


TANGERANG SELATAN - Melalui Program Santunan 500 Yatim dan Dhuafa, Lazismu Universitas Muhammadiyah Jakarta menghadirkan ruang kebersamaan bagi mereka yang membutuhkan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan Ramadan yang lebih bermakna, tidak hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Suasana Kamis (12/3/2026) di Masjid At Taqwa Universitas Muhammadiyah Jakarta terasa lebih hangat. Di antara lantunan doa dan langkah kaki yang datang silih berganti, ratusan anak yatim dan masyarakat dhuafa berkumpul dengan wajah penuh harap. Ramadan tahun ini kembali menghadirkan cerita hangat tentang kepedulian yang tumbuh dan kebahagiaan yang dibagi bersama.
Turut hadir dalam kegiatan ini Rektor UMJ Ma’mun Murod, Ketua Lazismu UMJ Tajudin, Ketua LPPAIK UMJ Fakhrurazi, serta Ketua DKM Masjid At Taqwa Adi Mansah. Kehadiran para pimpinan ini menegaskan bahwa kepedulian terhadap sesama merupakan nilai yang terus dijaga dalam lingkungan kampus.
Program santunan ini dilatarbelakangi oleh kesadaran bahwa Ramadan adalah momentum untuk memperkuat solidaritas. Di tengah realitas sosial yang masih menyisakan keterbatasan bagi sebagian masyarakat, khususnya anak yatim dan kaum dhuafa, kehadiran bantuan menjadi bentuk nyata perhatian dan keberpihakan.
Sebanyak 500 penerima manfaat dari wilayah sekitar kampus hingga Jabodetabek menerima santunan secara langsung. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan selama Ramadan, sekaligus menghadirkan rasa tenang dalam menjalani hari-hari ibadah.
Tidak hanya penyaluran bantuan, kegiatan ini juga diisi dengan doa bersama dan tausiyah Ramadan. Suasana hangat terasa saat para penerima manfaat, relawan, dan para donatur berkumpul dalam satu majelis, memperkuat ikatan kebersamaan yang menjadi esensi bulan suci.
Rektor UMJ Ma’mun Murod mengatakan bahwa kegiatan santunan ini merupakan tradisi baik yang terus dijaga dari waktu ke waktu.
“Tradisi ini bukan hanya amanah dari pimpinan terdahulu, tetapi juga bagian dari perintah Allah sebagaimana yang terdapat dalam Surah Al-Ma’un. Angka 500 mungkin terasa besar atau kecil, tetapi yang terpenting adalah kebermanfaatannya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Lazismu UMJ Tajudin menegaskan komitmen lembaga dalam menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Melalui program ini, kami ingin memastikan bahwa keberkahan Ramadan dapat dirasakan oleh lebih banyak orang, khususnya anak yatim dan kaum dhuafa yang membutuhkan perhatian bersama,” tuturnya.
Di antara para penerima manfaat, Aji, seorang pegawai taman di lingkungan UMJ, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya.
“Alhamdulillah, bantuan ini sangat berarti bagi kami dan keluarga. Di bulan Ramadan, kebutuhan biasanya meningkat. Semoga kebaikan para donatur dibalas dengan keberkahan,” ungkapnya.
Program Santunan 500 Yatim dan Dhuafa menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Ramadan Lazismu UMJ yang bertujuan memperluas manfaat zakat, infak, dan sedekah. Lebih dari sekadar bantuan materi, kegiatan ini menghadirkan harapan, menguatkan kebersamaan, serta menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan.
Bulan yang penuh berkah ini, setiap kebaikan menemukan jalannya dan dari Masjid At Taqwa, kebahagiaan itu menyebar, menjangkau lebih banyak hati yang membutuhkan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu UMJ]

BANTAENG - Di sudut tenang Masjid Darul Muttaqin Jannayya, senyum anak-anak sore itu menjadi pemandangan yang sulit diabaikan, pada Rabu (12/3/2026), langkah-langkah kecil mereka memenuhi halaman masjid membawa harapan yang sederhana namun hangat di Ramadan. Di tengah lantunan doa dan kebersamaan yang terjalin, sebuah kegiatan yang berawal dari obrolan singkat kini menjelma menjadi momen penuh makna menghadirkan kebahagiaan bagi anak yatim dan masyarakat dhuafa di Desa Lumpangang, Kecamatan Pa’jukukang.
Kehangatan Ramadan terasa begitu dekat. Bukan hanya dari lantunan tausiyah yang menggema, tetapi juga dari kebersamaan yang terjalin antara para penerima manfaat, relawan, dan para penggerak kebaikan.
Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh, di antaranya Nurdin (Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Bantaeng), Hasanuddin Arasy (Sekretaris MUI Kabupaten Bantaeng), Muhammad Taqwin (Ketua Badan Pengurus Lazismu Daerah Kabupaten Bantaeng), serta Suparman Supabaja (Ketua Pengurus Masjid Darul Muttaqin Jannayya).
Namun di balik terselenggaranya kegiatan ini, tersimpan kisah yang tak banyak diketahui. Bukan berawal dari perencanaan panjang, melainkan dari sebuah obrolan singkat yang berbuah nyata.
Ketua Lazismu Bantaeng, Muhammad Taqwin, mengisahkan bagaimana semuanya bermula. Saat itu, ia tengah menghadiri kegiatan serupa di SDS Muhammadiyah Bantaeng. Di sela kegiatan, Suparman mendekatinya dan menyampaikan keinginan sederhana.
“Di tempat itu, Pak Suparman bisik ke saya, ‘Saya juga mau adakan Tabligh Akbar, kalau ada paket school kit yang bisa dibagi, gaskan-mi juga’. Jadi saya bilang, ada paket yang bisa kita bagi, ayo,” ucap Taqwin sembari tersenyum.
Gayung pun bersambut. Dari percakapan singkat itu, lahirlah kegiatan yang hari ini menghadirkan kebahagiaan bagi banyak orang.
Sebanyak 10 anak yatim dan piatu di Kelurahan Lumpangang menerima bantuan paket perlengkapan sekolah (school kit). Meski jumlahnya tidak besar, namun manfaatnya terasa nyata, terutama bagi anak-anak yang sedang menapaki jalan pendidikan mereka.
Ketua Pengurus Masjid Suparman Supabaja menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa bantuan yang disalurkan merupakan bentuk kepedulian bersama yang diinisiasi oleh Lazismu.
“Hari ini kita menyalurkan paket school kit kepada anak-anak kita yang masuk kategori yatim dan piatu. Paket ini diinisiasi oleh teman-teman pengurus Lazismu PDM Bantaeng,” ujarnya.
Bagi anak-anak penerima manfaat, bantuan ini bukan sekadar alat tulis atau perlengkapan sekolah. Lebih dari itu, ia menjadi penyemangat baru untuk terus belajar dan meraih masa depan.
Salah satunya dirasakan oleh Ahmad, seorang anak penerima manfaat. Dengan wajah ceria, ia menyampaikan rasa terima kasihnya.
“Halo kakak-kakak, terima kasih banyak kepada Lazismu yang sudah memberi saya alat tulis. Saya senang sekali karena sekarang saya bisa belajar lebih di sekolah,” ujarnya dengan gembira.
Di sisi lain, Taqwin juga menegaskan bahwa Lazismu Bantaeng tidak menempatkan diri sebagai lembaga yang menimbun dana. Setiap amanah yang diterima, segera disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Ia menyadari bahwa secara finansial, Lazismu mungkin tidak sebesar lembaga negara. Namun, baginya, nilai dari setiap bantuan tidak terletak pada besar kecilnya nominal.
“Recehan-recehan yang kami kumpulkan sepenuhnya kami pergunakan untuk kepentingan umat. Jumlahnya terbatas dan tidak besar seperti bantuan pemerintah pada umumnya. Tapi jangan lihat jumlahnya, lihat nilai ibadah di dalamnya,” tegasnya.
Menurutnya, Ramadan adalah momentum terbaik untuk memperluas manfaat. Tidak harus menunggu berlebih, karena agama mengajarkan untuk tetap berbagi baik dalam kondisi lapang maupun sempit.
Kegiatan ini juga diisi dengan doa bersama dan tausiyah Ramadan, yang semakin mempererat kebersamaan antara para penerima manfaat dan para penggerak kebaikan. Suasana haru dan syukur pun menyatu dalam setiap rangkaian acara.
Dari sebuah percakapan sederhana, lahirlah senyum-senyum kecil yang membawa harapan besar. Di sudut Bantaeng, Ramadan kembali membuktikan bahwa kebaikan selalu menemukan jalannya melalui tangan-tangan yang ringan memberi, dan hati yang tulus berbagi.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Bantaeng]

BOGOR — Senja belum sepenuhnya turun ketika langkah-langkah warga mulai memenuhi halaman Masjid Nurul Ikhwan di Kampung Melati RT 03 RW 01, Desa Barengkok, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Dari anak-anak hingga orang tua, mereka datang dengan satu tujuan yang sama: meramaikan masjid di bulan suci Ramadan.
Di tempat inilah program “Back to Masjid” terlaksana pada Ahad (16/3/2/026). Sebuah inisiatif yang mengajak masyarakat kembali memakmurkan rumah ibadah melalui rangkaian kegiatan keagamaan, kajian, serta kepedulian sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.
Program ini lahir dari semangat warga Kampung Melati yang ingin menjadikan Ramadan sebagai momentum menghidupkan kembali aktivitas masjid. Gagasan tersebut kemudian mendapat dukungan dari Lazismu Pusat bekerja sama dengan Paragon Corp, sehingga kegiatan dapat terselenggara dengan lebih luas manfaatnya bagi masyarakat sekitar.
Ketua DKM Masjid Nurul Ikhwan Uka Iskandar menyampaikan rasa syukurnya atas kolaborasi yang terjalin dalam program Ramadan tahun ini.
“Ucapan terima kasih kepada Lazismu Pusat yang telah bersedia berkolaborasi bersama kami dalam program Ramadan ini,” ujarnya.
Bagi warga Kampung Melati, masjid bukan sekadar tempat menunaikan ibadah. Ia adalah ruang perjumpaan, tempat bertumbuhnya kebersamaan, sekaligus tempat masyarakat saling menguatkan. Karena itu, berbagai kegiatan dihadirkan sepanjang Ramadan agar masjid kembali menjadi pusat kehidupan sosial dan spiritual warga.
Ketua RT 03 Kampung Melati Reza Kurniawan menjelaskan bahwa program tersebut berawal dari inisiatif masyarakat setempat yang ingin menghadirkan suasana Ramadan yang lebih hidup di lingkungan mereka.
“Program ini merupakan program yang diinisiasi oleh warga Kampung Melati yang kemudian mendapatkan support penuh dari Lazismu Pusat, dalam hal ini juga Paragon,” jelasnya.
Sepanjang Ramadan, Masjid Nurul Ikhwan dipenuhi beragam aktivitas keagamaan. Mulai dari salat tarawih berjamaah, buka puasa bersama di masjid, hingga kajian-kajian Islami yang mengajak masyarakat memperdalam pemahaman agama.
Sekretaris Pelaksana Ramadhan 1447 Lazismu, Fathin Rabbani Sukmana, mengatakan bahwa program Back to Masjid menjadi salah satu upaya untuk menghadirkan kembali semangat masyarakat dalam memakmurkan masjid.
“Bulan Ramadan menjadi landasan belajar untuk kembali menjadi insan yang murni bagi semua usia. Puasa bukan hanya menahan haus dan lapar, tetapi juga menjadi momentum memperkuat spiritualitas,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa semangat Back to Masjid diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang menghidupkan masjid, seperti berbagi takjil, kajian keislaman, i’tikaf, serta aktivitas sosial lainnya yang melibatkan masyarakat.
“Setiap proses yang dilakukan Lazismu memiliki niat agar semangat masyarakat tetap terjaga, terutama dalam hal infak dan sedekah,” tambahnya.
Rangkaian kegiatan ini juga diisi dengan kajian keislaman yang disampaikan oleh Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bogor, Didin Mahyudin. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai waktu untuk memperkuat keimanan sekaligus memperbanyak amal kebaikan.
Melalui program Back to Masjid, Masjid Nurul Ikhwan perlahan kembali menjadi ruang yang hidup bagi masyarakat. Bukan hanya tempat bersujud, tetapi juga tempat bertemunya harapan, ilmu, dan kepedulian.
Kesederhanaan Kampung Melati, Ramadan menghadirkan pesan yang sederhana namun kuat: ketika masjid kembali dipenuhi langkah jamaah, kebersamaan pun tumbuh kembali di tengah masyarakat.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

JEMBER - Di tengah aktivitas warga yang mulai bersiap menyambut waktu berbuka puasa, suasana di RT 02 RW 17 Kelurahan Kaliwates, Kabupaten Jember, pada Senin (9/3/2026) tampak lebih ramai dari biasanya. Warga berkumpul di sekitar selokan lingkungan di belakang Kantor Samsat Jember, membawa ember berisi benih ikan nila yang akan ditebar bersama. Program CINTA SiPeka sendiri merupakan inovasi yang digagas oleh Lurah Kaliwates Abdul Khamil dengan melibatkan berbagai pihak. Lazismu Jember berperan dalam penyediaan ayam, pakan, serta renovasi kandang, sementara proses pembinaan masyarakat dilakukan oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PDM Jember.
Di sudut lain, kandang ayam petelur yang baru dipersiapkan berdiri sebagai tanda mulainya sebuah ikhtiar baru. Dari ruang sederhana di lingkungan warga inilah program pemberdayaan masyarakat mulai digerakkan untuk mengubah potensi sekitar menjadi sumber penguatan ekonomi keluarga sekaligus pemenuhan gizi masyarakat.
Launching program yang berlangsung menjelang waktu berbuka puasa tersebut dihadiri oleh Dima Akhyar (Tim Pengarah Percepatan Pembangunan Daerah (TP3D) Pemerintah Kabupaten Jember), Abdul Khamil (Lurah Kaliwates), Arief Nur Hartanto (Manager Program Lazismu Jember), serta perwakilan Majelis Lingkungan Hidup, Majelis Pemberdayaan Masyarakat, LP UMKM PD Muhammadiyah Jember, pengurus Forum RT/RW, kader posyandu, dan masyarakat penerima manfaat.
Kegiatan diawali dengan penebaran benih ikan nila di selokan lingkungan warga. Aksi sederhana tersebut menjadi simbol dimulainya program urban farming yang diharapkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber pangan sekaligus potensi ekonomi keluarga.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan ayam petelur Kuntara kepada warga penerima manfaat. Program ini tidak hanya mendorong usaha rumah tangga berbasis peternakan kecil, tetapi juga menghadirkan dukungan terhadap pemenuhan gizi keluarga melalui distribusi telur.
Sebagian telur dari ayam petelur tersebut bahkan diserahkan kepada kader posyandu sebagai bentuk dukungan terhadap program peningkatan gizi masyarakat dan upaya pencegahan stunting di lingkungan setempat.
Manager Program Lazismu Jember Arief Nur Hartanto menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari pengelolaan zakat produktif yang bertujuan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.
“Zakat produktif yang dikelola Lazismu bertujuan untuk memberdayakan masyarakat. Bantuan yang diberikan bukan sekadar konsumsi, tetapi menjadi modal usaha agar penerima manfaat mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi secara berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Abdul Khamil, program ini lahir dari keinginan untuk menghadirkan solusi sederhana namun berdampak bagi masyarakat perkotaan.
“Melalui program CINTA SiPeka, kami ingin menghadirkan inovasi yang sederhana tetapi berdampak besar. Lingkungan di sekitar warga dapat dimanfaatkan secara produktif untuk meningkatkan ekonomi keluarga sekaligus memenuhi kebutuhan gizi,” katanya.
Dukungan terhadap program ini juga datang dari Pemerintah Kabupaten Jember. Dima Akhyar menilai inovasi tersebut selaras dengan arah pembangunan daerah yang menekankan pada pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Program inovasi dari Kelurahan Kaliwates ini sangat selaras dengan arah pembangunan daerah. Pemberdayaan ekonomi berbasis masyarakat seperti ini menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup warga,” tuturnya.
Bagi warga penerima manfaat, program ini membawa harapan baru. Pak Tole, salah satu warga yang menerima manfaat dari program tersebut, mengaku bersyukur atas dukungan yang diberikan.
“Kami sangat bersyukur dengan adanya program ini. Selain bisa membantu menambah penghasilan, kami juga mendapatkan sumber pangan yang bergizi untuk keluarga,” ucapnya.
Menjelang waktu berbuka, kegiatan launching ditutup dengan buka puasa bersama. Di tengah kebersamaan itu, program CINTA SiPeka bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan langkah awal menuju kemandirian ekonomi sekaligus peningkatan gizi keluarga.
Jika berjalan sesuai harapan, model pemberdayaan ini diharapkan dapat menjadi contoh inovasi sosial yang dapat direplikasi di berbagai wilayah lain di Kabupaten Jember untuk membuka jalan bagi perubahan dari mustahik menuju muzaki melalui kerja bersama dan pemberdayaan yang berkelanjutan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Jember]

JAKARTA – Jum’at sore di kawasan jalan Sudirman masih ramai dilewati pengendara. Sebagian pekerja pulang lebih awal, sebagian yang lain memilih pulang kerja menjelang tiba waktu magrib. Para pekerja yang berjalan kaki mulai menuju Stasiun MRT Dukuh Atas sore itu (13/3/2026).
Tak jauh dari gedung perkantoran, pegiat sepeda gowes berkumpul di sisi jalur pendestrian. Dua sepeda dengan warna mencolok menyita perhatian. Pasalnya, dua unit sepeda itu berwarna kuning dan jingga. Desain dan bentuknya berbeda dari sepeda pada umumnya.
Di antara pedal dan dua kemudinya terdapat kargo (carrier) untuk menaruh barang, kata Sanny T. Wijaya, Koordinator Kemitraan dan Gerakan Sosial dari komunitas Bike to Work Indonesia, yang berkolaborasi dengan Lazismu untuk berbagi takjil. “Aksi sosial dengan berbagi takjil berupa makanan siap saji dilakukan untuk para pengemudi ojek online, penjual kopi keliling, petugas kebersihan serta masyarakat pengguna jalan yang berada di sekitar lokasi,” ujar Sanny yang hobi gowes.
Menurut Sanny, kegiatan berbagi ini merupakan bentuk kepedulian komunitas pesepeda terhadap masyarakat yang tetap bekerja di jalan menjelang waktu berbuka puasa. “Relawan dari Bike to Work Indonesia dan amil Lazismu turun langsung menyapa pekerja,” pungkasnya.
Mereka membagikan takjil agar para pekerja yang masih di jalan dapat berbuka lebih nyaman setelah aktivitas harian. Sanny menyampaikan apresiasi kepada Lazismu atas kolaborasi yang terjalin dalam kegiatan berbagi ini. Ia menilai, kerja sama tersebut menjadi wujud nyata semangat kebersamaan dalam menebar kebaikan di bulan ramadan.
Gowes untuk Aktivitas Ramah Sosial
Bersepeda bagi anggota Bike to Work Indonesia tidak sebatas aktivitas menjaga kesehatan atau gaya hidup ramah lingkungan. Komunitas ini juga membawa pesan untuk menumbuhkan kepedulian sosial kepada sesama.
Penangung Jawab Tebar Takjil Program Ramadan Lazismu, Alfan Rivera, menyambut baik kolaborasi bersama Bike to Work Indonesia. Hari Jum’at itu, sambung Alfan, titik kumpul bersama tepat di Bike To Work Charter Jakarta Pusat, persis di depan hotel All Seasons Hub Dukuh Atas.
“Kegiatan berbagi dimulai pukul 16.00 WIB. Semua persiapan lengkap dengan seratusan paket takjil dengan sepeda kargo (carrier) yang memang biasa digunakan untuk kegiatan-kegiatan sosial yang diadakan oleh pegiatan sepeda gowes ini yaitu B2W,” imbuhnya.
Alfan berharap agar agenda kemanusiaan dan sosial harus terus digaungkan dan dilaksanakan, apalagi berkolaborasi dengan komunitas ramah lingkungan seperti ini dapat memberikan dampak yang lebih luas.
Syukur alhamdulillah, para penerima manfaat tebar takjil menyambut hangat dan antusias. Pengendara ojol dan para pedagang di sekitar lokasi, kata salah seorang pekerja yang turut menikmati takjil ini menyampaikan terima kasih. karena saat jelang waktu berbuka terkadang tidak sempat untuk membeli atau menyediakan takjil.
“Dengan adanya program Tebar takjil dari Lazismu dan Bike to Work memudahkan kami yang masih berada di jalan untuk mencari makanan dan minuman sekadar untuk berbuka puasa,” paparnya.
Sebelum tebar takjil berakhir, komunitas Bike to Work Indonesia, mengajak masyarakat untuk terus menumbuhkan semangat berbagi, khususnya dengan menyisihkan sebagian rezeki melalui Lazismu. Momen di penghujung Ramadan, pada 10 hari terakhir merupakan waktu-waktu yang penuh keberkahan untuk berbagi terhadap sesama.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

MAKASSAR – Kemiskinan adalah keterpurukan yang akan berdampak pada generasi. Meninggalkan generasi yang lemah jurang menuju kemiskinan. Karena itu, kemiskinan dapat menjadi pintu beragam persoalan sosial ekonomi bila tidak ditemukan cara mengatasinya.
Di Kota Makassar, warga yang duafa, hidup dalam kemiskinan menjelma dalam perhatian aktivitas ramadan yang dilaksanakan Lazismu dan Majelis Taqwa Telkomsel (MTT). MTT mempercayai Lazismu Makassar merealisasikan komitmennya memperluas jangkauan terhadap yang lemah dengan kepedulian sosial.
Kepedulisan sosial itu, diwujudkan dengan prosesi penyerahan bantuan dari MTT kepada Lazismu Makassar yang berlangsung di Gedung Loker Telkomsel, Jalan AP. Pettarani, Makassar, pada Kamis, (12/3/2026).
Secara simbolis diserahkan oleh Ketua Majelis Taqwa Telkomsel Pusat, Herdin Hasibuan, kepada Direktur Utama Lazismu Pusat, Ibnu Tsani.
Herdin mengatakan, kerja sama ini bertujuan memastikan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dari karyawan muslim Telkomsel tersalurkan tepat sasaran kepada masyarakat membutuhkan.
“Lazismu di wilayah Makasaar akan mengelolanya melalui program Kado Ramadan untuk meringankan beban ekonomi keluarga duafa yang akan mempersiapkan diri menghadapi hari kebahagiaan Idul Fitri,” ujarnya.
Direktur Utama Lazismu Pusat, Ibnu Tsani, menyampaikan ucapan terima kasihnya atas bantuan dan kolaborasi yang terjalin selama ini. Bantuan dari Majelis Taqwa Telkomsel ini selanjutnya akan disalurkan kepada penerima manfaat.
“Melalui program Kado Ramadan, bantuan dari MTT fokus menyasar masyarakat duafa di berbagai wilayah di Kota Makassar,” paparnya. Program ini menjadi langkah Lazismu memperluas kebermanfaatan zakat, infak, dan sedekah di ramadan yang penuh berkah.
Turut hadir dalam serah terima bantuan tersebut, Ketua PP Muhammadiyah, Irwan Akib, Vice President Consumer Business Sales Pamasuka Muharlis, dan VP Area Network Operation Pamasuka Angky Priagung, serta jajaran terkait pengurus Lazismu Sulawesi Selatan yang menyaksikan seremoni itu.
Dalam sambutannya, Ketua PP Muhammadiyah, Irwan Akib, mengingatkan nilai penting mengoptimalkan zakat, infak, dan sedekah sebagai komitmen sosial untuk menegakan tanggung jawab sosial umat Islam.
“Keutamaan menunaikan ZIS harus dimulai dari tekad yang sungguh-sungguh dalam mencari nafkah yang halal untuk keluarga,” jelasnya. Dari rejeki yang diperolehnya itu, menurut Irwan Akib, lalu sebagain rejekinya diberikan kepada sesama yang membutuhkan. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah, ujarnya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]



Kotak infak di Masjid At-Takwa seperti tak pernah berhenti bergerak mengikuti barisan jamaah dari yang paling depan sampai barisan paling belakang di hari pertama tarawih sampai dengan malam ini. Jamaah masjid selalu siap sedia mengeluarkan sebagian rejekinya untuk bersedekah dan berinfak.
Inilah salah satu amalan utama di bulan suci Ramadhan yaitu bersedekah. Tidak hanya di masjid-masjid, sebagian besar kaum muslimin mengeluarkan sedekahnya untuk mereka yang membutuhkan pertolongan.
Puasa melatih umat Islam untuk peka terhadap lingkungan sosialnya. Peduli terhadap sesama sehingga kesalehannya berdampak terhadap orang lain dengan perilaku luhurnya. Perintah bersedekah dengan harta antara lain, disebutkan dalam Al-Qur’an surat al-Munafiquun, ayat 10, yang artinya berbunyi:
“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)-ku sampai waktu yang dekat, agar aku dapat bersedekah sehingga aku termasuk orang-orang yang saleh”
Dengan bersedekah akan ada nilai manfaat terutama kebaikan di dunia dan di akhirat. Manfaatnya di dunia, sesuai janji Allah SWT akan mengganti rejekinya yang lebih besar, sebagaimana dikatakan dalam firman-Nya:
“Dan apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya. Dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya”. (QS, Saba’: 39). Jika tidak memiliki harta sekalipun, seorang muslim dapat bersedekah dengan tanaga dan pikirannya untuk kebaikan bersama. Bahkan dengan senyum kepada saudara kita, kata Rasulullah termasuk bersedekah.
Keikhlasan bersedekah adalah prinsip ibadah. Karena itu, tidak ada orang jatuh miskin karena bersedekah. Dengan bersedekah, seorang dapat mengobati penyakit kikirnya bahkan menolak bala. Rasulullah SAW bersabda:
“Obatilah orang-orang yang sakit dari kalian dengan sedekah. Sesungguhnya sedekah itu dapat meredam murka Allah, dan menolak kematian yang buruk” (HR. Tirmidzi).
Dalam banyak hadis, Rasulullah SAW juga pernah mengatakan bahwa dengan bersedekah dapat membentengi diri kita terhindar dari musibah. Disebutkan dalam suatu hadis berikut yang berbunyi:
“Sedekah dapat menolak 70 macam bencana, dan yang paling ringan adalah penyakit kusta dan kulit.” (HR Thabrani).
Sedekah adalah satu dari sekian bukti keimanan seorang muslim yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Puasa di bulan Ramadhan merupakan sarana untuk meningkatkan kepekaan sosial kita terhadap sesama dengan berbagi sebagai ahli sedekah.
“Barang siapa yang termasuk ahli sedekah, niscaya Ia dipanggil (masuk surga) dari pintu sedekah” (HR. Shohih Bukhari)
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

Fulan baru saja lulus sekolah dasar. Penampilan fisiknya sudah mengalami perubahan. Kendati wajahnya masih seusia anak-anak pada umumnya, suara Fulan terdengar sudah menebal. Sebagai anak laki-laki yang sedang tumbuh dan berkembang, Ia kadang bercermin melihat wajahnya yang berminyak dan tumbuh jerawat.
Tanda-tanda fisik di atas, merupakan hal yang biasa dialami oleh anak laki-laki, bahkan ciri lainnya ditandai dengan bermimpi. Semantara itu, bagi anak perempuan cirinya ditandai dengan datangnya menstruasi pertama dalam hidupnya. Menurut ajaran Islam, tanda-tanda fisik yang dialami anak laki-laki dan perempuan itu disebut dengan masa akil-baligh.
Menurut Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, seseorang yang sudah dewasa ada beban hukum yang dipikul berdasarkan perintah, larangan dan anjuran (Taklifi). Dalam hukum fikih disebut Mukallaf, yaitu seorang yang sudah dianggap melek hukum, sehingga apa yang dilakukan dan diucapkan sudah memenuhi unsur (nilai dasar dan ketentuan praktis) secara hukum.
Lalu, apa relevansinya Mukallaf dengan kewajiban berpuasa? Jawabannya, karena ada nilai-nilai dasar dan ketentuan hukum praktis serta hukum sebab akibat (Wad’i) bagi orang yang sudah dewasa maka puasa di bulan Ramadhan hukumnya wajib. Dari segi dalil jelas puasa Ramadhan diwajibkan kecuali bagi yang berhalangan secara syar’i seperti lansia, haid, dan nifas serta orang yang sakit keras.
Termasuk didalamnya seseorang yang belum Mukallaf tidaklah terbebani oleh hukum wajib berpuasa yang bersifat taklîfî. Tetapi kewajiban berpuasa itu, misalnya bagi anak-anak menjadi informasi edukatif yang memuat amalan – amalan yang dianjurkan sampai dengan kwajiban zakat fitrah yang harus ditunaikan.
Hukum Taklifi sendiri bersumber dari Allah SWT yang menandaskan perintahnya langsung melalui Firman-Nya yang dikuatkan oleh Sunnah Rasullulah. Beban itu diberikan kepada hambanya dalam bentuk (amal) perbuatan. Beban ini merupakan ujian dari Allah kepada mereka agar jelas siapa di antara hamba-Nya yang taat dan melanggar ketentuannya secara hukum.
Secara prinsip, para ahli ushul fiqh berpandangan bahwa dasar timbulnya pembebanan hukum dalam Islam adalah akal dan pemahaman. Artinya, seseorang baru bisa dibebani hukum jika berakal dan bisa memahami secara baik dan jelas beban yang ditujukan kepadanya. Jadi sederhananya, kewajiban berpuasa sebagai perintah merupakan ibadah wajib yang ditujukan untuk orang Islam yang berakal (dewasa).
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

Dalam Islam, setiap ibadah yang dikerjakan memiliki tuntunan dan prinsip-prinsip yang harus dipegang oleh kaum muslim dan muslimat. Menurut Tajih Muhammadiyah, Ibadah merupakan upaya setiap muslim mendekatkan diri kepada Allah dengan cara mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dan mengamalkan segala yang diizinkan Allah SWT.
Puasa sebagai ibadah khusus (ibadah mahdhah) memiliki karakteristik yang unik, Dari segi waktu secara syariat ditentukan pada bulan yang spesial, yaitu bulan Ramadhan. Umat Islam di seluruh dunia mengamalkannya untuk meraih takwa. Melalui perintah-Nya, semua taat, tunduk dan penuh pengabdian.
Sesempurnanya manusia dihadapan Allah SWT, manusia adalah makhluk yang hina, dengan berpuasa itu tujuannya untuk mengekang hawa nafsunya yang kadang hina dan kosong. Puasa mampu mengendalikan hawa nafsu manusia. Rukun dan syarat berpuasa juga diatur oleh Islam sebagai ibadah wajib.
Hikmah Berpuasa
Puasa yang dilakukan umat Islam setiap tahunnya, memiliki hikmah hasanah terhadap setiap individu. Pada aspek jasmani puasa memberikan dampak kesehatan bagi tubuh manusia. Semantara itu, dalam aspek ruhani (spiritual) puasa berperan mendidik dan melatih pribadi muslim untuk menjadi beradab, tertib, dan mampu mengontrol kondisi psikologisnya secara emosional.
Pada aspek sosial, puasa juga melatih kepeduliaan dan kepekaan sosial terhadap sesama. Empati terhadap mereka yang papa (dhuafa) dengan Ikhlas berbagi, bersedekah dan saling menghormati bahkan terhadap saudara yang bukan muslim. Tiba waktunya, setiap muslim diwajibkan menunaikan zakat fitrah dan zakat harta bagi yang sudah memenuhi syarat.
Hikmah berpuasa lainnya menjadikan individu sebagai pribadi yang berkarakter kuat. Berpuasa memantapkan pribadi muslim untuk meningkatkan kredibilitasnya. Pribadi yang tangguh, etis, dan berkarakter (ethos).
Berpuasa selama satu hari dari terbit fajar sampai matahari terbenam menghadirkan pribadi muslim yang mampu mewarnai kecerdasan emosionalnya. Tidak mudah tersinggung dan terpancing emosionalnya. Kontrol emosinya (pathos) berjalan seimbang namun tetap bermartabat.
Di samping itu, dengan berpuasa seorang muslim bisa memperkaya pengetahuannya tentang fenomena sosial, ekonomi, budaya, dan lainnya. Kendati ada keterbatasan dalam dirinya, jiwa-jiwa yang terpelihara itu bangkit menggerakan motivasi spiritualnya untuk menggali hikmah puasa dengan pengatahuan (logos) yang dimilikinya agar tabir ibadah dapat diraih sebagai pengetahuan dan diparaktikan dengan tulus.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

