

GUNUNGKIDUL -- Raungan suara motor bercampur debu batuan gamping mewarnai perbukitan Saptosari, Gunungkidul. Rombongan komunitas sepeda motor berjaket jingga melesat menembus kesunyian perbukitan yang kering akibat kemarau panjang.
Komunitas sepeda motor itu melaju lewat pelosok perbukitan sebelah selatan Yogyakarta. Di balik agenda touring itu, terselip misi kemanusiaan untuk warga yang dirundung dahaga panjang. Misi kemanusiaan ini hasil kolaborasi antara Komunitas BikersMu D’Orange, Lazismu Universitas Ahmad Dahlan (UAD), dan Lembaga Pengembangan Studi Islam (LPSI) UAD.
Mengusung tajuk Touring and Sharing, rombongan bertolak dari kampus menuju Bundaran Planjan, Kapanewon Saptosari, untuk menyalurkan 100 tangki air bersih bagi masyarakat terdampak kekeringan.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul per Agustus 2026, diperkirakan 12 kapanewon (red: kecamatan) rentan dilanda kekeringan, termasuk kawasan perbukitan di Gedangsari, Nglipar, hingga Tanjungsari.
Musim kemarau tahun ini, BPBD menempatkan sejumlah kawasan di Kabupaten Gunungkidul ada dalam bayang-bayang krisis air. Air tanah sulit dijangkau akibat struktur batuan gamping yang berpori, sementara tampungan air hujan perlahan mengering.
Membeli air tangki secara mandiri menjadi beban biaya tersendiri bagi kehidupan warga di sekitarnya. Kondisi itu mengundang perhatian Lazismu UAD untuk bergerak cepat. Ketua Lazismu UAD, Sunu Prasetya Adi, mengatakan, penyaluran air bersih menjadi signifikan untuk merespons kebutuhan mendesak masyarakat selama periode kekeringan.
“Agar bantuan tidak salah alamat, kami menggandeng Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) di lima wilayah sasaran, yakni PCM Saptosari, Nglipar, Gedangsari, Ngawen, dan Tanjungsari. Struktur akar rumput inilah yang menjadi peta titik-titik tandon warga yang paling kritis dan belum tersentuh pasokan bantuan air bersih”, paparnya.
Sunu menjelaskan bahwa bantuan air bersih sebanyak 100 tangki dialirkan langsung ke penampungan komunal dan tandon-tandon warga pada Sabtu, (26/9/2026). Langkah ini bukan kali pertama, kiprah sosial lembaga filantropi kampus ini konsisten merambah Gunungkidul.
Pada Oktober 2024, Lazismu UAD mengirimkan 100 tangki air beserta beras ke Paliyan. Pada Agustus 2026 lalu, pasokan 100 tangki juga sukses didistribusikan ke Pringombo, Rongkop. Ia menambahkan, keterlibatan struktur pimpinan Muhammadiyah di tingkat cabang adalah kunci agar kebutuhan yang disalurkan tepat sasaran karena merekalah yang paling paham kondisi warganya di lapangan.
Kehadiran Rektor UAD di tengah komunitas motor menegaskan bahwa perjalanan ini bukan sekadar agenda komunitas, melainkan wujud tanggung jawab sosial sivitas akademika. Misi kemanusiaan di tanah berbatu ini belum usai. Tim Lazismu UAD memastikan terus memantau asesmen kebutuhan lapangan bersama mitra lokal. Selama kemarau masih menyorot terik, kolaborasi ini akan terus melaju ke pelosok Gunungkidul memastikan tandon warga yang masih kering dapat terisi air bersih.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu UAD/Mawar]

