


NUSA TENGGARA TIMUR – Perkembangan masa tanggap darurat pascagempa di Nusa Tenggara Timur masih terus berlangsung. Berdasarkan laporan BNPB, tertanggal 20 Agustus 2026, jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 72 orang.
Masih dalam laporannya, untuk data korban luka-luka sebanyak 900 orang dan sejumlah 82.691 orang mengungsi serta ada 18.019 kepala keluar terdampak. Tidak hanya itu, kerugian materilnya ada 29.001 rumah rusak termasuk fasilitas ibadah dan fasilitas umum.
Dalam masa tanggap darurat selama 14 hari ke depan, sejak ditetapkan Bupati Manggarai Barat, sejak tanggal 15 Agustus hingga 28 Agustus 2026, Muhammadiyah telah bergerak mengirimkan relawannya untuk menangani warga terdampak untuk melayani kondisi kesehatannya.
Peran Penting Pendirian Pos Koordinasi
Respons bencana terus dilakukan untuk memberikan pertolongan kepada warga terdampak. Faktor risiko dan keterbatasan akses serta sumber daya manusia menjadi pertimbangan Muhammadiyah untuk mendirikan Pos Koordinasi.
Wakil Ketua LRB PP Muhammadiyah, Indrayanto mengatakan bahwa pendirian Pos Koordinasi merupakan bagian tata kelola dalam merespons bencana. Oleh karena itu, menurutnya Pos Koordinasi penanganan darurat bagian dari melaksanakan peraturan kepala BNPB Nomor 03 tahun 2016, tentang Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana.
“Di posko inilah komunikasi kedaruratan dilakukan dan sebagai kunci setiap aktivitas penanganan bencana di lapangan ada dalam satu koordinasi yang efektif”, pungkasnya. Semua informasi dan data yang masuk menjadi informasi berharga untuk bisa disampaikan dalam mengambil keputusan.
Daftar Poskorda dan Pos Pelayanan Muhammadiyah
Setiap kegiatan yang dilakukan dari Pos Koordinasi untuk memainkan peran pentingnya dalam merencanakan dan mengevaluasinya penanganan pascabencaa setiap hari. Dalam prosesnya ada pelaporan, evaluasi dan rencana tindak lanjut.
Muhammadiyah sendiri dalam masa tanggap darurat telah mendirikan Pos Koordinasi Wilayah yang berlokasi di Klinik Muhammadiyah Ende, Jalan Mahoni, Kelurahan Kota Ratu, Kecamatan Ende Utara, kabupaten Ende.
Adapun dalam pos koordinasi ini, Muhammadiyah mendirikan Pos Koordinasi Daerah dan Pos Pelayanan untuk memastikan daerah-daerah yang terdampak memperoleh penanganan bantuan dengan segera.
Berikut Alamat Pos Koordinasi Daerah dan Pos Pelayanan di Bawah Komando LRB Muhammadiyah:

MANGGARAI TIMUR -- Tulisan pengakuan keterbatasan personil di media sosial yang ditulis dokter Melinda Bella dari Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM), Dampek, Manggarai Timur, mengundang perhatian banyak orang.
Pasalnya, kata dokter Melinda, kondisinya saat ini tidak aman. Saya hanya dokter satu-satunya di sini dengan ratusan korban. “Saya benar – benar tidak mampu, wilayah kerja saya cukup luas dan kurang lebih 17 ribu penduduk”, katanya.
Dokter Melinda dalam unggahannya, melanjutkan bahwa, kondisinya terisolasi. Akses jalan sulit karena banyak yang terputus dan longsor. Rumah-rumah banyak yang runtuh. Banyak korban yang luka berat sampai meninggal dunia. Sampai sekarang masih butuh bantuan tenaga kesehatan dari dinas kesehatan.
Dia mengakatakan alat dan obat-oabtan terbatas. Listrik dan sinyal hilang. Gempa susulan masih terus terjadi sampai sekarang. Saya mohon ada bantuan tenaga dokter atau nakes lainnya. Fisik saya sudah tidak mampu melayani pasien sebanyak ini sendirian. Saya tidak istirahat dari kemarin sampai sekarang.
Informasi itu sampai ke Tim Kesehatan Muhammadiyah setelah beredar di media sosial. Dokter Ibrahim Sengaji yang bertugas di Klinik Utama Muhammadiyah Ende, lantas mengirimkan satu dokter dan dua perawat untuk mendukung pelayanan kesehatan di Puskesmas Dampek.
Seorang tenaga medis yang diterjunkan, dokter Baim, mengatakan tim kesehatan Muhammadiyah telah bergerak sejak hari pertama pascagempa di NTT. Bersama Klinik Muhammadiyah Ende, MDMC Ende, dan Klinik Muhammadiyah Maumere, tim relawan berangkat menuju Mbay pada Sabtu sekitar pukul 10.30 WITA.
Setibanya di Mbay, seperti dilansir dalam laman muhammadiyah.or.id pada Rabu, (19/8/2026), tim langsung bergerak menyisir lokasi yang berada di wilayah perbukitan setelah mendapatkan informasi mengenai potensi tsunami.
Pada hari kedua, dokter Baik dan Tim melanjutkan ke Riung, Kabupaten Ngada, lalu membuat pos pelayanan Muhammadiyah di Mbay dan berkoordinasi dengan Pimpinan Daerah Muhamamdiyah dan Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Ngada untuk membuat pos pelayanan di sana.
Di saat perjalanan menuju Manggarai Timur, kondisi sejumlah wilayah alami kerusakan cukup parah akibat gempa. Menimbang risiko dan keterbatasan akses, tim membawa logistik serta obat-obatan untuk mendukung pelayanan kesehatan untuk warga terdampak.
Tim memberikan pertolongan kepada warga, termasuk membersihkan luka dan melakukan tindakan medis seperti penjahitan luka. Saat berada di wilayah Pota malam hari, tim memperoleh informasi mengenai kondisi dokter Melinda yang seorang diri kewalahan menangani banyak pasien di Puskesmas Dampek.
Informasi tersebut juga tersiar di grup IDI bawah keterbatasan dokter Melinda menangani pasien yang banyak memberikan sinyal kepada dokter Baim untuk merapat mengirimkan tenaga medis bantuan ke Dampek.
Sampai berita viral ini ramai dibicarakan, Tim Kesehatan Muhammadiyah masih berkomitmen memberikan layanan kesehatan di Puskesmas Dampek. Tidak hanya memberikan layanan kesehatan, tim turut membantu proses evakuasi pasien yang segera mendapat penanganan lebih lanjut.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/muhammadiyah.or.id]

NUSA TENGGARA TIMUR -- Memasuki hari kelima pascagempa tektonik berkekuatan 7.7 magnitudo di Nusa Tenggara Timur, berdasarkan pendataan Badan Nasional penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 70 orang.
Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan (18/8/2026), dalam konferensi pers, menuturkan bahwa korban meninggal dunia terbanyak di kabupaten Manggarai, sebanyak 27 jiwa.
Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, korban luka luka sebanyak 1.182 orang. Korban terbanyak ada di kabupaten Manggarai Timur, dengan rincian 442 luka berat dan 513 luka ringan. “Dua kabupaten terdampak dengan jumlah korban jiwa dan pengungsi tertinggi berada di kabupaten Manggarai dan kabupetan Manggarai Timur,” ungkapnya.
Dalam merespons situasi tanggap darurat tersebut, Direktur Operasi Basarnas, Laksma TNI Yudhi Bramantyo, masih melakukan penyisiran terhadap warga yang terdampak. Basarnas sampai dengan hari keempat mendukung layanan kesehatan bersama Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan serta mengevakuasi warga di lapangan.
Muhammadiyah Tambah Armada dan Personil
Di hari kelima, dalam laporan situasi terkini (19/8/2026), relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), masih terus melakukan koordinasi untuk memberikan layanan kepada warga terdampak. Indrayanto Wakil ketua LRB PP Muhammadiyah melalui MDMC mengatakan bahwa Muhammadiyah telah mengaktifkan Pos Koordinasi sebanyak 7 Pos Koordinasi Daerah dan mengaktifkan 10 Pos Layanan.
“Koordinasi dilakukan dengan pihak Muhammadiyah setempat dan tim pendukung serta berkoordinasi dengan BPBD dan pemerintah setempat”, ujarnya. Indrayanto menambahkan, pelayanan kesehatan telah dilakukan oleh Klinik Utama Muhammadiyah Ende, Klinik Muhammadiyah Maumere, dan PKU Muhammadiyah Bima.
Adapun penerima manfaat dari layanan darurat yang diberikan total penerima manfaatnya sebanyak 220 jiwa. Relawan One Muhammadiyah One Response (OMOR) juga telah mendistribusikan makanan siap saji dan bantuan logistik di Manggarai Timur, Nagekeo, dan Ende. Sebagai informasi tambahan, dengan dukungan Lazismu, kata Indra, Muhammadiyah telah memberangkatkan armada tambahan dan personil tambahan dari Jawa Timur.
Lazismu dalam mendukung respons bencana ini melalui program Indonesia Siaga, terus melakukan penggalangan dana dari masyarakat agar kebutuhan mendesak yang dibutuhkan warga terdampak seperti perlengkapan bayi (baby kit), alas tidur dan selimut, perlengkapan kebersihan (hygiene kit), sembako, tim relawan, air bersih, hunian, dan tim medis dapat segera disalurkan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

NUSA TENGGARA TIMUR -- Status keadaan darurat bencana pascagempa NTT telah ditetapkan oleh Bupati Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur, melalui surat keputusannya, nomor 229/KEP/HK/2026. Penetapan status darurat bencana selama 14 hari terhitung tanggal 15 Agustus hingga 28 Agustus 2026.
Berdasarkan laporan situasi terkini BNPB, pada 18 Agustus 2026, sebanyak 665 orang lebih dinyatakan luka-luka dan 70 orang meninggal dunia. Ada tujuh kabupaten yang terdampak yaitu kabupaten Nagakeo, Manggarai Barat dan Manggarai Timur, Manggarai, Ende, Sikka dan Ngada.
Setelah gempa itu, ada 31.220 orang mengungsi dan 16.441 kepala keluarga terdampak. Sementara itu, akibat gempa kerugian materilnya mengakibatkan 12.153 unit rumah alami kerusakan. BNPB merinci ada sekitar 6.578 unit rumah rusak berat, 1.660 unit rumah rusak sedang dan 3.915 rusak ringan.
Kerugian materil lainnya juga berdampak pada fasilitas umum yang terdiri dari 264 fasilitas pendidikan, 83 fasilitas kesehatan, 157 rumah ibadah, 1 pasar, 116 fasilitas umum, 1 unit Gudang Bulog, 171 perkantoran, 7 fasilitas irigasi, 5 jembatan, dan 34 titik ruas jalan alami kerusakan.
Dalam laporan tersebut, BNPB masih melakukan koordinasi dengan berbagai pihak melakukan pencarian dan pertolongan warga terdampak yang belum ditemukan. Adapun kebutuhan mendesak meliputi tenda pengungsi, obat-oabatan, air bersih, makanan siap saji, beras, generator listrik dan penerangan, selimut dan perlengkapan tidur, family kit serta tenda posko.
Menggerakan Pos Koordinasi
Diperkirakan masih terdapat warga terdampak yang membutuhkan pertolongan. Muhammadiyah melalui MDMC dan Lazismu telah mendirikan Pos Koordinasi untuk mempersiapkan tim respons dan bantuan ke lokasi bencana.
Menurut Budi Setiawan Ketua LRB PP Muhammadiyah, akses dan transportasi di NTT memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan dengan pulau Jawa, diharapkan tim dapat segera bergerak dan memberikan respons di lokasi terdampak. Pos Koordinasi Wilayah telah berdiri di Klinik Muhammadiyah Ende, di Jalan Mahoni , Kelurahan Kota Ratu, Kecamatan Ende Utara kabupaten Ende.
Masa tanggap darurat telah diputuskan Bupati Manggarai Barat selama 14 hari. Relawan Muhammadiyah direncanakan akan berada di Lokasi bencana selama 30 hari. Indrayanto dari MDMC mengatakan tata kelola dan rencana penanganan darurat gempa NTT difokuskan pada beberapa sektor utama, yaitu Layanan kesehatan, Pemenuhan kebutuhan logistik, Hunian darurat, Pemenuhan kebutuhan air bersih, Layanan psikososial dan Pendidikan darurat.
Untuk Pos Koordinasi di daerah telah dirikan sebanyak 7 titik di lokasi daerah-daerah yang terdampak yang dilengkapi dengan 10 unit Pos Layanan untuk merespons bencana selama masa tanggap darurat.
Dalam kesempatan itu, berdasarkan hasil koordinasi Lazismu dan MDMC, menurut Direktur Utama Lazismu Pusat, Barry Adhitya, dari sisi logistik, Lazismu telah menyiapkan sekitar 400–500 family kit yang perlu segera dimobilisasi ke wilayah terdampak.
Selain itu, tim juga dipersiapkan untuk dapat diberangkatkan dalam waktu dekat. ”Melihat pengalaman penanganan bencana di Sumatera dan Aceh yang berjalan dengan koordinasi yang baik, diharapkan respons bencana NTT dapat dikoordinasikan secara terpadu dan satu pintu secara nasional melalui MDMC”, ungkap Barry.
Karena itu, perlu disiapkan basis data terintegrasi, khususnya untuk dokumentasi dan pembaruan informasi lapangan, sehingga dapat mendukung pengambilan keputusan secara cepat dan tepat sesuai kebutuhan di lokasi terdampak.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

FLORES – Penanganan bencana di Flores, Nusa Tenggara Timur masih terus berlangsung. Respons dilakukan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak terpenuhi. Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) bersama Lazismu memperkuat layanan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak gempa bumi melalui program Indonesia Siaga.
Memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana tetap dilakukan melalui layanan kesehatan, permakanan, paket keluarga, dukungan psikososial, pendidikan darurat, air bersih dan sanitasi, hingga hunian darurat, demikian disampaikan Aulia Taarufi, Wakil Sekretaris MDMC PP Muhammadiyah, Senin, (17/8/2026).
Di masa tanggap darurat, respons ini dikelola melalui pembukaan Pos Koordinasi (Poskor) di 6 kabupaten serta rencana pendirian pos pelayanan di sembilan titik layanan Muhammadiyah. Fase tanggap darurat direncanakan berlangsung selama 30 hari dengan melibatkan berbagai unsur relawan dan sumber daya Muhammadiyah di daerah maupun dari luar wilayah.
Untuk mendukung layanan kesehatan, MDMC menyiapkan 8 tim Emergency Medical Team (EMT). Dukungan relawan dari Jawa Timur, Kupang, dan Bima turut digerakan untuk memperkuat respons di lapangan. Tim KKN dari UMY, UAD, dan Universitas Muhammadiyah Kupang juga terlibat dalam pelayanan bersama masyarakat dan pemerintah setempat.
Ketua Pos Koordinasi MDMC, Indrayanto, mengatakan bahwa penguatan koordinasi menjadi bagian penting dalam memastikan respons dapat menjangkau masyarakat terdampak sesuai kebutuhan.
“Manajemen penanganan darurat ini kami lakukan dengan memperkuat koordinasi di wilayah terdampak dan membuka pos pelayanan di sejumlah titik layanan Muhammadiyah. Relawan dari berbagai daerah bersama masyarakat dan pemerintah setempat bahu-membahu memastikan layanan dasar dapat diberikan kepada warga terdampak,” ujar Indrayanto.
Salah satu wilayah yang saat ini menjadi fokus pelayanan adalah Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur. Hingga hari Minggu, (16/8/2026) pukul 15.00 WITA, tim gabungan terus melakukan pendataan dan verifikasi kondisi warga di empat wilayah sepanjang pantai, yakni Desa Naga Rama, Nanga Baling, Nanga Baur, dan Kelurahan Pota.
Pendataan difokuskan pada wilayah tersebut karena terdapat banyak penyintas serta kerusakan bangunan dan infrastruktur yang cukup parah. Tim yang terdiri dari mahasiswa KKN Pena UMY, KKN Universitas Muhammadiyah Kupang, bersama Puskesmas, Koramil, Polsek, dan Camat Sambi Rampas melakukan pendataan kondisi warga terdampak sebagai dasar penentuan kebutuhan layanan.
Data tersebut mencakup kondisi korban, kerusakan permukiman, fasilitas umum, serta kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak. Untuk mendukung penanganan di lapangan, Posko Induk didirikan di halaman SMK Muhammadiyah Manggarai Timur. Posko itu menjadi pusat layanan masyarakat yang mencakup pengobatan, dapur umum, serta layanan informasi dan pendataan warga terdampak.
Sementara itu, Posko Sekretariat yang berpusat di Kantor SMK Muhammadiyah Manggarai Timur terus mengintegrasikan data dari lapangan. Proses pendataan dilakukan secara berjenjang bersama pemerintah desa dan selanjutnya diverifikasi oleh tim di lapangan agar bantuan yang diberikan dapat sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan pendataan sementara, kebutuhan prioritas masyarakat meliputi air bersih, makanan siap saji, perlengkapan bayi dan balita, tenda keluarga, terpal, selimut, matras, obat-obatan dasar, perlengkapan sanitasi, serta layanan kesehatan keliling.
Melalui respons bersama MDMC dan Lazismu berupaya memastikan masyarakat terdampak memperoleh haknya untuk mendapatkan bantuan dan layanan dasar selama masa tanggap darurat. Momentum menyongsong 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia menjadi pengingat untuk terus menghadirkan kepedulian sosial dan gotong royong bagi masyarakat yang tengah menghadapi bencana.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/MDMC]

JAKARTA -- Gempa bumi mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan magnitudo 7,7 pada Sabtu, (18/8/2026). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam laman resminya bahwa berdasarkan pemutakhiran informasi, pusat gempa berada di laut pada kedalaman 15 kilometer, sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.
Akibat gempa bumi itu, BMKG memberikan informasi peringatan dini tsunami dan masih terus memantau perkembangannya, kendati peringatan dini tsunami akhirnya dihentikan pada pukul 07.31 untuk seluruh wilayah Indonesia per WIB. Kekuatan gempa juga dirasakan di sejumlah wilayah NTT hingga Sulawesi Selatan.
Melalui Pusdalops dan seluruh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), BNPB akan terus berkoordinasi dengan unsur terkait memastikan kondisi masyarakat dan dampak yang ditimbulkan.
BNPB dalam pemutakhiran informasi situasi gempa bumi yang diterima Lazismu, menginformasikan pascagempa terjadi dampaknya melanda kabupaten Sikka, Nagekeo dan Kota Bima.
Sejauh ini korban jiwa masih dalam proses pendataan, dan ditemukan 2 orang meninggal dunia, 4 jiwa luka-luka, 5 kepala keluarga terdampak, dan 2000 jiwa melakukan evakuasi mandiri. Akibat gempa itu, BNPB merinci ada 2 unit rumah alami rusak berat, 1 unit rumah rusak sedang, 2 unit rumah rusak ringan, 1 unit Gudang Bulog terdampak, 3 unit fasilitas ibadah rusak ringan dan 6 unit kantor pemerintah setempat terdampak.
Respons Bencana
Pascagempa bermagnitudo 7,7 di NTT, Lazismu melalui program Indonesia Siaga berkoordinasi dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), menyikapi kejadian gempa bumi tersebut akan terus memantau situasi terkini.
Melalui aksi koordinasi aktif dengan pihak Pimpinan Muhammadiyah lokasi terdampak, pihak terkait (BPBD, BNPB, dan jejaring kebencanaan Nasional serta para pihak lainnya) dalam rangka identifikasi kebutuhan mendesak penyintas, sambil terus memantau perkembangan gempa yang terjadi di lapangan dan melalui BMKG.
Program Indonesia Siaga yang digerakkan MDMC-LAZISMU telah mulai dilaksanakan Muhammadiyah melalui serangkaian Tindakan antara lain:
1. Muhammadiyah melalui MDMC Pusat telah mengirimkan tim asistensi terdiri dari 2 (dua) orang menuju NTT.
2. Muhammadiyah melalui MDMC Pusat dan Wilayah telah mengaktifkan Pos Koordinasi Wilayah (Poskorwil) sementara di Ende, Nusa Tenggara Timur, berlokasi di Klinik PKU Muhammadiyah Ende, meliputi enam wilayah kerja: Kabupaten Manggarai Timur, Kabupaten Ende, Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Sikka, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Nagekeo.
3. Mempersiapkan Pos Pelayanan pertama di SMK Muhammadiyah Manggarai Timur.
4. Mempersiapkan logistik darurat melalui tim MDMC-LAZISMU Jawa Timur.
5. Pelayanan kesehatan terbatas mulai dilaksanakan oleh Tim Medis dari Klinik PKU Muhammadiyah Ende.
6. Persiapan Tim Medis dari PKU Muhammadiyah Bima dan Muhammadiyah Jawa Timur.
Berdasarkan informasi dari MDMC, rencana respons darurat yang dilakukan adalah Koordinasi pusat wilayah dan daerah terdampak, Pendirian Poskorwil di Ende, Pendirian poskorda di kabupaten terdampak, Pendirian pos pelayanan dan Mobilisasi sumberdaya.
Saat ini, tim relawan yang sudah bergerak dari MDMC Ende dan Klinik Muhammadiyah Ende. Dalam kesempatan yang sama, Lazismu akan terus mendukung koordinasi aktif ini dengan melakukan penggalangan dana kemanusiaan untuk gempa bumi di Nusa Tenggara Timur.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]



Bayangkan, anda tertidur lelap. Tidur malam cukup selama 7- 8 jam yang bermanfaat untuk kesehatan. Jaringan sel tubuh mengalami perbaikan dalam sistem tubuh yang bekerja untuk menguatkan kekebalan, menjaga kesehatan jantung dan mengoptimalkan fungsi kerja otak serta daya ingat. Selain itu, tidur malam yang cukup dapat menjaga emosi tetap stabil.
Tiba-tiba dalam nyenyak yang nikmat, kasur bergerak dan atap rumah berguncang hebat hingga merubuhkan bangunan. Tetangga dan kerabat dekat anda merasakan hal yang sama sehingga terkejut berlari keluar rumah untuk menyelematkan diri. Gempa bumi sedang menyapa kita dengan ujian musibah yang tidak mengenal waktu dan tempat.
Demikian hal yang dialami saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa bumi tektonik berkekuatan 7,7 magnitudo pada Sabtu, (15/8/2026) pukul 04.58 waktu setempat. Tujuh kabupaten di NTT merasakan dampaknya. Bahkan BNPB dalam datanya melaporkan bahwa ada dua kabupaten yang mengalami kerusakan dan dampak yang luar biasa yaitu kabupaten Manggarai dan kabupaten Manggarai Timur.
Data terkini dari BNPB, tertanggal 20 Agustus 2026, jumlah korban meninggal dunia menjadi 72 orang. Korban luka-luka sebanyak 900 orang, dan 82.691 orang mengungsi serta 18.019 kepala keluar terdampak. Tidak hanya itu, kerugian materilnya ada 29.001 rumah rusak termasuk fasilitas ibadah dan fasilitas umum.
Makna Bencana sebagai Buah Empati
Adalah penting untuk memandang bencana dari perspektif islam dan kemanusiaan. Dalam sudut pandang Fikih Bencana yang diterbitkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah (2015), kata bencana memiliki padanan istilah dalam Al-Qur’an yaitu musibah, bala’, fitnah, ‘azab, fasad, halak, tadmir, tamziq, ‘iqab, dan nazilah.
Istilah – istilah tersebut mengandung makna yang berbeda-beda dalam teks dan konteksnya. Istilah Bala’ diartikan sebagai “cobaan untuk memperteguh keimanan”. Adapun istilah fitnah lebih dekat pada makna bencana sosial yang diakibatkan oleh ketegangan sosial antar manusia.
Sedangkan istilah Azab diartikan sebagai “ragam peristiwa yang menimpa manusia karena perbuatannya yang abai terhadap ketetapan dan hukum Allah”. Sementara istilah Fasad merupakan bencana yang diakibatkan oleh manusia yang bertentangan dengan ketetapan Allah.
Dalam makna lain tentang bencana, Halak bersandar pada suatu kehancuran dan kebinasaan yang menjadi hukum ketetapan Allah. Makna bencana lainnya melalui istilah Tadmir diartikan sebagai sifat dari suatu peristiwa yang berdampak merusak dan disebabkan oleh manusia juga oleh alam.
Selain itu, istilah Tamziq merupakan peristiwa buruk yang murni disebabkan oleh ulah manusia. Sedangkan istilah Iqab merupakan kejadian berupa hukuman disebabkan oleh sikap pengingkaran manusia terhadap Allah dan Rasul serta istilah Nazilah yang berarti bencana sebagai hukuman dari Allah untuk manusia.
Berdasarkan istilah dan makna bencana di atas, secara teknis dan konseptual kita sering menggunakannya secara bergantian. Oleh karena itu, makna dasar ini menjadi relevan sebagai bekal pengetahuan tentang bencana dari perspektif fikih islam karena berkaitan dengan wawasan kemanusiaan dan kepekaan sosial (empati).
Berkhidmat kepada Kemanusiaan
Setiap bencana mengandung hikmah dan pelajaran bagi setiap manusia, baik sebagai manusia yang terdampak atau tidak. Oleh karena itu, bencana harus disikapi dengan arif bijakasana agar kita mampu berkhidmat untuk merespons bencana tersebut. Sebagai pelajaran yang sudah terjadi maka manusia harus merencanakan mitigasinya, dan bagaimana merespons kedaruratannya hingga masa pemulihannya.
Hamim Ilyas dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengatakan bahwa berkhidmat terhadap bencana berarti menyelami makna terdalam. Hamim mendasarkan argumennya pada Surat Al-Maun tentang Yatim dan Miskin serta orang yang mendustai agama. Mengapa demikian, karena manusia yang tertimpa bencana mengalami kerugian bahkan kehilangan harta bendanya yang berharga. Bisa jadi bagi seorang anak, karena bencana orang tuanya berpulang dan Ia menjadi yatim duafa atau penyandang masalah kesejahteraan.
Oleh karena itu, menurut Hamim Ilyas, berkhidmat kepada yatim dan miskin dilakukan dengan empat prinsip: 1. Memuliakan, 2. Keberpihakan, 3. Memperlakukan dengan adil, dan 4. Memberikan kebaikan nyata. Al-Qur’an telah menunjukkan bukti dari pengkhidmatan itu melalui upaya memberikan perlindungan dan santunan, memperhatikan masa depan, berlaku adil dan tidak bersikap kasar serta mengelola harta yang dimiliki yatim dengan cara terbaik.
Dengan upaya pengkhidmatan itu, akan ada usaha-usaha yang dapat dilakukan, misal setelah masa tanggap darurat bencana akan masuk pada fase pemulihan, sebagai ikhtiar menolong sesama bisa dilakukan dengan pemberdayaan masyarakat dengan 4 orientasi yang terus bisa dikembangkan sesuai kebutuhan, yaitu: 1. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi kesejahteraan, 2. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi kemandirian dan kelestarian, 3. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi advokasi dan perubahan sosial.
Hal itu diperkuat oleh pemaknaan terhadap bencana yang diungkapkan oleh Pakar Manajemen Bencana dari PP Muhammadiyah, Rahmawati Husein bahwa bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Menurut Rahmawati Husein dalam memahami bencana dan pengelolaannya yang menjadi poin penting adalah dari tanggap darurat ke pengurangan resiko bencana. Ia menilai sejauh ini masih ada sebagian masyarakat yang melihat bencana alam sebagai sesuatu yang datang di luar kemampuan manusia. Maka kecenderungannya menunggu kejadian tersebut dialami atau menimpa diri mereka tanpa ada pembelajaran untuk mitigasi dan penanggulangan risiko bencananya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

MENGECAM PENYANDERAAN 9 AKTIVIS KEMANUSIAAN INDONESIA DAN BANTUAN KEMANUSIAAN GLOBAL SUMUD FLOTILLA OLEH AKSI MILITER ISRAEL
Jakarta, 20 Mei 2026
Aksi militer Israel yang melancarkan penyergapan terhadap relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0, menuju Gaza, Palestina, merupakan bentuk teror dan melanggar hukum internasional. Tindakan intersepsi itu terjadi pada Senin, 18 Mei 2026, di perairan internasional Siprus, tepatnya di kawasan Laut Mediterania Timur.
Misi kemanusiaan untuk Palestina yang diinisiasi oleh masyarakat global yang berjumlah 426 Relawan dari 40 negara berlayar menggunakan 50 kapal, merupakan aktivis kemanusiaan dari berbagai macam profesi. Salah satunya negara Indonesia, yang di dalamnya ada 9 orang aktivis kemanusiaan yang mewakili lembaga amil zakat dan jurnalis kemanusiaan.
Berdasarkan informasi terbaru, pada 19 Mei 2026 pukul 21.02 WIB, militer Israel telah mencegat dan memaksa 40 kapal kemanusiaan tersebut untuk berhenti di perairan internasional. Kabar tersiar lainnya melalui media internasional yang sampai ke Indonesia, para relawan kemanusiaan ini dipaksa berlutut dengan kondisi tangan terikat di belakang.
Dengan bersenjata, pasukan militer Israel berjaga dari kapalnya memberikan ancaman. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, tetap pada pendiriannya sebagai upaya membela hak Israel mencegat kapal kemanusiaan itu. Bahkan, Netanyahu, memerintahkan agar semua aktivis kemanusiaan segera dideportasi.
Atas landasan hukum dan etika kemanusiaan, Kami dari Lembaga Amil Zakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah (LAZISMU), yang juga sebagai bagian dari lembaga pengelola zakat, menyatakan kerisauan atas krisis kemanusiaan yang terjadi menimpa aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0.
Kami sekaligus mengecam setiap bentuk intervensi yang dilakukan dengan kekerasan yang sewenang-wenang oleh pasukan militer Israel terhadap misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0.
Bantuan kemanusiaan amanah rakyat Indonesia, berupa pangan, logistik, dan penunjang medis serta kesehatan yang diambil-alih dengan paksa merupakan upaya perampasan, dan tidak semata menahan sementara tetapi menghentikan akses atas hak hidup rakyat Palestina. Ini juga merupakan bentuk perendahan martabat kemanusiaan dan solidaritas internasional, termasuk Indonesia.
Ancaman represif tersebut adalah pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional. Tindakan militer Israel, melanggar Pasal 59 Konvensi Jenewa IV (1949) serta Protokol Tambahan I Pasal 70 dan 71, yang mewajibkan perlindungan mutlak bagi personil pekerja kemanusiaan dan kewajiban untuk memfasilitasi akses lintasan bantuan tanpa hambatan.
Pencegatan distribusi bantuan kemanusiaan yang disengaja turut melukai wajah kemanusiaan dan ancaman kelaparan di Gaza, Palestina, serta mencederai prinsip-prinsip dasar kemanusiaan universal yang dijunjung tinggi oleh komitmen internasional yang dibuat pada World Humanitarian Summit 2016, sebagai Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 dan sejumlah inisiatif global lainnya.
Berpijak dari prinsip dasar kemanusiaan dan hukum humaniter internasional tersebut, Kami dari LAZISMU, dalam situasi darurat yang menyertai, dan atas nama solidaritas kemanusiaan, dengan ini menyampaikan pernyataan sikap:
Berikut pernyataan sikap yang LAZISMU sampaikan sebagai wujud solidaritas kemanusiaan universal dan akan terus ikut mengawal dengan tetap menjunjung tinggi perlindungan akses kemanusuiaan global bagi hak kemerdekaan rakyat Palestina.
Kami menyerukan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak pernah lelah mengawal setiap aksi kemanusiaan, sekaligus memanfaatkan ruang-ruang media sosial dengan narasi solidaritas kemanusiaan dan dukungan penuh bagi kemerdekaan rakyat Palestina. LAZISMU juga menyerukan kepada Masyarakat Indonesia untuk tidak letih membantu rakyat Palestina.

Para pelaku usaha hewan kurban, menjelang Idul Adha mulai menjajakan hewan kurban terbaiknya. Di setiap sudut jalan, mereka menyiapkan suatu tempat yang luas dan pakan yang cukup agar hewan kurban tetap sehat dan bugar.
Tempat yang teduh dan nyaman untuk sapi, kambing dan domba adalah pilihan tepat, dilengkapi dengan lahan parkir yang luas untuk pembeli yang datang. Berlatar lapangan atau lahan yang representatif hewan kurban dirawat dengan baik sampai pembeli datang pilih yang terbaik.
Idul Adha tinggal menunggu hitungan hari. Pimpinan Pusat Muhammadiyah, telah menetapkan Idul Adha berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), Idul Adha jatuh pada, 10 Zulhijah 1447 Hijriah bertepatan dengan hari Rabu Wage, 27 Mei 2026 Masehi.
Umat Islam bersiap membentuk panitia kurban. Di masjid-masjid pengumuman ajakan berkurban beredar. Ada penawaran berkurban dengan kambing dan sapi maupun berkurban dengan cara berjamaah untuk 7 orang agar dapat satu ekor sapi. Itu semua adalah pilihan sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk memberikan hewan kurban yang terbaik.
Memilih Hewan Kurban Layak Disembelih
Dalam hidup, kerap manusia bertindak dalam suatu pilihan. Memilih adalah menimbang, membandingkan dan kemudian memutuskan sesuatu yang dianggap pilihan terbaik dengan risiko minimal.
Berpikir yang sehat merupakan juri dalam bertindak bagi siapa pun. Termasuk dalam memilih hewan kurban yang layak. Menurut Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ada beberapa kiat dalam memilih hewan kurban sesuai dengan syariat Islam. Terutama dari aspek fisik, kesehatan dan usia hewan kurban.
Fisik Hewan Kurban
Dalam Fikih Kurban, fisik hewan kurban menjadi topik penting. Karena dalam memilih hewan kurban kriterianya tidak boleh dalam kondisi cacat dan berpenyakit. Hal ini, didasari pada hadis Rasulullah SAW, yang menganjurkan berkurban dengan dua ekor kibas bertanduk yang bagus.
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik, bahwa Ia menyaksikan Rasulullah meletakkan kakinya di atas kedua unta tersebut, membaca basmalah, dan bertakbir (HR. Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasai).
Kesaksian lain diungkap oleh Abi Said al-Khudri, diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berkurban dengan seekor kambing bertanduk yang jantan, dengan perut, kaki, dan keliling mata berwarna hitam (HR. at-Tirmidzi). Dalam hadis lain, dijelaskan, ada empat jenis hewan yang tidak boleh dijadikan kurban: hewan yang buta sebelah matanya, yang sakit jelas terlihat, yang pincang jelas tampak, dan yang sangat kurus serta tidak bersih (HR. Abu Dawud).
Kesehatan Hewan Kurban
Sementara itu, dalam aspek kesehatan tak kalah penting. Terbebas dari penyakit adalah keniscayaan. Jika hewan kurban sakit harus terlihat jelas. Tidak kurus dan kaki tidak pincang. Aspek kesehatan ini, hemat Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah bukan sekadar urusan syariat, tapi suatu penegasan, kandungan dagingnya bernilai layak konsumsi bagi penerima manfaat.
Dalam memilih hewan kurban tersebut yang sesuai kriteria, adalah bentuk ketaatan dan penghormatan atas segenap ibadah umat Islam yang diperintahkan Allah SWT. Keikhlasan dan kesanggupan menunaikan ibadah kurban bagian dari kontribusi sosial yang dilandasi tauhid sebagai wujud bersyukur atas nikmat dan karunia-Nya sesama umat Islam.
Usia Hewan Kurban
Setelah mempertimbangkan aspek fisik dan kesehatan hewan kurban, ada baiknya umat Islam saat membeli hewan kurban menanyakan usia hewan kurban tersebut. Hal ini untuk memastikan bahwa fisik dan kesehatan relevan dengan usianya.
Adapun hewan kurban yang memenuhi syarat untuk dikurbankan, menurut Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dari aspek usianya, antara lain, unta usianya genap berumur 5 tahun, sapi genap berumur 2 tahun dan kambing telah genap berumur 1 tahun.
Sebagai informasi tambahan, pastikan dalam memilih hewan kurban dari para penjual untuk tidak sungkan bertanya tentang Sertifikat Kelayakan Kesehatan Hewan Kurban (SKKHK). Sertifikasi tersebut menjadi penting karena rantai pasok hewan kurban menjelang Idul Adha dari berbagai daerah lumayan tinggi.
Untuk mempersembahkan hewan kurban terbaik tentu ditopang dengan bagaimana cara memilih yang tepat dan benar serta tidak terburu-buru. Paling minimal kita dapat melihat dengan jelas bahwa hewan kurban yang layak itu nafsu makannya tinggi, bergerak dengan aktif, setiap sudut matanya tidak berair, kondisinya bersih dan tidak kurus-tirus.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

