• info@lazismu.org


Filantropi Pendidikan, Melawan Keterbatasan di Pesisir Pulau Tenggelanga

29/08/2019

Tolitoli – LAZISMU. Keindahan panorama pulau-pulau di Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah, sulit terbantahkan. Siapapun yang menyambangi destinasi pesisir pulau di Kota Cengkeh ini, akan mengalirkan cerita-cerita inspiratif dari sisi wisata dan penduduk lokalnya yang kaya akan potensi budaya lokalnya.

 

Tapi tunggu dulu, ini baru ditelisik singkat dari sudut pandang destinasi wisata, di balik itu semua ada sebuah pulau yang bernama Tenggelanga yang di dalamnya ada penduduk di tengah desiran ombak. Untuk menuju ke pulau itu memerlukan waktu tempuh 40 menit dari pelabuhan pulau Pulias dan pulau Bumbung.

 

Tinggal memilih mau dari pulau yang mana menuju pulau tenggelanga. Ada transportasi laut yang disediakan berupa perahu bermesin ketinting, mesin penggerak kecil yang dihidupkan dengan cara menarik tali dengan kekuatan tangan.     

 

Di penghujung Agustus, lembaga amil zakat nasional atau Lazismu, berkesempatan menyambangi pulau Tenggelanga. Perahu berdaya tampung delapan orang dewasa menyusuri ombak menuju destinasi pulau Tenggelanga. Sebuah pulau dengan penduduk diperkirakan berjumlah 33 kepala keluarga (KK).

 

Terik matahari yang panas tak menyurutkan para amil dari Lazismu Tolitoli. Desiran ombak begitu kuat dirasakan, meski terasa sedikit oleng akibat terjangan ombak, sema-sema (baca: penyeibang perahu) yang sudah pecah selalu menjaga penumpang dalam kondisi seimbang di atas perahu. Rasa risau sirna dengan semangat berbagi untuk menyantuni mereka yang membutuhkan.

 

Melalui program pendidikan, kedatangan Lazismu di sana sebagai wujud perhatian untuk mamastikan jika di pulau terluar, terpencil dan tertinggal itu siswa-siswi sekolah dasar memiliki hak yang sama untuk memeroleh akses pendidikan.

 

 Arif Rahman selaku amil mengabarkan di pulau itu ada satu unit sekolah dasar (SD). Di sekolah itulah Lazismu akan menyantuni mereka dengan memberikan peralatan sekolah (school kit) kepada anak-anak yang tidak mampu yang berjumlah 22 orang.


 

School Kit yang terdiri dari tas, buku serta pensil akan melengkapi keterbatasan mereka. Di samping itu, Lazismu juga membuat kelas motivasi. “Kelas dengan materi-materi inspiratif yang diberikan tanpa menafikan sisi pendidikan Islam,” kata Rahman.

 

Guratan tawa ceria memberikan dampak tak terkira bagi Lazismu yang hadir bersama mereka. Beralaskan tanah pasir dan di bawah pohon dengan semilir angina laut terlukis dari semangat anak negeri. Bukan berarti wajah polos mereka tak memiliki makna. Mereka anak-anak pulau harapan bangsa. Pekik motivasi anak-anak pulau pecah menggema mengaliri semangat berbagi untuk sesama.

 

Karena itu, melalui kegiatan ini, Lazismu mengharapkan agar semangat anak-anak dalam menempuh pendidikan dan merencakan pendidikan lebih baik ke depannya. Lazismu mengucapkan terima kasih pada muzaki yang memercayakan amanahnya selama ini hingga bantuan yang dititipkan telah sampai secara tepat sasaran. (ar)