

BANYUMAS -- Kekeringan tidak hanya melanda kabupaten Cilacap, sejumlah wilayah di kabupaten Banyumas, di kecamatan dan desa mengalami kekeringan. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas ada sejumlah 8.371 kepala keluarga terdampak kekeringan.
Sementara itu, hingga pertengahan Agustus 2026, distribusi air bersih telah menjangkau 39 desa atau kelurahan dengan total 1,311 juta liter air. Kondisi itu menggerakan jaringan relawan Lazismu dan MDMC Banyumas dalam program Indonesia Siaga untuk merespons bencana hidrometeorologi seperti kekeringan air saat ini.
Fokus bantuan penyaluran air bersih dari Lazismu Banyumas, menyasar tiga kecamatan yang dianggap sebagai wilayah paling parah terdampak kekeringan. Kecamatan itu meliputi kecamatan Sumpiuh, Ajibarang dan Gumelar, di Kabupaten Banyumas.
Seperti disampaikan dalam akun resmi media sosial Lazismu Banyumas (2/9/2026), sebanyak 27.000 liter air bersih tuntas dalam 1 hari didistribusikan untuk 200 kepala keluarga terdampak kekeringan di Desa Sawangan dan Desa Jingkang, Kecamatan Ajibarang.
Penyaluran juga menyasar Kecamatan Gumelar, bantuan air bersih dikirim ke Desa Samudera, Samudera Kulon, dan Telaga. Sekitar 1.000 liter air bersih diserahkan melalui Camat Gumelar untuk warga terdampak.
Distribusi air bersih kembali dilakukan di Kecamatan Sumpiuh. Bantuan disalurkan ke Desa Karanggedang, Kebokura, Kemiri, Kradenan, dan Nusadadi. Sumber air bersih diproleh dari mata air milik Ibu Tuniyem, kader PC Aisyiyah Sumpiuh di Desa Lebeng.
Sumber air bersih diperoleh dari mata air milik Ibu Tuniyem, kader PC Aisyiyah Sumpiuh di Desa Lebeng. Titik sumber air ini menjadi penyambung kebutuhan warga atas akses air bersih selama kemarau.
Salah seorang relawan MDMC Sumpiuh, Gustono, sigap mengatur distribusi air bersih agar merata. “Air bersih ini layak untuk untuk diminum, selain itu warga bisa menggunakannya untuk masak dan mandi. Yang paling penting sebelum anak-anak berangkat sekolah air harus tersedia jangan sampai telat distribusinya”, pungkasnya.
Warga terdampak kekeringan sangat terbantu dengan kehadiran tangki air bersih. Salah seorang warga, Badriyah, dari Desa Nusadadi, Sumpiuh, mengaku sangat terbantu. “Alhamdulillah ada bantuan air bersih. Pakaian sekolah cucu saya bisa kembali bersih setelah di cuci dengan air bersih”, imbuhnya.
Respons senada disampaikan warga lain yang terdampak. Dengan adanya pasokan rutin air bersih, kegiatan rutin rumah tangga dan sekolah bisa kembali berjalan normal kendati kemarau belum berakhir.
Titik sumber air ini menjadi satu-satunya harapan utama warga selama kemarau dalam akses air bersih. Relawan MDMC Sumpiuh, Gustono, bertugas mengatur distribusi agar merata. “Air bersih ini layak dikonsumsi untuk minum. Warga juga menggunakannya untuk keperluan masak dan mandi. Yang paling penting, saat anak-anak berangkat sekolah air tersedia, karena itu, kami jaga agar tidak telat distribusi”, ujarnya.
Relawan dari Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Banyumas bersama Yayasan Gerakan Beramal Baik juga mendukung Lazismu untuk bergerak cepat. Air bersih terus didistribusikan ke desa-desa terdampak.
Jelang akhir Agustus 2026, aksi respons bencana kekeringan ini mampu menjawab atas 28.222 jiwa yang tercatat dampak kekeringan. Mewakili PDPM Banyumas, Subhan Purnomo Aji mengatakan Muhammadiyah Banyumas dan Gerakan Beramal Baik berkomitmen untuk terus bergerak selama dibutuhkan.
“Musim kemarau masih berlangsung, selama hujan belum turun mengisi mata air sumur warga kami akan terus distribusikan air bersih”, katanya dengan penuh komitmen. Relawan juga tidak berhenti mengajak masyarakat untuk ikut berdonasi mambantu warga lain yang terdampak kekeringan di wilayah kabupaten Banyumas.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Banyumas]

