

KALIMANTAN TENGAH -- Bencana tak mengenal tempat. Demikian juga dengan kepedulian terhadap sesama. Satu keluarga penyintas kebakaran di Desa Anjir Pulang Pisau, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, bersyukur mendapat perhatian dan bantuan kemanusian dari masyarakat.
Bantuan kemanusiaan itu disalurkan kepada keluarga Dedy yang pada dini hari, 27 Juli 2026, rumah dan harta bendanya musnah dilalap api. Saat kebakaran terjadi, Dedy mengaku sedang berada di luar rumah untuk berburu burung. Sementara istri dan kedua anaknya berada di dalam rumah dalam kondisi pintu depan rumah terkunci dari luar.
“Alhamdulillah, istri dan kedua anak saya masih bisa menyelamatkan diri melalui pintu belakang. Namun mereka hanya sempat membawa pakaian yang melekat di badan dan satu telepon seluler”, kata Dedy dengan mata berkaca-kaca.
Semua barang perabotan rumah habis terbakar, termasuk sepeda motor anak saya. Atas bantuan yang diterimanya, Dedi bersyukur dan menyampaikan terima kasih kepada Lazismu Pulang Pisau serta seluruh donatur yang telah memberikan perhatian untuk keluarganya.
“Terima kasih kepada Lazismu Pulang Pisau dan seluruh donatur yang telah memberikan bantuan untuk saya dan keluarga. Insyaallah akan kami gunakan untuk membeli kebutuhan pembangunan rumah”, pungkasnya. Semoga Lazismu Pulang Pisau semakin bisa memberikan nilai manfaat bagi masyarakat.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Pulang Pisau, Achmat Husen, mengatakan bantuan yang disalurkan merupakan bentuk amanah dari masyarakat yang mempercayakan zakat, infak, dan sedekahnya kepada Lazismu.
“Ini amanah dari para donatur yang telah menitipkan zakat, infak, dan sedekah melalui Lazismu. Tugas kami menyalurkannya kepada mereka yang membutuhkan. Semoga bantuan ini meringankan beban keluarga Bapak Dedi, meskipun kami menyadari untuk membangun kembali rumah yang terbakar memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang tak sedikit”, ujarnya.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh donatur yang selama ini telah mempercayakan Lazismu Pulang Pisau. Semoga Allah membalas setiap kebaikan dengan pahala yang berlipat dan keberkahan rezeki, serta menjadikan setiap amanah yang disalurkan bernilai ibadah,” tambahnya.
Melalui program pendistribusian bantuan kemanusiaan, Lazismu Pulang Pisau terus berkomitmen menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat yang terdampak bencana. Kepedulian yang diwujudkan Muhammadiyah melalui Lazismu menjadi bukti semangat memberi untuk negeri tidak hanya hadir dalam bantuan materi, tetapi juga melalui kehadiran, empati, dan penguatan moral bagi para penyintas bencana.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Bonni Febri]

JAKARTA – Belum tuntas mengupas dampak program pemberdayaan, arena gerakan filantropi malah dikabarkan oleh Kemenag RI akan dibuatkan tampilan data visual (dashboard) bersama yang berbasis waktu nyata dalam agenda pengentasan kemiskinan.
Badan dan lembaga amil zakat akan bersama-sama menyajikan data itu dari aksi layanannnya. Kendati jalan program pemberdayaannya berbeda-beda, tujuannya sama yaitu pengentasan kemiskinan dan wujudkan kesejahteraan.
Jelang akhir Juli 2026, Lazismu menggelar Resepsi Milad ke – 24 di Gedung Perpustakaan Nasional RI, Jakarta pada Rabu (29/7/2026). Lazismu Wilayah secara nasional merapat lewat daring dan mitra kolaborasi dari entitas perusahaan hadir mengikuti jalannya resepsi yang berlangsung meriah.
Di hari jadinya yang jatuh pada 4 Juli 2022, acara puncak milad Lazismu mengusung tema Integrasi Menguatkan Dampak. Tema tersebut merupakan refleksi perjalanan Lazismu atas kiprahnya di kancah nasional gerakan filantropi Islam selama 24 tahun.
Ketua Badan Pengurus Lazismui Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais mengatakan bahwa makna dampak mengandung pesan untuk perlu memperkuat diri kita dari sisi integrasi tata kelola kelembagaan dan sistem data. “Integrasi tersebut harus dilakukan berdasarkan kebutuhan masyarakat. Apa yang bisa dibantu untuk menjawab persoalan masyarakat”, jelasnya.
Maka integrasi harus menjadi pijakan agar potensi yang dimiliki Lazismu dapat bergerak dalam satu kerangka yang terarah dan menghasilkan dampak yang lebih luas. Mujadid menilai bahwa amil itu harus mendengar dan peka terhadap isi hati masyarakat. Dengan mendengar problem itu amil dapat menjawan persoalan masyarakakat yang dibutuhkan secara tepat sasaran.
Lahan dakwah gerakan filantropi begitu luas, karena itu perlu dipikirkan dan direncanakan jalan transformasi yang hendak dicapai agar mustahik bisa menjadi sejahtera. Indikatornya, kata Mujadid ada dua yakni penguatan tata kelola dan program yang berdampak.
Luput Dari Perhatian
Integrasi data kemiskinan sebetulnya sudah sering dibicarakan banyak pihak termasuk pemerintah sendiri. Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag RI, Waryono Abdul Ghafur mengaku hal ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Perhatian yang sama disampaikan Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hilman Latief bahwa sebagai peneliti dan pelaku gerakan filantropi eksposur data masih luput dari perhatian.
Menurutnya, Ia masih sulit menemukan lembaga filantopi di Indonesia yang memiliki kualitas data. Ekosistem gerakan zakat memang tumbuh dan berkembang. Bahkan menjadi kekuatan tersendiri yang ditopang oleh sistem dan modal kulturalnya yang kompleks.
“Hanya saja kekuatan data itu belum terhubung oleh entitas lain seperti perusahaan dan industri keuangan. Impiannya berbagai program pemberdayaan yang dilakukan lembaga amil zakat saling terhubung. Potensi besar itu belum sepenuhnya didengar di kancah internasional”, pungkasnya.
Kita memiliki inovasi praktik baik yang banyak, tetapi belum cukup andal dalam eksposur kepada dunia. Oleh karena itu, dalam amanahnya, Hilman menggariskan bahwa data, literasi dan eksposur perlu diperkuat kembali.
Hingga kini, menurut Waryono, kita masih berusaha untuk melakukan integrasi keuangan. Sementara kita akan melangkah menuju integrasi data, tentu saja ini bukan hal yang mudah.
Dalam aspek integrasi dan program yang berdampak saja perlu beberapa instrumen. Lalu bagaimana menguatkan muzaki dan pengumpulan besar sangat dipengaruhi oleh muzaki.
“Ukuran kesuksesan badan dan lembaga amil adalah seberapa banyak pada dampak. Ini tantangan kita semua. Kendati mandatori lembaga amil zakat itu jelas namun dampaknya harus lebih bisa dirasakan oleh masyarakat”, tuturnya.
Yang menjadi perhatian bersama, jangan sampai terjadi bahwa dengan hasil penghimpunan yang besar tapi lingkungan di sekitar kita masih ada orang yang berselimut kemiskinan. Artinya, tegas Waryono, programnya belum berdampak pada orang miskin.
Kembali pada isu integrasi data, ke depannya kita akan mendesain dashboard. Suatu tampilan data visual bersama yang dapat dijadikan informasi untuk membaca pertumbuhan dan perkembangan layanan program lembaga amil zakat yang juga nantinya terhubung ke lembaga terkait seperti Kementerian.
Integrasi data berasal dari komunikasi dan koordinasi lintas lembaga. Wakil Ketua Baznas, Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan bahwa tema yang diangkat Lazismu sangat menarik. Sekaligus menjadi tantangan pengelolaan zakat selama ini, kata Sa’adi.
“Potensi zakat sangat besar dan kita sering mengitung, mengkalkulasi dan hanya sekian persen potensi itu kita raih. Potensi itu bisa terus hasilkan dengan dampak yang kuat bagi kehidupan masyarakat kita”, paparnya.
Hemat Sa’adi, tema milad Lazismu ini kita tangkap sebagai satu kekuatan agar kita bisa lakukan bersama. Sa’adi mewakili Baznas mengatakan setidaknya jalan integrasi itu menyajikan integrasi kelembagaan, integrasi data dan integrasi sumber daya. “Masing-masing saling melengkapi dan menjangkau kebutuhan masyarakat. Tidak semua bisa diintegrasikan paling tidak integrasi data untuk menyelesaikan tumpang tindih selama ini”, tandasnya.
Dalam kesempatan berbeda, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan empat pesan kepada Lazismu untuk menjadi kekuatan yang terintegrasi dan berdampak. Pesan itu antara lain, kata Haedar yaitu konsolidasi jaringan Lazismu secara nasional dan Lazismu di luar negeri.
“Ini menjadi kunci utama tujuan integrasi dalam membangun soliditas di dalam sistem pengorganisasian”, jelasnya. Pesan kedua integrasi dinamika gerakan yang progresif dan meluas, dan pesan ketiga, integrasi aktivitas pentasyarufan dan pemanfaatan dana ZISKA yang terkumpul di lingkungan persyarikatan dengan lebih terpadu. Pesan terakhir, kata Haedar, meningkatkan jejaring sehingga kolaborasi dengan berbagai pihak terus menambah penghimpunan agar lebih luas dan besar jangkauannya.
Kemudian sambung dia, bagaimana potensi yang ada itu terus digali oleh Lazismu dengan berbagai pendekatan. Saluran publikasi harus terus dilakukan secara terus-menerus. Mari manfaatkan teknologi infomasi seperti media sosial. Ini langkah menemukan relasi baru yang masif dan strukturnya luas, tutupnya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

JAKARTA -- Milad ke – 24 Lazismu temanya menarik yaitu Integrasi Menguatkan Dampak. Ini yang sebenarnya sering disampaikan di berbagai pertemuan. Hampir semua orang membicarakan tapi tidak mudah.
Demikian disampaikan Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Waryono Abdul Ghafur, dalam Resepsi Milad ke-24 Lazismu, di Perpusnas, Jakarta pada Rabu, (29/7/2026). Menurutnya, kita sering berusaha mengintegrasikan uang, sementara mengintegrasikan data saja tidak mudah.
Inti yang ingin saya sampaikan pada resepsi milad ini, kata Waryono, sasaran badan atau lembaga amil zakat itu fakir dan miskin. Ini pekerjaan rumah kita di berbagai kesempatan. Sampai hari ini fakir dan miskin sama kondisinya dan bagaimana menaikan kelas mereka itu tidak mudah.
“Pengukurannyan juga perlu beberapa instrumen dan bagaimana menguatkan muzaki, maka pengumpulan besar sangat dipengaruhi oleh muzaki”, jelasnya. Menarik apa yang ditemukan dalam penelitian Amelia Fauzia, bahwa lima puluh persen lebih muzaki masih menyalurkan donasinya di luar lembaga amil zakat.
Alhamdulillah, sekali lagi, selamat kepada Lazismu yang usianya genap 24, artinya lembaga ini secara usia sudah matang. Oleh karena itu, saya berterima kasih ada beberapa lembaga amil zakat yang berdiri menjadi bagian dari ormas keagamaan. Lembaga amil zakat ini yang membantu kementerian agama yang tugasnya melakukan pembinaan dan pengawasan.
“Tanpa audit sebetulnya sudah bisa dipantau, betul tidak tata kelolanya. Artinya meringankan tugas negara”, ujarnya. Ada banyak harapan dari masyarakat yang diarahkan ke lembaga amil zakat untuk lebih besar lagi perannya dalam mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan.
Ukuran kesuksesan badan dan lembaga amil adalah seberapa banyak pada dampak. Ini tantangan kita semua hari ini. Meski dalam konteks negara, Baznas atau lembaga amil zakat itu bukan mandatori. “Mandatorinya lebih tinggi yaitu dari gusti Allah. Dampaknya lebih bisa dirasakan oleh Masyarakat”, tuturnya.
Jangan sampai kita bangga dengan pengumpulan yang besar, tapi di sisi kanan dan kirinya masih berkumpul orang miskin. Berarti kata Waryono, programnya belum berdampak pada orang miskin.
Selanjutnya kita akan punya dashboard bersama. Para pimpinan badan dan lembaga amil zakat semua harus ikut dalam system informasi data kemiskinan. Kemudian dari situ akan ada survei tentang pertumbuhan dan perubahan yang terjadi seperti apa.
Semua akan terloihat datanya secara langsung (real time). Berikutnya kami sebagai regulator yang bekerja sama dengen kementerian lain tentang dampaknya dan berusaha untuk orkestrasi agar jalannya memiliki tujuan yang sama. Tidak lain tujuan itu mengentaskan kemiskinan dan wujudkan kesejahteraan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

JAKARTA – Resepsi Milad ke-24 Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu), dihelat di Aula lantai 4 Perpustakaan Nasional, Gambir, Jakarta Pusat pada Rabu, (29/7/2026). Tema milad Lazismu tahun ini mengusung topik “Integrasi Menguatkan Dampak”.
Dalam acara puncak milad ini, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, mengatakan di hari ini kita melakukan refleksi perjalanan Lazismu selama 24 tahun, yang lahir pada 4 Juli 2022. Tema tersebut hadir dari spirit Lazismu dalam rakernas tahun 2025 di Kalimantan Selatan.
“Kita melihat kembali rencana strategis yang didalamnya ada spirit untuk melakukan transformasi yang terintegrasi dan berdampak”, ujarnya. Ini adalah momentum untuk memperkuat integrasi dalam tata kelola secara kelembagaan dan memperluas kolaborasi untuk meningkatkan dampak dalam program pemberdayaan masyarakat.
Mujadid Rais mengatakan, makna berdampak di sini artinya kita perlu memperkuat diri kita. Memperkuat tata kelola kelembagaan dan sistem data. “Integrasi antara sistem tersebut harus dilakukan berdasarkan kebutuhan masyarakat. Apa yang bisa kita bantu untuk memberikan solusi dari masalah yang mereka hadapi”, pungkasnya.
Maka integrasi harus menjadi landasan agar segenap potensi yang dimiliki Lazismu dapat bergerak dalam satu kerangka yang terarah dan menghasilkan dampak yang lebih luas. Lazismu harus hadir menyelami dan memahami apa yang dirasakan masyarakat. Dengan mendengar problem itu masyarakakat mendapatkan tempat yang tepat untuk mengutarakan isi hatinya.
Ia menilai, apa yang kita pikirkan dan bagaimana transformasi itu didesain dalam pemberdayaan masyarakat adalah mengubah seorang mustahik menjadi sejahtera. Indikatornya ada dua yaitu tata kelola dan dampak.
“Ikhtiar ini perlu duduk bersama untuk mengukur capaian yang diperoleh sehingga mustahik bisa menjadi muzaki”, tandasnya. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas mustahik juga penting karena yang jadi fokus utamanya adalah manusia.
Terakhir, lanjutnya, program-program yang ada dan dilakukan Lazismu agar bisa diukur yang dampaknya dapat dilihat dan para mitra mendapatkan umpan balik. Inilah yang Lazismu inginkan dalam tata kelolanya agar dapat mempertemukan semua pihak dan mitra-mitra Lazismu.
[Kelembagan dan Humas Lazismu Pusat]

DENPASAR -- Beberapa Lazismu wilayah setelah melakukan proses audit hampir selalu mendapat wawasan terkait tata kelola keuangan dan kepatuhan. Kini giliran Lazismu Wilayah Bali, pada Senin, (27/7/2026), menggelar proses audit keuangan.
Proses audit berkelanjutan ini menjadi langkah strategis Lazismu dalam menjaga komitmennya pada nilai transparansi, profesionalisme, serta akuntabilitas pengelolaan dana zakat, infak, sedekah dan dana sosial keagamaan lainnya di Pulau Dewata.
Pelaksanaan audit keuangan kali ini diikuti oleh tiga entitas kantor Lazismu di antaranya Lazismu Wilayah Bali, Lazismu Daerah Buleleng, dan Lazismu Daerah Denpasar, dengan melibatkan auditor independen dari Kantor Akuntan Publik (KAP) Abdul Hamid & Rekan.
Ketua Lazismu Wilayah Bali, Riza Putra, mengatakan bahwa audit eksternal secara berkala merupakan standar mutlak bagi lembaga pengelola dana publik untuk terus merawat kepercayaan masyarakat dan para muzaki.
"Syukur alhamdulillah, proses audit keuangan bersama KAP Abdul Hamid & Rekan hari ini berjalan dengan lancar secara daring. Pelaksanaan audit ini tidak melulu kewajiban administratif, tetapi wujud tanggung jawab moral dan bentuk komitmen Lazismu Wilayah Bali untuk terus menjaga Amanah”, tandasnya.
Kami ingin memastikan setiap rupiah yang dikelola oleh Lazismu dan dipercayakan kepada kami dapat dipertanggungjawabkan secara transparans. Tantangan dan peluang pengelolaan zakat di Bali menjadi realitas yang harus dicari solusinya.
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Audit dan Kepatuhan Lazismu Wilayah Bali, Edo Donnes, menjelaskan bahwa pemeriksaan menyeluruh ini bertujuan untuk memastikan tata kelola keuangan di seluruh tingkatan telah memenuhi standar akuntansi keuangan dan kepatuhan yang berlaku.
"Melalui audit independen bersama KAP Abdul Hamid & Rekan, kami melakukan evaluasi terhadap kepatuhan prosedur serta kelayakan laporan keuangan, baik di tingkat wilayah maupun daerah seperti Buleleng dan Denpasar”, ujarnya.
Harapannya, hasil audit ini semakin memperkuat sistem pengendalian internal Lazismu agar semakin akuntabel. Dengan selesainya rangkaian proses audit, Lazismu di Wilayah Bali, Daerah Buleleng dan Denpasar optimis dapat terus meningkatkan kinerja pelayanan zakat serta memperluas jangkauan penerima manfaat program pendayagunaan bagi masyarakat.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Bali]

LOMBOK -- Lazismu terus memperkuat komitmennya dalam tata kelola zakat yang profesional, akuntabel, dan terpercaya melalui penyelenggaraan Sertifikasi Amil Lazismu 2026. Kegiatan itu berlangsung di Kota Malang, Jawa Timur, pada 24–25 Juli 2026, yang diikuti 44 amil dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk tiga amil dari Lazismu Wilayah Nusa Tenggara Barat.
Salah seorang amil dari perwakilan Lazismu Wilayah NTB, Rahman mengatakan bahwa sertifikasi ini sangat penting diikuti agar menjadi bekal dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada muzaki dan mustahik. Rahman merinci, utusan amil terdiri atas satu orang dari Lazismu Wilayah NTB dan dua orang dari Lazismu Kantor Daerah Kota Bima.
"Bersama utusan amil lainnya, kami dalam kegiatan sertifikasi berupaya untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola dalam pelayanan kepada muzaki dan mustahik. Hal ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus belajar membangun tata kelola kelembagaan yang sesuai dengan standar nasional," kata Rahman.
Dalam proses sertifikasi, sambung Rahman, peserta mengikuti uji kompetensi berbasis portofolio yang mengukur kinerja amil dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai standar nasional. Aspek penilaian mencakup kepatuhan syariah, regulasi yang berlaku, etika pelayanan kepada muzaki, hingga kecermatan yang tepat dalam pendistribusian dan pendayagunaan program kepada mustahik.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Timur, Imam Hambali, mengungkapkan bahwa peningkatan kapasitas amil merupakan langkah pedagogis untuk menjawab ekspektasi masyarakat terhadap pengelolaan lembaga amil zakat yang semakin tumbuh dan berkembang.
"Lazismu berusaha untuk menerapkan prinsip good governance yang benar-benar terimplementasi di seluruh lingkungan Lazismu. Karena itu, kami mendorong amil untuk belajar meningkatkan kompetensinya”, pungkasnya.
Sertifikasi amil merupakan kewajiban yang harus diikuti amil sesuai standar nasional yang telah ditetapkan negara. Menurut Imam, melalui amil yang kompeten maka akan berdampak pada tata kelola lembaga sehingga meningkatkan kepercayaan para donatur dalam setiap amanahnya.
Komitmen terhadap peningkatan kualitas tersebut juga menjadi latar belakang Lazismu Jawa Timur untuk kinerjanya termasuk utusan amil dari Lazismu NTB. Sertifikasi Amil Lazismu 2026 dibagi dalam tiga skema kompetensi, yaitu Pelaksanaan Pengumpulan Zakat, Pelaksanaan Pendistribusian dan Pendayagunaan Zakat, serta skema gabungan Pelaksanaan Pengumpulan Zakat dan Pelaksanaan Pendistribusian serta Pendayagunaan Zakat.
Sebelum mengikuti asesmen dalam proses sertifikasi, seluruh amil diwajibkan menyusun dan melengkapi portofolio sesuai unit kompetensi yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2021.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Rahman]

