

BLITAR -- Cangkang telur sebagai lapisan paling luar berfungsi melindungi bagian isi telur. Protein hewani yang terkandung dalam telur bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Kualitas telur sangat ditentukan bagaimana merawat ayam petelur yang baik.
Di Kabupaten Blitar, tepatnya di Desa Ampel Gading, Kecamatan Selorejo dan Desa Tunggorono, Kecamatan Doko, terdapat kelompok usaha peternakan. Mereka terdiri dari 20 orang penerima manfaat Kampung Berdaya Unggas yang berlatar belakang buruh tani, pekerja serabutan, pelaku usaha mikro hingga pekerja yang sudah pensiun.
Keberadaannya merupakan upaya yang dilakukan Lazismu Jawa Timur dalam intervensi program pemberdayaan untuk berkomitmen mengoptimalkan pendayagunaan dana zakat produktif melalui program Kampung Berdaya Unggas Petelur.
Perwakilan Lazismu Jawa Timur, Agus Lukman Hidayat mengatakan program pemberdayaan ini menggunakan pendekatan holistik dari aset hingga pemasaran dengan rantai nilai yang terintegrasi.
“Program Kampung Berdaya Unggas Petelur tidak sekadar memberikan bantuan fisik, melainkan menerapkan sistem pendampingan hulu-ke-hilir”, ujarnya saat Divisi Monitoring dan Evaluasi Lazismu Pusat mengunjungi kandang unggas pada, Rabu, (23/9/2026).
Ia menjelaskan bahwa bantuan berupa penyediaan kandang, bibit ayam petelur (pullet), pakan, obat-obatan, serta pendampingan teknis dan medis rutin difasilitasi penuh melalui kerja sama dengan kemitraan lokal. Salah satunya Dayat Farm dari pelaku usaha Jatinom dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah setempat.
Kami tidak hanya memberikan bantuan berupa modal aset, tetapi membangun ekosistem usaha. Bantuan dialokasikan lengkap mulai dari sarana produksi hingga integrasi pemasaran rantai nilai (value chain).

Intervensi Secara Komprehensif
Lazismu dengan pilar ekonomi lewat Peternakan Masyarakat Mandiri, merancang program ini untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat penerima manfaat (mustahik) berbasis potensi wilayah yang berkelanjutan.
Sigit Prasetyo selaku pendamping bersama Ketua PDM Blitar mengambil langkah sinergis untuk memastikan pemberdayaan ekonomi yang dirancangnya bernilai ekonomis. Sigit mengutarakan untuk meningkatkan margin keuntungan peternak, hasil produksi telur diarahkan langsung ke pasar lokal dan toko-toko eceran tanpa melalui jalur tengkulak.
“Strategi ini memberikan nilai tambah keuntungan sekitar Rp 1.000 hingga Rp1.500 per kilogram telur yang langsung dirasakan oleh warga untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga”, pungkasnya.
Dengan demikian ada transformasi ekonomi warga dan potensi wilayah yang bisa digali sehingga pemberdayaan masyarakat dalam skala kecil-menengah ini bisa memberikan dampak ekonomi bagi penerima manfaat dan masyarakat sekitarnya.
Nilai manfaat itu dirasakan langsung oleh Budi Santoso salah seorang penerima manfaat dari Desa Tunggorono, Kecamatan Doko. Budi mengungkapkan dalam prosesnya ada perubahan mendasar dalam perekonomian keluarganya.
“Sebelum adanya program ini, Ia hanya bergantung pada pekerjaan serabutan di sektor pertanian dan buruh bangunan dengan penghasilan pas-pasan”, ungkapnya.
Budi mengatakan, sebelumnya penghasilan yang didapat sangat tidak menentu. Pada periode pertama kami mengelola 400 ekor ayam, dan sekarang di periode kedua jumlahnya sudah berkembang menjadi 688 ekor. Hasil penjualannya sangat membantu menopang kebutuhan harian dan biaya sekolah anak yang terus meningkat.
Potensi geografis wilayah Blitar dengan kondisi udara yang sejuk dan minim polusi memberikan peluang jitu dalam keunggulan strategis yang mendukung ketahanan fisik ayam serta produktivitas telur jangka panjang.
Oleh karena itu, kata Sigit, pendampingan berkelanjutan dan pembinaan karakter usaha adalah kunci sukses program ini yang terletak pada pola pendampingan intensif dan batas waktu yang elastis.
Tentu saja pemantauan dilakukan secara berkala melalui kunjungan serta komunikasi melalui saluran jejaring online. "Dunia peternakan dengan dinamika teknisnya sangat tinggi, mulai dari efisiensi pakan hingga manajemen revaksinasi agar produktivitas dan kualitas cangkang telur tetap terjaga”, bebernya.
Target kami bukan sekadar memberi bantuan modal, melainkan membentuk mentalitas usaha jangka panjang. Dalam skema tata kelola keuangan, sambung Sigit, penerima manfaat diarahkan untuk mengalokasikan maksimal 25% hasilnya untuk konsumsi.
Sementara itu, sisanya sebesar 75% dikembalikan sebagai modal re-investasi usaha secara berkelanjutan hingga 4 – 5 periode dalam skala 6 – 8 tahun. Target jangka panjangnya, menaikkan kapasitas populasi ternak secara mandiri dari ratusan menjadi ribuan ekor.
Dari Pemberdayaan ke Penguatan Spiritual
Dalam perannya, Lazismu sebetulnya memainkan peran penting di luar aspek ekonomi. Program Kampung Berdaya Unggas Petelur turut menampilkan penguatan sosial dan nilai-nilai keagamaan sebagai rintisan program Kampung Berkemajuan.
Mistamaji misalnya seorang penerima manfaat dari Desa Ampel Gading, Kecamatan Selorejo yang juga aktif sebagai Ketua PCM Selorejo, menyebutkan bahwa seleksi penerima manfaat diselaraskan dengan keaktifan warga dalam kegiatan keagamaan masyarakat.
"Pemberdayaan berjalan berdampingan dengan pembinaan dakwah yang inklusif. Di Tingkat cabang dan ranting, peternak diajak aktif dalam pengajian serta kajian rutin jamaah. Bahkan kebersamaannya memupuk gotong-royong antarwarga lintas elemen sosial masyarakat”, tuturnya.
Keberlanjutan program Kampung Berdaya Unggas Petelur yang dirancang Lazismu Jawa Timur diharapkan dengan zakat produktif yang disalurkan dapat terus berkembang. Mampu mengentaskan kemiskinan, serta bisa mengubah penerima manfaat (mustahik) menjadi pemberi zakat (muzaki) yang mandiri dan berkemajuan di masa depan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

