• info@lazismu.org

Derita Kakek Halawi, Huni Gubuk Puluhan Tahun

05/03/2019

Parepare – LAZISMU. Setiap orang ingin hidup berkecukupan memenuhi kebutuhannya. Termasuk Kakek Halawi, ia ingin hidup yang serba cukup tidak lebih. Kakek berusia 80 tahun ini, malang nasibnya. Hidup dan tidur dalam gubuk reot berukuran 2 x 3 meter. Nestapa seorang diri, tanpa sanak saudara dan anak-anaknya.

Lebih menyedihkan lagi, ia tinggal tanpa tetangga karena gubuk deritanya terletak di tengah sawah sekitar dua kilometer dari perkampungan warga, Kampung Kanni, Desa Mattiro Ade, perbatasan dengan kecamatan Palleteang dengan Sawitto Pinrang.

Pada Jum’at, 16 Februari 2018, kondisinya memantik rasa kemanusiaan Lazismu Kota Parepare.  Informasi diperoleh dari grup pesan daring IMM Kabupaten Pinrang. IMM langsung turun dan menyalurkan bantuan yang dibutuhkan sang Kakek.

Kendaraan roda empat tiba di ujung kampung, dengan berjalan kaki melewati pematang sawah bersama para pengurus Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kabupaten Pinrang. Setiba di lokasi, rombongan yang dipimpin oleh Saiful Amir selaku Sekretaris Lazismu Kota Parepare menemui Kakek Halawi yang duduk termangu menanti uluran tangan orang lain yang peduli.

“Assalamu’alaikum Kek, kami dari Lazismu Parepare, ungkap Saiful memperkenalkan diri. Lalu memulai percakapan, mencoba mendalami penderitaan yang dialami Kakek sebatang kara ini. Dengan suara lirih, diruang yang pengap, Kakek Halawi berbicara terbata-bata menceritakan asal usul dirinya. Mengapa dia ada ditempat dengan hidup memprihatinkan?

”Saya nak, saat masih kecil, orangtuaku meninggal, begitu pula saudara-saudaraku. Dari kecil hanya jadi kuli tani, saat muda ikut membantu warga panen padinya, dari situlah dapat upah untuk makan. Setelah tua renta dan sakit-sakitan, tak mampu berbuat banyak. Apalagi penglihatan mulai rabun sebelah, tidak kuat kerja, nak tinggalma di gubuk ini. Hanya numpang ditanah milik Pak Imam Masjid Lalla,” ungkapnya.

”Sedih, saya sudah 20 tahun hidup seperti ini. Hidup dari belas kasihan orang lain. Sebenarnya masiri-siri ka (malu) nak, tapi apa boleh buat hanya ini yang bisa saya lakukan, pasrah,” lanjutnya.

“Miris, masih ada ironi kata Alimuddin pengurus IMM Kabupaten Pinrang yang turut mendampingi. Di tengah hiruk-pikuk para elit menjual program pengentasan kemiskinan di musim Pilkada ini ternyata kita temui realitas di depan mata.

Warga Pinrang ini hidup sangat tidak layak. Apalagi kita kenal Pinrang sebagai daerah penghasil beras terbesar kedua setelah Sidrap di Sulsel. Penyangga stabilitas pangan bahkan dikenal sebagai lumbung beras, tapi di tengah hamparan sawah yang membentang luas ini hidup orang melarat seperti kakek Halawi ini,” pungkas Ali tak kuasa menahan emosi.

Ibarat “tikus mati di lumbung padi” semoga ini menjadi tamparan keras buat kita semua untuk lebih peka dan peduli dengan lingkungan sekitar kita. Lazismu Pinrang harus segera mampu menjangkau realiatas sosial yang semakin akut.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Pinrang, Drs. H. Sakri Condeng saat ditemui di rumahnya merasa kaget mendengar informasi itu.” Ini kita kecolongan dan kita akan bicarakan untuk segera merelokasi Kakek tersebut. Majelis Pelayanan Sosial PDM akan berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk mencari solusi.

Semoga tidak ada lagi kasus serupa di sini. Kongkretnya kita mau Kakek Halawi ini bisa hidup layak, kita akan bawa ke Panti Jompo di Parepare karena kita belum punya di sini, “ paparnya (sa)