

Jakarta – LAZISMU. Menghadapi era
industri 4.0, pemerintah memacu pertumbuhan wirausaha baru untuk penguatan
struktur ekonomi. Ketimpangan ekonomi dan sosial adalah pekerjaan rumah yang
tak kunjung selesai. Peran negara untuk melakukan perubahan sosial masih di
nanti agar program-program yang menyentuh pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat
berjalan semestinya.
Untuk menggali potensi pemberdayaan masyarakat, industri kecil dan menengah dianggap dapat memberikan solusi karena sifatnya yang berkelanjutan dan menyasar pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Indonesia membutuhkan 4 juta wirausaha baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Meski
jumlah pelaku wirausaha masih sedikit, peluang itu masih terbuka lebar agar
hukum pasar yang berbunyi profit-oriented dapat dimaknai dengan tujuan finalnya
yakni pemberdayaan. Merujuk beberapa studi bisnis yang sedang berkembang, untuk
sewindu terakhir ini, para ahli dan praktisi masih mengharapkan model bisnis
sosial (social entrepreneur) sebagai
salah satu solusi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di era digital sekarang
ini, berbagai macam gagasan platform terus melaju seiring dengan tumbuhnya
marketplace. Salah satu upaya strategisnya adalah membuka keran air bisnis
sosial.
Potensi
dana yang dicari bisa dari mana saja, seperti Corporate Social Responsibility (CSR), Crowdfunding dan dana zakat yang sudah dikembangkan oleh beberapa
lembaga filantropi Islam di Indonesia.
Belakangan
ini, lembaga amil zakat nasional seperti Lazismu, terutama di Kantor Layanannya
yang ada di Manggarai, Jakarta Selatan, menelurkan model bisnis sosial yang
diwujudkan dalam bentuk usaha kecil dan menengah. Dengan mengadopsi
implementasi pilar ketiga dakwah Muhammadiyah di bidang Ekonomi, Kantor Layanan
(KL) Lazismu Manggarai menggarap industri kecil kuliner.
Terlepas
dari usianya yang terbilang baru, tim media Lazismu menelusurinya. Apa
sebetulnya di balik nilai bisnis sosial yang tengah dijalankannya. Untuk
mengulik lebih dalam, Lambang Saribuana selaku Ketua KL Lazismu Manggarai,
mengisahkan ikhtiar di balik dapur pemberdayaan ekonomi itu melalui dua model
konsep (25/9/2019).
Awalnya
ide ini terbesit ketika dirinya berkenalan dengan Desvan. Kira-kira setahun
yang lalu. Kadang-kadang saling berbagi kabar. Memang sejak kenal Desvan, kata
Lambang, kawannya itu sudah berbisnis salah satunya bisnis pizza. Lambang
mengaku jika dirinya juga seorang pelaku usaha. Namun dunianya berbeda.
Suatu
waktu, Desvan mengajak saya untuk bertemu. Ia ingin berkunjung ke rumah saya.
Akhirnya dengan sengaja datang. Desvan mengajak saya untuk menjadi coach
bisnisnya. Kebetulan kata Lambang, dirinya memang sebagai coach pengembangan
bisnis di Lazismu yang sedang merintis inkubasi bisnis sosial.
Namun
saya menolak. Karena dia ulet, rajin dan pantang menyerah selalu menghubungi
saya. “Desvan selalu kirim pesan melalui whatsapp untuk berdiskusi. Dia kreatif
dalam berbisnis,” terang Lambang. Pada akhirnya, hati saya luluh. Tapi dengan
catatan Desvan harus bisa bersinergi dengan Lazismu.
Lambang memberanikan diri untuk kembali bertemu Desvan membicarakan soal konsep bisnisnya. Hanya saja, Lambang hadir bersama Bu Irma Nirmala yang pernah aktif di Aisyiyah. Di awal pertemuan itu, Desvan meminta Lambang untuk menjadi coach Pizza Diva miliknya. Lantas, Lambang menjawab tidak berminat. Persoalannya bukan karena tidak menarik, tapi karena jarak yang jauh dan waktu yang tidak memungkinkan.
Tak
berhenti sampai di situ, Lambang balik bertanya, jika anda berminat, apakah
Pizza Diva mau menghibahkan bisnis modelnya ke dalam Lazismu. Desvan
mengerutkan dahi, maksudnya bagaimana, tanya Desvan. Lambang menjawab, bolehkah
Pizza Diva direbranding ulang jadi Pizzamu?
Pertanyaan
yang tak diduga sebelumnya oleh Desvan. Setelah diskusi panjang, Desvan luluh
juga untuk menerima tawaran Lambang. Keduanya menyetujui untuk melakukan model
bisnis sosial. Seminggu lalu, Lambang dan Desvan bersepakat ke notaris untuk
bersinergi mengembangkan model bisnis
ini dalam ikatan kerja sama.

Lambang
mengatakan tujuannya sudah jelas, memberikan kesempatan kepada orang lain untuk
membuka usaha dan mengembangkan bisnisnya jika sudah ada keinginan yang kuat.
Bahkan bagi amil Lazismu, lanjut Lambang, juga bisa untuk memulainya termasuk
aktivis Muhammadiyah yang ingin merintis usaha dari bawah.
Pada
prinsipnya Pizzamu menggunakan dua model bisnis, pertama dengan pendekatan
waralaba (franchise), kedua dengan
pendekatan crowdfunding. Lambang
merinci, untuk produknya ada dua segmen berbeda, pertama hanya untuk orang
Muhammadiyah, kedua untuk masyarakat kelas menengah ke bawah.
Lambang membayangkan amil Lazismu kelak menggantungkan pendapatannya dari usaha yang lain. Tidak lagi dari seperdelapan asnaf, tapi dari pendapatan mengembangkan usaha dari Pizzamu. Pizzamu sendiri sekarang sudah ada di lima titik. Semuanya berada di Bekasi, seperti di Summarecon, Alun-alun Bakasi, Rumah Makan Wulansari Bekasi, dan lainnya. “Bulan ini di Jakarta akan di buka satu titik lagi,” jelas Lambang.
Pizzamu adalah salah satu produk dari PT. Surya Bangun Negeri yang didirikan oleh Desvan. Dan, seluruh keuntungan dari model binis sosial ini masuk ke dalam program pemberdayaan ekonomi KL Lazismu Manggarai. Produk ini sangat mudah dijalankan dengan investasi yang ekonomis. Cocok untuk usaha di lingkungan amal usaha Muhammadiyah, bagi yang berminat silakan datang ke KL Lazismu Manggarai. (na)

