

"Kita berharap ada banyak wawasan dan pengetahuan yang kita peroleh sebagai amil di Lazismu. Ini upaya kita dalam rangka meningkatkan kinerja. Kerja, pelajari, teliti, eksplorasi data, dan seterusnya," ujar Hilman Latief, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Kamis (1/7).
Ia berharap amil-amil Lazismu bisa bekerja berdasarkan data. Sehingga kepemilikan data survei seperti yang telah dilakukan sebelumnya menjadi hal yang penting. Selain itu, ia juga berharap agar amil memiliki kemampuan untuk membaca dan menganalisis data untuk memproyeksikan sebuah kebijakan.
Filantropi, menurut Hilman, tidak hanya sekedar ingin berbuat baik, namun juga ingin memberikan yang terbaik. Dua kali survei yang telah dilaksanakan oleh Lazismu menjadi data yang penting untuk dipahami.
"Keyakinan bahwa kita telah berbuat baik, keyakinan bahwa ini adalah perintah agama saja tidak cukup. Niat baik saja tidak cukup. Harus disertai dengan kemampuan mengolah, membaca, dan merumuskan data," imbuhnya.
Jika tidak melihat data, masyarakat terlihat baik-baik saja pada akhir 2020 hingga awal 2021. Di periode ini, seolah-olah pandemi hampir hilang. Rasa ketakutan masyarakat sudah hilang. Ternyata, menurut survei Lazismu, banyak masyarakat yang menjual aset. Fenomena tersebut bisa dilihat dengan data, dengan survei.
Di sisi lain, merujuk hasil survei Lazismu, tidak banyak masyarakat yang memiliki cadangan atau aset yang bisa dijual. Kelas menengah baru, menurut Hilman, rentan jatuh kembali ke kelas menengah ke bawah. Banyak yang hanya bisa bertahan satu bulan dengan tabungan, cadangan, atau aset yang dijual.
Hal tersebut disampaikan oleh Hilman dalam kegiatan Public Expose Survei Lazismu bertajuk Dampak Sosial Ekonomi Covid-19 Terhadap Perilaku Berderma Masyarakat. Kegiatan yang digelar secara daring tersebut dihadiri oleh Hamid Abidin, Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia; Sita Rahmi, Manajer R&D Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan pengurus Lazismu se Indonesia.
Reporter: Yusuf

