


DENPASAR -- Penguatan program kurban membutuhkan strategi dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat. Penguatan itu diarahkan pada penyaluran manfaat kepada penerima dan keterlibatan peternak dalam program pemberdayaan.
Melalui program Muhammadiyah Berdaya Guna (MBG), Lazismu mendorong keterlibatan peternak Sapi di Bali untuk mengembangkan ekosistem program Rendangmu. Pengembangan program ini dibahas bersama jajaran Muhammadiyah dan Lazismu di Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali, Sabtu (3/10/2026).
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PWM Jawa Tengah Tafsir, Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Tengah Dwi Swasana Ramadhan, Ketua PWM Bali Husnul Fahmi, Ketua PDM Kota Denpasar Tatang Wisnu Wardhana, perwakilan Lazismu Denpasar Eko Purwanto, serta Ketua PDM Karangasem Harsono.
Program peternakan sapi Muhammadiyah Berdaya Guna diarahkan untuk mengoptimalkan potensi peternakan sapi masyarakat sekaligus memperkuat rantai pasok Rendangmu yang diproduksi di Bali. Dengan skema ini, sapi yang dibutuhkan untuk program dapat diperoleh dari peternak lokal sehingga manfaat ekonomi dapat berputar di tengah masyarakat.
Ketua PDM Karangasem Harsono menyampaikan, daerahnya memiliki potensi peternakan sapi yang cukup besar. Meskipun sebagian masih dijalankan dalam skala rumah tangga, usaha tersebut telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.
Potensi tersebut salah satunya berkembang di lingkungan Ranting Muhammadiyah Kecicang. Peternak setempat bahkan telah memiliki pengalaman dalam memasok sapi hingga ke Pulau Jawa. Menurut Harsono, potensi yang telah tumbuh ini perlu terus diperkuat agar mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat.
Ketua PDM Kota Denpasar Tatang Wisnu Wardhana turut mengapresiasi pengembangan program tersebut. Menurutnya, keberadaan Rendangmu telah menunjukkan bahwa program kurban dapat memberikan dampak lebih luas ketika terkoneksi dengan potensi ekonomi masyarakat.
Ia berharap sinergi antara Muhammadiyah dan Lazismu di Jawa Tengah dan Bali mampu menjangkau lebih banyak pihak, mulai dari peternak, pengelola produksi, hingga masyarakat penerima manfaat.
Sementara itu, Ketua PWM Jawa Tengah Tafsir menekankan pentingnya membangun kemandirian ekonomi melalui semangat kewirausahaan sosial. Menurutnya, aktivitas ekonomi memiliki posisi penting dalam perjalanan dakwah Islam.
Ia mendorong warga Muhammadiyah agar tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga mengambil peran sebagai produsen. Pengembangan peternakan sapi, menurut Tafsir, dapat menjadi salah satu jalan untuk membangun ekosistem ekonomi yang terhubung dari hulu hingga hilir. Semangat itu diwujudkan melalui pengembangan peternakan yang tidak berhenti pada proses pemeliharaan dan penjualan sapi.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Tengah Dwi Swasana Ramadhan menjelaskan, Rendangmu telah memasuki tahun keenam pelaksanaan di Bali. Karena itu, pengembangan program selanjutnya diarahkan pada penguatan ekosistem agar semakin banyak potensi lokal yang terlibat.
Menurut Dwi, wilayah seperti Karangasem dan Kintamani memiliki potensi peternakan yang dapat dihubungkan dengan kebutuhan sapi untuk produksi Rendangmu. “Ini sudah tahun keenam Rendangmu dijalankan di Bali. Yang perlu diperkuat ekosistemnya. Maka sapi bisa didapat dari peternak lokal, diproduksi di Bali. Manfaat ekonominya kembali kepada masyarakat”, ujarnya.
Perkembangan program Rendangmu juga menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Pada awal pelaksanaan, jumlah sapi yang dikelola berada pada kisaran 30 hingga 50 ekor. Pada pelaksanaan terakhir, jumlah tersebut telah berkembang menjadi 487 ekor sapi.
Lazismu menargetkan kapasitas program dapat meningkat menjadi sekitar 500 hingga 600 ekor sapi. Pertumbuhan itu sekaligus membuka peluang bagi peternak lokal untuk menjadi bagian dari rantai pasok program secara berkelanjutan.
Selain mendukung program kurban, Rendangmu memiliki keunggulan daya simpannya hingga dua tahun. Nilai manfaat ini untuk berbagai kebutuhan terutama di saaat program kemanusiaan. Produk ini juga menjadi salah satu makanan siap saji yang dapat didistribusikan dalam respons kebencanaan.
Melalui peternakan sapi Muhammadiyah Berdaya Guna, Lazismu berupaya mengembangkan kurban sebagai bagian dari ekosistem pemberdayaan. Peternak diperkuat pada sektor hulu, sementara pengolahan Rendangmu menjadi penghubung agar manfaat kurban dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Sinergi ini diharapkan dapat membangun model pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan sekaligus memperkuat kemandirian masyarakat melalui pengelolaan potensi lokal dari hulu hingga hilir.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Jateng]

DENPASAR -- Kolaborasi Muhammadiyah Jawa Tengah dan Muhammadiyah Bali terus diperkuat melalui bidang dakwah, pendidikan, dan filantropi. Semangat itu terwujud dalam Tabligh Akbar dan Sosialisasi Bali International Muhammadiyah University (BIM University) yang berlangsung di Mushola Ahmad Dahlan, Denpasar, Bali, Ahad (4/10/2026).
Lebih dari 500 warga Muhammadiyah dan masyarakat sekitarnya di Denpasar mengikuti kegiatan tersebut. Hadir Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah Tafsir, Rektor BIM University Harun Joko Prayitno, Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Tengah Dwi Swasana Ramadhan, Ketua PWM Bali Husnul Fahmi, serta Ketua PDM Denpasar Tatang Wisnu Wardhana.
Selain menjadi ruang dakwah dan silaturahim, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat konsolidasi Muhammadiyah lintas wilayah. Sinergi ini diarahkan untuk mendorong perkembangan pendidikan sekaligus memperluas manfaat gerakan filantropi Muhammadiyah di Bali.
Ketua PWM Bali Husnul Fahmi mengatakan, Muhammadiyah telah tumbuh dan berkembang di Bali sejak stahun 1930. Dalam perjalanannya, Muhammadiyah membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat serta tumbuh melalui semangat gotong-royong.
Ia berharap konsolidasi dakwah tersebut semakin memperkuat gerakan Muhammadiyah di Bali. Lebih jauh lagi, hadirnya BIM University menjadi tonggak penting bagi pengembangan amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan tinggi.
Rektor BIM University Harun Joko Prayitno menjelaskan bahwa BIM University resmi menjadi bagian dari Muhammadiyah sejak 21 April 2026. Menurutnya, pengelolaan perguruan tinggi tersebut menjadi amanah besar yang membutuhkan dukungan bersama dari seluruh unsur persyarikatan.
“BIM University sudah resmi menjadi milik Muhammadiyah. Kami ingin generasi muda di Bali dapat melanjutkan pendidikan di BIM University. Mohon doa dan dukungan agar kampus ini terus berkembang,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Ketua PWM Jawa Tengah Tafsir menyampaikan tausiyah mengenai pentingnya pendidikan yang berjalan beriringan dengan pembentukan akhlak dan pendidikan karakter.
Menurutnya, Bali yang dikenal luas hingga tingkat internasional memberikan ruang strategis bagi Muhammadiyah menghadirkan wajah Islam yang berkemajuan. Karena itu, kehadiran perguruan tinggi ini diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, mampu membangun harmoni dengan masyarakat.
Tafsir juga mengajak warga Muhammadiyah untuk menjaga keseimbangan hubungan dengan Allah, sesama manusia, dan alam. Pesan tersebut disampaikan dengan mengingatkan makna tadabur dalam Surah Ali Imran ayat 190 serta pentingnya semangat jihad dan ijtihad dalam kehidupan.
Sinergi antara Jawa Tengah dan Bali juga diwujudkan melalui penguatan gerakan filantropi. Lazismu Jawa Tengah memberikan dukungan sebesar Rp70 juta untuk mendukung penguatan Lazismu di Denpasar.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari kolaborasi antardaerah untuk memperkuat kapasitas Lazismu sekaligus memperluas manfaat zakat, infak, dan sedekah kepada masyarakat. Sinergi diharapkan berkembang dalam bentuk program-program pemberdayaan yang berkelanjutan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Ketua PDM Denpasar Tatang Wisnu Wardhana turut menyoroti manfaat kolaborasi yang sebelumnya telah terbangun melalui program RendangMu. Menurutnya, RendangMu tidak hanya hadir sebagai program sosial, tetapi juga menjadi sarana syiar dakwah yang manfaatnya menjangkau masyarakat Muhammadiyah di Bali.
Kolaborasi Jawa Tengah dan Bali menunjukkan pentingnya jejaring antardaerah dalam memperkuat gerakan Muhammadiyah. Pertemuan tersebut tidak berhenti pada silaturahmi, tetapi diarahkan pada kerja bersama dalam dakwah, pendidikan, filantropi, serta pemberdayaan masyarakat.
Melalui penguatan jejaring tersebut, Muhammadiyah dan Lazismu diharapkan dapat terus menghadirkan program yang berkelanjutan serta memberikan dampak yang semakin luas bagi masyarakat.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Jateng]

BANDUNG -- Antusiasme terpancar dari para manajer dan perwakilan Lazismu daerah saat mengikuti Rapat Koordinasi dan Asesmen se-Jawa Barat yang berlangsung di Kantor Lazismu Jawa Barat, Bandung, pada Kamis (1/10/2026).
Forum tahunan ini menjadi ajang penting bagi pejuang amil daerah untuk saling merefleksikan kinerja, menimba ilmu, dan memperkuat koordinasi kelembagaan. Forum ini merupakan ruang belajar untuk menyerap inspirasi guna memperbaiki tata kelola serta pelayanan zakat di daerah masing-masing.
Perwakilan dari Lazismu Kabupaten Bekasi, Riswanto, mengungkapkan rasa syukurnya dapat berpartisipasi langsung dalam rangkaian asesmen dan rapat koordinasi kali ini. Menurut Riswanto, proses asesmen yang dijalani memberikan gambaran jernih mengenai poin-poin evaluasi dalam tata kelola manajemen di wilayahnya.
"Kegiatan asesmen dan rakor hari ini luar biasa. Membuka pemahaman kami dan bisa menemukan berbagai kekurangan dari sisi tata kelola, sekaligus mendapatkan masukan dan materi yang luar biasa dari para pemateri,” ujarnya.
Ia mengaku jauh lebih termotivasi untuk mempraktikkan ilmu yang didapat dan merealisasikannya bersama rekan-rekan di kantor layanan Lazismu Kabupaten Bekasi.
Kesan mendalam juga dirasakan oleh peserta lain dari lini operasional keuangan. Siti Nur Asyiah, Staf Keuangan Lazismu Kota Cirebon, menyebutkan bahwa rakor ini memberikan kesegaran dan energi baru bagi para staf di daerah.
"Alhamdulillah, melalui kegiatan ini kami bisa mendapatkan wawasan yang lebih luas, pemateri yang menginspirasi, serta motivasi dan semangat baru”, pungkasnya. Kami menyadari, keberhasilan lembaga sangat bergantung pada kemauan kita bersama untuk mau memperbaiki sistem dan koordinasi.
Harapannya, Lazismu bisa terus maju dan menjadi tempat yang sangat bermanfaat, baik bagi para muzaki maupun masyarakat yang membutuhkan.
Semangat dan komitmen para peserta ini disambut hangat oleh Manajer Area Lazismu Jawa Barat, Sani Sonjaya. Ia mengatakan, peningkatan kapasitas dan kompetensi para manajer serta staf di daerah merupakan kunci utama dalam mewujudkan Lazismu Jawa Barat yang unggul dan masuk dalam jajaran Top 3 Nasional.
Sebagai tindak lanjutnya, Lazismu Jawa Barat juga telah menyiapkan workshop susulan untuk merancang rencana aksi jangka pendek dalam tiga bulan ke depan. Langkah ini memastikan seluruh hasil pembelajaran membuahkan rekomendasi kepada peserta agar dapat langsung diwujudkan menjadi aksi nyata di lapangan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Jabar/M. Aqbil]

BLITAR -- Cangkang telur sebagai lapisan paling luar berfungsi melindungi bagian isi telur. Protein hewani yang terkandung dalam telur bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Kualitas telur sangat ditentukan bagaimana merawat ayam petelur yang baik.
Di Kabupaten Blitar, tepatnya di Desa Ampel Gading, Kecamatan Selorejo dan Desa Tunggorono, Kecamatan Doko, terdapat kelompok usaha peternakan. Mereka terdiri dari 20 orang penerima manfaat Kampung Berdaya Unggas yang berlatar belakang buruh tani, pekerja serabutan, pelaku usaha mikro hingga pekerja yang sudah pensiun.
Keberadaannya merupakan upaya yang dilakukan Lazismu Jawa Timur dalam intervensi program pemberdayaan untuk berkomitmen mengoptimalkan pendayagunaan dana zakat produktif melalui program Kampung Berdaya Unggas Petelur.
Perwakilan Lazismu Jawa Timur, Agus Lukman Hidayat mengatakan program pemberdayaan ini menggunakan pendekatan holistik dari aset hingga pemasaran dengan rantai nilai yang terintegrasi.
“Program Kampung Berdaya Unggas Petelur tidak sekadar memberikan bantuan fisik, melainkan menerapkan sistem pendampingan hulu-ke-hilir”, ujarnya saat Divisi Monitoring dan Evaluasi Lazismu Pusat mengunjungi kandang unggas pada, Rabu, (23/9/2026).
Ia menjelaskan bahwa bantuan berupa penyediaan kandang, bibit ayam petelur (pullet), pakan, obat-obatan, serta pendampingan teknis dan medis rutin difasilitasi penuh melalui kerja sama dengan kemitraan lokal. Salah satunya Dayat Farm dari pelaku usaha Jatinom dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah setempat.
Kami tidak hanya memberikan bantuan berupa modal aset, tetapi membangun ekosistem usaha. Bantuan dialokasikan lengkap mulai dari sarana produksi hingga integrasi pemasaran rantai nilai (value chain).

Intervensi Secara Komprehensif
Lazismu dengan pilar ekonomi lewat Peternakan Masyarakat Mandiri, merancang program ini untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat penerima manfaat (mustahik) berbasis potensi wilayah yang berkelanjutan.
Sigit Prasetyo selaku pendamping bersama Ketua PDM Blitar mengambil langkah sinergis untuk memastikan pemberdayaan ekonomi yang dirancangnya bernilai ekonomis. Sigit mengutarakan untuk meningkatkan margin keuntungan peternak, hasil produksi telur diarahkan langsung ke pasar lokal dan toko-toko eceran tanpa melalui jalur tengkulak.
“Strategi ini memberikan nilai tambah keuntungan sekitar Rp 1.000 hingga Rp1.500 per kilogram telur yang langsung dirasakan oleh warga untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga”, pungkasnya.
Dengan demikian ada transformasi ekonomi warga dan potensi wilayah yang bisa digali sehingga pemberdayaan masyarakat dalam skala kecil-menengah ini bisa memberikan dampak ekonomi bagi penerima manfaat dan masyarakat sekitarnya.
Nilai manfaat itu dirasakan langsung oleh Budi Santoso salah seorang penerima manfaat dari Desa Tunggorono, Kecamatan Doko. Budi mengungkapkan dalam prosesnya ada perubahan mendasar dalam perekonomian keluarganya.
“Sebelum adanya program ini, Ia hanya bergantung pada pekerjaan serabutan di sektor pertanian dan buruh bangunan dengan penghasilan pas-pasan”, ungkapnya.
Budi mengatakan, sebelumnya penghasilan yang didapat sangat tidak menentu. Pada periode pertama kami mengelola 400 ekor ayam, dan sekarang di periode kedua jumlahnya sudah berkembang menjadi 688 ekor. Hasil penjualannya sangat membantu menopang kebutuhan harian dan biaya sekolah anak yang terus meningkat.
Potensi geografis wilayah Blitar dengan kondisi udara yang sejuk dan minim polusi memberikan peluang jitu dalam keunggulan strategis yang mendukung ketahanan fisik ayam serta produktivitas telur jangka panjang.
Oleh karena itu, kata Sigit, pendampingan berkelanjutan dan pembinaan karakter usaha adalah kunci sukses program ini yang terletak pada pola pendampingan intensif dan batas waktu yang elastis.
Tentu saja pemantauan dilakukan secara berkala melalui kunjungan serta komunikasi melalui saluran jejaring online. "Dunia peternakan dengan dinamika teknisnya sangat tinggi, mulai dari efisiensi pakan hingga manajemen revaksinasi agar produktivitas dan kualitas cangkang telur tetap terjaga”, bebernya.
Target kami bukan sekadar memberi bantuan modal, melainkan membentuk mentalitas usaha jangka panjang. Dalam skema tata kelola keuangan, sambung Sigit, penerima manfaat diarahkan untuk mengalokasikan maksimal 25% hasilnya untuk konsumsi.
Sementara itu, sisanya sebesar 75% dikembalikan sebagai modal re-investasi usaha secara berkelanjutan hingga 4 – 5 periode dalam skala 6 – 8 tahun. Target jangka panjangnya, menaikkan kapasitas populasi ternak secara mandiri dari ratusan menjadi ribuan ekor.
Dari Pemberdayaan ke Penguatan Spiritual
Dalam perannya, Lazismu sebetulnya memainkan peran penting di luar aspek ekonomi. Program Kampung Berdaya Unggas Petelur turut menampilkan penguatan sosial dan nilai-nilai keagamaan sebagai rintisan program Kampung Berkemajuan.
Mistamaji misalnya seorang penerima manfaat dari Desa Ampel Gading, Kecamatan Selorejo yang juga aktif sebagai Ketua PCM Selorejo, menyebutkan bahwa seleksi penerima manfaat diselaraskan dengan keaktifan warga dalam kegiatan keagamaan masyarakat.
"Pemberdayaan berjalan berdampingan dengan pembinaan dakwah yang inklusif. Di Tingkat cabang dan ranting, peternak diajak aktif dalam pengajian serta kajian rutin jamaah. Bahkan kebersamaannya memupuk gotong-royong antarwarga lintas elemen sosial masyarakat”, tuturnya.
Keberlanjutan program Kampung Berdaya Unggas Petelur yang dirancang Lazismu Jawa Timur diharapkan dengan zakat produktif yang disalurkan dapat terus berkembang. Mampu mengentaskan kemiskinan, serta bisa mengubah penerima manfaat (mustahik) menjadi pemberi zakat (muzaki) yang mandiri dan berkemajuan di masa depan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

DENPASAR -- Menekuni teknis las dalam dunia industri lebih dikenal dengan sebutan Welder. Tugas Welder adalah menyambung material berbahan alumunium, besi atau baja. Dalam industri skala besar, dibutuhkan keahlian khusus bagi Welder karena pengerjaannya berisiko tinggi.
Profesi Welder membutuhkan keahlian dan keterampilan khusus. Seperti pendidikan dan pelatihan intensif teknik las (Welder) yang dilakukan Lazismu Wilayah Bali dan Bina Usaha Mikro Kecil (UMK) Pimpinan Cabang Muhammadiyah Denpasar Selatan, dalam tajuk Skill Development Program. Hari Ahad, (27/9/2026) menjadi hari terakhir program pemberdayaan itu di Bengkel Las Surya Baru, Denpasar.
Pelatihan ini sebetulnya berlangsung secara bertahap sejak 23 Agustus 2026 dengan rangkaian materi yang terbagi setiap pekan sampai pekan terakhir bulan September. Program pemberdayaan ini dinisiasi oleh Lazismu Wilayah Bali sebagai bagian dari upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
Program ini merupakan periode kedua tahun 2026 dalam pelaksanaannya, kata Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bali, Miftahnurrahman, yang membidangi Lazismu. Pelatihan dan keterampilan merupakan bagian dari ikhtiar Lazismu membangun kemandirian masyarakat.
“Program pemberdayaan ini telah melalui evaluasi dari pelaksanaan sebelumnya. Pada periode ini, peserta dibatasi hanya 10 orang dari berbagai kalangan yang membutuhkan, dengan pola pelatihan yang lebih fokus dan intensif”, ujarnya.
Pelatihan dilaksanakan dalam lima kali pertemuan dengan perpaduan teori dan praktik, serta menghadirkan Yugos Wiyanto sebagai fasilitator. “Kita ingin Lazismu tidak hanya hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan, tetapi juga hadir untuk membangun kemandirian”, jelas Miftah.
Harapannya, mustahik bisa naik kelas menjadi masyarakat yang mandiri, bahkan suatu saat mampu menjadi muzaki. Peserta pelatihan teknis Welder yang mengikuti harus diseleksi. Yang memenuhi kualifikasi difasilitasi untuk teori dan praktiknya agar ada pendampingan oleh ahlinya.
Ketua Lazismu Wilayah Bali, Riza Putra, mengungkapkan bahwa program zakat nilai manfaatnya dapat menjadi instrumen pemberdayaan yang memberikan dampak jangka panjang.
“Ketika seseorang memiliki kehalian tertentu, maka ada peluang untuk mendapatkan pekerjaan atau membangun usaha. Kami ingin dana zakat dan gerakan filantropi Muhammadiyah memiliki dampak jangka panjang melalui penguatan keterampilan”, pungkasnya.
Merespons program pemberdayaan itu, Ketua PCM Denpasar Selatan, Lila Rachmat Sudjatmika menyambut baik kolaborasi tersebut. Kami berharap keterampilan ini bisa menjadi bekal mengembangkan usaha secara mandiri. “Pemberdayaan bukan hanya memberikan bantuan, tetapi bagaimana memberikan kemampuan dan kesempatan kepada masyarakat untuk berkembang”, terangnya.
Hal senada, disampaikan Ketua Panitia Pendidikan dan Pelatihan Intensif Teknik Las (Welder), Fauluq Ulum, bahwa proses pemberdayaan perlu dilakukan dengan selektif. Pembatasan peserta merupakan hasil evaluasi agar pendampingan bisa dilakukan lebih optimal.
“Pada periode kedua ini pelatihan dibuat lebih fokus dan intensif. Dengan 10 peserta, kami berharap setiap peserta mendapatkan perhatian dan pengalaman praktik yang cukup untuk menjadi bekal setelah pelatihan”, imbuhnya.
Dalam pelaksanaannya, peserta juga mendapatkan pembelajaran mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Lazismu Bali dan Bina UMK PCM Denpasar Selatan menyampaikan apresiasi kepada Dewata Safety atas dukungan dan fasilitasi peralatan K3.
Penerima manfaat program pemberdayaan Muhammad Jais, mengatakan dirinya dan Kawan Kawan yang lain mesih membutuhkan bimbingan dan pembelajaran dari para fasilitator.
“Rasa-rasanya ilmu yang kita peroleh masih kurang. Harapannya, ada bimbingan lanjutan agar ilmu yang didapat baik dari segi teknis atau pengenalan mesin dan peralatan lebih maksimal lagi”, tuturnya.
Sejak pelatihan itu, ungkap Jais, kita baru tahu bagaimana menggunakan alat ukur penggaris siku dan bagaimana melakukan potongan menyiku pada benda kerja. Mudah-mudahan apa yang kami peroleh bermanfaat dan ilmunya bisa langsung dipraktikan.
Melalui program ini, Lazismu Bali bersama Bina UMK PCM Denpasar Selatan berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat menjadi modal untuk bekerja, membuka usaha, meningkatkan pendapatan keluarga dan secara bertahap menuju kemandirian ekonomi.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Denpasar]

KUBU RAYA -- Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) telah menampilkan krisis sosial dan ekonomi di Kalimantan Barat. Karhutla merupakan bencana berulang yang sampai saat ini membutuhkan penanganan serius.
Setiap bencana selalu meninggalkan jejak yang pilu. Dampak nyata karhutla adalah ancaman terhadap kesehatan karena kualitas udara yang terus memburuk. Kualitas udara ini akan sangat berbahaya jika dihirup kelompok rentan, salah satunya adalah anak-anak dan balita.
Menurut laporan Kementerian Kesehatan, tercatat bahwa terjadi lonjakan tajam gangguan pernapasan di wilayah terdampak karhutla. Sejak Agustus – September 2026, ada sekitar 170 ribu lebih kasus infeksi saluran pernapasan (ISPA) di tiga provinsi Kalimantan yang menjadi kawasan berbahaya. Kondisi kesehatan masyarakat semakin merisaukan akibat udara di kota yang diselimuti kabut asap tebal.
Status kedaruratan tersebut direspons Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Barat. Melalui program Indonesia Siaga yang diusung Lazismu dan diperkuat oleh One Muhammadiyah One Response (OMOR), relawan kemanusiaan bergerak cepat menyelamatkan kelompok rentan dengan meluncurkan fasilitas Rumah Oksigen Balita pada, Sabtu, 19 September 2026.
Rumah Oksigen Balita itu berlokasi di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Kalimantan Barat, Jalan Arteri Supadio. Keberadaannya lebih dari sekadar posko kesehatan biasa. Rumah Oksigen Balita dirancang komprehensif sebagai tempat berlindung yang terpadu, aman, dan berorientasi pada keramahan anak.
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Barat, Nilwani Hamid, mengatakan Rumah Oksigen Balita adalah salah satu wujud kepedulian Muhammadiyah terhadap masyarakat yang terdampak karhutla.
“Ini kepedulian Muhammadiyah terhadap masyarakat, insyaallah kita akan sebarluaskan, dan akan terus mendorong di kabupaten/kota di Kalimantan Barat, untuk membangun Rumah Oksingen”, ujarnya, dilansir dari laman resmi mykalbar.com, pada Sabtu, (19/9/2026).
Koordinator Poskor Penanganan Karhutla Muhammadiyah Kalbar, M. Hermayani Putera, mengutarakan Rumah Oksigen Balita ini merupakan rumah oksigen ke-12, yang didirikan Muhammadiyah Kalbar.
Hermayani mengungkapkan bahwa ada beberapa titik Rumah Oksigen yang bisa diakses oleh masyarakat secara gratis di Pontianak dan Kubu Raya. Khusus fasilitas di sini, menjadi Rumah Oksigen pertama untuk melayani balita dan ibu menyusui.
Ia menilai, penanganan terhadap balita membutuhkan layanan yang lebih spesifik. Karena itu, bukan merupakan fasilitas kesehatan, tetapi disiapkan sebagai tempat untuk situasi darurat dalam melakukan pertolongan pertama bagi balita dan anak-anak yang terdampak asap.
Di Rumah Oksigen Balita ini disediakan fasilitas bermain. Ada Ruang Sensori dan Playground. Hak bermain serta stimulasi motorik anak tetap difasilitasi dengan aman. Di ruang berbeda, terdapat layanan Psikososial Anak yang diisi tenaga relawan untuk pendampingan khusus dalam mengurangi tingkat kecemasan dan trauma anak selama bencana berlangsung.
Bagi para ibu menyusui kenyamanannya tetap dijamin dalam ruang laktasi. Fasilitas ini didesain tertutup guna menjaga privasi, memastikan nutrisi dan ASI untuk si kecil dapat terus diberikan tanpa hambatan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Kalbar]



Seseorang dalam suatu pengajian bertanya kepada Ustadz, Jika Allah SWT Maha Baik dan Maha Penyayang kepada mahluknya, mengapa Ia dengan Kuasanya, memberikan ujian bagi manusia. Hal ini tidak adil padahal Allah SWT telah memberikan nikmat dan anugerah yang tak terhingga.
Pertanyaan di atas, mungkin ada dan dialami dalam benak orang lain. Pertanyaan itu fitrah bagi manusia. Karena dalam Islam manusia memiliki fitrah untuk belajar dan mengetahui segala sesuatu. Potensi bertanya manusia juga bagian dari fitrah manusia dalam beragama untuk mengetahui Kemahakuasaan-Nya sebagai Maha Pemberi Bentuk (Al-Wahib Al-Suwar).
Dengan kuasa-Nya, Allah bisa menjadikan sesuatu dalam bentuk apa saja, bahkan dengan kuasa-Nya mengubah sesuatu dalam bentuk yang lain bahkan menghancurkan atau memusnahkannya. Termasuk bencana gempa bumi, tentu ada maksud-Nya Allah memberikan peringatan dan kehancuran itu kepada setiap manusia.
Dalam kajian Fikih Bencana tahun 2014, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah melakukan kajian atas pokok bahasan mengenai bencana, keadilan dan nasib manusia dalam mempertahankan hidupnya.
Salah seorang Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Ustadi Hamsah, misalnya, ketika membahas soal Keadilan Tuhan (theodicy), Musibah dan Peristiwa yang Penuh Makna, mengungkapkan bahwa konsep Keadilan Tuhan merupakan ke-Maha Baik-kan dan ke-Maha Adil-an Allah yang dihadapkan pada kenyataan adanya keburukan dan kejahatan di dunia.
Hal itu, menurutnya, didasarkan pada sifat Rahmah (rahman dan rahim). Ketentuan dan ketetapan Allah pun selalu BAIK, dan hamba-hamba Yang Rahman dan Rahim (‘ibad al-Rahman) memandang bahwa Allah adalah Sumber Kebaikan. Konsekuensi kebaikan ini adalah bertambahnya nilai dari kebaikan (ihsan).
Dalam kajian itu, Ustadi mengatakan bahwa seluruh ketentuan Allah adalah anugerah bagi manusia. Fungsi anugerah itu sendiri sebagai ujian (bala’). Dan ujian itu berbentuk dua keberadaanya, yaitu kebaikan (hasanat) dan keburukan (sayyi’at). Ujian yang buruk (sayyi’at) lazim dikenal dengan musibah, bencana, pageblug, atau prahara.
Musibah Bukan Berarti Masalah
Terlepas dari ujian yang diberikan oleh Allah SWT, sebelum musibah itu datang manusia dalam hidupnya senantiasa dihadapi oleh kendala dalam bentuk masalah. Baik itu masalah ringan atau berat. Masalah dalam pengertian yang sederhana adalah adanya kesenjangan sesuatu antara yang senyatanya (Das Sein) dengan yang seharusnya (Das Sollen).
Oleh karena itu, ketika manusia diuji dengan masalah, sebagian orang mengatakan itu adalah musibah. Bahkan musibah itu dimaknai negatif. Sehingga menjadi masalah bagi manusia. Mengapa? Karena manusia memiliki kesadaran. Kesadaran itu bisa rapuh. Dalam kacamata Tauhid tentang musibah secara hakikat pada dasarnya tidak sama dengan masalah. Padahal yang menjadi masalah bagi manusia pada dasarnya adalah cara manusia menyikapi masalahnya. Ustadi berpendapat, apapun yang terjadi adalah nasib (bagian) manusia, ketentuan (qadla’) Allah bagi makhluk-Nya sesuai ketetapan-Nya (taqdir).
Demikian keadilan Tuhan. Maka kita harus memahami dan menyikapi takdir itu. Dalam Tauhid, ada cinta dan keridhoan. Artinya menerima ketentuan Allah dengan Ikhlas. Ridho dan Ikhlas atas kejadian atau peristiwa di alam (bil kaun). Itu adalah kuasa-Nya, manusia tidak mampu menjangkaunya.
Yang menarik menurut Ustadi, jika Allah menghendaki musibah pada suatu kaum, maka akan menimpa orang sholih juga orang kafir, tetapi Allah akan membangkitkan dalam kondisi yang berbeda-beda. Selanjutnya ada Ridho yang dimaknai atas yang menimpa kita (bi na). Maksudnya ada banyak faktor dalam hidup kita yang diatur oleh Allah. Dan yang tahu rahasianya hanya Allah SWT.
Untuk itu, dalam Islam dan dalam setiap ibadah kita selaku Muslim, maka penting untuk kuatkan sikap kita ridho dan ikhlas malakukan hal yang layak untuk dilakukan. Allah tidak mengubah kondisi suatu kaum kecuali kaum tersebut mau mengubah kondisnya pula.
Pandangan terkait bencana ini, juga disampaikan Majelis Tarjih dan tajdid PP Muhammadiyah, Muhammad Khaeruddin Hamsin mengenai Konsep Darurat Dalam Islam dan Masalah -Masalah Fikih Terkait Bencana. Menurutnya, darurat dalam kerangka Maqasid Syar’iyah adalah di mana manusia sampai pada kondisi yang sangat kesulitan sehingga dapat melakukan hal-hal yang dilarang guna menghindarkan jiwanya, hartanya dan sebagainya dari kebinasaan.
Mendudukan makna darurat menjadi penting di sini, karena bertalian dengan konsep maslahah yaitu bagaimana manusia dapat menggapai suatu kemanfaatan dan terhindar dari kerusakan atau mencapai kemanfaatan dengan menjaga agama, jiwa, keturunan (harga diri) akal dan harta.
Jadi, maslahah dalam konteksnya ini mencakup hal-hal yang bersifat dharuriyat, hajiyat dan tahsiniyat, sedang darurat hanya terbatas hal-hal yang besifat dharuriyat saja.
Dari paparan di atas, Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq Mughni menilai bahwa pandangan Islam tentang bencana berarti ada suatu hal yang penting yaitu mengurangi risiko bencana untuk mempertahankan hidup.
Penggalian nilai-nilai Islam tentang kebencanaan sangat penting untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap bencana. Kesadaran itu akan terwujud dalam upaya untuk memahami bencana sebagai fenomena alam maupun sosial sehingga bisa mengurangi tingkat risikonya, mengantisipasi dan melakukan apa yang terbaik ketika bencana itu terjadi.
Agama memainkan peran yang penting karena sifat ajaran Islam yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Menurut pendapat para pemikir hukum Islam, prinsip-prinsip dasar atau maksud dari setiap ketetapan hukum Islam di antaranya, menjaga keselamatan jiwa dan harta manusia. Karena ini wajib menurut ajaran Islam untuk mempertahankan hidup.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

Bayangkan, anda tertidur lelap. Tidur malam cukup selama 7- 8 jam yang bermanfaat untuk kesehatan. Jaringan sel tubuh mengalami perbaikan dalam sistem tubuh yang bekerja untuk menguatkan kekebalan, menjaga kesehatan jantung dan mengoptimalkan fungsi kerja otak serta daya ingat. Selain itu, tidur malam yang cukup dapat menjaga emosi tetap stabil.
Tiba-tiba dalam nyenyak yang nikmat, kasur bergerak dan atap rumah berguncang hebat hingga merubuhkan bangunan. Tetangga dan kerabat dekat anda merasakan hal yang sama sehingga terkejut berlari keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Gempa bumi sedang menyapa kita dengan ujian musibah yang tidak mengenal waktu dan tempat.
Demikian hal yang dialami saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa bumi tektonik berkekuatan 7,7 magnitudo pada Sabtu, (15/8/2026) pukul 04.58 waktu setempat. Tujuh kabupaten di NTT merasakan dampaknya. Bahkan BNPB dalam datanya melaporkan bahwa ada dua kabupaten yang mengalami kerusakan dan dampak yang luar biasa yaitu kabupaten Manggarai dan kabupaten Manggarai Timur.
Data terkini dari BNPB, tertanggal 20 Agustus 2026, jumlah korban meninggal dunia menjadi 72 orang. Korban luka-luka sebanyak 900 orang, dan 82.691 orang mengungsi serta 18.019 kepala keluarga terdampak. Tidak hanya itu, kerugian materilnya ada 29.001 rumah rusak termasuk fasilitas ibadah dan fasilitas umum.
Makna Bencana sebagai Buah Empati
Adalah penting untuk memandang bencana dari perspektif islam dan kemanusiaan. Dalam sudut pandang Fikih Bencana yang diterbitkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah (2015), kata bencana memiliki padanan istilah dalam Al-Qur’an yaitu musibah, bala’, fitnah, ‘azab, fasad, halak, tadmir, tamziq, ‘iqab, dan nazilah.
Istilah – istilah tersebut mengandung makna yang berbeda-beda dalam teks dan konteksnya. Istilah Bala’ diartikan sebagai “cobaan untuk memperteguh keimanan”. Adapun istilah fitnah lebih dekat pada makna bencana sosial yang diakibatkan oleh ketegangan sosial antar manusia.
Sedangkan istilah Azab diartikan sebagai “ragam peristiwa yang menimpa manusia karena perbuatannya yang abai terhadap ketetapan dan hukum Allah”. Sementara istilah Fasad merupakan bencana yang diakibatkan oleh manusia yang bertentangan dengan ketetapan Allah.
Dalam makna lain tentang bencana, Halak bersandar pada suatu kehancuran dan kebinasaan yang menjadi hukum ketetapan Allah. Makna bencana lainnya melalui istilah Tadmir diartikan sebagai sifat dari suatu peristiwa yang berdampak merusak dan disebabkan oleh manusia juga oleh alam.
Selain itu, istilah Tamziq merupakan peristiwa buruk yang murni disebabkan oleh ulah manusia. Sedangkan istilah Iqab merupakan kejadian berupa hukuman disebabkan oleh sikap pengingkaran manusia terhadap Allah dan Rasul serta istilah Nazilah yang berarti bencana sebagai hukuman dari Allah untuk manusia.
Berdasarkan istilah dan makna bencana di atas, secara teknis dan konseptual kita sering menggunakannya secara bergantian. Oleh karena itu, makna dasar ini menjadi relevan sebagai bekal pengetahuan tentang bencana dari perspektif fikih islam karena berkaitan dengan wawasan kemanusiaan dan kepekaan sosial (empati).
Berkhidmat kepada Kemanusiaan
Setiap bencana mengandung hikmah dan pelajaran bagi setiap manusia, baik sebagai manusia yang terdampak atau tidak. Oleh karena itu, bencana harus disikapi dengan arif bijakasana agar kita mampu berkhidmat untuk merespons bencana tersebut. Sebagai pelajaran yang sudah terjadi maka manusia harus merencanakan mitigasinya, dan bagaimana merespons kedaruratannya hingga masa pemulihannya.
Hamim Ilyas dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengatakan bahwa berkhidmat terhadap bencana berarti menyelami makna terdalam. Hamim mendasarkan argumennya pada Surat Al-Maun tentang Yatim dan Miskin serta orang yang mendustai agama. Mengapa demikian, karena manusia yang tertimpa bencana mengalami kerugian bahkan kehilangan harta bendanya yang berharga. Bisa jadi bagi seorang anak, karena bencana orang tuanya berpulang dan Ia menjadi yatim duafa atau penyandang masalah kesejahteraan.
Oleh karena itu, menurut Hamim Ilyas, berkhidmat kepada yatim dan miskin dilakukan dengan empat prinsip: 1. Memuliakan, 2. Keberpihakan, 3. Memperlakukan dengan adil, dan 4. Memberikan kebaikan nyata. Al-Qur’an telah menunjukkan bukti dari pengkhidmatan itu melalui upaya memberikan perlindungan dan santunan, memperhatikan masa depan, berlaku adil dan tidak bersikap kasar serta mengelola harta yang dimiliki yatim dengan cara terbaik.
Dengan upaya pengkhidmatan itu, akan ada usaha-usaha yang dapat dilakukan, misal setelah masa tanggap darurat bencana akan masuk pada fase pemulihan, sebagai ikhtiar menolong sesama bisa dilakukan dengan pemberdayaan masyarakat dengan 4 orientasi yang terus bisa dikembangkan sesuai kebutuhan, yaitu: 1. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi kesejahteraan, 2. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi kemandirian dan kelestarian, 3. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi advokasi dan perubahan sosial, 4. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi advokasi kebijakan publik dan gerakan sosial.
Hal itu diperkuat oleh pemaknaan terhadap bencana yang diungkapkan oleh Pakar Manajemen Bencana dari PP Muhammadiyah, Rahmawati Husein bahwa bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Menurut Rahmawati Husein dalam memahami bencana dan pengelolaannya yang menjadi poin penting adalah dari tanggap darurat ke pengurangan risiko bencana. Ia menilai sejauh ini masih ada sebagian masyarakat yang melihat bencana alam sebagai sesuatu yang datang di luar kemampuan manusia. Maka kecenderungannya menunggu kejadian tersebut dialami atau menimpa diri mereka tanpa ada pembelajaran untuk mitigasi dan penanggulangan risiko bencananya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

MENGECAM PENYANDERAAN 9 AKTIVIS KEMANUSIAAN INDONESIA DAN BANTUAN KEMANUSIAAN GLOBAL SUMUD FLOTILLA OLEH AKSI MILITER ISRAEL
Jakarta, 20 Mei 2026
Aksi militer Israel yang melancarkan penyergapan terhadap relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0, menuju Gaza, Palestina, merupakan bentuk teror dan melanggar hukum internasional. Tindakan intersepsi itu terjadi pada Senin, 18 Mei 2026, di perairan internasional Siprus, tepatnya di kawasan Laut Mediterania Timur.
Misi kemanusiaan untuk Palestina yang diinisiasi oleh masyarakat global yang berjumlah 426 Relawan dari 40 negara berlayar menggunakan 50 kapal, merupakan aktivis kemanusiaan dari berbagai macam profesi. Salah satunya negara Indonesia, yang di dalamnya ada 9 orang aktivis kemanusiaan yang mewakili lembaga amil zakat dan jurnalis kemanusiaan.
Berdasarkan informasi terbaru, pada 19 Mei 2026 pukul 21.02 WIB, militer Israel telah mencegat dan memaksa 40 kapal kemanusiaan tersebut untuk berhenti di perairan internasional. Kabar tersiar lainnya melalui media internasional yang sampai ke Indonesia, para relawan kemanusiaan ini dipaksa berlutut dengan kondisi tangan terikat di belakang.
Dengan bersenjata, pasukan militer Israel berjaga dari kapalnya memberikan ancaman. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, tetap pada pendiriannya sebagai upaya membela hak Israel mencegat kapal kemanusiaan itu. Bahkan, Netanyahu, memerintahkan agar semua aktivis kemanusiaan segera dideportasi.
Atas landasan hukum dan etika kemanusiaan, Kami dari Lembaga Amil Zakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah (LAZISMU), yang juga sebagai bagian dari lembaga pengelola zakat, menyatakan kerisauan atas krisis kemanusiaan yang terjadi menimpa aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0.
Kami sekaligus mengecam setiap bentuk intervensi yang dilakukan dengan kekerasan yang sewenang-wenang oleh pasukan militer Israel terhadap misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0.
Bantuan kemanusiaan amanah rakyat Indonesia, berupa pangan, logistik, dan penunjang medis serta kesehatan yang diambil-alih dengan paksa merupakan upaya perampasan, dan tidak semata menahan sementara tetapi menghentikan akses atas hak hidup rakyat Palestina. Ini juga merupakan bentuk perendahan martabat kemanusiaan dan solidaritas internasional, termasuk Indonesia.
Ancaman represif tersebut adalah pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional. Tindakan militer Israel, melanggar Pasal 59 Konvensi Jenewa IV (1949) serta Protokol Tambahan I Pasal 70 dan 71, yang mewajibkan perlindungan mutlak bagi personil pekerja kemanusiaan dan kewajiban untuk memfasilitasi akses lintasan bantuan tanpa hambatan.
Pencegatan distribusi bantuan kemanusiaan yang disengaja turut melukai wajah kemanusiaan dan ancaman kelaparan di Gaza, Palestina, serta mencederai prinsip-prinsip dasar kemanusiaan universal yang dijunjung tinggi oleh komitmen internasional yang dibuat pada World Humanitarian Summit 2016, sebagai Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 dan sejumlah inisiatif global lainnya.
Berpijak dari prinsip dasar kemanusiaan dan hukum humaniter internasional tersebut, Kami dari LAZISMU, dalam situasi darurat yang menyertai, dan atas nama solidaritas kemanusiaan, dengan ini menyampaikan pernyataan sikap:
Berikut pernyataan sikap yang LAZISMU sampaikan sebagai wujud solidaritas kemanusiaan universal dan akan terus ikut mengawal dengan tetap menjunjung tinggi perlindungan akses kemanusuiaan global bagi hak kemerdekaan rakyat Palestina.
Kami menyerukan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak pernah lelah mengawal setiap aksi kemanusiaan, sekaligus memanfaatkan ruang-ruang media sosial dengan narasi solidaritas kemanusiaan dan dukungan penuh bagi kemerdekaan rakyat Palestina. LAZISMU juga menyerukan kepada Masyarakat Indonesia untuk tidak letih membantu rakyat Palestina.

