Lazismu Hulu Sungai Selatan Gelar Khitan Masal Gratis di Tengah Masyarakat Majemuk

07/01/2021

HULU SUNGAI SELATAN - Pada hari Selasa (5/1), Lazismu Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan melaksanakan khitanan masal gratis di Desa Malinau, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan untuk pertama kali.

Pelaksanaan khitan masal ini digarap oleh Lazismu Hulu Sungai Selatan bersama dengan mahasiswa yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Hulu Sungai Selatan dan Dinas Kesehatan Hulu Sungai Selatan. Dinas Kesehatan memberikan dukungan dalam penyediaan tenaga medis.

Dokter Didi Kurniadi, Ketua Lazismu Hulu Sungai Selatan menyebut bahwa ia sendiri yang menjadi dokter dan penanggung jawab teknis sambil dibantu oleh tenaga medis dari Dinas Kesehatan.

“Yang mengikuti khitan masal ini ada dua puluh lima orang. Kebetulan karena saya orang kesehatan dan kebetulan saya menekuni bidang persunatan, jadi kayaknya Lazismu bisa melaksanakan khitan masal bareng adek-adek yang lagi KKN disini,” ujarnya melalui saluran telepon.

Ia menyebut bahwa Lazismu Hulu Sungai Selatan sedang merancang pembangunan Kampung Berkemajuan. Kampung Berkemajuan adalah kampung di pegunungan Meratus yang masih minim umat Islam. Di sana, masarakat asli Dayak banyak beragama Kaharingan.

Menurut Didi, Lazismu Hulu Sungai Selatan bersama dengan Lazismu Kalimantan Selatan berencana membangun kampung berkemajuan. Kegiatan khitan masal ini menjadi semacam sosialisasi awal dan pengenalan Lazismu kepada masyarakat.

“Khitan ini gratis. Bahkan kita berikan sarung dan bingkisan lain. Karena banyak masyarakat yang tidak mau masuk Islam karena takut khitan. Ya kita coba hilangkan stigma itu,” imbuhnya kepada lazismu.org.

Menurutnya peserta senang mengikuti kegiatan tersebut. Hanya saja masih banyak masyarakat yang belum melaksanakan khitan. Ia merasa kesulitan untuk mencari peserta kegiatan tersebut. Mengingat masyarakat di Pegunungan Meratus belum terlalu memahami pentingnya bersunat dan kondisi geografisnya yang agak berjauhan satu sama lainnya.

Sehingga, lanjut Didi, bisa jadi dalam satu keluarga ada tiga agama, yaitu Islam, Kristen, dan Kaharingan. Uniknya, secara kohesi sosial masyarakat bisa hidup rukun dan damai tanpa ada konflik antar agama yang berarti. 

Reporter: Yusuf