• info@lazismu.org


GIZMA, Jurus Jitu Menggerakkan Zakat Milenial di UMSIDA

28/03/2019

Sidoarjo – LAZISMU. Gerakan filantropi dalam dunia akademis memiliki peluang dan tantangan tersendiri. Peluangnya dalam kampus memiliki potensi yang besar karena di dalamnya ada banyak mahasiswa-mahasiswi dengan talenta yang beragam.

 

Adapun tantangannya adalah bagaimana mengatur waktu luang mahasiswa di tengah kesibukannya berkuliah agar dapat berpartisipasi dan terlibat aktif dalam gerakan filantropi di kampus.

 

Di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) misalnya, Lazismu berdiri di tengah aktivitas mahasiswa yang beragam. Bahkan menurut Fundraiser Lazismu Umsida, Prayekti, selama 2018 potensi dana yang terkumpul di kampus ini sebesar Rp 1,9 miliar. Dalam menggerakkan potensi yang besar ini, menurutnya butuh strategi dan kekuatan yang besar pula yakni dengan melibatkan mahasiswa.

 

Demikian disampaikan oleh Prayekti pada acara pembinaan Ke-Islaman dan Kemuhammadiyahan bagi organisasi mahasiswa di Gedung Fakultas Ekonomi Bisnis, Umsida, 9 April Maret lalu bahwa prospek dan capaian Lazismu pada 2018 berjalan dengan baik.

 

“Capaian tersebut berasal dari kolaborasi dengan organisasi mahasiswa. Dana sebesar itu, telah disalurkan lewat program dakwah sosial,” katanya saat dihubungi tim media Lazismu (28/3/2019).

 

Namun dibalik itu, lanjutnya, masih menyisakan beberapa hal antara lain belum tergarapnya potensi ZIS 10.000 mahasiswa dan ribuan alumninya.

 

Gerakan filantropi berbasis kampus yang dikembangkan Lazismu Umsida, mulai unjuk gigi sejak 1 Januari dengan menempati kantor di Gedung C kampus 1. Saat itu desaign programnya memang khusus untuk pemberdayaan mahasiswa. Lazismu sadar karena segmen yang digarap adalah mahasiswa yang notabene generasi milenial.

 

“Memberikan edukasi zakat yang menyenangkan kepada generasi model ini tentu butuh waktu yang tidak instan,” jelasnya. Perlu  upaya maksimal, kerja keras dan kerja cerdas untuk menggali potensi itu.

 

Jurus jitu yang diterapkan mengajak para pentolan organisasi mahasiswa bersama-sama menggerakkan para anggotanya agar memiliki jiwa berbagi (filantropi). Peduli dan menyintai kemanusiaan. Salah satunya dengan aktif mengerakkan program GIZMA (Gerakan Infak Zakat Mahasiswa) yang relawannya adalah mahasiswa sendiri.

 

Beruntung, teknologi informasi sangat membantu kegiatan ini. Contohnya ada masjid butuh bantuan pembenahan kemudian difoto dan diviralkan untuk penggalangan dana langsung direspons positif. Pendampingannya menjadi salah satu tugas Lazismu.

 

Di era revolusi teknologi 4.0 ini, Lazismu juga sudah menyiapkan teknologi fundraising dengan QR Code. “Sistem laporan keuangannya pun ditampilkan secara online dengan fitur infogram otomatis,” ungkap Yekti yang juga alumni Umsida.

 

Sebagai bentuk inovasi, telah diluncurkan Kotak Infak Milineal, Kotak Infak All in One, yakni kotak infak yang bisa menggunakan uang tunai maupun uang digital.

 

Yekti berharap sebagai amil di Lazismu banyak mahasiswa penerima beasiswa Sang Surya yang bisa merintis karir sebagai amil. Karena masa depan Lazismu ada di pundak generasi milenial yang sadar gerakan filantropi (na/pwmu).