

MALANG -- Lirik lagu Iwan Fals berjudul Ambulans Zig-Zag menceritakan tentang deru ambulans yang masuk pelataran rumah sakit membawa korban kecelakaan. Lalu disambut para medis berdatangan kerja cepat membawa korban ke ruang periksa untuk menyelamatkan pasien.
Lirik ini memiliki kaitan cerita dalam konteks sosial-kemanusiaan lembaga amil zakat dalam situasi darurat. Salah satunya Lazismu yang di beberapa wilayah memiliki layanan ambulans. Menurut data Lazismu Jawa Timur dalam program Indonesia Mobile Clinic (IMC) di pilar Kesehatan, terdapat armada ambulans yang tersebar di berbagai Kabupaten/Kota lebih dari 60 unit yang mayoritas berjenis transporter.
Seiring dengan meningkatnya volume kebutuhan masyarakat dan dinamika di lapangan, ditemukan beberapa peluang dan tantangan. Anggota Badan Pengurus LAZISMU Jatim, Achmad Saifu, yang membidangi pelayanan ambulans dan aksi kemanusiaan mengatakan perlunya standar pelayanan, skema pendanaan operasional, dan kompetensi driver yang saat ini masih belum seragam.
“Sistem koordinasi antar-daerah perlu dicermati sehingga ada integrasi untuk mewujudkan layanan yang responsif, profesional, akuntabel dan tepat sasaran”, jelasnya dalam wadah diskusi terarah yang diselenggarakan oleh Lazismu Jawa Timur, pada Rabu (15/7/2026) bertempat di Kampung Mahasiswa Dau, Malang.
Tujuan diselenggarakannya dikusi terarah ini, kata Achmad untuk memetakan berbagai masalah soal pernak-pernik layanan ambulans dan mencari pemecahan solusinya. Oleh sebab itu, kegiatan diskusi ini terfokus tentang pengelolaan dan operasional ambulans yang dibungkus dengan tema “Menuju Layanan Ambulans Lazismu se-Jatim Profesional dan Terintegrasi”.
Ahcmad Saifu dan amil se-Jawa Timur mencari referensi mengenai standar operasional yang ada dari berbagai sumber. Para amil juga berbagi pengalaman bagaimana ambulans di daerahnya masing-masing beroperasi melayani masyarakat.
"Kita mengidentifikasi bersama berbagai kendala, utamanya berkaitan dengan operasional, pendanaan dan pemeliharaan ambulans di masing-masing daerah. Maka standardisasi layanan menjadi penting. Ia berharap dapat menyusun draf standardisasi pelayanan ambulans bersama yang menyentuh aspek pelayanan pasien dan jenazah", pungkasnya.
Diskusi ini juga membahas integrasi Sistem Jaringan yaitu membangun sistem komando atau koordinasi armada (Sistem Jaringan Ambulans Lazismu se-Jatim) secara digital agar lebih responsif terhadap permintaan layanan atau rujukan antarkota.
Hal yang tidak boleh terlupakan keberlanjutan finansial yaitu merumuskan formula pendanaan operasional ambulans yang mandiri dan akuntabel tanpa membebani mustahik atau masyarakat pengguna, ungkap Pak Mamak sapaan karibnya.
Agenda diskusi tersebut diikuti oleh 45 orang yang terdiri dari Badan Pengurus Lazismu dari 17 Daerah kabupaten dan kota di Jawa Timur yang melibatkan partisipasi pengelola dan driver ambulans. Bertindak sebagai narasumber adalah Jamilatus Sa'diyah dari Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim dan Zaenal Abidin, Wakil Sekretaris LAZISMU Jatim yang juga pengajar Kesejahteraan Sosial Universitas Muhammadiyah Malang.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Adit]

