

Sidoarjo –
LAZISMU.
Gerakan filantropi dalam dunia akademis memiliki peluang dan tantangan
tersendiri. Peluangnya dalam kampus memiliki potensi yang besar karena di dalamnya
ada banyak mahasiswa-mahasiswi dengan talenta yang beragam.
Adapun
tantangannya adalah bagaimana mengatur waktu luang mahasiswa di tengah
kesibukannya berkuliah agar dapat berpartisipasi dan terlibat aktif dalam
gerakan filantropi di kampus.
Di
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) misalnya, Lazismu berdiri di tengah
aktivitas mahasiswa yang beragam. Bahkan menurut Fundraiser Lazismu Umsida,
Prayekti, selama 2018 potensi dana yang terkumpul di kampus ini sebesar Rp 1,9
miliar. Dalam menggerakkan potensi yang besar ini, menurutnya butuh strategi
dan kekuatan yang besar pula yakni dengan melibatkan mahasiswa.
Demikian
disampaikan oleh Prayekti pada acara pembinaan Ke-Islaman dan Kemuhammadiyahan
bagi organisasi mahasiswa di Gedung Fakultas Ekonomi Bisnis, Umsida, 9 April
Maret lalu bahwa prospek dan capaian Lazismu pada 2018 berjalan dengan baik.
“Capaian
tersebut berasal dari kolaborasi dengan organisasi mahasiswa. Dana sebesar itu,
telah disalurkan lewat program dakwah sosial,” katanya saat dihubungi tim media
Lazismu (28/3/2019).
Namun
dibalik itu, lanjutnya, masih menyisakan beberapa hal antara lain belum
tergarapnya potensi ZIS 10.000 mahasiswa dan ribuan alumninya.
Gerakan filantropi berbasis kampus yang dikembangkan Lazismu Umsida, mulai unjuk gigi sejak 1 Januari dengan menempati kantor di Gedung C kampus 1. Saat itu desaign programnya memang khusus untuk pemberdayaan mahasiswa. Lazismu sadar karena segmen yang digarap adalah mahasiswa yang notabene generasi milenial.
“Memberikan
edukasi zakat yang menyenangkan kepada generasi model ini tentu butuh waktu
yang tidak instan,” jelasnya. Perlu upaya maksimal, kerja keras dan kerja cerdas untuk
menggali potensi itu.
Jurus
jitu yang diterapkan mengajak para pentolan organisasi mahasiswa bersama-sama
menggerakkan para anggotanya agar memiliki jiwa berbagi (filantropi). Peduli
dan menyintai kemanusiaan. Salah satunya dengan aktif mengerakkan program GIZMA
(Gerakan Infak Zakat Mahasiswa) yang relawannya adalah mahasiswa sendiri.
Beruntung,
teknologi informasi sangat membantu kegiatan ini. Contohnya ada masjid butuh
bantuan pembenahan kemudian difoto dan diviralkan untuk penggalangan dana langsung
direspons positif. Pendampingannya menjadi salah satu tugas Lazismu.
Di
era revolusi teknologi 4.0 ini, Lazismu juga sudah menyiapkan teknologi
fundraising dengan QR Code. “Sistem laporan keuangannya pun ditampilkan secara
online dengan fitur infogram otomatis,” ungkap Yekti yang juga alumni Umsida.
Sebagai
bentuk inovasi, telah diluncurkan Kotak Infak Milineal, Kotak Infak All in One, yakni kotak infak yang bisa
menggunakan uang tunai maupun uang digital.
Yekti berharap sebagai amil di Lazismu banyak mahasiswa penerima beasiswa Sang Surya yang bisa merintis karir sebagai amil. Karena masa depan Lazismu ada di pundak generasi milenial yang sadar gerakan filantropi (na/pwmu).

