• info@lazismu.org


Berkah Ramadhan, Rumah Tak Layak Huni Jadi Perhatian Donatur Lazismu

13/05/2019

Ya syukurlah belakangan sudah jarang hujan kalaupun hujan tidak terlalu lama, air tidak sampai masuk rumah. Tapi bila hujannya deras ya terpaksa barang-barang dinaikkan ke rak-rak, tempat tidur juga harus diganjal batu biar lebih tinggi. Kalau air sudah masuk rumah ya tinggal pasrah saja sambil tiduran di atas dipan yang kakinya terendam, nggak ada lagi yang bisa diperbuat.

Demikian Mbok Karmi menceritakan pengalamannya saat banjir besar pada tahun 2000 yang rendam rumahnya seminggu lamanya. Seluruh isi rumahnya porak poranda, katanya mengisahkan kepada Amil Lazismu yang berkunjung ke rumahnya di kelurahan Ngablak Kidul Pedurungan Semarang. Surat-surat penting termasuk sertifikat bukti kepemilikan tanah pun hanyut terbawa banjir.

Karmi seorang pedagang gurem dengan modal seadanya, berjualan bumbu dapur di pinggiran jalan sekitar pasar basah Telogosari. Itupun sekarang tidak bisa dilakoninya dengan rutin sejak kesehatannya menurun. Dirinya sering sakit yang memaksa harus lebih sering istirahat.
Harmin sang suami sudah bertahun-tahun lumpuh,  tak kuat lagi bekerja. Hari-harinya dihabiskan di tempat tidur.

Saat kakinya masih kuat, Harmin bisa mengerjakan bangunan, mengurug lantai rumahnya dengan sisa bahan bangunan yang sudah tidak terpakai.
Harmin sering membawa pulang tanah urugan setiap pulang kerja sebagai buruh bangunan. Satu karung tanah dibawa pulang dengan  sepeda jengki bututnya. Dia berharap mampu meninggikan lantai rumahnya agar terhindar banjir.

Kehidupan rumah tangga Harmin ditopang oleh anak perempuannya, Siti yang bekerja sebagai buruh pabrik di kawasan indusri Semarang. Siti sendiri pulang kembali ke rumah orangtuanya, setelah bercerai dari suaminya. Dia membawa 3 orang anak yang semuanya masih dalam usia sekolah. Keberadaan Siti di rumah itu, tentu saja menjadi harapan besar keluarganya.

Harmin sekarang tak berdaya, seluruh lantai rumah itu masih berupa tanah. Permukaannya tidak rata. Sebagian lantai yang diurug lebih tinggi sebagian ada yang belum sehingga membentuk cekungan.

Dipasanglah dua batang kayu membentuk jembatan. Jembatan itu dipakai sebagai akses masuk kamar yang pintunya sudah tidak berfungsi karena terhalang tanah urugan.

Dinding rumah yang terbuat dari batu bata itu masih terbuka, daun pintu pun terpaksa dipasang di luar rangka kusennya, bahkan rangka atap pun sudah nampak pendek karena permukaan lantai yang semakin tinggi.

Gentengnya menganga  akibat kayu reng yang sudah patah, ditambal dengan plastik seadanya di  beberapa bagian.
Ada ruang dapur, tungku batu mengepulkan asap dari sisa arang kayu. Karmi lebih sering memasak menggunakan tungku daripada memakai kompor gas.
Ruang dapur itu rangka atapnya dari bambu, yang ditopang menggunakan kayu.

Karena umur yang sudah lama, kayu pun sudah keropos. Di bagian tengah sudah patah dan tidak kuat lagi menyangga atap. Di titik itulah kemudian ditambahkan kayu penyangga yang menahan atap agar tidak jatuh.

Tepat dibelakang ruang dapur itu masih ada ruang terbuka yang dergunakan sebagai tempat jemuran sekaligus halaman yang berdekatan dengan kamar belakang. Kamar inilah yang sekarang sedang diperbaiki. Sebelumnya kamar ini sempat bertahan tanpa atap selama beberapa tahun, setelah atapnya ambruk. Sementara katrol masih menggantung di atas kedalaman sumur tua. Air sumur inilah yang dipakai untuk keperluan sehari-hari.

Tidak jauh dari kecamatan Pedurungan, tepatnya di RT 01/XIV  Kelurahan Telogosari, ada satu rumah lagi mengalami nasib yang sama.hampir sama. Seorang pensiunan bernama Arif tinggal bersama isterinya sejak tahun 1990-an. Keduanya sudah tua renta memerlukan uluran tangan. Lazismu bertepatan dengan Ramadhan kali ini telah menyakurkan bantuan atas amanat salah satu donatur. Kesempatan berbagi di bulan mulia ini kembali dibuka Lazismu untuk membantu dua kekuarga tersebut agar rumahnya dapat segera mendapat perhatian. (cs)