

KUBU RAYA -- Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) telah menampilkan krisis sosial dan ekonomi di Kalimantan Barat. Karhutla merupakan bencana berulang yang sampai saat ini membutuhkan penanganan serius.
Setiap bencana selalu meninggalkan jejak yang pilu. Dampak nyata karhutla adalah ancaman terhadap kesehatan karena kualitas udara yang terus memburuk. Kualitas udara ini akan sangat berbahaya jika dihirup kelompok rentan, salah satunya adalah anak-anak dan balita.
Menurut laporan Kementerian Kesehatan, tercatat bahwa terjadi lonjakan tajam gangguan pernapasan di wilayah terdampak karhutla. Sejak Agustus – September 2026, ada sekitar 170 ribu lebih kasus infeksi saluran pernapasan (ISPA) di tiga provinsi Kalimantan yang menjadi kawasan berbahaya. Kondisi kesehatan masyarakat semakin merisaukan akibat udara di kota yang diselimuti kabut asap tebal.
Status kedaruratan tersebut direspons Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Barat. Melalui program Indonesia Siaga yang diusung Lazismu dan diperkuat oleh One Muhammadiyah One Response (OMOR), relawan kemanusiaan bergerak cepat menyelamatkan kelompok rentan dengan meluncurkan fasilitas Rumah Oksigen Balita pada, Sabtu, 19 September 2026.
Rumah Oksigen Balita itu berlokasi di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Kalimantan Barat, Jalan Arteri Supadio. Keberadaannya lebih dari sekadar posko kesehatan biasa. Rumah Oksigen Balita dirancang komprehensif sebagai tempat berlindung yang terpadu, aman, dan berorientasi pada keramahan anak.
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Barat, Nilwani Hamid, mengatakan Rumah Oksigen Balita adalah salah satu wujud kepedulian Muhammadiyah terhadap masyarakat yang terdampak karhutla.
“Ini kepedulian Muhammadiyah terhadap masyarakat, insyaallah kita akan sebarluaskan, dan akan terus mendorong di kabupaten/kota di Kalimantan Barat, untuk membangun Rumah Oksingen”, ujarnya, dilansir dari laman resmi mykalbar.com, pada Sabtu, (19/9/2026).
Koordinator Poskor Penanganan Karhutla Muhammadiyah Kalbar, M. Hermayani Putera, mengutarakan Rumah Oksigen Balita ini merupakan rumah oksigen ke-12, yang didirikan Muhammadiyah Kalbar.
Hermayani mengungkapkan bahwa ada beberapa titik Rumah Oksigen yang bisa diakses oleh masyarakat secara gratis di Pontianak dan Kubu Raya. Khusus fasilitas di sini, menjadi Rumah Oksigen pertama untuk melayani balita dan ibu menyusui.
Ia menilai, penanganan terhadap balita membutuhkan layanan yang lebih spesifik. Karena itu, bukan merupakan fasilitas kesehatan, tetapi disiapkan sebagai tempat untuk situasi darurat dalam melakukan pertolongan pertama bagi balita dan anak-anak yang terdampak asap.
Di Rumah Oksigen Balita ini disediakan fasilitas bermain. Ada Ruang Sensori dan Playground. Hak bermain serta stimulasi motorik anak tetap difasilitasi dengan aman. Di ruang berbeda, terdapat layanan Psikososial Anak yang diisi tenaga relawan untuk pendampingan khusus dalam mengurangi tingkat kecemasan dan trauma anak selama bencana berlangsung.
Bagi para ibu menyusui kenyamanannya tetap dijamin dalam ruang laktasi. Fasilitas ini didesain tertutup guna menjaga privasi, memastikan nutrisi dan ASI untuk si kecil dapat terus diberikan tanpa hambatan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Kalbar]

