Lazismu Donasikan Miliaran Rupiah untuk Korban Bencana

05/02/2021

LAZISMU.ORG - Tahun 2021 menjadi tahun yang berat bagi Bangsa Indonesia. Selain persoalan pandemi yang belum selesai, Indonesia dilanda beberapa bencana yang cukup besar. Mulai dari gempa di Sulawesi Barat, banjir di Kalimantan Selatan, tanah longsor di Sumedang, dan lain-lain. 

Lazismu sebagai pelaksana tugas Muhammadiyah dalam hal pelayanan sosial tergerak untuk membantu korban bencana agar kuat menghadapi cobaan tersebut. Bersama dengan seluruh keluarga besar Muhammadiyah, Lazismu masih terus konsisten melakukan penggalangan dana untuk meringankan beban para korban bencana. 

Lazismu Jawa Tengah misalnya, berhasil menghimpun dana kemanusiaan senilai Rp. 3.156.278.418,- per hari Rabu (3/2). Donasi ini berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah. 

Ikhwanushoffa menyebut bahwa Lazismu Jawa Tengah memiliki target hingga 4 miliar pada akhir Maret 2021. Sebelumnya, ia mentargetkan angka 2 miliar. 

"Denggan tingginya kepedulian masyarakat, insyaallah kami optimis target 4 miliar bisa tercapai. Bencana yang datang bertubi-tubi menumbuhkan empati yang mendalam di tengah masyarakat Indonesia dan warga Jawa Tengah khususnya," ujarnya ketika dihubungi lazismu.org.

Daerah-daerah di Jawa Tengah yang mendapatkan angka perolehan tinggi antara lain Lazismu Daerah Karanganyar sebanyak Rp. 312.840.600,-; Lazismu Daerah Sragen sebanyak Rp. 307.209.600,-; Lazismu Daerah Sukoharjo sebanyak Rp. 227.856.784,-; Lazismu Daerah Kebumen sebanyak Rp. 196.790.000,-; Lazismu Daerah Klaten sebanyak Rp. 185.869.149,-; dan Lazismu Daerah Solo sebanyak Rp. 185.554.239,-.

Muslih Nur Wahid, Eksekutif Program & Media Lazismu Sukoharjo, Jawa Tengah berharap agar Lazismu menjadi lembaga terpercaya bagi masyarakat dalam penyaluran zakat, infaq, dan sodaqoh. Lazismu perlu melakukan optimalisasi baik dari internal persyarikatan maupun masyarakat umum.

"Kita tetap bergerak mengajak masyarakat untuk berdonasi, baik menggunakan sistem door to door maupun melalui komunitas-komunitas di masyarakat," ujarnya kepada lazismu.org.

Di sisi lain, hasil galang dana yang dilakukan oleh Lazismu se Jawa Timur yang dilaporkan pada hari Selasa (2/2) mencapai angka Rp. 3.252.566.214,-. Angka ini lebih tinggi daripada yang berhasil dikumpulkan oleh Lazismu Jawa Tengah. 

Lazismu Daerah yang berhasil menggalang dana dengan pencapaian yang tinggi di Jawa Timur antara lain Lazismu Kota Malang sebanyak Rp. 363.505.920,-; Lazismu Kabupaten Sidoarjo sebanyak Rp. 331.308.000,-; Lazismu Kota Surabaya sebanyak Rp. 274.948.000,-; Lazismu Kabupaten Gresik sebanyak Rp. 270.989.623,-; Lazismu Kabupaten Lamongan sebanyak Rp. 265.357.000,-; dan Lazismu KLL PWA Jawa Timur sebanyak Rp. 226.351.300,-.

Aditio Yudono, Sekretaris Badan Pengurus Lazismu Jawa Timur menyebut bahwa sesuai dengan instruksi PWM Jatim tentang penghimpunan dana bencana, Lazismu Jawa Timur segera menindaklanjuti di tingkat bawah dengan menghimpun donasi kemanusiaan melalui Lazismu Daerah masing-masing. 

Menurutnya, selain berasal dari warga Muhammadiyah dan internal persyarikatan, donasi juga diperoleh dari masyarakat umum serta berbagai komunitas lokal daerah di Jatim. Hal ini adalah  wujud kedermawanan umat Islam dan masyarakat luas kepada saudara saudara kita yang tertimpa bencana, khususnya di Sulbar dan Kalsel.

"Harapannya, donasi dan partsipasi masyarakat akan terus mengalir sehingga dana yang terhimpun itu nantinya dapat bermanfaat bagi saudara-saudara kita yang tertimpa bencana. InsyaAllah selain untuk tanggap darurat, sebagian besar dana dialokasikan untuk proses rehabilitasi dan rekonstruksi di kawasan bencana. Tentu kami menunggu arahan dari PP Muhammadiyah," ujarnya kepada lazismu.org.

Sebagaimana diketahui, paska terjadi gempa bumi di Majene, Sulawesi Barat dan banjir di Kalimantan Selatan, keluarga besar Muhammadiyah meliputi Majelis, Lembaga, Organisasi Otonom, dan Amal Usaha di seluruh Indonesia saling bahu-membahu untuk meringankan beban korban bencana. Hasil penggalangan dana di atas adalah yang berasal dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di provinsi lain di seluruh Indonesia, jumlahnya bisa lebih banyak.

Reporter: Yusuf