan, Tuberkulosis dapat disembuhkan dengan pengobatan obat anti TBC (OAT) yang tepat. Namun kuman TBC dapat berkembang menjadi resistan atau kebal terhadap OAT, salah satunya dikarenakan ketidakpatuhan pengobatan. Munculnya resistansi terhadap OAT telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di sejumlah negara dan menjadi ancaman dalam pengendalian dengan pengobatan obat anti TBC (OAT) yang tepat.

Berdasarkan WHO Global TBC Report 2017, estimasi kasus TBC Resistan Obat (TBC RO) di Indonesia sekitar 2,8 persen dari seluruh kasus baru TBC dan sekitar 16 persen dari kasus TBC pengobatan ulang. Perkiraan insiden kasus TBC RO di Indonesia sebanyak 32.000, sedangkan perkiraan dari notifikasi kasus TBC tahun 2016 sekitar 11.000. Hingga November 2017, telah ditemukan kasus TBC RO sebanyak 3.458, namun belum seluruhnya diobati, hanya sekitar 2.510 (73 %) yang disebabkan karena pasien telah meninggal dan belum bersedia diobati.

Demikian laporan pendampingan pasien TBC resisten obat (RO) di bulan Oktober 2019 yang dilakukan Community TBC Care ‘Aisyiyah di Yogyakarta. Dalam laporan itu (31/10/2019), SR (Sub Recipient) TB-HIV Care ‘Aisyiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang bekerjasama dengan Lazismu DIY, sudah melakukan kegiatan pendampingan pasien TBC RO.

Pendampingan dilakukan oleh seorang Case Manager dan 4 orang Pasien Supporter yang mendampingi total di bulan Oktober adalah 43 pasien dari Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Bantul.

Di tiga kabupaten berbeda, TB “Aisyiyah melaporkan bahwa data sebaran yang bersumber dari RS/Puskesmas menjadi acuan tempat Pendampingan. Kegiatan pendampingan dilakukan di RSUP Dr. Sardjito dan di Puskesmas sesuai dengan domisili pasien atau di rumah pasien.

Selain pendampingan, pemberian nutrisi dan masker ke pasien dilakukan oleh pasien supporter pada saat melakukan pendampingan pasien di RSUP dr. Sardjito, di puskesmas sesuai dengan domisili pasien maupun di rumah pasien.

Dalam laporan ini, peran dan fungsi SR (Sub Recipient) TB - HIV Care ‘Aisyiyah adalah pelaksana Program Penanggulangan Tuberkulosis (TB) dan HIV-AIDS berbasis masyarakat.  Hal ini merupakan bagian dari program Majelis Kesehatan ‘Aisyiyah dibawah pembinaan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah DIY yang konsen pada upaya - upaya penanggulangan TBC-HIV berbasis komunitas (Community TBC-HIV Care) yang melakukan aktivitas kegiatan Round New Implementing Period di Daerah Istimewa Yogyakarta. (na)