3 Prinsip Menjadi Fundraiser Profesional

12/10/2020

MESIR - Fundraising adalah sebuah seni yang bisa dipelajari oleh siapapun termasuk seorang pemula. Fundraising memiliki dua bentuk, yaitu digital dan non digital. Di masa pandemi, fundraising digital menjadi sebuah keharusan untuk mendongkrak perolehan fundraising.

Corporate Fundraising dan Retail Fundraising juga harus dilakukan secara digital. Hal ini disampaikan oleh Edi Muktiyono dalam kegiatan Training Lazismu Mesir pada Sabtu (10/10) secara daring. Training ini mengambil tema “Dalam Rangka Meningkatkan Skill dan Kreativitas Amil Lazismu Mesir di Era Digital”.

3 Prinsip Fundraising

Edi menyebut ada 3 prinsip fundraising. Prinsip pertama adalah mencintai kegiatan fundraising. Di surat At-Taubah ayat 103, amil diperintahkan langsung oleh Allah untuk menghimpun zakat. Prinsip kedua, memahami lembaga dan program. 

“Di PCIM dan aktivis Persyarikatan Muhammadiyah maka tidak sulit memahami lembaga Lazismu dan Muhammadiyah. Namun, selain aktivis persyarikatan bisa jadi agak sulit untuk memahami. Lazismu itu apa, berada dimana saja, programnya apa saja, disalurkan kemana, dan seterusnya harus dipahami oleh seorang fundraiser,” jelasnya.

Minimal seorang fundraiser memahami lima pilar kesehatan, pendidikan, ekonomi, sosial, dan dakwah yang ada di Lazismu beserta program-program yang sedang dijalankan. 

Prinsip ketiga, memiliki kepekaan terhadap keinginan donatur. Seorang fundraiser akan bertemu dengan banyak orang yang berbeda karakter dan berbeda keinginan. Maka, fundraiser harus memiliki kepekaan terhadap keinginan. Biasanya seorang donatur menginginkan dananya disalurkan ke program-program tertentu.

3 Syarat Menjadi Fundraiser

Adapun tiga syarat menjadi fundraising andal yang pertama adalah memiliki semangat juang dan kegigihan. Kekuatan untuk menjadi fundraiser harus selalu optimal dan penuh kegigihan.

“Fundraising adalah tulang punggung Lazismu. Tulang punggung harus kuat. Kalau tulang punggung bengkok, kita tidak bisa berdiri tegak. Maka ini menjadi persyaratan yang tidak bisa ditinggalkan,” imbuhnya.

Kedua, kompetensi dan keahlian. Seperti komunikasi dan public speaking, kemampuan membuat presentasi, kemampuan negosiasi, dan menguasai informasi terbaru.

Ketiga, keluasan hati, kesabaran, dan kecerdasan pikiran. Menurut Edi, dengan modal kesabaran, fundraiser menjadi tidak mudah putus asa ketika menghadapi kesulitan. Alquran juga berisi banyak pesan untuk bersabar.

Manager Corporate & Retail Fundraising Lazismu Pusat ini melanjutkan dengan menyampaikan tiga langkah menjadi fundraiser andal. Pertama, mengetahui karakteristik donatur. Kedua, menyiapkan proposal dan presentasi. Ketiga, menyiapkan follow up. Mengetahui karakteristik donatur korporasi bisa dilihat melalui website resmi.

“Proposal tidak boleh dibuat apa adanya baik isinya maupun desainnya. Proposal adalah etalase sehingga proposal yang apa adanya akan membuat lembaga terlihat tidak professional,” ujarnya.

Sebelum melakukan fundraising, target harus jelas, perangkatnya harus siap, komitmennya harus kuat, dan strateginya harus jelas. Empat hal ini merupakan persiapan utama sebelum melakukan fundraising.

“Ada beberapa kesalahan fatal fundraising. Yaitu tidak ada persiapan, tidak ada konsep, target tidak jelas, tidak paham siklus, tidak ada program unggulan, layanan buruk,” tutupnya. (Yusuf)