MDMC Jawa Tengah Respon Bencana Banjir

10/02/2021

JAWA TENGAH - Setelah Kalimantan Selatan, kini Jawa Tengah yang dilanda banjir. Setidaknya ada 8 kabupaten/kota di Jawa Tengah yang dilanda banjir.

8 kabupaten/kota tersebut antara lain Kabupaten Grobogan, Kabupaten Pati, Kabupaten Kudus, Kota Semarang, Kabupaten Kendal, Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, dan Kabupaten Batang. Selain banjir, Jawa Tengah juga dilanda bencana tanah bergerak di Purbalinga dan tanah longsor di Boyolali.

Bencana-bencana tersebut secara beruntut terjadi sejak akhir bulan Januari hingga saat ini, Rabu (10/2).

M Taufiq Ulinuha, Kepala Pusat Data dan Informasi Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Tengah menyebut bahwa bencana-bencana di Jateng sudah terjadi sejak bulan November 2020.

"Awalnya, November 2020, Desember 2020, dan Januari 2021 itu Jateng bagian barat. Sekarang Januari - Februari bergeser ke Jateng daerah Jalur Pantura dengan mayoritas bencana banjir. Di awali dari Grobogan, Demak, Kudus, Semarang, Kendal, Batang, hingga Pekalongan Kota dan Kabupaten," ujarnya melalui saluran telepon.

Di beberapa tempat, sebut Ulin, MDMC menurunkan personil relawan Muhammadiyah sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan yang dimiliki. Ada yang menurunkan relawan SAR seperti di Semarang, Pekalongan, dan Kudus. Sebagian daerah menurunkan relawan untuk distribusi logistik seperti Grobogan.

Ia menyebut bahwa MDMC Jawa Tengah mendorong MDMC daerah untuk melakukan respon tanggap darurat bencana sesuai dengan kebutuhan lapangan dan kemampuan yang dimiliki masing-masing.

"Namun MDMC tidak sendirian. Kita bekerja sama dengan relawan atau NGO lain. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh MDMC pasti akan disampaikan kepada relawan lain yang memiliki kapasitas," imbuhnya.

Dalam hal kebutuhan mendesak MDMC, Ulin menyebut bahwa setiap daerah relatif berbeda. Sebagian daerah membutuhkan perahu untuk evakuasi korban, sebagian lain membutuhkan logistik untuk dapur umum, sebagian lain membutuhkan uang tunai.

Menurutnya, yang berperan besar dalam kebencanaan adalah masyarakat terdampak itu sendiri. Relawan, pemerintah, TNI, polisi, tim SAR, dan lain-lain menjadi faktor kedua setelah diri sendiri. Maka, Ulin berpesan agar masyarakat di tengah kondisi seperti ini mulai mempelajari potensi bencana yang ada di daerah masing-masing.

"Jadi ketika bencana datang sudah siap dan tidak menjadi korban. Di Semarang kemarin, banyak masyarakat yang tidak siap. Padahal Semarang sudah langganan banjir. Jadi masyarakat harus bareng-bareng meminimalisir potensi bencana yang ada dan mempelajarinya," pesannya kepada lazismu.org.

Sementara itu, untuk masyarakat umum, ia berpesan agar masyarakat membantu sesama yang terdampak bencana dan menyisihkan sebagian hartanya melalui Lazismu.

Reporter: Yusuf