• info@lazismu.org


Rakorwil Lazismu, Gerakan Filantropi sebagai Pusat Keunggulan Dakwah

01/04/2019

Semarang -  LAZISMU. Seluruh perwakilan Lazismu daerah tingkat kabupaten dan kota se-Jawa Tengah bertemu dalam forum Rapat Koordinasi Wilayah di Hotel Candi Indah Semarang, pada Sabtu 30 Maret 2019. Lembaga amil zakat besutan Muhammadiyah tersebut berkoordinasi membahas sinergisitas yang melibatkan unsur pimpinan.

 

Pertemuan itu resmi dibuka oleh pimpinan wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah H. Tafsir, M.Ag. Dalam amanatnya, Tafsir menyampaikan tiga misi utama persyarikatan yang dia tekankan dalam berapa poin penting.

 

Pertama, membangun pusat unggulan persyarikatan. Lazismu adalah salah satu lembaga unggulan di MLO PWM Jateng. Secara legal Lazismu mendapat mandat menghimpun, mengelola dan menyalurkan dana ZISKA diharapkan bisa menjadi motor penggerak kegiatan dakwah di persyarikatan. Menurutnya, Lazismu harus dikelola dengan asas legalitas dan akuntabilitas yang bisa dipertanggungjawabkan.

 

Kedua, membangun sinergi antar komponen persyarikatan. Kewenangan yang dimiliki Lazismu, menjadi kesempatan untuk mengembangkan amal usaha lintas daerah maupun wilayah. Tafsir mencontohkan jika Lazismu bisa membantu pendirian rumah sakit di Lombok.

 

“Ini perlu dikembangkan juga di daerah lain. Untuk itulah penting menyiapkan SDM yang berkualitas didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai,” paparnya.

 

Ketiga, pendampingan persyarikatan dan AUM. Dengan memanfaatkan dana ZISKA secara benar serta penyaluran yang tepat. Diharapkan mampu membangkitkan organisasi fungsional persyarikatan dengan baik.

 

Pada kesempatan itu, Ketua Lazismu Jawa Tengah, Dodok Sartono menyampaikan bahwa Lazismu di Jawa Tengah mulai tahun ini memberlakukan aturan undang-undang zakat secara ketat. Ada beberapa daerah yang dalam operasional pengelolaan zakat belum sesuai dengan undang-undang, maka Lazismu mengambil keputusan untuk menonaktifkannya.

 

“Namun masih ada opsi yang bisa ditempuh, secepatnya memenuhi persyaratan yang ditentukan dan menyesuaikan dengan peraturan yang berlaku,” katanya. Ditegaskan pula oleh Dodok, setiap tindakan penggalangan dana masyarakat mengandung konsekuensi hokum. Oleh karenanya Lazismu tidak memberi toleransi atas pelanggaran hukum yang terjadi di dalam tubuh organisasinya. (cs)