

Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang dijalankan umat Islam bagi yang mampu. Ibadah ini dilakukan satu kali dalam hidupnya. Dalam pelaksanaanya, ibadah khusus ini terikat ruang dan waktu. Terkandung simbol-simbol serta rahasia bagi yang melaksanakannya. Mulai dari persiapan, waktu pelaksanaan hingga akhir saat melepas kain ihram.
Umat Islam di seluruh dunia melaksanakannya. Oleh karena itu, ibadah haji juga disebut sebagai simbol persatuan umat manusia yang dinyatakan dalam persamaan akidah yang satu. Secara harfiah Haji diartikan menyengaja yang memiliki maksud dan tujuan. Yaitu mendatangi suatu tempat yang diagungkan baik secara fisik dan jiwa ke Baitullah.
Menurut Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, Ibadah Haji secara istilah merupakan menyengaja pergi ke Mekah, dengan maksud mengerjakan ibadah thawaf, sa’I, wukuf di Arafah, dan bermalam di Mudzalifah, mabit di Mina dan ibadah-ibadah lain pada waktu yang telah ditentukan berdasarkan perintah Allah SWT dan mengharapkan Ridha-Nya.
Makna Mampu
Mengapa ibadah haji diwajibkan bagi yang mampu? Mampu di sini bermakna sanggup. Sanggup secara lahir-batin, finansial dan tetap sanggup untuk menafkahkan bagi keluarga yang ditinggalkan. Di samping aspek kesanggupan finansial dan kesehatan, sanggup juga bermakna aman selama pelaksanaan dan kesanggupan moda transportasinya.
Karena itu, seorang muslim juga harus sanggup melaksanakan perintah dan larangan dalam beribadah haji. Seorang muslim harus sanggup dan mampu melaksanakan Rukun Haji: Ihram, Wukuf di Arafah, Thawaf Ifadhah, Sa’I, dan Tahalul.
Pada sesi yang lain, seorang muslim juga harus sanggup dan mampu melaksanakan Wajib Haji: Ihram dari Miqat, Wukuf sampai terbenam matahari, Bermalam di Mudzalifah, Melontar Jumroh, Mabit di Mina dan Thawaf Wada’. Semua rangkaian itu dilakukan dengan tertib dan disiplin.
Bahkan menurut Ali Syari’ati dalam buku termasyhurnya berjudul HAJI, sebelum melaksanakan ibadah haji seorang muslim harus melunasi hutang-hutangnya. Hati dan jiwanya harus bersih dari rasa benci dan marah. Dianjurkan untuk membuat surat wasiat, seakan-akan sebagai persiapan sebelum ajal menjemput. Ini rahasia simbol kesucian manusia dan materi yang dimiliki serta melambangkan perpisahan terakhir dan masa depan manusia.
Hikmah Ibadah Haji
Ada banyak hikmah yang terkandung dalam ibadah Haji. Selain tentang hikmah persatuan umat Islam, hikmah lainnya adalah menjadi pribadi yang tangguh dan tidak sombong. Menurut Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, hikmah lainnya adalah menjadi Haji Mabrur, artinya taat, tunduk, dan baik. Karena itu, haji mabrur adalah haji yang baik atau ibadahnya telah dilaksanakan dengan baik dan diterima Allah SWT.
Perihal niat berhaji pun disetarakan dengan Jihad fi Sabilillah dan termasuk amalan yang paling utama. Orang yang telah melaksanakan haji dengan sempurna kembali bersih seperti bayi yang baru lahir, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Uniknya dalam ibadah haji ini, ada perintah berkurban bagi orang muslim. Kendati penyembelihan hewan kurban dalam rangka ibadah haji dilakukan adakalanya menurut Tarjih dan tajdid Muhammadiyah sebagai Dam. Membayar Dam penyembelihannya wajib dilakukan di Mina, tanggal 10 Zulhijjah, sedangkan menyembelih hewan kurban (bukan Dam) bisa dilaksanakan di berbagai tempat, mulai usai shalat Ied sampai akhir hari Tasyriq.
Membayar Dam sekarang juga bisa dilakukan di Indonesia seperti yang dilakukan oleh Muhammadiyah atas fatwa ulamanya di tahun ini, sehingga ada keringanan dalam melaksanakan ibadah haji sesuai dengan syariat Islam.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

