


MANGGARAI TIMUR -- Tim Medis Darurat (Emergency Medical Team/EMT) Muhammadiyah yang terverifikasi oleh WHO, telah dikerahkan ke Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk memperkuat layanan kesehatan esensial pascagempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.
Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah pada Program Indonesia Siaga, khususnya respons bencana yang didukung penuh Lazismu telah mendirikan tenda Rumah Sakit (RS) Lapangan di Dampek, Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, NTT, pada Rabu (26/8/2026). Pendirian rumah sakit lapangan ini untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat yang terdampak gempa.
Ketua EMT Muhammadiyah, Dokter Corona Rintawan, pada Kamis, (27/8/2006), mengatakan penugasan ini merupakan langkah nyata komitmen Muhammadiyah dalam mempertahankan kualitas dan standar paska verifikasi oleh WHO sekaligus mencerminkan prinsip WHO EMT.
“Tim medis darurat sudah seharusnya hadir untuk memperkuat, bukan menggantikan sistem kesehatan lokal, sembari tetap terus menjaga peningkatan kualitas perawatan, koordinasi dan kemandirian operasional dalam layanan kesehatan”, tandasnya.
Untuk EMT Muhammadiyah, sambung Dokter Corona, misinya sangat jelas yaitu kami tidak datang ke Dampek untuk menggantikan Puskesmas yang ada. Justeru kami di sini hadir untuk membantu memastikan Puskesmas bisa terus berfungsi dengan optimal pascagempa.
Ia mengatakan misi ini menunjukkan bagaimana EMT nasional yang telah terverifikasi bisa menerjemahkan standar global. Bahkan menjadi dukungan yang terintegrasi secara lokal dan membantu menjaga kelangsungan layanan kesehatan penting selama kondisi darurat.
Keberadaan EMT tersebut menjadi signifikan terkait perkembangannya dalam laporan tampilan visual antarmuka digital BNPB sampai hari ini (28/8/2026), di Nusa Tenggara Timur terdapat 118 fasilitas layanan kesehatan yang terdampak. Sementara itu, jumlah orang yang sakit atau luka-luka sebanyak 1.674 jiwa.
Direncanakan Tim Medis Darurat Muhammadiyah akan menjalani tugasnya di masa tanggap darurat minimal selama 30 hari yang didukung oleh dua rosterlist. Rosterlist tersebut memuat sekelompok orang dalam tim medis berdasarkan peran dan tugasnya masing-masing di lapangan.
Adapun masing-masing rosterlist terdiri dari 25 orang yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, apoteker, psikilog, safety and security officer dan logistik. Pada prinsipnya layanan kesehatan ini ada komposisi peralatan dan sumber daya manusianya yang sesuai standar WHO.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

PALANGKA RAYA -- Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, memantik respons Muhammadiyah untuk terus memperkuat langkah aksi kemanusiaannya.
Lembaga Resiliensi Bencana (LRB)/Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Tengah melaporkan perkembangan respons penanganan karhutla kepada Ketua PWM Kalteng, Ahmad Syar’i, pada Rabu (26/8/2026).
Pertemuan koordinasi tersebut berlangsung di Kantor Sekretariat PWM Kalteng, Jalan RTA Milono Km 1,5, Kompleks Perguruan Muhammadiyah Palangka Raya. Dalam pertemuan itu, jajaran LRB/MDMC memaparkan berbagai upaya yang telah dilakukan melalui Pos Komando dan Koordinasi (Poskor) Muhammadiyah Siaga/Tanggap Darurat Karhutla Kalimantan Tengah.
Ketua LRB Kalimantan Tengah, Heru Setiawan, mengatakan Poskor dibentuk untuk memastikan respons Muhammadiyah terhadap bencana berjalan terkoordinasi dan mampu menjangkau kebutuhan masyarakat secara langsung.
“Kami berupaya menghadirkan layanan yang dapat langsung dirasakan masyarakat maupun para relawan yang berada di lapangan”, ujarnya.
Heru menambahkan bahwa penanganan kebencanaan Muhammadiyah mengedepankan pendekatan One Muhammadiyah One Response (OMOR). Melalui pendekatan tersebut, seluruh elemen persyarikatan dapat bergerak bersama dalam satu koordinasi di bawah LRB/MDMC. Lazismu turut memberikan dukungan dalam penggalangan dana kemanusiaan untuk program Indonesia Siaga.
Dalam hal ini, Poskor menjadi pusat pengendalian dan koordinasi sumber daya Muhammadiyah dalam mendukung masyarakat serta relawan yang terdampak maupun terlibat langsung dalam penanganan karhutla.
Respons di lapangan dilakukan melalui berbagai bentuk layanan. Di antaranya pengerahan relawan untuk membantu pemadaman dan proses pendinginan, penyediaan rumah singgah oksigen dan mobil oksigen, distribusi vitamin serta nutrisi bagi petugas dan relawan, pembagian masker, hingga pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Sementara itu, Ketua Poskor Muhammadiyah, Inayati Muharini, menyampaikan bahwa Poskor telah mulai beroperasi sejak Jumat (21/8/2026). Operasionalnya direncanakan berlangsung hingga Senin (21/9/2026), namun waktu tersebut dapat disesuaikan dengan perkembangan situasi karhutla dan status kebencanaan yang ditetapkan pemerintah.
Selain menjadi pusat koordinasi respons, Poskor juga berperan menghubungkan dan mengoordinasikan Pos Layanan (Posyan) Muhammadiyah di sejumlah daerah. Kehadiran Posyan dinilai penting untuk memperluas jangkauan pelayanan dan memastikan respons dapat menjangkau masyarakat di wilayah terdampak.
Sampai berita ini diturunkan, Posyan Muhammadiyah telah terbentuk di bawah koordinasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kotawaringin Timur dan PDM Kota Palangka Raya.
Ketua PWM Kalteng, Ahmad Syar’i, menyatakan dukungannya terhadap langkah LRB/MDMC dalam merespons karhutla. Dukungan tersebut diharapkan semakin memperkuat koordinasi antarunsur Muhammadiyah sehingga kehadiran Persyarikatan dapat terus dirasakan masyarakat selama masa penanganan bencana.
Bagi Muhammadiyah, respons karhutla bukan semata tentang memadamkan api, tetapi juga memastikan keselamatan manusia, menjaga kesehatan relawan dan masyarakat, serta menghadirkan kepedulian di tengah situasi bencana.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Bonni]

KALIMANTAN TENGAH -- Kabut asap masih menutupi sejumlah wilayah di Kalimantan akibat kebakaran hutan dan lahan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa berdasarkan data Sipongi Kemenhut, di Kalimantan Tengah terdapat 7,634.46 hektar lahan terbakar.
Selain itu, menurut BNPB melalui data BRIN (27/8/2026), masih ada sebanyak 5.168 titik api yang terdeteksi dalam waktu 24 jam terakhir. Sampai data ini dilaporkan oleh BNPB, baru 17.55 hektar lahan yang ditangani melalui operasi darat.
Meski demikian, satu unit patroli udara dikerahkan untuk lima operasi pemadaman api di kebakaran hutan dan lahan dari jalur udara dengan cara menjatuhkan air atau bahan kimia (water bombing) dalam jumlah tertentu menggunakan pesawat khusus.
Sejauh ini, situasi di Kalimantan Selatan masih diwarnai kabut asap tebal. Hal itu diperburuk oleh musim kemarau berkepanjangan yang mulai mendekati puncaknya. Warga sangat khawatir kabut asap tersebut berdampak pada kesehatannya. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan ini menjadi ancaman serius.
Muhammadiyah melalui MDMC dan Lazismu di Kalimantan Tengah, melakukan aksi nyata dengan respons bencana. Berkomitmen mendukung pemerintah dan bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan dalam upaya penanggulangan bencana karhutla.
Ketua Lazismu Kalimantan Tengah, Muhammad Fitriani, pada Kamis, (27/8/2026), mengatakan hingga kini masih berkoordinasi dengan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Tengah, MDMC, pemerintah dan berbagai pihak sebagai upaya menangani kabut asap yang kian mengganggu.
Hal itu diakui Sekretaris Lembaga Resiliensi Bencana Muhammadiyah (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Tengah, Evan Bastian bahwa relawan Muhammadiyah telah turun untuk bertugas di lapangan dengan dukungan Lazismu melalui penggalangan dana kemanusiaan.
“Kami menegaskan untuk seluruh relawan agar selalu mengutamakan keselamatan diri. Patuhi setiap prosedur operasi, gunakan alat pelindung diri, dan selalu berkoordinasi dengan BPBD serta alur komando di lapangan. Jangan memaksakan diri apabila kondisi dinilai berisiko tinggi, karena keselamatan adalah prioritas”, tandasnya.
Koordinator Relawan Lazismu Kalimantan Tengah, Anang Rahman, mengatakan tingginya angka kebakaran hutan dan lahan, terutama di Kalimantan Tengah, khususnya di Kota Palangka Raya, mendorong relawan Muhammadiyah turun langsung membantu proses pemadaman di lapangan.
Menurutnya, kehadiran relawan menjadi bentuk kepedulian terhadap masyarakat sekaligus upaya mengurangi dampak bencana. “Ini menjadi bagian dari dakwah amar makruf nahi mungkar dari Muhammadiyah”, kata Anang.
Dalam kesempatan itu, Muhammad Fitriani mengungkapkan melalui program Indonesia Siaga, sejumlah layanan telah dijalankan, antara lain penerjunan relawan untuk pemadaman dan pendinginan.
“Muhammadiyah lewat One Muhammadiyah One Response (OMOR) melakukan penyediaan rumah singgah oksigen, mobil oksigen, pemberian vitamin dan nutrisi bagi petugas serta relawan pemadaman, pembagian masker, hingga layanan kesehatan bagi Masyarakat”, terangnya.
Sebagai informasi, kegiatan respons bencana karhutla oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Tengah meliputi pemadaman api di beberapa titik daerah Palangkaraya, Kotawaringin Timur, aktivasi rumah singgah oksigen di gedung dakwah Muhammadiyah Kalimantan Tengah dan Kota Waringin Timur, mobil oksigen keliling di tempat keramaian, pertigaan,dan lokasi pemadaman, serta bantuan nutrisi untuk masyarakat dan tenaga pemadaman.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Kalteng]

PONTIANAK -- Dukungan Muhammadiyah terhadap Lazismu untuk merespons bencana karhutla di Kalimantan Barat terus bergulir. Setelah koordinasi pimpinan Muhammadiyah pada Selasa, (25/8/2026) di SMP Muhammadiyah 1 Pontianak, untuk aksi kemanusiaan mencegah asap yang terus meluas, Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PWM Kalbar turut mendukung Lazismu untuk program Indonesia Siaga.
Koordinator Pos Koordinasi (Poskor), M. Hermayani Putera, mengatakan Lazismu memiliki posisi strategis dalam menghimpun dukungan masyarakat untuk memperkuat gerakan kemanusiaan Muhammadiyah. Menurutnya, dukungan yang dihimpun melalui Lazismu dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan di lapangan.
“Ini soal dampak yang ditimbulkan. Masyarakat yang terpapar kondisi kesehatan akibat asap, kita hadirkan rumah oksigen. Kita juga konsen kepada kesehatan para relawan dan mengupayakan hadirnya dapur-dapur relawan,” kata Hermayani yang juga Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PWM Kalbar.
Hermayani menuturkan kebutuhan relawan di lapangan cukup beragam sehingga dukungan masyarakat perlu terus digerakkan. “Mencakup makanan bergizi, susu, air mineral, APD, masker, alat dan kebutuhan operasional di lapangan. Semua harus memastikan penggalangan dukungan pendanaan maupun suplai logistik lainnya tidak terputus”, tandasnya.
Dalam skema tersebut, Lazismu diharapkan menjadi salah satu motor penghubung terhadpa masyarakat dan dukungan publik sehingga kebutuhan di lapangan bisa dipetakan melalui Poskor dan unsur kebencanaan Muhammadiyah. Dengan pola itu, bantuan tidak berhenti pada proses penghimpunan, tetapi diarahkan berdasarkan kebutuhan prioritas di lapangan.
IMM dan Relawan Bagikan Ribuan Masker
Dampak asap terhadap masyarakat di Kalimantan Barat, menggerakan kepedulian atas kondisi kesehatan. Organisasi mahasiswa Institut Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Muhammadiyah Kalimantan Barat bergerak melalui aksi kemanusiaan membagikan ribuan masker.
Aksi sosial ini sebagai respons terhadap kondisi kualitas udara yang terus memburuk di Kalimantan Barat akibat asap kerhutla. Aksi pembagian masker tersebut berlangsung di Bundaran Digulis Untan, Pontianak, dan Bundaran Gaforaya, Kubu Raya, pada pekan kemarin.
Selain Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa D3 Keperawatan, S1 Keperawatan, Administrasi Kesehatan, dan Bioteknologi, bergerak bersama membagikan masker.
Aksi serupa juga dilakukan Kantor Layanan Lazismu Politeknik 'Aisyiyah Pontianak yang ambil peran nyata mencegah dampak kabut asap dengan membagikan ribuan masker di Simpang empat lampu merah Jalan Ampera dan Simpang empat lampu merah Jalan Ahmad Yani.
Kegiatan ini didukung oleh Majelis Kesehatan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Kalimantan Barat dan segenap sivitas akademik Politeknik ‘Aisyiyah Pontianak. Tujuan program ini melindungi kesehatan dan mengajak semua pihak menjaga kelestarian lingkungan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Aep Mulyanto]

PONTIANAK -- Dalam rangkuman laporan kejadian bencana kebakaran hutan dan lahan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pada periode Minggu hingga Senin, 23 - 24 Agustus 2026, masih dilakukan upaya penanganan dari operasi darat dan operasi udara.
Berdasarkan data dari BNPB terkait informasi penanganan karhutla yang terkonfirmasi juga melalui Sistem Pemantauan Karhutla Kemenhut (Sipongi), disebutkan bahwa dari 6 provinsi prioritas yang ditangani untuk wilayah provinsi Kalimantan Barat merupakan yang terbanyak titik api (hotspot) sejumlah 1.836 dengan indikasi lahan terbakar seluas 38.310 hektar.
Situasi yang memanas itu menggerakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Barat, dalam hal ini bagi Lazismu untuk melakukan aksi kemanusiaan program Indonesia Siaga dalam merespons karhutla.
Ketua Lazismu Wilayah Kalbar, Ismail Syailillah, mengatakan Lazismu bersiap ambil bagian dalam merespons bencana karhutla lewat penghimpunan dan penyaluran dana masyarakat secara tepat sasaran.
“Peran Lazismu dalam merespons karhutla merupakan komitmennya sebagai lembaga amil zakat untuk menghadirkan manfaat zakat, infak dan sedekah bagi masyarakat yang membutuhkan termasuk dalam situasi bencana”, paparnya.
Dukungan pendanaan menjadi penting, kata Ismail. Karena penanganannya tidak hanya membutuhkan relawan di lapangan, tetapi juga ketersediaan logistik dan biaya operasional yang memadai.
Wakil Ketua PWM Kalbar yang membidangi Majelis Pembinaan Kesehatan Umum dan Kesejahteraan Sosial sekaligus unsur Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Ishak Jumarang, menyampaikan bahwa keberlanjutan aksi kemanusiaan ini sangat bergantung pada dukungan seluruh unsur Muhammadiyah.
“Harapan kita melalui pertemuan kali ini dapat memaksimalkan keberadaan semua unsur yang ada di Muhammadiyah, baik ortom, AUM maupun lainnya, termasuk bagaimana dukungan pendanaan maupun mata rantai logistik agar terus berjalan”, tandasnya pada rapat koordinasi di SMP Muhammadiyah 1 Pontianak, Jalan Ahmad Yani, Selasa, (25/8/2026).
Menurut Ishak, dari kejadian ini berdasarkan kebutuhan di lapangan cukup beragam, mulai dari makanan bergizi bagi relawan, air mineral, susu, alat pelindung diri (APD), masker, kebutuhan operasional pemadaman, dukungan transportasi, hingga layanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak asap.
Untuk tahap awal respons bencana karhutla, Muhammadiyah di Kalimantan Barat akan fokus pada sejumlah titik di Pontianak dan Kubu Raya. Dua wilayah ini yang menjadi perhatian dalam penanganan dampak karhutla.
Respons di lapangan melibatkan SAR Muhammadiyah LRB-MDMC Kalimantan Barat, Tim Assessment MDMC Kalimantan Barat, serta kader IMM Kota Pontianak. Pembagian masker juga dilakukan oleh sejumlah mahasiswa dari kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di Pontianak.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Aep Mulyanto]

JAKARTA -- Lebih dari sepuluh hari pascagempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), berdasarkan hasil kaji cepat kesehatan dilaporkan bahwa dampak kesehatan kesehatan meliputi 70 korban jiwa, 876 kasus cedera, dan 38.862 jiwa pengungsi yang tersebar di 7 kabupaten terdampak.
Merespons hal itu, Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) / Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menyusun daftar rosterlist personel kesehatan dan pendukung Emergency Medical Team (EMT) dari unsur Rumah Sakit / Fasilitas Kesehatan Muhammadiyah 'Aisyiyah (RSMA) jejaring MPKU untuk ditugaskan dalam respons kemanusiaan ini.
Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah sedang menyiapkan instalasi lengkap Rumah Sakit Lapangan berstandar WHO di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk layanan kesehatan. Upaya EMT ini untuk tetap melaksanakan tugasnya di masa tanggap darurat.
Demikian disampaikan Ketua Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah, dokter Corona Rintawan, pada Senin (24/8/2026). Pada intinya memang kita akan merilis penempatan suatu sistem layanan kesehatan (deploy) yang berstandar internasional dalam kondisi darurat pascabencana berupa rumah sakit lapangan.
“Model EMT Type 1 fixed berstandar WHO untuk mendukung operasional Puskemas Dampek, di Manggarai Timur”, jelasnya. Direncanakan, kata Corona, minimal masa tugasnya selama 30 hari dengan pengiriman sebanyak 2 rosterlist. Rosterlist tersebut memuat sekelompok orang yang tergabung dalam EMT berdasarkan peran dan tugasnya masing-masing di lapangan.
“Masing-masing rosterlist terdiri dari 25 orang yang di dalamnya terdapat penempatan dokter, perawat, bidan, apoteker, psikilog, safety and security officer dan logistik. Jadi EMT ini ada komposisi peralatan dan sumber daya manusia, semuanya sesuai standar WHO”, jelasnya.
Dalam respons bencana sebelumnya, Muhammadiyah sudah menerjunkan paling tidak enam tim Emergency Medical Team. Tim awal tersebut telah diberangkatkan yang terdiri dari EMT Klinik Muhammadiyah Ende untuk di Dampek, Manggarai Timur, EMT RS PKU Muhammadiyah Bima, Klinik ‘Aisyiyah Kupang, EMT Unismuh Makassar, EMT RS Muhammadiyah Lamongan, dan EMT Klinik Muhammad Ende serta Klinik UNIMOF.
Rumah Sakit Lapangan itu, sepenuhnya didukung oleh Lazismu. Direktur Utama Lazismu Pusat, Barry Adhitya, mengatakan dukungan tersebut dari program Indonesia Siaga yang pendanaannya dari masyarakat Indonesia. “Dana program Indonesia Siaga ini alhamdulillah dapat dimanfaatkan serapannya melalui EMT”, ujarnya.
Dukungan Lazismu terhadap EMT, bukan kali ini saja bahkan sejak EMT dikukuhkan sebagai yang pertama di Indonesia. Alhamdulilah Kemenskes memberikan mandat ini sehubungan dengan dampak yang dialami masyarakat pascabencana gempa bumi di NTT.
Oleh karena itu, kata Barry, ini menjadi peran Lazismu sebagai lembaga amil zakat untuk mendukung sepenuhnya misi kemanusiaan ini dalam program Indonesia Siaga. Lazismu berharap nilai manfaat kegiatan layanan kesehatan melalui EMT dapat dirasakan sepenuhnya oleh masyarakat yang terdampak langsung.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]



Seseorang dalam suatu pengajian bertanya kepada Ustadz, Jika Allah SWT Maha Baik dan Maha Penyayang kepada mahluknya, mengapa Ia dengan Kuasanya, memberikan ujian bagi manusia. Hal ini tidak adil padahal Allah SWT telah memberikan nikmat dan anugerah yang tak terhingga.
Pertanyaan di atas, mungkin ada dan dialami dalam benak orang lain. Pertanyaan itu fitrah bagi manusia. Karena dalam Islam manusia memiliki fitrah untuk belajar dan mengetahui segala sesuatu. Potensi bertanya manusia juga bagian dari fitrah manusia dalam beragama untuk mengetahui Kemahakuasaan-Nya sebagai Maha Pemberi Bentuk (Al-Wahib Al-Suwar).
Dengan kuasa-Nya, Allah bisa menjadikan sesuatu dalam bentuk apa saja, bahkan dengan kuasa-Nya mengubah sesuatu dalam bentuk yang lain bahkan menghancurkan atau memusnahkannya. Termasuk bencana gempa bumi, tentu ada maksud-Nya Allah memberikan peringatan dan kehancuran itu kepada setiap manusia.
Dalam kajian Fikih Bencana tahun 2014, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah melakukan kajian atas pokok bahasan mengenai bencana, keadilan dan nasib manusia dalam mempertahankan hidupnya.
Salah seorang Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Ustadi Hamsah, misalnya, ketika membahas soal Keadilan Tuhan (theodicy), Musibah dan Peristiwa yang Penuh Makna, mengungkapkan bahwa konsep Keadilan Tuhan merupakan ke-Maha Baik-kan dan ke-Maha Adil-an Allah yang dihadapkan pada kenyataan adanya keburukan dan kejahatan di dunia.
Hal itu, menurutnya, didasarkan pada sifat Rahmah (rahman dan rahim). Ketentuan dan ketetapan Allah pun selalu BAIK, dan hamba-hamba Yang Rahman dan Rahim (‘ibad al-Rahman) memandang bahwa Allah adalah Sumber Kebaikan. Konsekuensi kebaikan ini adalah bertambahnya nilai dari kebaikan (ihsan).
Dalam kajian itu, Ustadi mengatakan bahwa seluruh ketentuan Allah adalah anugerah bagi manusia. Fungsi anugerah itu sendiri sebagai ujian (bala’). Dan ujian itu berbentuk dua keberadaanya, yaitu kebaikan (hasanat) dan keburukan (sayyi’at). Ujian yang buruk (sayyi’at) lazim dikenal dengan musibah, bencana, pageblug, atau prahara.
Musibah Bukan Berarti Masalah
Terlepas dari ujian yang diberikan oleh Allah SWT, sebelum musibah itu datang manusia dalam hidupnya senantiasa dihadapi oleh kendala dalam bentuk masalah. Baik itu masalah ringan atau berat. Masalah dalam pengertian yang sederhana adalah adanya kesenjangan sesuatu antara yang senyatanya (Das Sein) dengan yang seharusnya (Das Sollen).
Oleh karena itu, ketika manusia diuji dengan masalah, sebagian orang mengatakan itu adalah musibah. Bahkan musibah itu dimaknai negatif. Sehingga menjadi masalah bagi manusia. Mengapa? Karena manusia memiliki kesadaran. Kesadaran itu bisa rapuh. Dalam kacamata Tauhid tentang musibah secara hakikat pada dasarnya tidak sama dengan masalah. Padahal yang menjadi masalah bagi manusia pada dasarnya adalah cara manusia menyikapi masalahnya. Ustadi berpendapat, apapun yang terjadi adalah nasib (bagian) manusia, ketentuan (qadla’) Allah bagi makhluk-Nya sesuai ketetapan-Nya (taqdir).
Demikian keadilan Tuhan. Maka kita harus memahami dan menyikapi takdir itu. Dalam Tauhid, ada cinta dan keridhoan. Artinya menerima ketentuan Allah dengan Ikhlas. Ridho dan Ikhlas atas kejadian atau peristiwa di alam (bil kaun). Itu adalah kuasa-Nya, manusia tidak mampu menjangkaunya.
Yang menarik menurut Ustadi, jika Allah menghendaki musibah pada suatu kaum, maka akan menimpa orang sholih juga orang kafir, tetapi Allah akan membangkitkan dalam kondisi yang berbeda-beda. Selanjutnya ada Ridho yang dimaknai atas yang menimpa kita (bi na). Maksudnya ada banyak faktor dalam hidup kita yang diatur oleh Allah. Dan yang tahu rahasianya hanya Allah SWT.
Untuk itu, dalam Islam dan dalam setiap ibadah kita selaku Muslim, maka penting untuk kuatkan sikap kita ridho dan ikhlas malakukan hal yang layak untuk dilakukan. Allah tidak mengubah kondisi suatu kaum kecuali kaum tersebut mau mengubah kondisnya pula.
Pandangan terkait bencana ini, juga disampaikan Majelis Tarjih dan tajdid PP Muhammadiyah, Muhammad Khaeruddin Hamsin mengenai Konsep Darurat Dalam Islam dan Masalah -Masalah Fikih Terkait Bencana. Menurutnya, darurat dalam kerangka Maqasid Syar’iyah adalah di mana manusia sampai pada kondisi yang sangat kesulitan sehingga dapat melakukan hal-hal yang dilarang guna menghindarkan jiwanya, hartanya dan sebagainya dari kebinasaan.
Mendudukan makna darurat menjadi penting di sini, karena bertalian dengan konsep maslahah yaitu bagaimana manusia dapat menggapai suatu kemanfaatan dan terhindar dari kerusakan atau mencapai kemanfaatan dengan menjaga agama, jiwa, keturunan (harga diri) akal dan harta.
Jadi, maslahah dalam konteksnya ini mencakup hal-hal yang bersifat dharuriyat, hajiyat dan tahsiniyat, sedang darurat hanya terbatas hal-hal yang besifat dharuriyat saja.
Dari paparan di atas, Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq Mughni menilai bahwa pandangan Islam tentang bencana berarti ada suatu hal yang penting yaitu mengurangi risiko bencana untuk mempertahankan hidup.
Penggalian nilai-nilai Islam tentang kebencanaan sangat penting untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap bencana. Kesadaran itu akan terwujud dalam upaya untuk memahami bencana sebagai fenomena alam maupun sosial sehingga bisa mengurangi tingkat risikonya, mengantisipasi dan melakukan apa yang terbaik ketika bencana itu terjadi.
Agama memainkan peran yang penting karena sifat ajaran Islam yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Menurut pendapat para pemikir hukum Islam, prinsip-prinsip dasar atau maksud dari setiap ketetapan hukum Islam di antaranya, menjaga keselamatan jiwa dan harta manusia. Karena ini wajib menurut ajaran Islam untuk mempertahankan hidup.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

Bayangkan, anda tertidur lelap. Tidur malam cukup selama 7- 8 jam yang bermanfaat untuk kesehatan. Jaringan sel tubuh mengalami perbaikan dalam sistem tubuh yang bekerja untuk menguatkan kekebalan, menjaga kesehatan jantung dan mengoptimalkan fungsi kerja otak serta daya ingat. Selain itu, tidur malam yang cukup dapat menjaga emosi tetap stabil.
Tiba-tiba dalam nyenyak yang nikmat, kasur bergerak dan atap rumah berguncang hebat hingga merubuhkan bangunan. Tetangga dan kerabat dekat anda merasakan hal yang sama sehingga terkejut berlari keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Gempa bumi sedang menyapa kita dengan ujian musibah yang tidak mengenal waktu dan tempat.
Demikian hal yang dialami saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa bumi tektonik berkekuatan 7,7 magnitudo pada Sabtu, (15/8/2026) pukul 04.58 waktu setempat. Tujuh kabupaten di NTT merasakan dampaknya. Bahkan BNPB dalam datanya melaporkan bahwa ada dua kabupaten yang mengalami kerusakan dan dampak yang luar biasa yaitu kabupaten Manggarai dan kabupaten Manggarai Timur.
Data terkini dari BNPB, tertanggal 20 Agustus 2026, jumlah korban meninggal dunia menjadi 72 orang. Korban luka-luka sebanyak 900 orang, dan 82.691 orang mengungsi serta 18.019 kepala keluarga terdampak. Tidak hanya itu, kerugian materilnya ada 29.001 rumah rusak termasuk fasilitas ibadah dan fasilitas umum.
Makna Bencana sebagai Buah Empati
Adalah penting untuk memandang bencana dari perspektif islam dan kemanusiaan. Dalam sudut pandang Fikih Bencana yang diterbitkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah (2015), kata bencana memiliki padanan istilah dalam Al-Qur’an yaitu musibah, bala’, fitnah, ‘azab, fasad, halak, tadmir, tamziq, ‘iqab, dan nazilah.
Istilah – istilah tersebut mengandung makna yang berbeda-beda dalam teks dan konteksnya. Istilah Bala’ diartikan sebagai “cobaan untuk memperteguh keimanan”. Adapun istilah fitnah lebih dekat pada makna bencana sosial yang diakibatkan oleh ketegangan sosial antar manusia.
Sedangkan istilah Azab diartikan sebagai “ragam peristiwa yang menimpa manusia karena perbuatannya yang abai terhadap ketetapan dan hukum Allah”. Sementara istilah Fasad merupakan bencana yang diakibatkan oleh manusia yang bertentangan dengan ketetapan Allah.
Dalam makna lain tentang bencana, Halak bersandar pada suatu kehancuran dan kebinasaan yang menjadi hukum ketetapan Allah. Makna bencana lainnya melalui istilah Tadmir diartikan sebagai sifat dari suatu peristiwa yang berdampak merusak dan disebabkan oleh manusia juga oleh alam.
Selain itu, istilah Tamziq merupakan peristiwa buruk yang murni disebabkan oleh ulah manusia. Sedangkan istilah Iqab merupakan kejadian berupa hukuman disebabkan oleh sikap pengingkaran manusia terhadap Allah dan Rasul serta istilah Nazilah yang berarti bencana sebagai hukuman dari Allah untuk manusia.
Berdasarkan istilah dan makna bencana di atas, secara teknis dan konseptual kita sering menggunakannya secara bergantian. Oleh karena itu, makna dasar ini menjadi relevan sebagai bekal pengetahuan tentang bencana dari perspektif fikih islam karena berkaitan dengan wawasan kemanusiaan dan kepekaan sosial (empati).
Berkhidmat kepada Kemanusiaan
Setiap bencana mengandung hikmah dan pelajaran bagi setiap manusia, baik sebagai manusia yang terdampak atau tidak. Oleh karena itu, bencana harus disikapi dengan arif bijakasana agar kita mampu berkhidmat untuk merespons bencana tersebut. Sebagai pelajaran yang sudah terjadi maka manusia harus merencanakan mitigasinya, dan bagaimana merespons kedaruratannya hingga masa pemulihannya.
Hamim Ilyas dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengatakan bahwa berkhidmat terhadap bencana berarti menyelami makna terdalam. Hamim mendasarkan argumennya pada Surat Al-Maun tentang Yatim dan Miskin serta orang yang mendustai agama. Mengapa demikian, karena manusia yang tertimpa bencana mengalami kerugian bahkan kehilangan harta bendanya yang berharga. Bisa jadi bagi seorang anak, karena bencana orang tuanya berpulang dan Ia menjadi yatim duafa atau penyandang masalah kesejahteraan.
Oleh karena itu, menurut Hamim Ilyas, berkhidmat kepada yatim dan miskin dilakukan dengan empat prinsip: 1. Memuliakan, 2. Keberpihakan, 3. Memperlakukan dengan adil, dan 4. Memberikan kebaikan nyata. Al-Qur’an telah menunjukkan bukti dari pengkhidmatan itu melalui upaya memberikan perlindungan dan santunan, memperhatikan masa depan, berlaku adil dan tidak bersikap kasar serta mengelola harta yang dimiliki yatim dengan cara terbaik.
Dengan upaya pengkhidmatan itu, akan ada usaha-usaha yang dapat dilakukan, misal setelah masa tanggap darurat bencana akan masuk pada fase pemulihan, sebagai ikhtiar menolong sesama bisa dilakukan dengan pemberdayaan masyarakat dengan 4 orientasi yang terus bisa dikembangkan sesuai kebutuhan, yaitu: 1. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi kesejahteraan, 2. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi kemandirian dan kelestarian, 3. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi advokasi dan perubahan sosial, 4. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi advokasi kebijakan publik dan gerakan sosial.
Hal itu diperkuat oleh pemaknaan terhadap bencana yang diungkapkan oleh Pakar Manajemen Bencana dari PP Muhammadiyah, Rahmawati Husein bahwa bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Menurut Rahmawati Husein dalam memahami bencana dan pengelolaannya yang menjadi poin penting adalah dari tanggap darurat ke pengurangan risiko bencana. Ia menilai sejauh ini masih ada sebagian masyarakat yang melihat bencana alam sebagai sesuatu yang datang di luar kemampuan manusia. Maka kecenderungannya menunggu kejadian tersebut dialami atau menimpa diri mereka tanpa ada pembelajaran untuk mitigasi dan penanggulangan risiko bencananya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

MENGECAM PENYANDERAAN 9 AKTIVIS KEMANUSIAAN INDONESIA DAN BANTUAN KEMANUSIAAN GLOBAL SUMUD FLOTILLA OLEH AKSI MILITER ISRAEL
Jakarta, 20 Mei 2026
Aksi militer Israel yang melancarkan penyergapan terhadap relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0, menuju Gaza, Palestina, merupakan bentuk teror dan melanggar hukum internasional. Tindakan intersepsi itu terjadi pada Senin, 18 Mei 2026, di perairan internasional Siprus, tepatnya di kawasan Laut Mediterania Timur.
Misi kemanusiaan untuk Palestina yang diinisiasi oleh masyarakat global yang berjumlah 426 Relawan dari 40 negara berlayar menggunakan 50 kapal, merupakan aktivis kemanusiaan dari berbagai macam profesi. Salah satunya negara Indonesia, yang di dalamnya ada 9 orang aktivis kemanusiaan yang mewakili lembaga amil zakat dan jurnalis kemanusiaan.
Berdasarkan informasi terbaru, pada 19 Mei 2026 pukul 21.02 WIB, militer Israel telah mencegat dan memaksa 40 kapal kemanusiaan tersebut untuk berhenti di perairan internasional. Kabar tersiar lainnya melalui media internasional yang sampai ke Indonesia, para relawan kemanusiaan ini dipaksa berlutut dengan kondisi tangan terikat di belakang.
Dengan bersenjata, pasukan militer Israel berjaga dari kapalnya memberikan ancaman. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, tetap pada pendiriannya sebagai upaya membela hak Israel mencegat kapal kemanusiaan itu. Bahkan, Netanyahu, memerintahkan agar semua aktivis kemanusiaan segera dideportasi.
Atas landasan hukum dan etika kemanusiaan, Kami dari Lembaga Amil Zakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah (LAZISMU), yang juga sebagai bagian dari lembaga pengelola zakat, menyatakan kerisauan atas krisis kemanusiaan yang terjadi menimpa aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0.
Kami sekaligus mengecam setiap bentuk intervensi yang dilakukan dengan kekerasan yang sewenang-wenang oleh pasukan militer Israel terhadap misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0.
Bantuan kemanusiaan amanah rakyat Indonesia, berupa pangan, logistik, dan penunjang medis serta kesehatan yang diambil-alih dengan paksa merupakan upaya perampasan, dan tidak semata menahan sementara tetapi menghentikan akses atas hak hidup rakyat Palestina. Ini juga merupakan bentuk perendahan martabat kemanusiaan dan solidaritas internasional, termasuk Indonesia.
Ancaman represif tersebut adalah pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional. Tindakan militer Israel, melanggar Pasal 59 Konvensi Jenewa IV (1949) serta Protokol Tambahan I Pasal 70 dan 71, yang mewajibkan perlindungan mutlak bagi personil pekerja kemanusiaan dan kewajiban untuk memfasilitasi akses lintasan bantuan tanpa hambatan.
Pencegatan distribusi bantuan kemanusiaan yang disengaja turut melukai wajah kemanusiaan dan ancaman kelaparan di Gaza, Palestina, serta mencederai prinsip-prinsip dasar kemanusiaan universal yang dijunjung tinggi oleh komitmen internasional yang dibuat pada World Humanitarian Summit 2016, sebagai Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 dan sejumlah inisiatif global lainnya.
Berpijak dari prinsip dasar kemanusiaan dan hukum humaniter internasional tersebut, Kami dari LAZISMU, dalam situasi darurat yang menyertai, dan atas nama solidaritas kemanusiaan, dengan ini menyampaikan pernyataan sikap:
Berikut pernyataan sikap yang LAZISMU sampaikan sebagai wujud solidaritas kemanusiaan universal dan akan terus ikut mengawal dengan tetap menjunjung tinggi perlindungan akses kemanusuiaan global bagi hak kemerdekaan rakyat Palestina.
Kami menyerukan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak pernah lelah mengawal setiap aksi kemanusiaan, sekaligus memanfaatkan ruang-ruang media sosial dengan narasi solidaritas kemanusiaan dan dukungan penuh bagi kemerdekaan rakyat Palestina. LAZISMU juga menyerukan kepada Masyarakat Indonesia untuk tidak letih membantu rakyat Palestina.

