

Semarang
– LAZISMU. Coba bayangkan satu rumah dengan
tipe 27/60, dihuni
oleh satu keluarga besar dengan 9 jiwa di dalamnya. Itulah
rumah Nur Kustatik (62) di kawasan Perumahan Puskopkar Pudakpayung, Banyumanik, Kota Semarang. Nenek Nur Kustatik, yang biasa disapa Mami tinggal di rumah
mungil itu bersama dengan anak, menantu dan 6 orang cucunya.
Rumah sederhana yang dibangun pada 1993, belum pernah direnovasi sampai sekarang. Rangka kayu rumah rapuh, atap
bocor di mana-mana. Kaca ruang tamu pecah, sofa kusam dan robek. Tidak ada meja
tamu di rumah itu. Yang ada hanya rongsokan elektronik yang sudah tidak
berfungsi. Begitulah cerita amil
Lazismu saat datang melihat kondisi rumah Mami pada Ahad, 2 Februari 2020.
Tengok lebih dalam, kamar mandi rusak hingga bau pesing tercium menyengat.Ruang dapur yang kusam dan berantakan tidak teratur. Di bagian belakang terdapat ruang terbuka, yang dipakai menaruh barang bekas. Sisa air hujan menggenang dibekas bak mandi yang tidak terpakai.

Mami bercerita kalau hujan deras turun, mereka sekeluarga harus bahu-membahu menyelamatkan barang, mencari wadah untuk air hujan yang jatuh. Menutupi barang-barang dengan plastik, bahkan terkadang harus rela basah kuyup. Mami juga merasakan semakin lama kondisi rumahnya semakin rapuh dan mengkhawatirkan.
Rasa was-was sering menghantui, jangan-jangan atapnya runtuh saat hujan deras. Mami tidak bisa berbuat banyak, dia pasrah. Namun dia tetap berdoa agar keluarganya selalu dilindungi oleh Yang Maha Kuasa.
Mami bekerja sebagai buruh lepas, biasanya dipanggil tetangga untuk menyeterika pakaian atau memasak. Oleh karenanya dia tidak punya penghasilan pasti. Sementara Andik, sang menantu profesinya sebagai penyedia jasa servis elektronik, yang membuka pelayanan di rumah itu juga. Sedangkan anak perempuan Mami, Novi tidak bisa bekerja karena kesibukan mengasuh keenam anaknya.
Dengan penghasilah yang minim mereka bertahan di rumah tua itu. Dengan keadaan yang serba kurang Andik berusaha membesarkan 6 anaknya dengan penuh tanggung jawab. Bila menginginkan lauk, Andik terpaksa harus berburu ular, biawak dan binatang buas lainnya yang ada di sekitar tempat tinggal mereka. Keadaan miskin yang membuat saya harus melakukan seperti ini, kata Andik.
Setelah
mengetahui cerita lebih jauh, kedatangan Lazismu ingin membantu renovasi rumahnya. Mami sangat kaget dan
berterimakasih atas karunia yang dia terima. “Matursuwun sanget mas, mugi-mugi
panjenengan diparingi panjang umur, murah rejeki” (Terimakasih banyak mas,
semoga anda diberi umur yang panjang dan banyak rejeki). (ns/cs)

