

TANGERANG SELATAN – Seni fotografi tak pernah surut dari peminatnya. Seiring dengan munculnya platform kompilasi hasil jepretan kamera, fotografi dalam aplikasi digital bisa bernilai seni yang menjual.
Kelas pelatihan fotografi menjadi salah satu medium yang tepat untuk berlatih dan mengasah kemampuan seseorang dalam menjinakan lensa kamera. Seperti kelas fotografi dan jurnalistik yang diselenggarakan Markicabs Institute Batch 3 yang dibuka pada Minggu, (31/5/2026), di Coffee Shop Titik Singgah, Tangerang Selatan.
Kegiatan ini merupakan kerja sama penting antara Markicabs Institute dan Lazismu Pusat. Dalam acara pembukaan, Rektor Markicabs Instititute, Dzawin Nur Ikram, mengatakan bahwa para peserta yang mengikuti pelatihan ini membutuhkan ketekunan dalam mengikuti pelatihan. Ia juga tak segan "membuang" orang yang dirasa tidak serius mengikuti program pelatihan ini.
"Kita akan mengeluarkan orang yang malas di sini. Buat apa kita mempertahankan mereka yang tidak serius. Jangan pernah berkumpul sama orang-orang yang malas, itu bisa menular," tegas Dzawin menyampaikan pesan.
Komika asal Bogor ini juga menuturkan bahwa kelas Jurnalistik dan Fotografi ini diharapkan menjadi pijakan awal para peserta yang hendak menggeluti dunia penulisan dan seni fotografi lebih luas lagi nantinya.
Sebetulnya, sambung Dzawin, kelas dasar jurnalistik dan fotografi bisa jadi pondasi. Bila jurnalistik telah menjadi bagian dari kemampuan kompetitif, maka akan membentuk kerangka berpikir kalian. Sedangkan seni fotografi harus diketahui teknik dasarnya, seperti mengenal segitiga eksposure dan lainnya.
Dalam kesempatan yang sama, Shira Sahira, perwakilan dari Lazismu, mengaku senang bisa berkolaborasi dengan Markicabs Institute dalam pelatihan ini. Menurutnya, hal ini sejalan dengan gerakan filantropi yang diusung Lazismu yang selalu mendukung kegiatan-kegiatan serupa.
"Sebagai perwakilan Badan Pengurus Harian (BPH) Lazismu merasa cukup senang karena bisa terlibat dalam acara Markicabs Institute. Sebenarnya Lazismu sering memberi dukungan bantuan untuk pelatihan seperti ini," ucapnya.
Pada sesi diskusi, bersama alumni batch sebelumnya, seperti Bonar Manalu, Mulud Hidayat dari angkatan batch 1, hingga Nawi Alkaf angkatan batch 2, semua peserta berbagi cerita dan pengalamannya. Apa perubahan yang didapat seusai mengikuti kelas ini ke depannya.
Dengan pengalaman yang diperoleh, kata Alkaf, ada nilai yang didapat secara ekonomi sehingga dapat menambah uang jajan dan bisa bayar sewa kos. Dalam artian, bisa kerja dari ilmu yang saya dapat lewat pelatihan ini.
Pandangan lain disampaikan Bonar, bahwa kita harus punya tujuan yang jelas dalam mengikuti pelatihan ini. Ia juga mengimbau jangan sampai ikut hanya karena ada nama "Dzawin" yang kental di Markicabs Institute.
"Sayang nantinya jika tidak punya tujuan yang jelas, ini akan buang-buang waktu untuk hal yang gak jelas. Harus punya tujuan setelah ikut dan mau apa selanjutnya. Jangan sampai ada yang ikut hanya karena ada Dzawin, lebih baik mengundurkan diri, dan itu tidak bakal ngaruh” tutup Bonar.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

