Shava, Akhir Perjuangan Gadis Kecil Melawan Kanker Lutut

Ditulis oleh berita
17:08, 26/10/2021
Cover Shava, Akhir Perjuangan Gadis Kecil Melawan Kanker Lutut
"Sudah dapat kabar terbaru mas?" tanya Pak Hadi, Sekretaris Takmir Masjid Baiturrahman Sukoharjo.

"Belum, Pak," jawab kami serempak. Siang itu, saya bersama Rohmat, amil Lazismu Sukoharjo tengah duduk melingkar bersama dua bapak setengah baya, Pak Hadi beserta satu jamaah masjid.

"Seminggu yang lalu anaknya meninggal," ujar Pak Hadi. Raut mukanya berubah menjadi sedih.

Yang ia maksud meninggal dunia adalah Shava Queenta Kinanti, seorang anak berusia 15 tahun yang tinggal bersama kedua orang tua dan 3 adiknya. Ia tinggal di sebuah indekos kecil di Sukoharjo.

Satu tahun silam, pertengahan tahun 2020 Shava divonis kanker lutut oleh dokter. Ada benjolan di sekitar lututnya yang semakin lama semakin membesar. Waktu itu, ia tengah menempuh pendidikan kelas 2 SMP. Vonis tersebut membuatnya harus intens mengikuti perawatan, sekaligus menghalangi aktivitasnya untuk mengikuti pembelajaran dari sekolah layaknya teman-temannya.

Oleh kedua orang tuanya, Shava dilarikan ke klinik kecil. Keterbatasan ekonomi membuat orang tuanya tidak mampu membiayai pengobatan di rumah sakit yang besar, yang secara profesional lebih mampu menangani penyakit kanker lutut.

Hal itu bisa dimaklumi. Ibu Shava harus mengurus 3 anak yang masih kecil selain Shava. Di sisi lain, ia tengah hamil. Sementara itu, bapaknya bekerja dengan berjualan secara daring. Menurut data Lazismu Sukoharjo, ia memiliki penghasilan per bulan 500 ribu - 1 juta rupiah.

Kabar baiknya, setelah beberapa bulan menjalani perawatan seadanya, Shava mendapatkan kartu BPJS. Kartu tersebut membuat keluarganya mampu membawa Shava ke pengobatan yang lebih memadai.

Namun, malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Kanker yang ia alami semakin parah. Dokter merekomendasikan kemoterapi. Merasa tak punya pilihan lain, orang tua Shava menyetujui tindakan kemoterapi kepada anak kesayangan mereka.

Kemoterapi adalah cara menghentikan pertumbuhan sel kanker yang bersarang di dalam tubuh. Meski mampu menghancurkan sel kanker, kemoterapi juga dapat merusak sel sehat yang berada di sekitarnya. Sel sehat yang ikut rusak inilah yang dapat mengakibatkan efek samping. Namun, efek samping yang muncul umumnya akan segera menghilang setelah pengobatan kemoterapi selesai. Efek samping kemoterapi yang cukup umum adalah rambut rontok. Hal ini juga dialami oleh Shava. Ia kehilangan seluruh rambutnya.

Sayang, kemalangan tak berhenti di situ. Lagi-lagi dokter harus menyampaikan kabar buruk ke Shava dan keluarga. Menurut keterangan dokter, kanker di lutut Shava tidak mau bersikap kooperatif, sehingga kaki Shava harus diamputasi. Jika tidak, kanker ganas tersebut akan menjalar ke bagian tubuh yang lain.

Apa boleh buat? Dengan penuh isak tangis, disaksikan oleh adik-adik Shava yang masih kecil dan masih butuh perhatian lebih, orang tua Shava menyetujui tindakan amputasi. Shava tidak tau, dengan satu kaki, masa depan apa yang akan ia jalani.

Pertangahan bulan September 2021, salah satu kaki Shava diangkat. Takdir memang misteri. Manusia sedikitpun tak bisa mengintip apa yang akan terjadi esok hari. Ia hanya bisa berencana dan berusaha. Hasilnya? Wallahu a'lam. Kata bijak bestari, hasil tak sudi menghianati usaha. Namun, segala usaha yang telah dilakukan oleh Shava dan keluarganya tak kunjung melahirkan hasil yang diinginkan.

Namun, keluarga kecil yang sederhana tersebut tetap berusaha memegang teguh janji dari Tuhan. Bahwa apa yang menjadi milik kita, sedetikpun tak akan pernah meninggalkan kita. Di sisi lain, apa yang bukan milik kita, akan secara perlahan meninggalkan kita. Kata Ali bin Abi Thalib, apapun yang menjadi takdirmu akan mencari jalan menemukanmu. Di balik semua kesulitan yang dialami Shava, kita tidak tau ada kemudahan apa yang menanti di depan.

Sayangnya, kemudahan dan kabar baik yang diharapkan tersebut nampak masih agak jauh. Setelah diamputasi, kondisi Shava tak kunjung membaik. Kesehatannya drop. Ia semakin lemah terbaring di rumah indekos sederhananya. Berat badannya turun drastis, dari 50 kg menjadi 26 kg. Kondisi tersebut berlangsung selama satu bulan. Hingga akhirnya, kabar yang menutup seluruh cerita Shava itu datang.

Jumat, 15 Oktober 2021, Shava datang memenuhi panggilan Tuhan. Shava telah menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Ia telah menjadi anak kecil yang tabah menerima takdir Tuhan.

Apakah benar kita diberi kesempatan memilih? Atau tugas kita sebenarnya hanya menerima dan menjalani ketetapan-Nya? Barangkali, manusia berhak memilih, namun pilihannya terbatas.

Kisah Shava mengingatkan kita pada kisah Gitta Sessa Wanda Cantika, gadis 13 tahun yang divonis oleh dokter mengidap penyakit rabdomiosarkoma atau kanker jaringan lunak. Kanker jaringan lunak adalah salah satu kanker ganas paling mematikan di dunia. Kisah nyata tersebut dituliskan oleh Agnes Davonar menjadi sebuah novel berjudul Surat Kecil untuk Tuhan dan difilmkan oleh Sautradara Harris Nizam dengan judul yang sama.

Kisah Keke, panggilan Gitta Sessa di novel yang saya baca ketika SMP langsung memenuhi memori saya. Shava dan Keke sama-sama gadis kecil yang bahkan belum menikmati indahnya masa putih abu-abu. Namun, mereka telah berada dalam rengkuhan rahmat dan kasih sayang Tuhan nun jauh di sana. Selamat jalan, Shava.

"Ya sudah mas, kita langsung ke rumahnya saja," ajak Pak Hadi. Ia mengajak kami ke rumah Shava untuk menyalurkan bantuan. Lazismu Sukoharjo memberikan bantuan berupa sembako dan subsidi biaya indekos untuk keluarga Shava selama 3 bulan.

(Yusuf)