

FLORES TIMUR — Suasana penuh keakraban mewarnai warga Kampung Nelayan, Desa Lamahala Jaya, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di desa ini, warga lintas agama hidup rukun sebagai nelayan.
Bertepatan Hari Raya Iduladha 10 Dzulhijjah 1447 H, pada Rabu (27/6/2026), Lazismu menyalurkan bantuan hewan kurban. Pemilihan Desa Lamahala Jaya sebagai titik prioritas distribusi didasari oleh kondisi darurat wilayah tersebut.
Masyarakat setempat masih berada dalam masa pemulihan akibat bencana gempa bumi yang melanda pada bulan April lalu. Menurut panitia penyembelihan hewan kurban di desa itu, Muhidin Mansyur, penyaluran kurban ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan psikologis dan sosial warga Desa Lamahala Jaya, serta menjadi pemantik semangat kebersamaan di tengah duka pascabencana.
Muhidin menyampaikan apresiasi dan rasa haru atas bantuan hewan kurban yang diterima oleh warganya. “Terima kasih kami ucapkan untuk Lazismu dan shohibul qurban atas bantuan ini. Pembagian daging kurban tidak terbatas pada warga muslim saja, tetapi warga non-muslim turut merasakan hewan kurban dari Lazismu”, ungkapnya.
Semua warga di sini, katanya, merupakan penyintas gempa bumi April lalu. Kami semua bahagia ikut merasakan berkah dari hewan kurban tersebut, dan memperlihatkan eratnya kerukunan antarumat beragama di kawasan timur Indonesia.
Bencana tersebut tidak hanya merusak fasilitas dan rumah warga, tetapi juga melumpuhkan sumber mata pencaharian sehingga masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Kehadiran program kurban ini diharapkan menjadi bentuk solidaritas kemanusiaan guna meringankan beban dan membawa kebahagiaan bagi warga terdampak.
Distribusi daging kurban difokuskan kepada kelompok masyarakat yang paling rentan. Berdasarkan data panitia, penerima manfaat kurban di lokasi ini menyasar ratusan warga yang meliputi 105 anak yatim, 28 janda, 30 kaum duafa, 22 anak piatu, 10 anak yatim piatu, serta 5 orang duda.
Di samping itu, panitia lokal juga menerapkan program kurban ramah lingkungan. Daging kurban yang dibagikan kepada masyarakat tidak dibungkus menggunakan kantong plastik sekali pakai, melainkan menggunakan wadah alami berupa daun pisang.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

