Hilman Latief: Techno-Philanthropreneurship untuk Mengajak Generasi Milenial Perkotaan Berdonasi

17/12/2020

LAZISMU.ORG - Gopay bersama Filantropi Indonesia menggelar Webinar daring Philanthropy Learning Forum dengan tema "Filantropi Digital di Indonesia: Prospek dan Tantangan Pengembangannya", Kamis (17/12).

Webinar yang diselenggarakan melalui Zoom dan YouTube ini mendatangkan beberapa pembicara, antara lain Winny Triswandhanni, Head of Corporate Communications Gopay; Firman Kurniawan, akademisi UI dan praktisi digital communication and marketing; Hamid Abidin, Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia; dan Hilman Latief, Ketua Badan Pengurus Lazismu.

Timotheus Lesmana, Ketua Badan Pengurus Filantropi Indonesia menyebut bahwa forum ini menjadi tempat bertemunya pegiat filantropi di Indonesia. Ia berharap hasil riset tentang prospek donasi digital di Indonesia yang dilakukan oleh Filantropi Indonesia dapat menjadi rujukan bagi pegiat filantropi.

"Menurut riset, Indonesia adalah negara yang paling besar menghasilkan donasi. Kita melihat perkembangan filantropi di Indonesia menuju ke arah yang positif, meskipun masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersama," ujarnya.

Sementara itu, Hilman Latief menyebut bahwa para pegiat literasi harus mampu mengeksplorasi bagaimana pola perilaku berdonasi masyarakat kelas menengah perkotaan. Kohesi sosial masyarakat perkotaan yang agak renggang berbeda dengan masyarakat di pedesaan.

"Tetapi, kita melihat bahwa sejauh ini perkembangan filantropi di Indonesia tidak bisa lepas dari kontribusi masyarakat kelas menengah perkotaan. Ini menarik," jelas Hilman.

Menurutnya, techno-philanthropreneurship akan menjadi konsen generasi milenial mengingat anak-anak muda milenial bersifat digital-friendly. Ketika generasi milenial melakukan privatisasi kesalehan, di sisi lain kajian-kajian keagamaan semakin sering mereka akses secara digital.

Hilman menjelaskan bahwa memang generasi milenial masih relatif sedikit berdonasi, karena banyak faktor. Baik kohesi sosial yang lemah, kontribusi di ruang publik yang minim, dan lain sebagainya. Namun, dunia digital mampu menjangkau generasi milenial perkotaan yang tumbuh dengan kohesi sosial yang lemah.

"Mungkin saja kohesi sosial masyarakat muda perkotaannya rendah karena tidak ada ruang interaksi yang kuat. Tetapi ini bukan berarti tidak ada solidaritas disitu. Justri ini yang saya sebut dengan hidden solidarity (solidaritas yang tersembunyi) atau silent solidarity (solidaritas yang diam) yang bisa dieksploitasi melalui ruang digital," imbuhnya.

Lembaga-lembaga filantropi, termasuk yang berbasis keagamaan cukup banyak mendapatkan dukungan dari masyarakat yang berdonasi di bawah Rp. 50.000,-. Ini menunjukkan bahwa kekuatan kelas menengah cukup potensial.

Menurut Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini lembaga filantropi harus bisa menyediakan platform yang lebih friendly dengan anak muda agar mereka bisa berpartisipasi, mengingat generasi muda perkotaan tidak memiliki ruang luring dimana mereka bisa terlibat.

Maka, ruang digital menjadi salah satu sarana yang paling dominan yang bisa memicu keterlibatan mereka, membangkitkan solidaritas mereka, dan mengekspresikan solidaritas mereka dalam bentuk donasi. (Yusuf)