PERLINDUNGAN KESEHATAN GURU BAGI LAZISMU ADALAH KOMPONEN PENTING UNTUK PANGGILAN JIWA

Ditulis oleh Doddy
Ditulis pada 12:31, 14/05/2024
Cover PERLINDUNGAN KESEHATAN GURU BAGI LAZISMU ADALAH KOMPONEN PENTING UNTUK PANGGILAN JIWA

JAKARTA -- Setiap profesi mensyaratkan keahlian dan keterampilan. Begitu juga dengan guru yang memiliki tanggung jawab mendidik dan membina peserta didik agar menjadi pribadi yang berkarakter. Guru dalam pengabdiannya bersandar pada paggilan jiwa dan hati nurani. Karena itu, kesehatan jasmani dan rohaninya harus terpenuhi untuk memperkuat kualitasnya. Tantangan guru sangat kompleks termasuk tantangan yang dialami dalam kehidupannya sebagai orang tua di rumah. Adapun yang paling menohok adalah tantangan ekonomi bagi seorang guru terlebih jika statusnya sebagai honorer.

Dalam catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada bulan Februari 2023, ada banyak profesi yang terjerat pinjaman online, salah satunya adalah guru. Karena persoalan ekonomi dan kebutuhan mendesak maka tidak ada pilihan selain memanfaatkan akses pinjaman online. Masalahnya, guru honorer dengan penghasilan yang terbatas tak cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Namun tidak semua guru terjerat pinjaman online, ada banyak faktor yang melatarbelakanginya sehingga untuk memperoleh akses kesehatan saja mengalami kendala keuangan.

Sejauh ini, Lazismu sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional bersama Majelis Pendidikan Dasar Menengah (Dikdasmen) dan Pendidikan Non Formal (PNF) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, melakukan kajian terhadap guru honorer di lingkungan pendidikan Muhammadiyah. Diperoleh informasi bahwa masih ada sebagian guru honorer tidak mampu melanjutkan membayar iuran BPJS Kesehatan.

Sebagai intervensi untuk memberikan solusi terhadap perlindungan kesehatan guru, ikhtiar Lazismu adalah berkolaborasi dengan banyak pihak antara lain BPJS Kesehatan, Kemenko PMK dan USAID CATALYZE untuk memberikan bantuan berupa melunasi iuaran BPJS Kesehatan yang tertunggak. Langkah terobosan ini menurut Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesejahteraan Sosial Kemenko PMK, Nunung Nuryartono, merupakan inovasi program yang berani untuk menjadi role model. Dia menilai kolaborasi Lazismu dan BPJS Kesehatan merupakan keberhasilan membaca realitas sosial dan pendidikan untuk menghadirkan project boosting yang komitmennya harus diaperesiasi.

"Satu prinsip yang perlu digarisbawahi dalam jaminan sosial dan kesehatan, ada spirit nilai-nilai Pancasila yaitu gotong royong. Masyarakat saling membantu untuk membayar iuran jaminan kesehatan secara berkelanjutan," jelas Nunung.

Implementasi program ini akan dimulai dengan membayarkan 20 keluarga guru honorer Muhammadiyah di Jakarta dengan jumlah 67 jiwa dan total iuran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang tertunggak dan dibantu dibayarkan oleh Lazismu sekitar Rp. 48.137.000 dan akan terus bergerak dan bertambah baik dari sisi jumlah maupun locusnya. Project Piloting ini diharapkan dapat menjadi boosting bagi Pemerintah Daerah lain dalam meningkatkan kepesertaan aktifnya melalui CSR dan lembaga amil zakat seperti dilakukan Lazismu.

Hal senada disampaikan Direktur Keuangan dan Investasi BPJS Kesehatan, Arief Witjaksono Juwono Putro, bahwa kolaborasi dengan Lazismu tak perlu diragukan lagi. Kiprah Muhammadiyah dalam membangun bangsa dan negara sudah teruji. "Kehadiran Jaminan Kesehatan Nasional yang dilaksanakan oleh BPJS Kesehatan satu dekade yang lalu merupakan wujud hadirnya negara dalam melindungi dan menyejahterakan warga negaranya," ujarnya.

Kolaborasi BPJS Kesehatan dengan Muhammadiyah bukan hanya kali ini. Arief menegaskan, sebelumnya 115 jejaring rumah sakit PKU Muhammadiyah telah melayani peserta JKN di seluruh Indonesia. "Tentunya kerja sama antara BPJS Kesehatan dengan Lazismu akan semakin melengkapi kemanfaatan kepada masyarakat Indonesia," tandasnya.

Sementara itu, Ketua Badan Pengurus Lazismu PP Muhammadiyah, Ahmad Imam Mujadid Rais yang menyaksikan langsung penandatanganan kerja sama antara Lazismu dan BPJS Kesehatan (13/05) di Aula Masjid At-Tanwir Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah mengatakan, implementasi program Lazismu yang difokuskan kepada guru honorer ini merupakan perwujudan dari pengkhidmatan kepada umat dan bangsa sebagaimana terpancar dalam Risalah Islam Berkemajuan. Signifikansinya dalam konteks capaian SDGs, Lazismu memperioritaskan mustahik yang memang layak dibantu untuk pemberdayaan seperti guru honorer ini.

"Alhamdulillah, kami menyambut baik adanya inisiasi ini. Komitmen persyarikatan Muhammadiyah dalam hal ini melalui Lazismu dapat langsung mempraktikkan pengkhidmatan secara nasional dan global seperti yang telah dilakukan pendiri Muhammadiyah di Yogyakarta," kata Mujadid Rais.

Profesi guru adalah panggilan jiwa, sambung Rais, karena itu jasmani dan rohaninya harus sehat untuk memperkuat kapasitasnya. Pihaknya memastikan juga sebelum guru-guru honorer memperoleh bantuan, tentu di internal kami juga memastikan amil-amil kami sudah ikut BPJS Kesehatan.

Direktur Kantor Kesehatan USAID Indonesia, Enilda Martin dalam agenda yang sama mengungkapkan, setiap orang dan dalam status sosial ekonomi apa pun punya akses terhadap layanan kesehatan berkualitas. Melalui USAID Catalyze, pihaknya mendukung upaya Indonesia untuk mencapai cakupan kesehatan semesta.

[Komunikasi dan Digitalisasi Lazismu PP Muhammadiyah/Nazhori Author]