


MANGGARAI TIMUR -- Pascagempa bumi di NTT, Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah mendirikan Rumah Sakit Lapangan di Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Fasilitas kesehatan ini hadir untuk mendukung dan memperkuat pelayanan kesehatan lokal masyarakat setempat.
Rumah Sakit Lapangan ini mengoperasikan layanan EMT Tipe 1 Fixed. Artinya rumah sakit lapangan yang menetap selama masa tanggap darurat. Saat ini menjadi satu-satunya EMT Tipe 1 Fixed di Indonesia yang telah berhasil mendapatkan verifikasi resmi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Spesialis kedaruratan dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Dokter Corona Rintawan, menyampaikan bahwa status verifikasi internasional dari WHO menuntut pemenuhan standar fasilitas kesehatan yang ketat dan menyeluruh.
"Dengan verifikasi itu, maka standar juga harus dipenuhi. Dalam hal ini standar fasilitas yang kami miliki, mulai dari UGD, kemudian ruang triase, ada ruang maternal, ruang rawat isolasi, kemudian ada command center, dan apotek juga”, ujarnya, pada (7/9/2026). Fasilitas itu sudah jadi bagian dari standar dan hari ini memang sudah dipenuhi.
Layanan kesehatan di Dampek, Manggarai Timur, menjadi bentuk respons lapangan perdana bagi EMT Muhammadiyah sejak berhasil meraih verifikasi WHO pada Oktober tahun lalu. Penyiapan seluruh fasilitasnya, dipastikan berjalan berdasarkan standar kualitas internasional.
Rumah Sakit Lapangan EMT Muhammadiyah disiagakan untuk mendampingi pelayanan Puskesmas Dampek hingga kondisi operasional dan pelayanan kesehatan masyarakat setempat pulih secara normal.
Seluruh rangkaian respons ini juga dijalankan melalui koordinasi berkelanjutan bersama Kementerian Kesehatan RI guna menyelaraskan program pelayanan darurat lapangan dengan kebijakan kesehatan nasional.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat].

MANGGARAI TIMUR -- Layanan medis pascabencana di Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, memasuki babak baru. Tim medis darurat Roster List 1 EMT Muhammadiyah Tipe 1 Fix secara resmi akan dilanjutkan dengan Rosterlist 2 setelah hampir dua pekan berada di rumah sakit lapangan.
Kehadiran tim medis darurat Roster List 2 melanjutkan tugas Roster List 1 yang selesai masa tugasnya di Dampek dalam aksi layanan kesehatan untuk penyintas. Tim kedua ini dipimpin oleh Dokter Anang, spesialis kedaruratan yang bertindak sebagai Team Leader.
Sesuai standar WHO, masa pelayanan Roster List 2 berlangsung selama 14 hari, terhitung mulai 7 September hingga 21 September 2026, berdasarkan total masa penugasan dari PP Muhammadiyah pada 5 September hingga 25 September 2026, yang mencakup durasi perjalanan.
Berdiri tepat di samping Puskesmas Dampek yang hancur akibat gempa bumi, posko EMT Muhammadiyah hadir memulihkan akses kesehatan primer bagi masyarakat sekitar. Pelayanan yang diberikan mengadopsi standar Puskesmas Indonesia serta regulasi WHO, meliputi layanan medis umum, kesehatan ibu dan anak hingga perawatan luka pascaoperasi.
"Kita tidak hanya menggantikan dari Puskesmas Dampek yang sekarang hancur, tetapi juga melayani masyarakat sekitar yang biasanya ke Puskesmas. Namun, tidak menutup kemungkinan ada pos layanan yang dikelola relawan mana pun atau pemerintah untuk merujuk ke EMT di sini”, ujar Dokter Anang.
Pasien yang memerlukan tindakan lanjutan atau rawat inap, tim berkolaborasi memanfaatkan tenda perawatan di area posko yang dikelola Puskesmas setempat bersama dukungan relawan MER-C dan ILUNI Universitas Indonesia. Sementara itu, kasus akut atau pasien yang membutuhkan kompetensi penanganan lebih spesifik akan dirujuk ke RSUD Borong yang berjarak sekitar 5 hingga 6 jam perjalanan ke arah selatan Pulau Flores.
Pada misi kemanusiaan ini, Roster List 2 menerjunkan 24 personil yang terdiri dari tenaga medis dan non-medis. Formasi medis diperkuat oleh satu dokter umum, dua dokter spesialis anak, salah satunya merupakan dukungan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Tim ini didukung juga 8 perawat kualifikasi khusus di bidang triase, klinik umum, ruang isolasi, hingga maternal-pediatric. Operasional tim ini ditopang penuh oleh tenaga farmasi dan tim logistik.
Pengalihan roster ini sekaligus menandai pergeseran fokus penanganan kesehatan di lokasi bencana. Dokter Anang menjelaskan bahwa tugas di Roster List 2 memiliki karakter kasus yang mulai berbeda dibandingkan dengan tim pertama.
"Di Roster List 1 itu adalah masa-masa awal terjadinya bencana, sehingga kasus-kasus bedah atau tindakan masih cukup banyak. Untuk di Roster List 2, ini secara umum, pasien-pasien harian Puskesmas yang memang biasa harus kontrol, kemudian dialihkan sementara di sini. Sedangkan kasus pascabedah yang lampau, kita bisa melakukan perawatan luka”, pungkasnya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

MANGGARAI TIMUR -- Pimpinan Pusat Muhammadiyah meninjau lokasi pengungsian di Dampek, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Bendahara Umum PP Muhammadiyah, Hilman Latief, menyapa para penyintas dan anak-anak, pada Ahad, (6/9/2026).
Dalam agenda tersebut, Muhammadiyah melalui Lazismu menyalurkan 235 paket perlengkapan sekolah (school kit) kepada siswa-siswi Sekolah Dasar Katolik (SDK) Dampek. Bantuan ini diberikan untuk menjaga asa dan semangat belajar anak-anak di tengah masa tanggap darurat pascagempa bumi yang melanda wilayah pesisir tersebut pada 15 Agustus lalu.
Paket bantuan School Kit yang dibagikan berisi tas sekolah, tas pouch, buku tulis, buku gambar, pulpen, pensil, hingga krayon. Penyerahan bantuan ini dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan Lazismu, di antaranya Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat Ahmad Imam Mujadid Rais, dan Direktur Utama Lazismu Pusat Barry Adhitya.
Hilman Latief turut memberikan motivasi agar para murid tetap memiliki semangat tinggi untuk menuntut ilmu. Gempa bumi yang terjadi berdekatan dengan pusat getaran di area pesisir ini berdasarkan data di lapangan mengakibatkan kerusakan parah pada infrastruktur sekolah.
Dari total 13 ruang kelas di SD Katolik Dampek, sebanyak 10 ruang mengalami rusak berat dan hanya 3 ruang yang masih layak digunakan untuk menampung 11 rombongan belajar. Kepala Sekolah SDK Dampek, Bernadeta Hadia, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas kepedulian Lazismu.
Menurutnya, bantuan perlengkapan sekolah ini sangat krusial karena mayoritas perlengkapan belajar siswa hancur di tengah runtuhan bangunan akibat dampak gempa dan luapan air laut di area pesisir.
"Banyak rumah warga yang roboh total maupun sebagian, bahkan rumah di pesisir sempat kemasukan air laut sehingga seluruh perlengkapan anak-anak, termasuk buku dan seragam, tidak ada yang tersisa. Anak-anak sangat gembira menerima perlengkapan baru ini," ujar Bernadeta.
Selain merusak fasilitas pendidikan, bencana ini juga mengakibatkan sejumlah siswa mengalami luka-luka akibat reruntuhan bangunan, seperti patah tulang dan luka di bagian kepala, yang saat ini telah mendapatkan penanganan medis.
Mengingat masa tanggap darurat masih berlangsung hingga 12 September 2026, kegiatan belajar mengajar secara formal belum dapat berjalan optimal. Namun, pihak sekolah mulai mendampingi para siswa melalui aktivitas pemulihan trauma dengan pendekatan psikososial, seperti menggambar dan menuliskan pengalaman mereka selama berada di posko pengungsian.
SDK Dampek sendiri merupakan sekolah yang aktif mencetak prestasi, di antaranya meraih Juara Kabupaten untuk TKA Bahasa Indonesia serta Juara 3 Stan Pameran pada Expo Pendidikan melalui inovasi pengolahan sampah plastik menjadi paving block. Bantuan School Kit dari Lazismu diharapkan dapat menjadi langkah awal pemulihan aktivitas pendidikan agar para siswa dapat segera kembali mengukir prestasi.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

MANGGARAI TIMUR -- Di tenda pengungsian bantuan kemanusiaan telah dikemas untuk para penyintas. Bantuan logistik terdiri dari Rendangmu dan Family Kit serta School Kit yang telah tiba terlebih dahulu bersamaan dengan bantuan pendukung lainnya yang diperoleh dari hasil galang dana kemanusiaan Lazismu lewat program Indonesia Siaga.
Selain itu, Muhammadiyah menyalurkan bantuan operasional untuk Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah Type 1 Fixed, dalam bentuk Bantuan Operasional Posko Muhammadiyah serta 1.400 paket rendang untuk penyintas gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Ahad, (6/9/2026). Penyerahan bantuan dipusatkan di Pos Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Lapangan EMT Muhammadiyah, Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara (Sambi Rampas), Manggarai Timur.
Agenda ini dihadiri oleh Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hilman Latief, Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pusat Budi Setiawan, Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Timur Tintin, Camat Lamba Leda Utara Emilianus Sarjanit, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat Ahmad Imam Mujadid Rais, Direktur Utama Lazismu Pusat Barry Adhitya, Direktur Fundraising Lazismu Pusat M. Sholeh Farabi, serta 27 personil tim relawan medis EMT.
Camat Lamba Leda Utara, Emilianus Sarjanit, menyampaikan apresiasi mendalam atas gerak cepat dan uluran tangan Muhammadiyah pascabencana yang melanda wilayahnya sejak 15 Agustus lalu.
"Kami benar-benar jatuh pascagempa. Bingung harus ke mana, dan uluran kasih dari Tim Muhammadiyah membangkitkan semangat kami kembali. Terima kasih telah menghapus air mata kami", ujar Emilianus.
Emilianus melaporkan, sebanyak 2.294 rumah di wilayahnya mengalami rusak parah, sementara 8.333 jiwa masih bertahan di tenda pengungsian. Selain itu, dua Puskesmas setempat (Puskesmas Dampek dan Puskesmas Beleng) serta 80 persen fasilitas pendidikan mengalami kerusakan berat, sehingga layanan kesehatan dan kegiatan belajar mengajar (KBM) harus dilaksanakan di tenda darurat.
Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Timur, dokter Tintin, mengungkapkan, tantangan besar yang dihadapi daerahnya pada awal bencana akibat hilangnya jaringan komunikasi dan keterbatasan kesiapsiagaan darurat. Dari total 29 Puskesmas di wilayah tersebut, sebanyak 12 Puskesmas mengalami rusak parah (kategori merah) dan seluruh alat kesehatannya tidak dapat diselamatkan.
"Hadirnya MDMC, EMT Muhammadiyah, serta berbagai universitas dan relawan sangat membantu kami. Layanan Rumah Sakit Lapangan dari EMT membuat kepulihan masyarakat jauh lebih cepat teratasi”, ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Ketua LRB PP Muhammadiyah, Budi Setiawan, menjelaskan bahwa MDMC langsung mengaktifkan simpul koordinasi (Poskornas di Jogja, Poskorwil di Ende, dan Poskorda di kabupaten terdampak) sejak hari pertama bencana. Rumah Sakit Lapangan EMT Muhammadiyah berstandar WHO ini diterjunkan dengan skema dua rotasi tim (shift) selama satu bulan penuh, bekerja sama dengan nakes lokal dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
“Bagi kami, kesehatan dan pendidikan adalah dua hal yang tidak boleh berhenti saat bencana. Selain layanan medis, Muhammadiyah bersama Kemendikdasmen juga merancang pembangunan ruang kelas darurat agar anak-anak tidak mengalami trauma berkepanjangan”, pungkasnya.
Dalam pengarahannya, Bendahara Umum PP Muhammadiyah Hilman Latief menekankan bahwa kehadiran Muhammadiyah adalah wujud dari gerakan kolektif dan komitmen solidaritas kemanusiaan.
"Misi kemanusiaan Muhammadiyah didasari spirit tolong-menolong dalam kebajikan. Menghadapi situasi sulit (aqabah) membutuhkan ketahanan mental dan kerja sama yang kuat. Tim EMT ini dipersiapkan matang bertahun-tahun sesuai standar WHO agar bisa bekerja profesional di mana pun bencana terjadi", jelas Hilman.
Hilman menambahkan, Muhammadiyah akan terus mendampingi proses pemulihan masyarakat Manggarai Timur hingga masa tanggap darurat dan rekonstruksi usai melalui penggalangan dana dan penguatan jejaring relawan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

MANGGARAI TIMUR -- Relawan Muhammadiyah berjibaku sediakan makanan bagi penyintas di pengungsian lewat layanan dapur umum. Pada situasi lainnya, relawan kesehatan andalkan fasilitas rumah sakit lapangan tangani pasien. Relawan lainnya menyortir bantuan logistik berupa family kit, school kit, rendangmu dan bantuan lainnya untuk disalurkan tepat waktu.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan apresiasi kepada seluruh relawan yang telah bertugas selama hampir tiga pekan dalam penanganan bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT). Bendahara Umum PP Muhammadiyah, Hilman Latief mengungkapkan, pengabdian para relawan selama berada di lapangan bukan perkara mudah.
Sebagian dari mereka harus meninggalkan pekerjaan dan aktivitas profesional untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat terdampak. “Atas nama PP Muhammadiyah, saya ucapkan terima kasih, seluruh relawan mengawal proses yang berjalan tiga pekan di lapangan”, ujar Hilman di Dampek, Manggarai Timur, NTT pada Ahad, (6/9/2026).
Ini bukan perkara mudah. Alhamdulillah, saya dengar teman-teman relawan yang lain telah datang untuk mengganti jadwal. Ini momentum yang baik kita menjaga keberlanjutan. Menurutnya, kesinambungan aksi layanan kemanusiaan menjadi bagian penting dalam respons bencana oleh Muhammadiyah.
Ia mengingat ungkapan di lingkungan gerakan persyarikatan bahwa relawan-relawan Muhammadiyah berusaha datang lebih awal ketika bencana terjadi dan kembali pulang paling akhir setelah proses penanganan layanan kemanusiaan berjalan.
Hilman menuturkan, sebagian relawan yang diterjunkan merupakan tenaga kesehatan dan dokter spesialis yang harus meninggalkan keluarga dan tempat praktiknya selama menjalankan misi kemanusiaan.
“Relawan-relawan ini meninggalkan pekerjaannya. Dokter-dokter spesialis yang praktik, meninggalkan ruang kerjanya selama tiga minggu”, katanya.
Pengorbanan itu, lanjut Hilman, tidak dapat dilepaskan dari spirit keagamaan yang menjadi dasar gerakan kemanusiaan Muhammadiyah. Ia mengutip pesan Al-Qur’an, wa ta‘āwanū ‘alal-birri wat-taqwā, yakni saling bekerja sama dalam kebajikan dan ketakwaan.
Hilman juga menyinggung Surah Al-Balad yang berbicara tentang al-‘aqabah, yakni jalan yang berat dan sulit. Menurutnya, pesan Al-Qur’an itu mengajarkan keberanian untuk mengambil keputusan nyata dalam membantu sesama, seperti memberi makan, menolong masyarakat dalam kesulitan, serta hadir bagi kelompok rentan.
“Kita tidak sedang bicara pribadi. Alhamdulillah, Muhammadiyah dan tentu organisasi keagamaan yang lain memperkuat level itu sehingga kita menjadi gerakan kolektif”, ujarnya. Ia menambahkan, kesiapan para relawan Muhammadiyah merupakan hasil proses panjang yang dibangun melalui konsolidasi internal, antara lain bersama Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), LAZISMU, Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU), serta berbagai unsur Persyarikatan.
Salah satu bentuk penguatannya dilakukan melalui pengembangan Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah yang telah dipersiapkan sejak 2018. Proses itu mencakup peningkatan pengetahuan, kapasitas dan keterampilan, prosedur, sertifikasi, serta mentalitas relawan dalam memberikan pelayanan kedaruratan.
“Kami tidak ingin semangat kawan-kawan ini terhambat hanya karena masalah administrasi,” jelas Hilman. Ia menyebut proses panjang ini memungkinkan relawan Muhammadiyah bergerak dengan standar yang lebih jelas, baik dalam penanganan bencana di dalam negeri maupun dalam misi kemanusiaan internasional.
Hilman menilai capaian ini merupakan hasil perjuangan bersama MDMC, tenaga kesehatan, relawan, serta banyak pihak yang selama bertahun-tahun membangun kapasitas kemanusiaan Muhammadiyah. Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat yang turut berperan dalam proses penanganan bencana di NTT.
Menurutnya, kerja kemanusiaan membutuhkan kekuatan kolektif karena proses pemulihan tidak berlangsung singkat. “Misi keagamaan dan kemanusiaan itu perlu kerja keras yang luar biasa. Kalau tidak kuat dan tidak kolektif tentu sangat berat. Kita ingin membangun persaudaraan kemanusiaan yang kuat dari proses yang kita jalankan”, pungkasnya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

SLEMAN -- Tugas amil bukan hanya tentang menghimpun dan menyalurkan zakat. Di luar tugas itu, ada tanggung jawab untuk terus belajar, meningkatkan kapasitas serta memastikan pengelolaan dana umat dilakukan secara profesional dan transparans.
Semangat untuk terus belajar inilah yang menjadi bagian dari pelaksanaan Sertifikasi Kompetensi Amil yang diikuti oleh 40 amil pada Sabtu (5/9/2026). Kegiatan ini adalah sertifikasi kompetensi amil perdana yang diselenggarakan Lazismu Daerah Istimewa Yogyakarta bersama Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Muhammadiyah.
Acara sertifikasi tersebut berlangsung di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya, Jalan Kaliurang KM 12,5, Klidon, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sertifikasi kompetensi amil merupakan salah satu langkah Lazismu DIY mendorong peningkatan kualitas sumber daya amil. Dengan proses ini, pengalaman yang telah dimiliki amil dalam menjalankan tugas sehari-hari diperkuat dengan proses pengukuran kompetensi sesuai standar yang ditetapkan.
Uji kompetensi ini rangkaian final dari proses peningkatan kapasitas amil yang telah dilakukan sebelumnya. Diawali melalui sekolah amil yang berlangsung selama dua bulan, yakni pada Mei hingga Juni 2026. Materi yang diberikan dalam sekolah amil disusun dengan mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), materi yang diujikan dalam sertifikasi ini sesuai kebutuhan yang dihadapi amil di lapangan.
Dengan demikian, proses uji kompetensi menjadi tahap akhir untuk mengukur sejauh mana pengetahuan dan kemampuan yang telah diperoleh peserta selama rangkaian peningkatan kapasitas tersebut dapat diterapkan dalam tugas keamilan.
Rangkaian kegiatan dihadiri oleh Ketua Badan Pengurus LAZISMU DIY, Jefree Fahana, serta Direktur LSP Muhammadiyah, Filosa Gita Sukmono, yang sekaligus membuka secara resmi kegiatan sertifikasi kompetensi.
Dalam sambutannya, Ketua Badan Pengurus LAZISMU DIY, Jefree Fahana, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia mengingatkan bahwa proses peningkatan kapasitas merupakan bagian penting dari perjalanan seorang amil yang amanah.
“Semakin kita mencari ilmu, insyaallah Allah akan memberikan derajat kepada kita,” ujar Jefree. Menurutnya, sertifikasi bukan sekadar proses untuk memperoleh pengakuan kompetensi. Lebih dari itu, diharapkan dapat meningkatkan kapasitas, daya tahan, serta kepercayaan diri amil dalam mengelola lembaga zakat.
Jefree juga mengajak para peserta untuk menjadikan proses sertifikasi sebagai bagian dari ikhtiar meningkatkan kualitas diri. Ilmu yang diperoleh, menurutnya, harus dapat diterapkan dengan percaya diri dalam menjalankan pekerjaan yang pada akhirnya memberikan dampak bagi masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, Direktur LSP Muhammadiyah, Filosa Gita Sukmono, menyampaikan bahwa sertifikasi menjadi bagian penting dalam memberikan pengakuan terhadap kompetensi sumber daya manusia di lingkungan Muhammadiyah.
Filosa menjelaskan, seseorang yang menjalankan tugas sebagai amil, tentu punya pengalaman dan kemampuan yang diperoleh dari proses kerja. Namun, pengalaman itu, perlu diperkuat melalui proses sertifikasi agar kompetensi yang dimiliki ada pengakuan dari pihak ketiga.
“Kita mengaku sebagai amil, tetapi itu hanya kita sendiri yang mengakui. Kita butuh pengakuan pihak ketiga,” ungkapnya.
Ia menilai, LSP Muhammadiyah hadir sebagai bagian dari upaya mendorong peningkatan kompetensi sumber daya manusia Muhammadiyah melalui sertifikasi profesi. Proses uji kompetensi menjadi ruang bagi peserta untuk menunjukkan kemampuan yang dimiliki sekaligus mengukur kesesuaiannya dengan standar kompetensi.
Filosa berharap sertifikasi kompetensi amil dapat menjadi daya gerak peserta untuk terus berkembang dengan peningkatan kualitas profesionalnya. Kompetensi yang semakin baik diharapkan dapat selaras dengan penguatan tata kelola lembaga dan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan zakat.
“Untuk itu, selamat melaksanakan uji kompetensi. Selamat bertugas kepada Asesor, dan untuk peserta silakan dipersiapkan hal-hal yang nanti bisa menunjukkan bahwa peserta kompeten di skema tersebut,” pesannya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu DIY]



Seseorang dalam suatu pengajian bertanya kepada Ustadz, Jika Allah SWT Maha Baik dan Maha Penyayang kepada mahluknya, mengapa Ia dengan Kuasanya, memberikan ujian bagi manusia. Hal ini tidak adil padahal Allah SWT telah memberikan nikmat dan anugerah yang tak terhingga.
Pertanyaan di atas, mungkin ada dan dialami dalam benak orang lain. Pertanyaan itu fitrah bagi manusia. Karena dalam Islam manusia memiliki fitrah untuk belajar dan mengetahui segala sesuatu. Potensi bertanya manusia juga bagian dari fitrah manusia dalam beragama untuk mengetahui Kemahakuasaan-Nya sebagai Maha Pemberi Bentuk (Al-Wahib Al-Suwar).
Dengan kuasa-Nya, Allah bisa menjadikan sesuatu dalam bentuk apa saja, bahkan dengan kuasa-Nya mengubah sesuatu dalam bentuk yang lain bahkan menghancurkan atau memusnahkannya. Termasuk bencana gempa bumi, tentu ada maksud-Nya Allah memberikan peringatan dan kehancuran itu kepada setiap manusia.
Dalam kajian Fikih Bencana tahun 2014, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah melakukan kajian atas pokok bahasan mengenai bencana, keadilan dan nasib manusia dalam mempertahankan hidupnya.
Salah seorang Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Ustadi Hamsah, misalnya, ketika membahas soal Keadilan Tuhan (theodicy), Musibah dan Peristiwa yang Penuh Makna, mengungkapkan bahwa konsep Keadilan Tuhan merupakan ke-Maha Baik-kan dan ke-Maha Adil-an Allah yang dihadapkan pada kenyataan adanya keburukan dan kejahatan di dunia.
Hal itu, menurutnya, didasarkan pada sifat Rahmah (rahman dan rahim). Ketentuan dan ketetapan Allah pun selalu BAIK, dan hamba-hamba Yang Rahman dan Rahim (‘ibad al-Rahman) memandang bahwa Allah adalah Sumber Kebaikan. Konsekuensi kebaikan ini adalah bertambahnya nilai dari kebaikan (ihsan).
Dalam kajian itu, Ustadi mengatakan bahwa seluruh ketentuan Allah adalah anugerah bagi manusia. Fungsi anugerah itu sendiri sebagai ujian (bala’). Dan ujian itu berbentuk dua keberadaanya, yaitu kebaikan (hasanat) dan keburukan (sayyi’at). Ujian yang buruk (sayyi’at) lazim dikenal dengan musibah, bencana, pageblug, atau prahara.
Musibah Bukan Berarti Masalah
Terlepas dari ujian yang diberikan oleh Allah SWT, sebelum musibah itu datang manusia dalam hidupnya senantiasa dihadapi oleh kendala dalam bentuk masalah. Baik itu masalah ringan atau berat. Masalah dalam pengertian yang sederhana adalah adanya kesenjangan sesuatu antara yang senyatanya (Das Sein) dengan yang seharusnya (Das Sollen).
Oleh karena itu, ketika manusia diuji dengan masalah, sebagian orang mengatakan itu adalah musibah. Bahkan musibah itu dimaknai negatif. Sehingga menjadi masalah bagi manusia. Mengapa? Karena manusia memiliki kesadaran. Kesadaran itu bisa rapuh. Dalam kacamata Tauhid tentang musibah secara hakikat pada dasarnya tidak sama dengan masalah. Padahal yang menjadi masalah bagi manusia pada dasarnya adalah cara manusia menyikapi masalahnya. Ustadi berpendapat, apapun yang terjadi adalah nasib (bagian) manusia, ketentuan (qadla’) Allah bagi makhluk-Nya sesuai ketetapan-Nya (taqdir).
Demikian keadilan Tuhan. Maka kita harus memahami dan menyikapi takdir itu. Dalam Tauhid, ada cinta dan keridhoan. Artinya menerima ketentuan Allah dengan Ikhlas. Ridho dan Ikhlas atas kejadian atau peristiwa di alam (bil kaun). Itu adalah kuasa-Nya, manusia tidak mampu menjangkaunya.
Yang menarik menurut Ustadi, jika Allah menghendaki musibah pada suatu kaum, maka akan menimpa orang sholih juga orang kafir, tetapi Allah akan membangkitkan dalam kondisi yang berbeda-beda. Selanjutnya ada Ridho yang dimaknai atas yang menimpa kita (bi na). Maksudnya ada banyak faktor dalam hidup kita yang diatur oleh Allah. Dan yang tahu rahasianya hanya Allah SWT.
Untuk itu, dalam Islam dan dalam setiap ibadah kita selaku Muslim, maka penting untuk kuatkan sikap kita ridho dan ikhlas malakukan hal yang layak untuk dilakukan. Allah tidak mengubah kondisi suatu kaum kecuali kaum tersebut mau mengubah kondisnya pula.
Pandangan terkait bencana ini, juga disampaikan Majelis Tarjih dan tajdid PP Muhammadiyah, Muhammad Khaeruddin Hamsin mengenai Konsep Darurat Dalam Islam dan Masalah -Masalah Fikih Terkait Bencana. Menurutnya, darurat dalam kerangka Maqasid Syar’iyah adalah di mana manusia sampai pada kondisi yang sangat kesulitan sehingga dapat melakukan hal-hal yang dilarang guna menghindarkan jiwanya, hartanya dan sebagainya dari kebinasaan.
Mendudukan makna darurat menjadi penting di sini, karena bertalian dengan konsep maslahah yaitu bagaimana manusia dapat menggapai suatu kemanfaatan dan terhindar dari kerusakan atau mencapai kemanfaatan dengan menjaga agama, jiwa, keturunan (harga diri) akal dan harta.
Jadi, maslahah dalam konteksnya ini mencakup hal-hal yang bersifat dharuriyat, hajiyat dan tahsiniyat, sedang darurat hanya terbatas hal-hal yang besifat dharuriyat saja.
Dari paparan di atas, Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq Mughni menilai bahwa pandangan Islam tentang bencana berarti ada suatu hal yang penting yaitu mengurangi risiko bencana untuk mempertahankan hidup.
Penggalian nilai-nilai Islam tentang kebencanaan sangat penting untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap bencana. Kesadaran itu akan terwujud dalam upaya untuk memahami bencana sebagai fenomena alam maupun sosial sehingga bisa mengurangi tingkat risikonya, mengantisipasi dan melakukan apa yang terbaik ketika bencana itu terjadi.
Agama memainkan peran yang penting karena sifat ajaran Islam yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Menurut pendapat para pemikir hukum Islam, prinsip-prinsip dasar atau maksud dari setiap ketetapan hukum Islam di antaranya, menjaga keselamatan jiwa dan harta manusia. Karena ini wajib menurut ajaran Islam untuk mempertahankan hidup.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

Bayangkan, anda tertidur lelap. Tidur malam cukup selama 7- 8 jam yang bermanfaat untuk kesehatan. Jaringan sel tubuh mengalami perbaikan dalam sistem tubuh yang bekerja untuk menguatkan kekebalan, menjaga kesehatan jantung dan mengoptimalkan fungsi kerja otak serta daya ingat. Selain itu, tidur malam yang cukup dapat menjaga emosi tetap stabil.
Tiba-tiba dalam nyenyak yang nikmat, kasur bergerak dan atap rumah berguncang hebat hingga merubuhkan bangunan. Tetangga dan kerabat dekat anda merasakan hal yang sama sehingga terkejut berlari keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Gempa bumi sedang menyapa kita dengan ujian musibah yang tidak mengenal waktu dan tempat.
Demikian hal yang dialami saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa bumi tektonik berkekuatan 7,7 magnitudo pada Sabtu, (15/8/2026) pukul 04.58 waktu setempat. Tujuh kabupaten di NTT merasakan dampaknya. Bahkan BNPB dalam datanya melaporkan bahwa ada dua kabupaten yang mengalami kerusakan dan dampak yang luar biasa yaitu kabupaten Manggarai dan kabupaten Manggarai Timur.
Data terkini dari BNPB, tertanggal 20 Agustus 2026, jumlah korban meninggal dunia menjadi 72 orang. Korban luka-luka sebanyak 900 orang, dan 82.691 orang mengungsi serta 18.019 kepala keluarga terdampak. Tidak hanya itu, kerugian materilnya ada 29.001 rumah rusak termasuk fasilitas ibadah dan fasilitas umum.
Makna Bencana sebagai Buah Empati
Adalah penting untuk memandang bencana dari perspektif islam dan kemanusiaan. Dalam sudut pandang Fikih Bencana yang diterbitkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah (2015), kata bencana memiliki padanan istilah dalam Al-Qur’an yaitu musibah, bala’, fitnah, ‘azab, fasad, halak, tadmir, tamziq, ‘iqab, dan nazilah.
Istilah – istilah tersebut mengandung makna yang berbeda-beda dalam teks dan konteksnya. Istilah Bala’ diartikan sebagai “cobaan untuk memperteguh keimanan”. Adapun istilah fitnah lebih dekat pada makna bencana sosial yang diakibatkan oleh ketegangan sosial antar manusia.
Sedangkan istilah Azab diartikan sebagai “ragam peristiwa yang menimpa manusia karena perbuatannya yang abai terhadap ketetapan dan hukum Allah”. Sementara istilah Fasad merupakan bencana yang diakibatkan oleh manusia yang bertentangan dengan ketetapan Allah.
Dalam makna lain tentang bencana, Halak bersandar pada suatu kehancuran dan kebinasaan yang menjadi hukum ketetapan Allah. Makna bencana lainnya melalui istilah Tadmir diartikan sebagai sifat dari suatu peristiwa yang berdampak merusak dan disebabkan oleh manusia juga oleh alam.
Selain itu, istilah Tamziq merupakan peristiwa buruk yang murni disebabkan oleh ulah manusia. Sedangkan istilah Iqab merupakan kejadian berupa hukuman disebabkan oleh sikap pengingkaran manusia terhadap Allah dan Rasul serta istilah Nazilah yang berarti bencana sebagai hukuman dari Allah untuk manusia.
Berdasarkan istilah dan makna bencana di atas, secara teknis dan konseptual kita sering menggunakannya secara bergantian. Oleh karena itu, makna dasar ini menjadi relevan sebagai bekal pengetahuan tentang bencana dari perspektif fikih islam karena berkaitan dengan wawasan kemanusiaan dan kepekaan sosial (empati).
Berkhidmat kepada Kemanusiaan
Setiap bencana mengandung hikmah dan pelajaran bagi setiap manusia, baik sebagai manusia yang terdampak atau tidak. Oleh karena itu, bencana harus disikapi dengan arif bijakasana agar kita mampu berkhidmat untuk merespons bencana tersebut. Sebagai pelajaran yang sudah terjadi maka manusia harus merencanakan mitigasinya, dan bagaimana merespons kedaruratannya hingga masa pemulihannya.
Hamim Ilyas dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengatakan bahwa berkhidmat terhadap bencana berarti menyelami makna terdalam. Hamim mendasarkan argumennya pada Surat Al-Maun tentang Yatim dan Miskin serta orang yang mendustai agama. Mengapa demikian, karena manusia yang tertimpa bencana mengalami kerugian bahkan kehilangan harta bendanya yang berharga. Bisa jadi bagi seorang anak, karena bencana orang tuanya berpulang dan Ia menjadi yatim duafa atau penyandang masalah kesejahteraan.
Oleh karena itu, menurut Hamim Ilyas, berkhidmat kepada yatim dan miskin dilakukan dengan empat prinsip: 1. Memuliakan, 2. Keberpihakan, 3. Memperlakukan dengan adil, dan 4. Memberikan kebaikan nyata. Al-Qur’an telah menunjukkan bukti dari pengkhidmatan itu melalui upaya memberikan perlindungan dan santunan, memperhatikan masa depan, berlaku adil dan tidak bersikap kasar serta mengelola harta yang dimiliki yatim dengan cara terbaik.
Dengan upaya pengkhidmatan itu, akan ada usaha-usaha yang dapat dilakukan, misal setelah masa tanggap darurat bencana akan masuk pada fase pemulihan, sebagai ikhtiar menolong sesama bisa dilakukan dengan pemberdayaan masyarakat dengan 4 orientasi yang terus bisa dikembangkan sesuai kebutuhan, yaitu: 1. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi kesejahteraan, 2. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi kemandirian dan kelestarian, 3. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi advokasi dan perubahan sosial, 4. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi advokasi kebijakan publik dan gerakan sosial.
Hal itu diperkuat oleh pemaknaan terhadap bencana yang diungkapkan oleh Pakar Manajemen Bencana dari PP Muhammadiyah, Rahmawati Husein bahwa bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Menurut Rahmawati Husein dalam memahami bencana dan pengelolaannya yang menjadi poin penting adalah dari tanggap darurat ke pengurangan risiko bencana. Ia menilai sejauh ini masih ada sebagian masyarakat yang melihat bencana alam sebagai sesuatu yang datang di luar kemampuan manusia. Maka kecenderungannya menunggu kejadian tersebut dialami atau menimpa diri mereka tanpa ada pembelajaran untuk mitigasi dan penanggulangan risiko bencananya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

MENGECAM PENYANDERAAN 9 AKTIVIS KEMANUSIAAN INDONESIA DAN BANTUAN KEMANUSIAAN GLOBAL SUMUD FLOTILLA OLEH AKSI MILITER ISRAEL
Jakarta, 20 Mei 2026
Aksi militer Israel yang melancarkan penyergapan terhadap relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0, menuju Gaza, Palestina, merupakan bentuk teror dan melanggar hukum internasional. Tindakan intersepsi itu terjadi pada Senin, 18 Mei 2026, di perairan internasional Siprus, tepatnya di kawasan Laut Mediterania Timur.
Misi kemanusiaan untuk Palestina yang diinisiasi oleh masyarakat global yang berjumlah 426 Relawan dari 40 negara berlayar menggunakan 50 kapal, merupakan aktivis kemanusiaan dari berbagai macam profesi. Salah satunya negara Indonesia, yang di dalamnya ada 9 orang aktivis kemanusiaan yang mewakili lembaga amil zakat dan jurnalis kemanusiaan.
Berdasarkan informasi terbaru, pada 19 Mei 2026 pukul 21.02 WIB, militer Israel telah mencegat dan memaksa 40 kapal kemanusiaan tersebut untuk berhenti di perairan internasional. Kabar tersiar lainnya melalui media internasional yang sampai ke Indonesia, para relawan kemanusiaan ini dipaksa berlutut dengan kondisi tangan terikat di belakang.
Dengan bersenjata, pasukan militer Israel berjaga dari kapalnya memberikan ancaman. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, tetap pada pendiriannya sebagai upaya membela hak Israel mencegat kapal kemanusiaan itu. Bahkan, Netanyahu, memerintahkan agar semua aktivis kemanusiaan segera dideportasi.
Atas landasan hukum dan etika kemanusiaan, Kami dari Lembaga Amil Zakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah (LAZISMU), yang juga sebagai bagian dari lembaga pengelola zakat, menyatakan kerisauan atas krisis kemanusiaan yang terjadi menimpa aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0.
Kami sekaligus mengecam setiap bentuk intervensi yang dilakukan dengan kekerasan yang sewenang-wenang oleh pasukan militer Israel terhadap misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0.
Bantuan kemanusiaan amanah rakyat Indonesia, berupa pangan, logistik, dan penunjang medis serta kesehatan yang diambil-alih dengan paksa merupakan upaya perampasan, dan tidak semata menahan sementara tetapi menghentikan akses atas hak hidup rakyat Palestina. Ini juga merupakan bentuk perendahan martabat kemanusiaan dan solidaritas internasional, termasuk Indonesia.
Ancaman represif tersebut adalah pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional. Tindakan militer Israel, melanggar Pasal 59 Konvensi Jenewa IV (1949) serta Protokol Tambahan I Pasal 70 dan 71, yang mewajibkan perlindungan mutlak bagi personil pekerja kemanusiaan dan kewajiban untuk memfasilitasi akses lintasan bantuan tanpa hambatan.
Pencegatan distribusi bantuan kemanusiaan yang disengaja turut melukai wajah kemanusiaan dan ancaman kelaparan di Gaza, Palestina, serta mencederai prinsip-prinsip dasar kemanusiaan universal yang dijunjung tinggi oleh komitmen internasional yang dibuat pada World Humanitarian Summit 2016, sebagai Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 dan sejumlah inisiatif global lainnya.
Berpijak dari prinsip dasar kemanusiaan dan hukum humaniter internasional tersebut, Kami dari LAZISMU, dalam situasi darurat yang menyertai, dan atas nama solidaritas kemanusiaan, dengan ini menyampaikan pernyataan sikap:
Berikut pernyataan sikap yang LAZISMU sampaikan sebagai wujud solidaritas kemanusiaan universal dan akan terus ikut mengawal dengan tetap menjunjung tinggi perlindungan akses kemanusuiaan global bagi hak kemerdekaan rakyat Palestina.
Kami menyerukan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak pernah lelah mengawal setiap aksi kemanusiaan, sekaligus memanfaatkan ruang-ruang media sosial dengan narasi solidaritas kemanusiaan dan dukungan penuh bagi kemerdekaan rakyat Palestina. LAZISMU juga menyerukan kepada Masyarakat Indonesia untuk tidak letih membantu rakyat Palestina.

