

JAKARTA --- Kesehatan mental merupakan bagian yang sangat penting untuk kesehatan jasmani dan rohani. Kesehatan mental juga berperan utama dalam mendukung kesejahteraan hidup seseorang sebagai fondasi mengembangkan keterampilan komunikasi secara sosial dan emosional. Sejauh mana titik singgung kesehatan mental dan kecerdasan emosional dalam kultur saling berbagi (berderma).
Hal itu terungkap di gelaran Talkshow Filantropi dalam rangka memperingati Milad Lazismu yang ke-23, di Gedung Pusat Dakwah Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, pada Rabu, (23/7/2025). Talkshow dipandu oleh Direktur Utama Lazismu Pusat, Ibnu Tsani, menghadirkan narasumber yaitu Pendakwah dan Konten Kreator Islam Habib Husein Ja’far Al-Hadar dan Guru Besar Filantropi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Amelia Fauzia.
Balutan tema milad bertajuk Lazismu Untuk Kesejahteraan Semua, mengawali Ibnu Tsani dengan mengungkap realitas yang terjadi di masyarakat terkait kesehatan mental sebagai kondisi psikologis. Menurutnya, berdasarkan diskusi di internal Lazismu, beberapa lembaga filantropi belum ada yang mengangkat isu ini secara khusus.
Sementara itu, isu kesehatan mental menjadi perhatian WHO dan Kementerian Kesehatan RI. Kesehatan mental bisa dialami individu baik dalam keluarga, dunia kerja dan kondisi sosial lainnya. Karena itu, ini menjadi isu strategis, yang dalam konteks tertentu program kesehatan mental layak untuk dibicarakan di sini.
“Seberapa penting kesehatan mental dan mengapa isu ini belum banyak yang melirik,” tegasnya kepada Habib Husein. Di samping itu, sambung Ibnu Tsani, bagaimana kesehatan mental dapat berdampak pada kesejahteraan seseorang yang nanti akan diulas oleh Amelia Fauzia dari kacamata filantropi Islam.
Secara umum, realitas isu kesehatan mental ini menurut Habib Husein dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu suasana kerja yang tidak sehat (toxic) yang akhirnya tidak ideal secara mental, pola asuh dalam keluarga yang keliru, dan yang terakhir ekosistem digital kita yang tidak ramah secara mental.
Ijinkan saya berangkat dari sisi historis Muhammadiyah yang sejak berdiri gerakan dakwahnya berpijak pada teologi Al-maun. Sebagaimana diungkjapkan Abdul Mu’ti dalam sambutannya di milad Lazismu, bahwa kultur berbagi ini berawal dari DNA Muhammadiyah. Ini terbukti dari perkembangan dakwahnya yang menyasar pendidikan, kesehatan dan kepedulian sosial, papar Habib Husein.
Pertanyaannya, mengapa hal tersebut didorong Muhammadiyah di kala itu pada abad ke-20. Kiyai Ahmad Dahlan Dahlan mendorong kesalehan tidak berhenti dengan ritual dan kesalehan personal, tapi ditransformasi dalam kehidupan nyata yang berwujud pada kesalehan sosial. Saat itu, religiusitas cenderung diukur dari ritualitas dengan sebaik-baiknya.
Tentu itu tantangan di zamannya, nah sekarang tantangan tersebut tidak menjadi tantangan yang besar. Habib Husein mengatakan, Indonesia ada di tantangan baru, yang dalam konteks ini perlu ada lompatan dari teologi Al-Maun menjadi psikologi Al-Maun. Apa maknanya, tentu harus mulai merilis isu kesehatan mental, karena secara kualitas dan kuantitas ini menjadi isu yang relevan di era transformasi digital sekarang ini.
Secara kuantitatif, kata Habib Husein, datanya di RI ada 32 juta jiwa yang mengalami kondisi kesehatan mental. Kondisi itu menghantui anak-anak muda di Indonesia. Artinya sepuluh dari sepuluh anak muda ada yang memiliki masalah kesehatan mental. Sering ditemukan yang paling minim adalah gejala stress dan depresi, dan yang paling tinggi melukai diri sendiri hingga berdampak negatif melakukan bunuh diri.
Adapun secara kualitas ada banyak sekali catatan seseorang mati jiwanya diketahui memiliki masalah kesehatan mental. Orang itu secara fisik bugar, tapi tidak hidup jiwanya karena kondisi kesehatan mentalnya. “Karena punya masalah kesehatan mental, dia bernyawa tapi tidak berjiwa,” pungkasnya.
Segala upaya dilakukan, seperti di sekolahkan, diberi pekerjaan bahkan sampai dinikahkan, karena ada masalah kesehatan mental dalam dirinya yang terjadi timbul masalah baru. Ini ancaman besar bagi setiap pribadi yang mengalami kondisi psikologis seperti ini.
Berdasarkan pengalamannya, terang Habib Husein, sudah empat tahun mendirikan rumah singgah kesehatan mental yang bernama Rumah Cahaya. Habib Husein menemukan selama ini yang datang untuk mendapatkan bantuan pendampingan kesehatan mental mayoritas anak-anak muda.
“Empat tahun saya dan kawan – kawan di Rumah Cahaya mengelola pendampingan orang yang bermasalah dengan kesehatan mentalnya,’ katanya. Problemnya yang didapati berjenjang, pertama dia tidak punya kesadaran tentang masalah mental. Dia tidak tahu dirinya bermasalah mental.
Kedua, lanjutnya, ada orang sudah sadar tapi tidak tahu mau ke mana. Karena sebagian tidak bisa membedakan psikolog dan psikiater. Ketiga, ada orang sudah sadar namun tidak tahu mana psikolog dan psikiater yang tepat untuk dirinya. Bahkan ada yang sudah tahu tapi malu, maka yang terjadi ada pelabelan negatif kepada orang itu bahwa dia gila.
Lantas, jika ditanya secara syariah bahwa orang yang mengalami kondisi kesehatan mental itu masuk di asnaf apa, menurut Habib Husein, Lazismu harus hadir dalam persoalan kesehatan mental. Filantropi dengan program-program inovasinya bisa menyasar, jika tidak bisa dengan zakat karena proses penentuan asnafnya, maka bisa gunakan infak, sedekah atau lainnya sesuai ketentuan syariah.
“Terutama bagi mereka kelompok yang termaginalkan dalam ekonomi, pendidikan dan sosial. Kondisi kesehatan mental menjerat mereka berawal dari problem dan risiko hidup yang krusial,” tandasnya.
Ada buku menarik yang bisa saya kutip, buku bagus itu berjudul Psikologi Uang yang ditulis oleh Morgan Housel. Diterangkan bahwa ada keterkaitan antara masalah uang dan kondisi kesehatan mental seseorang secara psikologis. Emosi dan perilaku manusia memantik peran kunci dalam memaknai keuangan. Hal itu dipengaruhi pola pikir dan suasana psikologis bagaimana memaknai uang dengan bijak.
Sedangkan, dalam konteks filantropi Islam, Amelia Fauzia mengemukakan bahwa isu kesejahteraan dapat ditelusuri dari bagaimana peran lembaga filantropi berkontribusi sejauh ini. ”Realitasnya tradisi zakat di Indonesia sudah bertransformasi luar biasa, dan lembaganya sudah adaptif,” bebernya.
Tahun 2013, ketika penelitian disertasi terbit, saya beri pernyataan yang kuat (strong) bahwa Muhammadiyah adalah pionir modernisasi dan perintis lembaga filantropi di Indonesia. Di dalamnya ada nilai (value) bahwa basis sosial ekonomi dari kelas menengah ke atas itu yang jadi kekuatan, sehingga muncul panti asuhan anak, panti asuhan jompo dan rumah sakit.
Proses kelembagaan yang adaptif dan komunitas yang kuat ini menjadi cara pandang untuk melihat problem kesejahteraan. Dulu di zaman Orba ada Bapelurzam, dan di era reformasi ada Lazismu, ini adaptasi menjawab perubahan zaman. “Semangat ijtihad di Muhammadiyah yang saya apresiasi,” terangnya.
Termasuk para donatur yang dukung ijtihad tersebut untuk melakukan inovasi sehingga menjadi punya makna. Seingat saya ada Klinik Apung Said Tuhuleley dan Rendangmu. Jadi ijtihad itu yang sebenarnya jadi kekuatan bagi Lazismu sebagai filantropi Indonesia.
Soal perkembangan filantropi itu, misalnya di Nigeria dan Pakistan, ada suatu riset ketika ditanya tentang SDGs, sudahlah pasti Indonesia yang terdepan, Pakistan dan Nigeria sudah sulit, dan mereka tahu di Indonesia gerakan zakatnya sudah dibentuk dengan ijtihad fikih zakat.
Dalam kerangka itu, masih terdapat pemahaman tentang filantropi Islam, salah satunya ditandai dengan hanya sebatas karitas, karena tafsir agama yang statis. Oleh karena itu, kebaranian Lazismu dalam inovasi program sudah dilakukan seperti program penyaluran zakat fitrah sepanjang tahun. Dari sini saja dapat dikatakan Lazismu itu sangat inklusif, senafas dengan tagline-nya Memberi untuk Negeri. “Termasuk tema milad kali ini juga inklusif yaitu Lazismu untuk Kesejahteraan Semua,” paparnya.
Belajar dari sejarah Muhammadiyah ketika merintis, PKU Muhammadiyah dulu dapat donaturnya dari siapa saja yang ingin mendukung programnya, dan distribusinya ternyata juga untuk siapa saja yang membutuhkan. Maka, inklusivitas itu sebuah keniscayaan. Prinsip inklusivitas yang dijalaninya bila terus dijalankan akan sangat kuat dan berkembang lebih banyak lagi.
Kembali pada isu kesejahteraan, Indonesia sebagai negara dermawan menurut World Giving Index sudah tujuh kali berturut turut menyandangnya. Sementara itu, kata Amelia, survei sekarang berbeda indikatornya, bahkan salah satunya dinilai adalah soal kerelawanan yang dianggap sebagai pekerjaan yang bisa dihitung. Selanjutnya, ada survei baru lagi dari Global Flourishing Study Harvard, Indonesia didapuk sebagai negara nomor satu yang sejahtera lahir batin penduduknya.
Ini penelitian dari Harvard, suatu Lembaga riset tidak kaleng-kaleng, dan bisa dipertanggungjawabkan bagaimana penelitian ini dibuat untuk menyelidiki kesejahteraan manusia dari aspek yang paling mendasar dalam kehidupan manusia.
Terkait dengan kesehatan mental, kata Amelia, faktor relasi sosial jadi isu penting dalam melihat kesejahteraan, tidak semata-mata dari sisi finansial tapi kontribusi lembaga filantropi yang punya program terintegrasi untuk kesehatan mental dan fisik. Jika Lazismu dengan ijtihad dan inovasinya ada dalam gerakan zakat yang saling berklindan, saya berharap ini akan menjadi kontribusi lembaga amil zakat untuk menjangkau kesejahteraaan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

JAKARTA – Perjalanan Lazismu sebagai lembaga amil zakat nasional memasuki usianya yang ke -23, tepatnya jatuh pada, 04 Juli 2025. Pada hari ini, menandai dan memperingati dua dasawarsa kiprahnya dalam berkontribusi memberi untuk negeri. Kematangan gerakannya dalam gerakan filantropi Islam, tidak bisa dipisahkan dari organisasi Muhammadiyah dengan gerakan al-Maun-nya.
Tema yang diusung adalah Lazismu Untuk Kesejahteraan Semua. Suatu tema yang memancarkan semangat bahwa melalui gerakan filantrofi Islam, Lazismu mamperkuat harapan dengan pilar-pilar programnya yang dibuktikan dengan pertumbuhan penghimpunan dan penyaluran nilai manfaat kepada Masyarakat luas.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais dalam sambutannya mengatakan perjalanan Panjang Lazismu tidak akan bermakna tanpa kolaborasi dan dukungan masyarakat. Tema yang Lazismu hadirkan dalam milad ini, sebagai upaya mengejawantahkan Tanwir Muhammadiyah di Kupang, yaitu Menghadirkan Kemakmuran Untuk Semua.
Dalam konteks ini, Lazismu harus memberikan manfaat yang seluas-luasnya kepada penerima manfaat. “Kita ingin semua dapatkan nilai manfaat itu dan hak – haknya secara proporsional,” katanya.
Mujadid Rais mengatakan bahwa Lazismu dengan jaringan kantor layanannya yang tersebar di seluruh Indonesia, ada 1200 lebih kantor layanan di 33 provinsi, berusaha untuk berkontribusi.
Misalnya, untuk tahun ini, Lazismu telah menyalurkan program Save Our School untuk renovasi sekolah sebanyak 300 unit sekolah. “Angka 300 masih kecil, tapi kita ingin sesuatu yang berdampak dari yang paling kecil,” jelasnya.
Kami berharap, kawan-kawan Lazismu wilayah terus mendukung program ini selain untuk meningkatkan penghimpunan dan berkontribusi dengan hal sekecil apa pun. Tetapi istikomah memberikan dampak dan menjadi Lembaga amil zakat terpercaya.
“Alhamdulillah selama tujuh tahun berturut-turut Lazismu mendapat opini WTP, ini tantangan kami dalam menjaga amanah untuk meningkatkan peran Lazismu di masa yang akan datang,” pungkasnya sekaligus mengucapkan terima kasih kepada mitra Lazismu yang hadir.
Mewakili Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Izzul Muslimin bersyukur bahwa Bersama sama dapat mengikuti acara peringatan milad Lazismu ke 23, alhamdulillah kita menyaksikan perkembangan Lazismu yang luar biasa, dan pencapaian-pencapaiannya.
“Pimpinan pusat Muhammadiyah mendorong agar Lazismu tetap profesional dan amanah,” pungkasnya. Muhammadiyah turut merasakan betul manfaat dari program-program Lazismu terutama program-program yang dilaksanakan di luar negeri dan program-program lainnya.
Kita berharap bisa terus meningkatkan dan memperbaiki kinerja serta memperkuat akuntabilitas sehingga akan berdampak pada semakin percayanya masyrakat dalam menyalurkan donasi berupa zakat, infak dan sedekahnya melalui Lazismu.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti menyampaikan selamat atas milad Lazismu yang ke-23. Semoga menjadi lembaga amil zakat yang sesuai taglinenya senantiasa memberi untuk negeri.
Lazismu sebagai lembaga filantropi Islam, menurutnya lahir dari DNA Muhammadiyah melalui spirit berderma (charity). “Kelahiran Muhammadiyah melakukangerakan amal nyata untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, salah satunya mewujud dalam pelembagaan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO),” jelasnya.
Poin saya, lanjut Abdul Mu’ti, Muhammadiyah dengan perkembangannya sebetulnya memberi kesempatan kepada para jamaahnya untuk bisa berderma untuk memberikan yang terbaik.
Sekarang ini saya melihat bahwa ada realitas baru bahkan menjadi trend gerakan baru dalam aktivitas memberi. “Membangun Gerakan zakat tidak lagi sebagai panggilan iman tapi gerakan kebudayaan,” paparnya.
Karena itu, sambungnya, gerakan berderma melaui lembaga resmi masih menjadi tantangan kultural yang tidak sepenuhnya mudah, karena orang tidak cukup memberi dan yang diberi tidak kelihatan ini soal psikologis dan kultur.
“Tantangan kultural ini harus dijawab dan tantangan kelembagaan berupa kepercayaan adalah pilihan kita, jadi harus amanah dan terus membangun kepercayaan itu, sampai akhirnya selamat bagi Lazismu yang mendapat WTP,” tandasnya.
Jauh lebih penting lagi, menurutnya adalah tafsir delapan asnaf perlu dipertajam kembali. Misalnya beasiswa untuk murid banyak, tapi perlu juga beasiswa untuk guru yang masih terbatas.
Jadi akuntabilitas ini terus diperkuat yang diringi dengan kepercayaan sehingga hasilnya terlihat. Apalagi saya telah mengetahui Lazismu telah menyalurkan program pendidikan melalui Save our School untuk renovasi 300 sekolah di seluruh Indonesia.
Yang dilakukan Lazismu luar biasa, sebagai menteri, saya menyampaikan terima kasih kepad Lazismu atas kepeduliannya memperbaiki sekolah-sekolah yang ada. “Masih banyak program lain yang berdampak besar bagi kebermanfaatan untuk Masyarakat,” kata Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini.
Dalam kesempatan itu, Lazismu juga meluncurkan program Save Our School sebagai salah satu pilar program pendidikan dengan merenovasi 300 unit sekolah di tanah air di momentum usianya yang ke 32.
Selain itu, Lazismu juga melakukan penyaluran program peduli Kesehatan berupa bantuan kursi roda dan alat bantu dengar kepada penerima manfaat, serah terima Al-Qur’an untuk pelosok negeri kolaborasi bersama Gramedia, santunan untuk anak binaan panti asuhan Aisyiyah, simbolis kerjasama program peduli Kesehatan mental Bersama Rumah Cahaya, dan simbolis kerjasama program pendidikan, sosial dakwah, ekonomi dan lingkungan antara Lazismu dan Tokio Marine.
Di penghujung acara Lazismu menggelar Talkshow menghadirkan Habib Husein Ja’far Al-Hadar pendakwah dan konten kreator islam dan Amelia Fauzia Guru Besar Filantropi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang dipandu oleh moderator Ibnu Tsani.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

YOGYAKARTA – Salah satu masalah yang dihadapi di keseharian kita adalah limbah plastik sekali pakai. Sampah non-organik yang sulit diurai karena plastik mengandung zat berbahaya jika digunakan dalam jangka waktu yang lama. Kantong “kresek” selama ini seperti tidak tergantikan. Padahal masih ada alternatif selain penggunaan kantong kresek yang ramah lingkungan.
“Bayangkan, setiap hari kita belanja dan membawa pulang lima plastik sekali pakai, maka dalam seminggu sudah 35 plastik yang menjadi sampah. Jika itu bisa dikurangi hanya dengan membawa dua kotak kecil dan satu tas kain maka kita telah menyelamatkan lingkungan sekitar kita”.
Demikian Hening Parlan, Wakil Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah mengungkapkan dalam acara ‘Sosialisasi Program Peningkatan Kesadaran untuk Menciptakan Pelestarian Lingkungan melalui Pendekatan Keagamaan di Pasar Tradisional’ yang digelar di Aula SD Muhammadiyah Demangan, Yogyakarta, pada 14 Juli 2025, pekan lalu.
Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif “Pasar Bebas Plastik” yang telah dijalankan LLHPB ‘Aisyiyah sejak tahun 2022 di Pasar Tebet Barat, Jakarta Selatan, bekerja sama dengan organisasi masyarakat sipil Diet Plastik Indonesia. Hasil awal menunjukkan adanya peningkatan kesadaran dan praktik penggunaan kantong belanja ulang pakai di kalangan konsumen, terutama ibu-ibu kader ‘Aisyiyah.
Melalui kolaborasi antara LLHPB PP ‘Aisyiyah dan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Shadaqah (LAZISMU) PP Muhammadiyah, serta dukungan LLHPB PWA DIY dan PDA Kota Yogyakarta, inisiatif ini diperluas ke wilayah Yogyakarta, di Pasar Demangan.
Pelaksanaan program ini dikemas dengan pendekatan keagamaan sebagai strategi kunci dalam mendorong perubahan perilaku konsumen dan pedagang pasar tradisional agar mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai. Praktik sederhana seperti membawa wadah guna ulang saat berbelanja menjadi kunci utama dalam program kelestarian lingkungan ini.
Hening Parlan menceritakan, di Pasar Tebet Barat, Jakarta Selatan, pada 2022, LLHPB ‘Aisyiyah melakukan simulasi dengan mengajak ibu-ibu berbelanja sambil membawa tas kain dan kotak atau wadah guna ulang untuk menaruh bahan dapur seperti bawang, cabai, dan bumbu-bumbu lainnya. Hasilnya, penggunaan plastik sekali pakai menjadi berkurang drastis.
Di pintu masuk pasar tersebut, ungkap Hening, terpampang tulisan “Masuk ke dalam Pasar Bebas Plastik” sebagai tanda pengingat bagi pengunjung untuk membawa tas belanja ramah lingkungan. Selama berbulan-bulan, pemantauan yang dilakukan oleh pemerintah daerah menemukan bahwa pengunjung yang tidak sadar membawa plastik biasanya warga pendatang, mengingat pasar Tebet yang besar juga dikunjungi warga dari luar daerah.
Merespons hal itu, sebagai solusinya di pasar Tebet Barat, disediakan fasilitas wadah khusus (dropbox) untuk peminjaman, pengembalian, dan donasi tas guna ulang.
Sejalan dengan edukasi itu, sambung Hening, Pasar Tebet Barat juga mengintegrasikan pola edukasi lingkungan lewat musala yang biasa digunakan untuk salat Jum’at. Di sana, khutbah Jum’at dan mading informasi tentang pengurangan sampah plastik rutin disampaikan, dan digelar pertemuan serta kajian tafsir setiap Selasa oleh ibu-ibu bersama ranting setempat.
“Kami berharap praktik baik ini bisa diterapkan di Pasar Demangan, agar menjadi pasar yang ramah lingkungan, bebas plastik, dan tempat edukasi yang hidup. Aktivitas berbelanja pun bisa menjadi bagian dari ladang dakwah,” pungkasnya.
Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kota Yogyakarta, Rowiyah, menegaskan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari ketakwaan umat Islam. “Masalah lingkungan bukan hanya persoalan kebersihan, tapi bagian dari ketakwaan. Program ini mengajak kita semua untuk menjadi agen perubahan, mulai dari rumah, pasar, hingga komunitas yang lebih luas,” ujarnya.
Ia mendorong para ibu dan komunitas sekitar pasar untuk memulai perubahan dari hal-hal kecil. “Mari kita buktikan perempuan berkemajuan mampu menjadi pelopor gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Kita jadikan pasar, ranting, dan cabang kita sebagai teladan,” ajaknya. Mulailah dari rumah, ajak tetangga, manfaatkan sarana pengelolaan sampah yang sudah ada, tanamkan pada anak-anak bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah, tegasnya.
Rowiyah berharap program ini dapat direplikasi ke ranting dan cabang lain sehingga ‘Aisyiyah dapat bergerak bersama menjadi agen atau duta perubahan untuk lingkungan, mengingat daerah Jogja darurat sampah masih belum selesai.
Dalam kegiatan sosialisasi ini, sebanyak 56 peserta yang terdiri dari kader ‘Aisyiyah, Anggota Pimpinan LLHPB PWA Daerah Istimewa Yogyakarta, LLHPB PDA Kota Yogyakarta, dan anggota Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Gondokusuman yang menjadi peserta utama program ini.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/LLPHB PP Aisyiyah]

JAKARTA – Meningkatkan kualitas hidup yang sehat dan cerdas bagi masyarakat pesisir adalah tanggung jawab elemen bangsa. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor untuk menegaskan pentingnya nilai – nilai sinergisitas sebagai komitmen melalui pendekatan sosial, edukasi dan kesehatan.
Langkah kolaborasi tersebut, diwujudkan TNI Angkatan Laut (TNI AL), Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) dan beberapa lembaga filantropi salah satunya Lazismu melalui kegiatan Serbuan Maritim Tahun 2025, yang digelar di Pelabuhan Ikan Muara Angke, Jakarta Utara, pada Senin, (21/7/2025).
Panglima Koarmada (Komando Armada) RI Laksamana Madya TNI Denih Hendrata yang diwakili Kepala Staf Koarmada RI Laksda TNI Eko Wahjono, menjelaskan bahwa sinergi membangun masyarakat pesisir sehat dan cerdas melalui Serbuan Maritim merupakan kelanjutan kegiatan bersih pantai dan pesisir Muara Angke.
“Hari ini kita hadir untuk membangun masyarakat pesisir yang lebih sehat. Bersama semua pihak (stakeholders) berkolaborasi menunjukkan kepedulian sosial. Masyarakat pesisir garda terdepan dalam membina lingkungan pesisir dan pertahanan laut,” pungkasnya.
Kolaborasi ini bertujuan membangun masyarakat miskin di pesisir agar tangguh dan sehat. Karena itu, sambungnya, sinergi bersama pemangku kepentingan berupaya meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat di Muara Angke.
Ada program bakti sosial, di antaranya santunan yatim, penyediaan makanan bergizi gratis, bersih – bersih dan penyuluhan serta layanan kesehatan seperti pengobatan umum, khitan massal, donor darah dan pemeriksaan mata bagi 200 orang penerima manfaat.
Lazismu yang menjadi salah satu bagian dari kegiatan ini bersama dengan Baznas, CT Arsa, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia, Bodhgaya Indonesian Temple, Cakra Daya, Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih, dan SHA Solo bersinergi saling melengkapi tingkatkan kualitas hidup masyarakat pesisir.
Manager Program dan Pendistribusian Lazismu Pusat, Shofia Khoerunisa mengucapkan terima kasih atas kolaborasi program ini bersama Koarmada RI dan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN.
Sebelumnya, kata Shofia, Lazismu bersama Kemendukbangga telah melakukan kolaborasi melalui program pilar kesehatan, yaitu program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stanting dengan memberikan bantuan bedah rumah kepada penerima manfaat keluarga berisiko stunting.
“Hari ini kolaborasi bersama TNI AL, BKKBN dan mitra strategis lainnya, di sini Lazismu berkontribusi pada program peduli kesehatan dengan memberikan 200 kacamata plus dan makanan siap saji berupa Rendangmu sebanyak 2.400 kaleng atau 100 kardus bagi para lansia yang merupakan masyarakat nelayan di Muara Angke,” ungkapnya.
Ini merupakan kolaborasi program yang strategis, berbagai elemen ikut serta dalam pelaksanaannya. Harapannya masyarakat nelayan yang memang jarang tersentuh oleh program-program kesehatan bisa merasakan langsung nilai manfaatnya.
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN menyambut baik kegiatan ini, kata Sukaryo Teguh Santoso Deputi V Bidang Penggerakan dan Peran Serta Masyrakat mewakili Mendukbangga. Menurutnya, BKKBN telah bertransformasi menjadi kementerian. “Tugasnya melaksanakan kebijakan pemerintah di bidang kependudukan dan pembangunan keluarga,” jelasnya.
Mudah-mudahan kegiatan ini memberikan kemaslahatan bagi kita semua. Kami mengucapkan terima kasih atas kolaborasi ini bersama Lazismu dan Baznas. Sekecil apa pun ini bisa bermanfaat untuk keluarga Indonesia.
Nurhayati salah seorang penerima manfaat mengatakan bahwa kedatangannya dalam kegiatan ini untuk bisa mendapatkan kacamata plus dari Lazismu. Ia mengatakan usianya sudah lanjut, sangat membutuhkan kacamata untuk bisa membaca. “Terima kasih Lazismu atas bantuan kacamata ini yang insyaallah bermanfaat,” katanya seraya menunjukkan satu kaleng Rendangmu yang diperoleh dari kegiatan tersebut.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

TANGSEL -- Kemunculan kantor layanan Lazismu di kawasan Bintaro tidak bisa dilepaskan dari Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) setempat. Keberadaan PRM Bintaro sendiri, berdiri sejak 2016, setelah muktamar Muhammadiyah di Makassar, pada tahun 2015. Cikal bakal kehadirannya berawal dari kegiatan rutin pengajian bulanan.
Kantor Layanan Lazismu resmi diluncurkan pada Ahad, 20 Juli 2025, di lobi Trans Park Bintaro, yang dihadiri oleh Walikota Tangerang Selatan (Tangsel), Benyamin Davnie. Turut hadir, dalam peluncuran ini antara lain Ketua PDM Tangerang Selatan, Muhtarom, Ketua PCM Pondok Aren, Azaz, Ketua PRM Bintaro, Ahmad Najib Burhani, dan para tokoh masyarakat di daerah Bintaro dan sekitarnya.
Dalam sambutannya, Walikota Tangsel, Benyamin Davnie memberikan gambaran penduduk Kota Tangerang Selatan yang diperkirakan berjumlah 1,4 juta jiwa. Sekitar 2,2 persen di antaranya adalah masyarakat miskin. “Kehadiran Lazismu Bintaro diharapkan bisa menjadi jembatan antara masyarakat yang mampu dan masyarakat yang memerlukan penanganan,” katanya sekaligus secara resmi membuka beroperasinya Lazismu Bintaro.
Selain sebagai sarana ibadah, zakat dan infak, sambungnya, dapat menjadi instrumen penanganan kemiskinan melalui sinergi yang baik antara Lazismu dan Pemkot Tangerang Selatan serta para pemangku kepentingan.
Ketua PRM Bintaro, Ahmad Najib Burhani, juga mengungkapkan bahwa peluncuran Kantor Layanan Lazismu Bintaro ini sekaligus menjadi penanda penting kebermanfaatan nyata dari kehadiran Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Bintaro di tengah masyarakat.
“Dengan adanya Kantor Layanan Lazismu ini, PRM Bintaro mengambil langkah strategis pertama untuk memberikan kontribusi sosial yang lebih luas dan terstruktur,” imbuhnya. Lazismu telah lama dikenal dan dipercaya masyarakat sebagai salah satu lembaga filantropi terkemuka, terutama dalam menjalankan amanah pengelolaan dan penyaluran dananya.
Dengan rekam jejak yang solid, lanjut Najib Burhani, kehadiran kantor layanan Lazismu di Bintaro ini diharapkan dapat menjadi jembatan bagi para muzaki dan donatur untuk menyalurkan dana ZIS mereka kepada pihak yang membutuhkan dengan transparans dan terpercaya.
Dalam peluncuran Lazismu Bintaro, dilakukan simulasi donasi zakat dan infak baik oleh Walikota Tangerang Selatan maupun para tokoh Muhammadiyah dan masyarakat yang hadir di lokasi, baik melalui penyetoran tunai maupun pemindaian QRIS yang terpampang di panggung.
Bersamaan dengan itu, terkumpul dana zakat sebanyak Rp 10.460.000 dan infak sebanyak Rp 12.360.000 yang diperoleh selama kegiatan berlangsung. Dana yang terkumpul, menurut Ketua Kantor Layanan Lazismu Bintaro, Abdul Hofir, direncanakan akan dimanfaatkan untuk program antara lain, pemberian beasiswa dan bantuan pemberdayaan bagi kelompok disabilitas.
“Bantuan itu untuk meningkatkan kemandirian dan kualitas hidup mereka serta layanan kesehatan yang terjangkau bagi masyarakat kurang mampu dan memastikan akses terhadap perawatan yang layak,” paparnya.
Wilayah Bintaro, dikenal sebagai salah satu daerah dengan potensi filantropi umat Islam yang sangat tinggi, dihuni oleh banyak kalangan menengah ke atas. Dalam menunaikan zakat, infak, dan sedekah, mereka tentu mencari lembaga filantropi yang tidak hanya terpercaya dan amanah, tapi juga mampu menyalurkan dananya sesuai dengan konsep dan harapan dari filantropi itu sendiri.
Besarnya potensi ini harus ditunjang dengan pengelolaan yang tepercaya dan pemanfaatan yang efektif agar dana yang terkumpul dapat mencapai tujuan mulia filantropi. “Kehadiran kantor layanan Lazismu Bintaro diharapkan dapat menjadi motor penggerak filantropi yang lebih masif dan terarah di wilayah ini. Mewujudkan semangat kedermawanan dalam aksi nyata demi kesejahteraan umat,” tutupnya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/PRM Bintaro]

BANDUNG – Keluarga Berisiko Stunting adalah bagian dari program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting. Salah satu fokus programnya bedah rumah tidak layak huni yang dimiliki keluarga berisiko tersebut. Rumah layak huni menjadi perhatian agar keluarga yang menempati dapat hidup layak.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Wihaji setelah menggelar agenda Retreat dan Jambore pada, 10-12 Juli 2025 di Ciwidey, Kabupaten Bandung, mengunjungi rumah tidak layak huni bersama Lazismu di Desa patengan, kecamatan Rancabali yang bakal mendapat program bantuan bedah rumah.
Kedatangan Wihaji di desa itu untuk memastikan bahwa rumah tersebut betul-betul dimiliki oleh keluarga berisiko stunting. Wihaji mengatakan ada beberapa cara yang dapat dilakukan pemerintah untuk menurunkan stunting, Jawa Barat merupakan kekuatan utama percepatan penurunan stunting di Indonesia.
“Kenaikan prevalensi stunting Jawa Barat sangat menentukan pada kenaikan stunting secara nasional begitu pun sebaliknya”, jelasnya. Tim BKBBN juga telah melakukan asesmen untuk 2 kepala keluarga warga sebagai sampel untuk pencegahan stunting dengan membantu perbaikan gizi keluarga. Kali ini, sambung Wihaji, Kemendukbangga berkolaborasi dengan Lazismu.
Adapun bakal rumah tidak layak huni yang akan dibedah sebanyak 2 unit ini, berlokasi di Desa Alamendah RT.02 RW.06, kecamatan Rancabali dan Desa Patengan kecamatan Rancabali di RT.02 RW.01 Kabupaten Bandung.
Dalam kesempatan itu, Direktur Pendistribusian dan Pendayagunaan Lazismu Pusat, Ardi Luthfi Kautsar, menjelaskan bahwa kondisi rumah yang kumuh sangat berpengaruh pada peningkatan stunting, mulai dari tempat tidur hingga kamar mandi.
Karena melalui kolaborasi ini, Lazismu turut berkontribusi untuk pencegahan stunting dengan program Bedah Rumah. “Oleh karena itu, peran serta Lazismu untuk ikut berkontribusi pada prinsipnya bertujuan memberikan nilai manfaat kepada keluarga yang membutuhkan lewat pembangunan kedua rumah itu”, tandasnya.
“Lazismu menyalurkan bantuan sebesar Rp 25 juta untuk masing-masing rumah melalui dana zakat”, pungkasnya. Ardi merinci, bantuan tersebut akan diwujudkan dalam bentuk bantuan dan pengerjaan bangunan. Nantinya kedua rumah itu akan dirobohkan dan dibangun kembali oleh Lazismu yang bekerjasama dengan para pemangku kepentingan setempat khususnya di Kabupaten Bandung.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

