• +6221- 31 50 400
  • info@lazismu.org

Workshop Amil, Tantangan Ramadan dan Lompatan Strategi Fundraising

05/03/2019

Jakarta – LAZISMU.  Dalam gerakan zakat, fundraising berperan penting untuk membangun suatu program yang direncanakan agar program pemberdayaan dan penyaluran zakat berjalan optimal. Di samping itu, lembaga amil zakat juga harus berperan dalam melakukan kerja-kerja fundraising ketika bulan Ramadan dan hari raya kurban.

Semua itu memerlukan perencanaan fundraising yang matang. Termasuk efektifitas fundraising yang dijalankan oleh fundraiser sebagai ujung tombak. Karena itu, pendidikan dan pelatihan fundraising sangat dibutuhkan agar amil-amil zakat memiliki kecakapan dan wawasan tentang perkembangan dunia fundraising yang semakin berkembang di era digital.

Untuk mewujudkannya lembaga amil zakat nasional (Lazismu) menyelenggarakan workshop fundraising yang diikuti oleh Lazismu seluruh Indonesia. Tema Workshop itu bertajuk “Meraih Sukses Fundraising Ramadhan dan Kurban” yang berlangsung di Jakarta, Selasa-Rabu (20-21 Maret) 2018.

Para amil yang hadir sebagai peserta memiliki latarbelakang pengalaman yang berbeda-beda, begitu juga dengan perkembangan zakat di daerahnya masing-masing menjadi tantangan tersendiri.

Adapun narasumber yang mengisi workshop didatangkan dari Institute Fundraising Indonesia (IFI) sebagai mitra Lazismu. Di antaranya Hilman Latief Dirut Lazismu, Abdul Ghofur Dirut Mandiri Amal Insani, Arifin Purwakananta Deputi Baznas, dan Arlina F Saliman selaku Dirut IFI. Sementara Urip Budiarto, General Fundraising Dompet Dhuafa menambah semarak workshop dengan materinya yang menantang. Meski di hari pertama, tantangan digital fundraising disajikan lebih awal dengan menghadirkan Fahri Amirullah dari Kitabisa.com.

Fahri Amrillah, mengatakan kekuatan fundraising digital ada dalam kisah cerita yang kuat. Karena itu, diawal cerita harus cepat menggunggah orang yang membacanya. “Dengan begitu, orang akan melakukan donasi setekah membaca, karena langsung tersentuh,” paparnya.

Dalam kesempatan berbeda, Deputi Baznas, Arifin Purwakananta menuturkan, di era revolusi industri tahap 4.0, integrasi marketing dan fundraising harus seirama. Kekuatan sosial media adalah sarana untuk berdonasi. “Di dalamnya ada interaksi untuk mendorong pengguna sosial media agar berdonasi,” sambungnya.

Bagi Urip Budiarto, selain efektivitas fundraising, upaya melayani muzaki penting dilakukan. Menurutnya, komunikasi yang baik antara fundraising dan muzaki baik personal maupun korporat sangat menentukan untuk meraih simpati agar dapat tergerak untuk melakukan donasi.

Hal senada dikatakan Abdul Ghofur, hanya saja ia menekankan peran penting perencanaan marketing yang terukur. Sehingga target-target yang sudah direncanakan dapat dievaluasi, pungkasnya.

Di sesi terkahir, Arlina F. Saliman memberikan materi strategi membuka peluang kerjasama dengan korporasi. Untuk itu, menurut Arlina, amil yang juga seorang fundraising harus bisa memetakan korporasi-korporasi yang bisa punya peluang untuk diajak kerjasama.

“Harus ada lompatan strategi dan gagasan sehingga seorang fundraiser mampu melakukan komunikasi dengan korporasi dengan penuh percaya diri. Tidak mudah menyerah dan kecewa, karena harus bisa diperhitungkan,” tuturnya.

Para amil Lazismu ini, juga mendapat tugas dari Arlina untuk membuat sebuah simulasi program fundraising selama bulan Ramadan. Tujuan simulasi ini, untuk memberikan cara pandang baru bagaimana seorang fundraiser itu bekerja dengan penuh tantangan. (na)