• info@lazismu.org


Bangkit Melalui Santripreneurship

29/11/2019

Senang bisa ke Tapanuli Selatan lagi, pekan lalu. Dua hal yang membuat saya senang: bisa mengunjungi Pondok Pesantren Muhammadiyah Ahmad Dahlan di Sipirok dan Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan di Padang Sidempuan.

Pondok Pesantren Ahmad Dahlan adalah satu dari lima pondok pesantren yang didirikan Muhammadiyah dekade 60-an. Tepatnya tahun 1962. Pesantren ini dibangun bersamaan dengan lima pesantren lainnya.

Pesantren Ahmad Dahlan mungkin terlambat rebranding. Padahal 'pesaingnya' makin banyak. Muncul berbagai sekolah baru yang fasilitasnya lebih modern.

Beruntung pesantren ini melahirkan banyak alumni hebat. Pengusaha nasional, dosen, rektor dan pejabat serta masih banyak lagi.

Para alumni rupanya juga ingin membangkitkan almamaternya agar kembali bisa menjadi pilihan kaum milenial. Menjadi pesantren yang memenuhi tuntutan zaman.

Lazismu tak mau ketinggalan dengan program Santripreneur untuk memandirikan pesantren.

Pada tahap pertama akan dibuat program peternakan ayam petelur dan pertanian sayur-mayur. Kebetulan pesantren punya lahan cukup luas, sekitar 2 hektar.

Target jangka pendeknya sederhana. Bagaimana warga pesantren bisa mengonsumsi telur dan sayuran dari hasil usahanya sendiri.



Dampak ikutan program itu akan sangat panjang. Warga pesantren bisa memperoleh ilmu baru dalam budidaya ternak ayam petelur dan pertanian sayur. Selain itu warga pesantren akan memperoleh ilmu manajemen dan pemasaran yang bisa menjadi bekal setelah lulus.

Dalam proses persiapan Santripreneur inilah saya ke Sipirok bersama Pak Mahli Zainuddin Tago, Sekretaris Badan Pengurus Lazismu. Selain berdiskusi dengan para pengurus pesantren juga bertemu beberapa alumninya.

Dari pertemuan itu, sampailah kami ke kampus Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS). Di lahannya yang luasnya 4 Hektar itu, saya melihat fasilitas kandang ayam pedaging dan penggemukan kambing.

Sambil melihat fasilitas kami berdiskusi dengan wakil rektor UMTS tentang kemungkinan bekerjasama. UMTS menyediakan tenaga ahli untuk program Santripreneur.

Terbetik pula gagasan baru: membangun program entrepreneurship mahasiswa berbasis produk pertanian dan peternakan. Dari kandang ayam dan kandang kambing di kampus akan lahir mahasiswa berjiwa wirausaha. Akan hadir produk telur, sayur, usaha aqiqah dan kambing kurban.

Di Muhammadiyah hampir semua ada. Saatnya mempertemukan kekuatan itu dalam sebuah sinergi program yang bermanfaat untuk semua. (jto)