

Palu – LAZISMU. Peristiwa gempa
Palu dan Sigi pada 28 September tahun lalu, masih menyisakan cerita. Apalagi
dalam sejarah gempa di Indonesia, selain diikuti gelombang tsunami, masyarakat
dikejutkan dengan fenomena likuifaksi yang menerjang kawasan Petobo, Palu.
Rumah pemukiman warga hilang tertelan lumpur.
Ada
beberapa desa di kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi yang terdampak gempa berkekuatan 7.4 SR saat
itu. Salah satunya Desa Lengaleso rata
dengan tanah akibat likuifaksi. Selain kehilangan tempat tinggal warga juga
kehilangan mata pencaharian. Di desa ini pula lembaga amil zakat nasional dalam
hal ini Lazismu melakukan pendampingan bersama Muhammadiyah Disaster Management
Center (MDMC) dan Majelis Pemberdayaan Masyartakat. (MPM).
Keberlanjutan pendampingan pascagempa masih berlanjut, pada 4 – 5 Oktober 2019, MPM bersama Lazismu, menggelar pemberdayaan dan pelatihan masyarakat. Pelatihan digelar dengan mengaktivasi budidaya cacing di Desa Langaleso, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.
Dalam
tahap rehabilitasi dan rekonstruksi (RR) ini, Rudianto selaku tim fasilitator
MPM mengatakan, program pemberdayaan ini diikuti oleh sebagian warga Desa
Langaleso sendiri dan Kotarindau. “Jumlah peserta yang mengikuti pelatihan sebanyak
35 orang,” katanya.
“Dalam
budidaya cacing, jenis cacing yang diplih berasal dari Jawa Tengah. Di samping
budidayanya, nilai tambahnya yang akan dihasilkan adalah produksi pupuk kascing
(bekas cacing),” jelasnya.

Rudianto
menambahkan, pelatihan dilaksanakan pada 5 oktober 2019, yang dilanjutkan
dengan implementasi serta uji coba pembudidayaan padi INPAGO (Inhibrid Padi
Gogo). Jenis padi ini, memiliki keunggulan dari jenis padi lainnya yaitu, tidak
membutuhkan banyak air dalam pengelolaannya. Masa tanamanya relatif singkat,
membutuhkan waktu 110 hari untuk mengetam.
“Model
pembinaan yang dilakukan MPM kepada para petani diharapkan dapat berkelanjutan
samapai dengan Januari 2020 oleh tim Rehab-Rekon Majelis Pemberdayaan
Masyarakat (TRR MPM). Pendampingan initelah dipersiapkan matang hingga
pascapanen, bahkan sampai dengan penjualannya,” paparnya.
Secara
terpisah, Rudianto yang karib disapa Dava saat dihubungi mengatakan, kerjasama
Lazismu dan MPM menginisiasi pelatihan ini sebagai wujud menggerakkan lahirnya
Jatam (jamaah tani muhammadiyah). Sedangkan Lazismu Sigi yang berkolaborasinya
di dalamnya memiliki badan usaha yang bernama Luku atau Lembaga Usaha Kualitas
Unggul. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari bantuan Muhammadiyah sejak pascagempa
tsunami dan likuifaksi September tahun 2018.
Hadir
dalam acara pelatihan dan pemberdayaan, Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu
yang juga sebagai mitra kolaborasi yang diwakili oleh Saifudin Wakil Rektor III sekaligus sebagai
Ketua MPM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM)
Sulawesi Tengah, sekalian membuka pelatihan secara resmi. (dv)

