

SUKABUMI -- Layla Nur Alpiah murid kelas 11 Madrasah Aliyah (MA) Nurhasanah tak biasa mengais sampah. Begitu juga dengan Siti Ainsa teman sekelasnya, yang merasakan risi dengan bau tak sedap dari sampah. Siswa di MA Nurhasanah ini, setelah mengikuti program Rekabumi atau preduksi kelola sampah Sukabumi, sekarang cekatan memilah sampah.
Program Rekabumi berpusat di MA Nurhasanah, Desa Sindangraja, Kecamatan Curugkembar, Kabupaten Sukabumi. Inisiasi program tersebut merupakan hasil kolaborasi Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) bersama Lazismu Jawa Barat dalam pilar program lingkungan yang dimulai sejak 18 Juli 2026.
Selama ini, semua sampah di sekolah dikumpulkan lalu dibakar. Di sekolah itu, petugas kebersihan mengakhiri limbah sampah dengan membakarnya. Kepala Sekolah MA Nurhasanah, Nurhayati, mengungkapkan, limbah sekolah tidak dipilah sama sekali, terutama sampah plastik. Butuh waktu untuk memilahnya, maka jalan terakhirnya dibakar saja.
Saat tata kelola sampah dilakukan seadanya, kata Nurhayati, jika sudah penuh butuh penanganan yang rumit. Jadi dilema, dibakar menimbulkan polusi dan mengganggu warga sekitar. Ia menyadari lingkungan sekolah masih absen dalam pengelolaan sampah yang baik dan tepat.
Kelola Limbah Sampah
Dari pengalaman mengelola sampah yang masih seadanya itu, tercetus harapan bagaimana mencari solusinya. Beruntung sekolah ini dipertemukan dengan lingkungan akademisi yang peduli limbah sampah dari Universitas Muhammadiyah Sukabumi.
Johanda, penanggung jawab program Rekabumi dari Program Studi Pendidikan Biologi UMMI, menyeritakan bahwa ada banyak jalan menangani limbah sampah yang berserakan. Meski perlu usaha untuk memilahnya, namun ini merupakan cara alternatif.
“Tidak ada yang mudah dan sulit. Tetapi bagaimana menyikapinya dengan cara tepat agar sampah tak menimbulkan persoalan baru”, bebernya. Paling tidak, kata Johanda, cara ini berjalan di empat pilar utama pengolahan limbah.
Mulai dari bagaimana mengelola budidaya magot (larva lalat tentara hitam) untuk mengurai yang organik, pembuatan limbah organik sebagai pakan ternak, meracik yang organik jadi kompos untuk pupuk, serta pemanfaatan plastik menjadi ecobrick.
Pemantauan kegiatan siswa dilakukan hingga akhir Juli dengan penyampaian materi pembuatan pupuk kompos dan magot diberikan sebagai pelengkapnya yang sebelumnya disampaikan materi tentang pembuatan dan pemanfaatan limbah organik.
Pertengahan Agustus, pembimbingan dan pengukuhan ulang siswa serta pembuatan ecobrick dilakukan secara bertahap yang dimulai pada awal bulan itu. Literasi dan pelatihan pengelolaan limbah sampah yang bersahabat diberikan kepada siswa MA Nurhasanah.
Hingga September, dukungan kuat masih diberikan terhadap persoalan lingkungan yang dialami Sekolah Nurhasanah. Tidak ada yang instans. Semuanya membutuhkan proses agar seluruh siswa tak belajar sendirian.
Dari awal didampingi, hasilnya sekarang setelah tiga bulan berjalan, prinsipnya untuk mengubah kebiasaan membuang sampah, tetapi juga membangun sistem pengolahan limbah sampah yang berkelanjutan dari skala rumah tangga hingga lingkungan sekolah.
Sementara itu, UMMI menerjunkan tim mahasiswa untuk menemukan kendala dan menilai hasil di lapangan menjadi bahan diskusi dan data dalam melakukan rekognisi yang model kegiatannya di setarakan dengan Kuliah Kerja Nyata.
Syahdan salah seorang mahasiswa yang terlibat aktif dalam program ini mengatakan terdapat kendala lapangan, seperti tantangan musim kemarau serta keterbatasan wadah magot. Hal serupa diungkapkan Dede Nur Endah bahwa tantangan besarnya adalah bagaimana mengajak siswa untuk peduli terhadap lingkungannya.
Sementara itu, Fauzan Ramadani berharap kendala yang ditemui di lapangan dapat segera tertarasi sembari berkoordinasi dengan Lazismu Jawa Barat yang dalam praktiknya butuh komunikasi lebih lanjut seiring masuknya bantuan fasilitas baru dalam program ini.
Memasuki bulan ketiga pelaksanaan, telah terjadi perubahan kebiasaan siswa dan warga sekitar. Bukti nyatanya, dari hanya lima siswa yang tertarik, kini program tersebut sudah mengundang minat 28 siswa yang aktif bergerak bersama memilah dan mengolah sampah dengan baik dan benar.
Harus diakui, sekolah merupakan basis dasar masyarakat yang sering kali belum tersentuh program lingkungan. Melalui sekolah, kita menanamkan pola pikir sejak dini bahwa sampah bisa bermanfaat jika dikelola dengan benar.
Tak hanya itu, sekolah juga mengoperasikan sistem Bank Sampah. Sampah yang dibawa siswa maupun warga disetorkan ke tempat pengolahan untuk ditimbang dan ditukar dengan poin. Poin yang terkumpul bisa ditukarkan kembali dengan berbagai produk kreatif buatan para siswa, salah satunya kerajinan ecobrick.
Aisyah murid kelas 12 MA Nurhasanah selaku penanggung jawab ecobrick mengatakan mereka dahulu tidak peduli pada sampah, tapi setelah adanya program ini kini mereka dapat membuat karya lewat sampah.
"Sekarang kalau melihat sampah, bisa dibuat kerajinan," katanya. Sekarang bersama teman-temannya sampah dimanfaatkan jadi kompos. Botol-botol plastik yang dipadatkan menjadi ecobrick kini disulap menjadi beragam kerajinan tangan menarik, seperti gantungan kunci.
Wakil Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Barat, Endang Mahbub, menegaskan bahwa ada komitmen untuk terus mendukung dan melanjutkan program kolaborasi ini agar menjadi contoh model pengolahan sampah yang mandiri dan berkelanjutan di Sukabumi.
Endang mengatakan bahwa keberlanjutan program pengolahan sampah memerlukan dukungan sarana dan prasarana penunjang yang memadai. Untuk itu, Lazismu Jawa Barat menyiapkan sejumlah inovasi alat pendukung, seperti penyediaan tempat pembakaran sampah khusus (rocket stove) yang lebih aman, mesin pencetak paving block dari olahan limbah plastik, hingga penambahan mesin pengolah sampah lainnya agar mampu menghasilkan lebih banyak produk bermanfaat.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Jabar]

