

KALTENG – Musibah tak dapat ditebak, tetapi setiap gejalanya dapat diprediksi sejalan dengan prinsip manajemen bencana. Lima hari sebelum bulan Januari berakhir, peristiwa kebakaran terjadi di kawasan kompleks Pasar Kasongan, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.
Peristiwa kebakaran itu meninggalkan duka mendalam bagi para penyintas yang menghanguskan sebanyak 15 rumah dan ruko. Pascakebakaran Lazismu Katingan, bersama Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), dewan guru Muhammadiyah serta para siswa melakukan pengalangan dana.
Lazismu Katingan mengetuk empati para donatur menggalang donasi untuk meringankan beban mereka yang tertimpa musibah kebakaran. Kegiatan galang dana tersebut langsung dikoordinatori Faridul Hayat, Ketua Lazismu Katingan.
Faridul Hayat menhgatakan bahwa pengalangan donasi untuk penyintas kebakaran merupakan aksi bersama yang dilakukan oleh Muhammadiyah terdiri dari Ortom, MDMC, para siswa - siswi MTs Muhammadiyah Kasongan.
Dari hasil galang dana itu terkumpul sebesar sebesar Rp. 64.500.000 berkat dukungan semua pihak. Bantuan kemanusiaan disalurkan kepada 26 Kepala Keluarga, pada Minggu (1/2/2026), masing-masing sebesar Rp. 2.000.000, termasuk paket sembako dan pakaian layak pakai. Selain rumah dan ruko, terdapat dua sekolah yang terdampak yaitu Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Katingan, dan Madrasah Tsanawiyah (MTS) Al-Badar.
"Penggalangan dana berhasil terkumpul berkat dukungan dari semua pihak, sehingga menjadi penyemangat untuk berbagi kepada saudara-saudara kita yang terdampak kebakaran”, kata Farid seraya berkata karena kepedulian kita, harapan mereka.
Merespons aksi galang dana itu, Ketua PDM Katingan, Sardinie U. Budin, mengungkapkan penggalangan dana serta penyaluran bantuan untuk penyintas kebakaran di kawasan kompleks Pasar Kasongan, merupakan komitmen dakwah Muhammadiyah.
“Terutama bagi Lazismu sebagai lembaga yang terpercaya, baik dalam pengumpulan, pendistribusian yang amanah, dan tepat sasaran”, pungkasnya. Kami senantiasa mengajak masyarakat untuk peduli terhadap sesama, ujarnya.
Sardinie menambahkan bahwa Lazismu hadir untuk terus bergerak memberikan layanan kepada penerima manfaat agar semua dapat berjalan dengan baik. Pascabencana itu, yang perlu dipikirkan adalah mengajak kembali masyarakat untuk keberlanjutannya agar meringankan beban penyintas.
Lazismu mengucapkan terima kasih kepada para donatur dan masyarakat yang telah membantu para penyintas semoga kebaikan mendapat keberkahan dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Dalam kesempatan itu, Soratin salah seorang penerima manfaat, menyampaikan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Lazismu Katingan atas bantuan berupa uang tunai, sembako, dan pakaian layak pakai. “Bantuan ini menjadi penguat dan harapan bagi kami untuk bangkit kembal”, tutupnya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/mf]

LANGSA – Badan Pengelolaan Keuangan Haji (BPKH) bersama Lazismu dalam program kemaslahatan turut hadir dalam penyaluran bantuan kemanusiaan untuk penyintas banjir dan longsor Aceh. Bantuan kemanusiaan yang diberikan berupa sarana dan prasarana dan mebel untuk sekolah Muhammadiyah yang ada di kota Langsa
BPKH bersama Lazismu Kota Langsa, alhamdulillah pada Senin, (2/2/2026) telah menyalurkannnya sebagai wujud memulihkan sekolah yang terdampak bencana di Provinsi Aceh. Sekolah tersebut mengalami kerusakan termasuk alat-alat yang menunjang proses kegiatan belajar mengajar (KMB).
Ketua Lazismu Kota Langsa, Heru Darmawan, mengatakan bantuan kemanusiaan langsung diterima pihak sekolah, berupa barang seperti perlengkapan mebel yaitu meja kursi siswa, meja kursi guru, lemari rak buku, loker, dan prasarana pendukung seperti komputer, laptop, pengeras suara, printer, dan proyektor.
Bantuan kemanusiaan senilai Rp. 303.900.000 tersebut, kata Heru, disalurkan di empat titik yaitu SD Muhammadiyah 1 Langsa menerima Rp.50.000.000, SD Muhammadiyah 2 Langsa menerima Rp.50.000.000, SMP Muhammadiyah Langsa menerima Rp.60.000.000, SMA Muhammadiyah Langsa menerima Rp. 44.900.000, TK ABA Langsa menerima Rp.20.000.000, dan TK ABA Bayeun menerima Rp.50.000.000 dari program kemaslahatan BPKH yang bertajuk Program Pemulihan Sekolah Terdampak Bencana.
Lazismu Kota Langsa dalam program ini berkoordinasi langsung dengan Lazismu Pusat dan BPKH. “Seluruh kepala sekolah mewakili sekolahnya sebagai penerima manfaat meenyampaikan terima kasihnya kepada BPKH dan Lazismu yang telah berkontribusi dalam proses pemulihan ini”, ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Langsa, Zulkarnain, turut menyampaikan terima kasih kepada BPKH dan Lazismu Pusat atas bantuan kemanusiaan itu kepada sekolah yang terdampak.
“Semoga bantuan ini dapat membangkitkan semangat [ara siswa dan guru-guru untuk bisa melakukan kegiatan belajar mengajar seperti sedia kala”, ungkapnya. Karena itu, mewakili pimpinan daerah Muhammadiyah Kota Langsa, kami akan terus mengawal dan mendukung program Indonesia Siaga pascabencana banjir di Aceh.
Sebagai informasi, prosesi serah terima bantuan kemanusiaan dilaksanakan di Laboratorium SMP Muhammadiyah Kota Langsa. Turur hadir acara tersebut unsur PDM Kota Langsa, PDA Kota Langsa, Kepala Sekolah di lingkungan Muhammadiyah Kota Langsa, dan Dewan Pengawas Syariah Lazismu Kota Langsa.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Kota Langsa]

SUMUT – Pascabencasna banjir yang melanda provinsi Sumatera Utara, masih terdapat sekolah yang belum bisa melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Salah satunya yang dialami Sekolah Dasar (SD) Bunda Kandung di kecamatan Polonia, Kota Medan.
Sekolah Dasar Bunda Kandung, saat banjir melanda kondisinya memprihatinkan. Air yang meluap sudah menggenangi separuh bangunannya. Meja dan kursi rusak terendam banjir. Sarana pendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) seperti komputer, printer, proyektor dan lainnya tak bisa diselamatkan.
Proses pemulihan pascabanjir masih terus berlangsung. Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) bersama Lazismu melalui program pemulihan sekolah terdampak bencana berkolaborasi menyalurkan bantuan kemaslahatan umat bagi sekolah terdampak banjir di Kota Medan.
Penyerahan bantuan dilaksanakan pada Kamis, (29/1/2026), bertempat di SD Bunda Kandung, Bantuan diserahkan langsung oleh Anggota Badan Pelaksana BPKH, Sulistyowati, yang turut disaksikan oleh Wakil Sekretaris Badan Pengurus Lazismu Pusat Hafizh Syafaaturrahman, Wakil Ketua PWM Sumatera Utara M. Basir Hasibuan, Ketua Lazismu Sumut Syahrul Amsari, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Sumut, Aswin Bancin, dan jajaran pimpinan terkait serta Kepala Sekolah SD Bunda Kandung Bukhari Muttaqin, serta para guru.
Anggota Badan Pelaksana BPKH, Sulistyowati, mengatakan bantuan yang diberikan meliputi pengecatan gedung sekolah, karpet, kipas angin, genset, proyektor, laptop, dan printer. Sulis ikut prihatin yang mendalam atas musibah banjir di kota Medan.
“BPKH bersinergi dengan mitra program kemaslahatan Lazismu. Dana bantuan bersumber dari program kemaslahatan BPKH yakni dana abadi umat yang diperuntukkan untuk mendukung kegiatan sosial dan dakwah, pemberdayaan ekonomi umat dan lainnya”, ungkapnya.
Secara umum program kemaslahatan BPKH berasal dari nilai manfaat dana abadi umat yang dikelola BPKH. Dari dana yang dikelola itu, sambung Sulis, hasilnya berupa nilai manfaat dan diperuntukan dalam pelaksanaan program ini.
“Pada tahun 2025, BPKH telah memberikan bantuan sebesar Rp 24,7 miliar untuk penyintas banjir di tiga provinsi yaitu Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Fokus bantuan untuk kebutuhan dasar pangan dan sandang”, ujarnya.
Sulis mengatakan, di tahun 2026, BPKH menambahkan nilai bantuan dari dana abadi umat sebesar Rp 10 miliar untuk kegiatan program pascabencana berupa pemulihan terutama di masalah infrastrukturnya
Di SD Bunda Kandung, lanjutnya, ini pertama kali BPKH bersama Lazismu melakukan penyerahan bantuan dalam bentuk pengecatan bangunan, melengkapi sarana pendukung seperti karpet, kipas angin dan sarana pendukung lainnya untuk kegiatan belajar mengajar yaitu lapop, printer dan genset. Sebelumnya BPKH memberikan bantuan untuk SMP Muhammadiyah 48 dan SD Muhammadiyah 19. Hampir sama untuk memenuhi sekolah yang memang terdampak banjir dan kebanyakan rusak.
“Bantuan ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan sarana dan prasarana sekolah agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan dengan optimal pascabencana banjir”, ucapnya.
Dalam kesempatan yang sama. Wakil Ketua PWM Sumatera Utara, M. Basir Hasibuan, menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada BPKH dan Lazismu. Ia mengapresiasi program kemaslahatan umat yang dijalankan BPKH secara kolaboratif.
“Bantuan yang diberikan berdampak langsung, khususnya bagi sekolah seperti SD Bunda Kandung. Harapannyua bantuan yang ada dapat memulihkan proses KBM di sekolah ini, dan bantuan ini sangat membantu sekolah ini dalam satuan Pendidikan,” pungkasnya.
Mewakili Badan Pengurus Lazismu Pusat, Hafizh Syafa'aturrahman mengatakan, apa yang dilakukan Lazismu merupakan bagian dari melaksanakan peran, tanggung jawab dan akuntabilitasnya.
“Kita lakukan audit oleh eksternal dan terpercaya. Alhamdulillah tahun 2024 mendapatkan WTP. Kami dari aspek layanan mengutamakan muzaki dan mustahik dengan fasilitas program yang telah di asesmen dan tepat sasaran”, tandasnya.
Hafizh menambahkan, Lazismu melaksanakan program respons darurat dilakukan dengan satu pintu khususnya untuk bencana Sumatera dan Aceh. “Ini merupakan amanah dan arahan dari PP Muhamamdiyah yang harus terkoordinasi termasuk kebutuhannya yang diasesmen oleh MDMC sampai dengan pengiriman relawan di lapangan sudah disesuaikan dengan kebutuhan dan sinergisitasnya”, paparnya.
Kepalsa Sekolah SD Bunda Kandung Bukhari Muttaqin menyampaikan terima kasih kepada BPKH, Lazismu dan semua pihak yang telah mendukung program ini. Pascabanjir ini sekolah kami belum melaksanakan KBM.
“Secara formal begitu karena mengalami kerusakan sarana dan prasarana. Sementara para guru yang juga tinggal di sekitar sekolah mengalami hal yang sama rumahnya juga terdampak”, tuturnya. Mudahan mudahan di awal Februari bisa normal kembali, harap Bukhari seraya berbahagia mendapat bantuan dan dukungan dari BPKH dan Lazismu.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

PALANGKARAYA – Penguatan tata kelola Lazismu sebagai lembaga amil zakat bertujuan mengintegrasikan program secara nasional. Aspek manajamen dan digitalisasi merupakan kebutuhan sebagai bagian dari inovasi sosial.
Kinerja Lazismu di setiap level tingkatan dari pusat, wilayah, daerah dan kantor layanan tertuang dalam peta jalan yang sudah dimusyawarahkan dalam forum rakernas di Kalimantan Selatan. Lazismu wilayah mempertajam dan memperkuatnya untuk bisa direalisasikan di wilayahnya masing - masing.
Lazismu Wilayah Kalimantan Tengah meneguhkan komitmen itu melalui Rapat Kerja Wilayah (RAKERWIL), yang dilaksanakan pada 30 Januari – 1 Februari 2026 di Asrama Haji Al-Mabrur, Jl. G. Obos, Menteng, Jekan Raya, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Rakerwil kali ini mengusung tema "Penguatan Inovasi Sosial Yang Terintegrasi, Berdampak Dan Berkemajuan Untuk Kalimantan Tengah Semakin Berkah”. Badan Pengurus Lazismu Pusat Mustiawan, dalam sambutannya menyampaikan, Lazismu kini tengah memasuki fase penguatan tata kelola kelembagaan dan integrasi program secara nasional.
“Inovasi sosial Lazismu harus dibangun di atas sistem yang terintegrasi, berbasis data, dan mampu menunjukkan dampak yang terukur”, ungkapnya. Ia menegaskan, secara tidak langsung, digitalisasi, profesionalitas amil, dan pemeliharaan kepercayaan publik menjadi fondasi utama pengembangannya di periode 2026 – 2030.
Sejalan dengan arah kebijakan nasional tersebut, Mustiawan mengungkapkan, capaian kinerja Lazismu Kalteng sepanjang tahun 2025, menunjukkan peningkatan signifikan dalam penghimpunan dana ZISKA.
Dalam kurun waktu tahun 2025, berhasil menghimpun sebesar Rp. 2.492.008.205, yang diproyeksikan pada tahun 2026 mencapai Rp. 2.990.409.846 pada akhir tahun ini sebagai bagian dari target nasional Lazismu senilai Rp 801.472.161.875 sebagai angka optimis.
“Hal itu akan dicapai melalui penguatan basis penghimpunan di seluruh kantor layanan, optimalisasi kanal digital, perluasan kemitraan strategis, serta penajaman program pendayagunaan berbasis kebutuhan lokal dan pengukuran dampak”, pungkasnya.
Mustiawan menilai, ini merupakan cerminan meningkatnya kepercayaan publik. Harus terus dijaga dengan pengelolaan yang profesional, transparans serta program yang berdampak untuik penerima manfaat secara luas, tegasnya.
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Provinsi Kalteng, Muchtar, yang membidangi Lazismu mengatakan menegaskan posisi Lazismu sangat strategis sebagai instrumen dakwah Muhammadiyah yang bekerja langsung di ranah sosial.
“Lazismu bukan sekadar lembaga penghimpun dan penyalur zakat, tetapi bagian dari gerakan dakwah Muhammadiyah yang hadir untuk menjawab persoalan umat secara nyata,” ujarnya, Muchtar membeberkan bahwa secara tidak langsung penguatannya berarti memperkuat daya hadir Muhammadiyah di tengah masyarakat.
Melalui Rakerwil ini, sambung Muchtar, Lazismu di kota Bumi Tambun Bungai, berupaya meneguhkan komitmen bersama untuk memperkuat konsolidasi ideologis, manajerial, dan kebijakan strategis, sekaligus memastikan setiap program yang dijalankan terintegrasi secara kelembagaan berdampak nyata dan berkelanjutan.
Penguatan arah gerak Lazismu tersebut, diperdalam melalui kehadiran, Ahmad Syar'i, Ketua PW Muhammadiyah Kalteng di sela-sela pelaksanaan Rakerwil. Penguatan ideologis dengan menyampaikan sejarah dan latar belakang berdirinya Lazismu menandai lahirnya dari keprihatinan atas realitas sosial yang masih dihadapkan pada problem kemiskinan, rendahnya kualitas pendidikan, dan lemahnya tatanan keadilan sosial.
“Lazismu merupakan sarana menjemput keyakinan itu untuk menjawabnya bahwa zakat, infak, dan sedekah memiliki potensi besar untuk mendorong keadilan sosial dan pembangunan manusia”, tandasnya.
Rakerwil Lazismu Wilayah Kalimantan Tengah, diikuti oleh 38 peserta yang berasal dari unsur Kantor Perwakilan Wilayah, 13 kantor wilayah pembantu, dan 2 kantor layanan Lazismu se- Kalteng.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Direktur Fundraising Lazismu Pusat, M. Sholeh Farabi, jajaran Wakil Ketua Pimpinan Muhammadiyah Kalteng, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Kalteng, dan perwakilan Pimpinan Ortom tingkat Wilayah Muhammadiyah Kalteng, Pimpinan Amal usaha Muhammadiyah, Basnaz, serta para mitra Strategis Lazismu.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Kalteng]

ENREKANG -- Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Lazismu Sulawesi Selatan merupakan bagian penting dari konsolidasi nasional untuk memastikan pengelolaan zakat, infak, dan sedekah berjalan terintegrasi, berdampak, dan berkelanjutan.
Penegasan ini disampaikan Lazismu Pimpinan Pusat, yang diwakili Badan Pengurus Hafizh Syafa'aturrahman, dalam Rakerwil yang dilaksanakan di Kampus Universitas Muhammadiyah Enrekang, pada Sabtu, (31/1/2026).
Menurut Hafizh, Lazismu tidak bekerja secara parsial, melainkan dalam satu sistem nasional yang terhubung dari pusat hingga daerah. “Pelaporan Lazismu dilakukan secara rutin dan terstandar, tidak hanya di tingkat pusat, tetapi juga secara nasional”, ujarnya. Hal ini menjadi wujud komitmen Lazismu dalam menjaga akuntabilitas dan kepercayaan publik.
Ia menegaskan, seluruh pedoman dan panduannya telah dirancang untuk mengakomodasi program yang terintegrasi, berdampak, dan berkelanjutan, serta sejalan dengan visi besar Muhammadiyah. Seluruh program Lazismu, menurutnya, merupakan turunan dari keputusan dan amanat Muktamar Muhammadiyah, sekaligus tunduk pada regulasi dan hukum negara.
“Rakerwil adalah forum kebijakan yang terkonsolidasikan,” pungkasnya. Forum ini menjadi ruang strategis untuk menyelaraskan rencana kerja Lazismu Wilayah dan Daerah dengan rencana strategis nasional Lazismu Pusat.
Rakerwil Lazismu Sulawesi Selatan yang mengusung tema Inovasi Sosial yang Terintegrasi, Berdampak, dan Berkemajuan ini dihadiri seluruh perwakilan Lazismu Daerah se-Sulawesi Selatan. Forum ini diharapkan memperkuat sinergi kelembagaan Lazismu dalam menghadirkan pengelolaan zakat yang profesional dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Melalui Rakerwil ini, Lazismu PP Muhammadiyah menegaskan komitmennya untuk terus mengawal dan memperkuat Lazismu di seluruh wilayah agar tetap berada dalam satu visi Persyarikatan, sekaligus mampu menjawab tantangan sosial secara nyata dan berkelanjutan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Enrekang]

CIANJUR – Gempa bumi di Cianjur pada tahun 2002 silam, menyisakan misi kemanusiaan yang masih berlanjut. Salah satunya melalui tahap pemulihan membuka akses layanan kesehatan dalam bentuk klinik pratama.
Pada Juli 2025 lalu, Lazismu memanfaatkan tanah wakaf seluas 2700 meter2 yang dikekola Pimpinan Daerah Muhammadiyah Cianjur untuk dijadikan Klinik. Peletakan batu pertama dimulai sebagai cikal bakal berdirinya Klinik Muhammadiyah, di Desa Sarampad, Kecamatan Cugenang pascabencana gempa bumi.
Komitmen tersebut dibuktikan melalui program Indonesia Siaga, Klinik Pratama PKU Muhammadiyah Kabupaten Cianjur resmi beroperasi mulai hari ini, Sabtu (31/1/2026). Peresmian digelar dan dihadiri langsungu oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Abdul Mu’ti, bersama jajaran pemerintah kabupaten dan pimpinan Muhammadiyah.
Klinik Muhammadiyah yang berlokasi di Desa Sarampad didirikan atas inisiatif bersama Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Cianjur yang berkolaborasi dengan Lazismu Pusat dan Lazismu Jawa Tengah. Awalnya, sebagai respons cepat pemulihan setelah gempa, kata Ketua PDM Cianjur, Saepul Ulum.
"Pembangunan klinik berhasil dilakukan atas respons positif dari Lazismu Pusat dan Lazismu Jawa Tengah. Pembiayaan bantuan kemanusiaan mencakup alat kesehatan hingga dana operasional”, jelasnya. Alhamdulillah, klinik ini 99 persen setelah berdiri sudah siap beroperasi. Saepul berharap surat izin operasional dapat segera diproses di pemerintah daerah.
Hal senada disampaikan oleh Kepala Klinik Pratama PKU Muhammadiyah Cianjur, dokter Hani Zahia Suarsa. Ia menjelaskan, ide pembangunan lahir karena minimnya layanan kesehatan di kawasan yang juga merupakan lokasi rawan bencana tersebut.
"Berawal dari bencana gempa bumi 2022, kami melihat ada kebutuhan mendesak yaitu layanan kesehatan. Harapan kami, klinik ini diterima masyarakat Cianjur dan sesuai mimpi kami, dalam lima tahun ke depan bisa berkembang menjadi Rumah Sakit Tipe D", pungkasnya.
Apresiasi datang dari Pemerintah Kabupaten Cianjur, Mohammad Wahyu Ferdian, yang turut hadir bersama Wakil Bupati. Dalam peresmian itu, Bupati Cianjur, Wahyu Ferdian mengapresiasi langkah Muhammadiyah. Ia mengakui Kabupaten Cianjur masih membutuhkan banyak bantuan mengingat sisa-sisa dampak gempa dan pergeseran tanah masih dirasakan.
"Muhammadiyah memiliki sekolah, universitas, klinik, hingga rumah sakit. Maka dari itu, tidak salah jika Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi muslim terkaya keempat di dunia", kata Bupati Cianjur memuji.
Sementara itu, Sekretaris Badan Pengurus Lazismu Pusat, Gunawan Hidayat berharap fasilitas ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh warga Desa Sarampad dan sekitarnya. "Mudah-mudahan gedung yang merupakan sumbangan dari para donatur bisa bermanfaat lebih luas bagi masyarakat Cianjur untuk mendapatkan fasilitas kesehatan yang bermutu," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, dalam sambutannya, Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, menyoroti jaringan kesehatan gerakan dakwah muhammadiyah yang mendunia. Mendikdasmen memuji desain bangunan klinik muhammadiyah dan menyoroti perkembangan pesat amal usaha Muhammadiyah di usia yang ke-113 tahun ini.
"Bagus sekali desainnya. Kurang lebih 113 tahun lalu, Muhammadiyah hanya perkumpulan kecil di Kauman, Yogyakarta. Sekarang sudah berkembang hingga internasional dengan 31 kantor di luar negeri, di mana lima di antaranya (Amerika, Australia, Jepang, Mesir, Malaysia) telah diakui pemerintah setempat," jelas Abdul Mu’ti.
Abdul Mu’ti menambahkan, Klinik Pratama PKU Muhammadiyah Cianjur ini merupakan klinik ke-19 di Jawa Barat. Secara nasional, Muhammadiyah kini mengelolanya dengan total 500 unit layanan kesehatan, yang terdiri dari 300 klinik dan 128 rumah sakit.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/athif]



Setiap tahun umat Islam melaksanakan ibadah wajib yaitu puasa di bulan Ramadhan. Konsekuensinya umat islam harus menentukan terlebih dahulu kapan ibadah puasa dimulai. Untuk mengetahuinya, maka dilakukan penentapan tanggalnya jatuh pada hari apa di tahun berjalan melalui metode hisab dan rukyat.
Penetapan awal Ramadhan ini selalu dinanti oleh umat Islam di Indonesia. Pada umumnya ditentukan oleh pemerintah dengan proses sidang isbat oleh kementerian agama. Menariknya, ada ormas Islam yang jauh hari sudah mantap menentukan kapan awal Ramadhan dimulai harinya.
Muhammadiyah misalnya, dikenal sebagai ormas yang menggunakan pendekatan hisab. Hisab sendiri menurut Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam buku Pedoman Hisab Muhammadiyah (2009), selalu dikontekstualisasikan dengan Ilmu Falak (Astronomi).
Mengapa bersandar pada Ilmu Falak? Karena berkaitan dengan langkah-langkah dan rumus-rumus perhitungan arah kiblat, penentuan waktu salat, penetapan awal bulan kamariah dan gerhana. Selanjutnya, mari kita telusuri apa arti dan makna hisab?
Secara bahasa, kata “hisab” berasal dari kata Bahasa Arab yaitu al-hisab yang berarti perhitungan atau pemeriksaan. Dalam al-Quran kata hisab banyak disebut dan secara umum dipakai dalam arti perhitungan.
Hal itu termaktub dalam al-Qur’an surat al-Ghofir ayat 17, yang artinya: “Pada hari ini setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”
Dalam firman-Nya, yang lain, disebutkan dengan kata yaum al-hisab, yang berarti hari perhitungan. Dalam al-Qur’an Surat Sad ayat 26, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”
Pada surat Yunus ayat 5, kata hisab justeru digunakan dalam arti perhitungan waktu, sebagaimana firman Allah, artinya:
“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat orbit) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)”
Demikian beberapa penjelasan tentang pengertian dan makna hisab. Begitu pentingnya hisab dalam lintasan sejarah umat Islam, beberapa ulama dan fukaha menyebutkan hisab sebagai Khazanah pengetahuan islam. Di kalangan fukaha ilmu hisab terjadang disebut juga dengan Ilmu Falak Syar’i.
Hisab Hakiki dan Wujudul Hilal
Berkenaan dengan arti dan makna hisab. Dalam Ilmu Falak, hisab terdiri dari dua macam, yaitu Hisab Urfi dan Hisab Hakiki. Hisab urfi, dinamakan juga hisab adadi atau hisab alamah. Yaitu metode perhitungan untuk penentuan awal bulan dengan berpatokan tidak kepada gerak hakiki (sebenarnya) dari benda langit bulan (Pedoman Hisab Muhammadiyah, 2009).
Sementara itu, Hisab hakiki adalah metode penentuan awal bulan kamariah yang merujuk pada menghitung gerak faktual (sesungguhnya) Bulan di langit sehingga bermula dan berakhirnya bulan kamariah mengacu pada kedudukan atau perjalanan Bulan benda langit tersebut (Pedoman Hisab Muhammadiyah, 2009).
Muhammadiyah dalam praktiknya menggunakan metode hisab hakiki tinimbang metode hisab urfi. Adapun kriterianya menggunakan wujudul Hilal. Metode hisab hakiki wujudul hilal inilah yang digunakan oleh Muhammadiyah dalam menetapkan penentuan waktu ibadah, misalnya bulan Ramadhan.
Penggunaan hisab hakiki sebsagaimana dilansir dalam laman resmi Muhammadiyah (20/2/2022), alasan kuatnya mengapa menggunakan metode ini, karena perhitungan yang dilakukan terhadap peredaran Bulan dan Matahari menurut metode ini harus benar dan tepat berdasarkan keadaan Bulan dan Matahari pada saat itu.
Lebih dalam lagi, secara analitis-astronomi, Muhammadiyah menggunakan hisab hakiki dengan kriteria wujudul hilal, pada kondisi Matahari terbenam lebih dahulu daripada Bulan kendati berjarak satu menit atau kurang.
Ijtihad ini berasal dari suatu Ide seorang pakar falak Muhammadiyah Wardan Diponingrat yang tidak hanya dipahami berdasarkan pada al-Qur’an Surat Yasin ayat 39-40, tetapi juga menggunakan instrumen lain secara syariah seperti hadis dan konsep fikih lainnya yang dibantu dengan sains yaitu ilmu astronomi.
Demikian penjelasan singkat ini, paling tidak informasi di atas memberikan suatu gambaran dan persepsi bagaimana umat Islam mulai melakukan ibadah puasa bulan Ramadhan. Sejauh ini, metode tersebut juga sangat memengaruhi penentuan jatuhnya Idul Fitri yang berkonsekuensi pada umat Islam dalam menunaikan Zakat Fitrah.
Alhamdulilah tahun 2026 ini, Muhammadiyah menetapkan awal Ramadhan 1447 H, jatuh pada tanggal 18 Februari 2026. Berdasarkan metode hisab hakiki dengan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

Jadwal imsakiyah sudah tersebar. Takmir masjid semakin sibuk menetapkan jadwal penceramah dan imam sholat tarawih. Beberapa tempat belanja dan pasar tradisional mulai dipadati pembeli. Media massa gencar menyampaikan pariwara produk makanan dan minuman berbuka puasa.
Di tengah keriuhan itu, apakah kita sebagai pribadi telah mempersiapkan diri secara lahir dan batin untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Ya, suatu persiapan istimewa menyambut bulan yang tentu saja serasa lebih spesial dari bulan-bulan lainnya.
Dalam Islam, setiap menjelang Ramadhan, beberapa waktu sebelumnya dituntun untuk melakukan kegiatan yang maslahat. Baik laki-laki maupun perempuan, menurut Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dalam buku Tuntunan Ibadah Pada Bulan Ramadhan (2019), disunahkan melakukan puasa di bulan Sya’ban.
Kesiapan fisik secara jasmani menjadi hal penting. Tentu saja untuk melengkapi kesiapan fisik secara rohani. Di samping itu, di dalam keluarga muslim, anak-anak juga diingatkan dan dituntun untuk mempersiapkannya. Sebagai bulan untuk melatih jiwa dan raga (riyadhoh) segenap persiapan itu merupakan tuntunan agama yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW, bahkan dalam kondisi yang lain menjadi suatu tradisi yang khas di Indonesia.
Kebahagiaan spiritual ini bahkan berdampak dalam kehidupan sosial. Dari kesalehan individual menuju kesalehan sosial. Tidak hanya membersihkan jasmani dan rohani dari penyakit hati dalam persiapannya, selain berbagi terhadap sesama, setiap masyarakat memastikan masjid siap untuk kegiatan Ramadhan.
Perencanaan itu dimulai pada bulan Sya’ban di lingkungan terkecil mulai dari keluarga dan masyarakat. Sementara itu, di rumah-rumah dan masjid sekitar saling memperbanyak informasi yang memantik umat Islam makin bersemangat mempersiapkannya. Beberapa masjid sangat dinanti para jamaahnya mengundang penceramah yang siap mengisi tuntunan ibadah Ramadhan.
Masing-masing saling melengkapi terutama mempersiapkan sarana dan prasarana masjid di bulan Ramadhan. Mulai dari pengeras suara, kotak infak, panitia amil zakat, membersihkan karpet agar tetap wangi, termasuk tempat berwudhu dan toilet selalu dijaga bersih dan harum. Di luar itu, para ibu-ibu mempersiapkan jadwal takjil untuk berbuka puasa.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]


Menurut Fatwa Tarjih, Zakat Profesi adalah hasil dari Ijtihad Ulama mutaakhir yang di zaman Rasulullah SAW belum pernah dilakukan.
Dalam Musyawarah Nasional XXV tahun 2000 di Jakarta telah menetapkan bahwa zakat profesi wajib hukumnya dengan ketentuan nisab setara 85 gram emas 24 karat dengan kadar 2,5%. Dalam hal ini berarti zakat profesi diqiyaskan kepada zakat mal (harta).
zakat profesi dikeluarkan setelah dikurangi biaya hidup yang ma’ruf (layak), yaitu yang benar-benar biaya kebutuhan pokok atau kebutuhan primer, seperti kebutuhan pangan, sandang, perumahan, biaya pendidikan, kesehatan, transportasi dan sebagainya. Dan ukurannya adalah sesuai dengan ‘urf masing-masing daerah.
Hal ini didasarkan pada firman Allah:
يَسَۡٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡخَمۡرِ وَٱلۡمَيۡسِرِۖ قُلۡ فِيهِمَآ إِثۡمٞ كَبِيرٞ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ وَإِثۡمُهُمَآ أَكۡبَرُ مِن نَّفۡعِهِمَاۗ وَيَسَۡٔلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَۖ قُلِ ٱلۡعَفۡوَۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِ لَعَلَّكُمۡ تَتَفَكَّرُونَ ٢١٩
Artinya: “Mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.“ (QS. Al-Baqarah: 219)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa menurut Ibnu Abbas, al-‘Afw adalah “sesuatu yang lebih dari kebutuhan keluarga”. Demikian juga diriwayatkan dari Ibnu Umar, Mujahid, ‘Atha, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Muhammad bin Ka’ab, Hasan, Qatadah, Qasim, Salim, ‘Atha Khurasani, Rabi’ah bin Anas, dan lainnya berpendapat bahwa arti al-‘Afwu dalam ayat tersebut adalah “lebih”.
Hal ini juga ditunjukkan di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Abu Hurairah:
قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللهِ عِنْدِي دِينَارٌ قَالَ أَنْفِقْهُ عَلَى نَفْسِكَ قَالَ عِنْدِي آخَرُ قَالَ أَنْفِقْهُ عَلَى أَهْلِكَ قَالَ عِنْدِي آخَرُ قَالَ أَنْفِقْهُ عَلَى وَلَدِكَ قَالَ عِنْدِي آخَرُ قَالَ فَأَنْتَ أَبْصَرُ.
Artinya: “Seorang laki-laki berkata: Wahai Rasulullah, saya memiliki satu dinar. Lalu Rasulullah saw menjawab: Nafkahkanlah untuk dirimu sendiri. Ia berkata lagi: Saya mempunyai yang lain lagi. Rasulullah saw menjawab: Nafkahkanlah kepada keluargamu. Ia berkata lagi: Saya mempunyai yang lain lagi. Rasulullah saw menjawab: Nafkahkanlah kepada anakmu. Ia berkata lagi: Saya mempunyai yang lain lagi. Rasulullah saw menjawab: Kau (berarti sudah) mempunyai kelapangan.”
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan seseorang, istri, dan anaknya lebih didahulukan daripada kebutuhan orang lain.
Muslim juga meriwayatkan dari Jabir, bahwa Rasulullah saw berkata kepada seorang laki-laki:
ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ فَإِنْ فَضَلَ عَنْ ذِي قَرَابَتِكَ شَيْءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا
[رواه مسلم]
Artinya: “Berikanlah terlebih dahulu untuk kepentingan dirimu; bila lebih, maka untuk istrimu; bila masih lebih, maka untuk keluarga terdekatmu; bila masih lebih lagi, berikanlah untuk lain-lain.” [HR. Muslim].
Meski hadis di atas tentang sedekah sunnah namun secara umum memberikan petunjuk tentang etika islam dalam berinfak dan sasarannya adalah sesuatu yang lebih sebagaimana yang dipahami oleh Jumhur Ulama.
Pengambilan zakat dari pendapatan atau gaji bersih dimaksudkan supaya hutang bisa dibayar bila ada dan biaya hidup seseorang dan yang menjadi tanggungannya bisa dikeluarkan, karena biaya hidup terendah merupakan kebutuhan pokok seseorang.
Sehubungan zakat profesi diqiyaskan kepada emas, maka disyaratkan adanya haul. Jadi, semua harta yang didapat selama satu tahun berjalan digabungkan, dan jika ada sisa harta dalam satu tahun yang mencapai nisab maka wajib dikeluarkan zakatnya.
Tetapi dalam hal ini boleh juga mempercepat pengeluaran zakat. Hal ini berdasarkan hadis dari Ali r.a.:
أَنَّ الْعَبَّاسَ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي تَعْجِيلِ صَدَقَتِهِ قَبْلَ أَنْ تَحِلَّ فَرَخَّصَ لَهُ فِي ذَلِكَ
[رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلاَّ النَّسَائِيّ]
Artinya: “Bahwa Abbas bin Abdul Muthallib bertanya kepada Rasulullah saw dalam menyegerakan (mempercepat) pengeluaran zakatnya sebelum datang waktu halalnya (satu tahun), lalu Nabi saw mengizinkan hal itu.” [HR. lima ahli hadis kecuali an-Nasa’i]
Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar menyebutkan bahwa sanad hadis ini ada komentar, tetapi dikuatkan oleh hadis-hadis lain, di antaranya riwayat Abu Dawud dan Thayalisi dari hadis Abu Rafi’:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِعُمَرَ: إنَّا كُنَّا تَعَجَّلْنَا صَدَقَةَ مَالِ الْعَبَّاسِ عَامَ اْلأَوَّلِ
Artinya: “Sesungguhnya Nabi saw. berkata kepada Umar: Sesungguhnya kami telah mempercepat pengeluaran zakat harta Abbas pada tahun pertama.”
Jadi, jika mempunyai penghasilan tetap yang bisa diprediksi jika dihitung untuk waktu satu tahun ke depan telah mencapai nisab, maka bisa dikeluarkan zakatnya pada saat mendapatkan penghasilan itu.
Contoh Perhitungan Zakat Profesi
Gaji seorang pegawai sebuah perusahaan swasta nasional adalah Rp. 3.500.000,- per bulan. Setelah dipotong biaya hidup sehari-hari seperti biaya dapur/makan, pendidikan, kesehatan, listrik, pembayaran hutang dan kebutuhan pokok lainnya ternyata masih tersisa Rp. 1.850.000,- Jika dikalkulasi, dalam setahun ia mendapat Rp. 1.850.000,- x 12 = Rp. 22.200.000,-. Nishab zakat profesi adalah setara harga 85 gr emas murni 24 karat. Jika harga emas murni 24 karat per gram adalah Rp. 250.000,-, maka nishab zakat profesi adalah Rp. 21.250.000.
Dengan demikian, gaji pegawai tersebut sudah mencapai nisab dan ia wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5 % x Rp. 1.850.000,- = Rp. 46.250,- jika dikeluarkan per bulan, atau 12 x 2,5 % x Rp. 1.850.000,- = Rp. 555.000,- jika dikeluarkan per tahun.
Artikel ini telah terbit di tarjih.or.id dengan sedikit perubahan redaksi.

