• info@lazismu.org

 

Dakwah || DKI JAKARTA || 09/05/2019

Zakat Fitrah

Zakat Fitrah adalah zakat yang diwajibkan kepada setiap muslim, baik lelaki maupun perempuan, tua ataupun muda, yang menjelang hari raya Idulfitri mempunyai kelebihan makanan pokok untuk sehari.

Jika seseorang adalah pencari nafkah, ia juga mesti membayar zakat fitrah untuk tanggungannya, seperti istrinya, anak-anak, atau kerabatnya. Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Umar, Nabi Muhammad telah mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadhan atas setiap jiwa orang Muslim, baik merdeka ataupun budak, laki-laki ataupun wanita, kecil ataupun besar, sebanyak satu sha’ kurma atau gandum (H.R. Muslim).

"Tentang Zakat Fitrah", zakat fitrah adalah zakat untuk jiwa. Hal ini berlandaskan pada sabda Nabi Muhammad, "puasa bulan Ramadan digantungkan antara langit dan bumi, dan tidak akan diterima (dengan sempurna oleh Allah) kecuali dengan zakat fitrah".

Dengan memahami konteks sabda Nabi di atas, dapat dipahami bahwa seseorang yang menjalankan ibadah puasa Ramadan, tetapi kemudian meninggal sebelum 1 Syawal maka ia tidak dikenai zakat fitrah. Sebaliknya, jika ada bayi lahir pada hari terakhir Ramadan, maka ia dikenai zakat fitrah yang akan dibayarkan oleh orangtuanya.

Zakat fitrah dapat dibayar pada akhir Ramadan hingga menjelang salat id sehingga orang miskin yang membutuhkan, dapat menikmati Idulfitri. Jika seseorang membayar setelah salat id, maka itu akan terhitung sebagai sedekah, bukan zakat fitrah. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Muhammad "mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari kata-kata tak berguna dan kotor, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa mengeluarkannya sebelum salat id maka itu adalah zakat yang diterima. Bila ia mengeluarkannya setelah salat id maka menjadi sedekah biasa.” (H.R. Abu Dawud)