

NUSA TENGGARA TIMUR -- Datang lebih awal pulang paling akhir. Bidal ini bersemayam dalam jiwa relawan kebencanaan. Hampir dua dekade kata-kata itu kerap terdengar dari relawan kemanusiaan Muhammadiyah.
Secara genetik spirit itu ada pada alam pikir gerakan dakwah dan kemanusiaan yang struktur biologisnya dari rahim al-Maun yang disempurnakan dalam fikih kebencanaan.
Aksi kemanusiaan relawan muhammadiyah di Nusa Tenggara Timur pascagempa bumi pada pertengahan Agustus lalu telah memberikan pelajaran berharga tentang arti kemanusiaan. Kolaborasi relawan dan pemangku kepentingan saling melengkapi melayani para penyintas.
Sebagian relawan masih bertahan menyiapkan tahap pemulihan, sebagian yang lain bersiap untuk kembali ke aktivitas sehari-hari. Di klaster kesehatan, Emergency Medical Team (EMT) Type 1 Fixed Muhammadiyah yang terdiri dari 2 roster list telah bertugas selama hampir satu bulan di Dampek, Manggarai Timur dan akan ditarik dari pelayanan kemanusiaan.
Hal itu disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman, saat mengunjungi Rumah Sakit Lapangan di Dampek, Manggarai Timur, pada Sabtu (20/9/2026). Seperti dilansir dalam laman resmi Muhammadiyah, Agus mengutarakan, prinsip Muhammadiyah adalah menolong tanpa syarat dan tidak meninggalkan masyarakat setelah memberikan bantuan.
Karena itu, kendati EMT ditarik, pelayanan Muhammadiyah kepada penyintas dan masyarakat terdampak bencana akan terus dilanjutkan dalam berbagai bentuk. “Meski EMT ini (roster list 2) nanti secara kelembagaan akan segera ditarik, insyaallah kita akan berusaha tetap menjalin komunikasi,” katanya.
Ia mengatakan penanganan bencana tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Karena itu, program penguatan pascabencana akan diarahkan pada kerja sama dan kolaborasi lintas pihak, lintas sektor, bahkan lintas iman.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) yang didukung oleh Lazismu lewat program Indonesia Siaga, akan menyiapkan program penguatan masyarakat pascabencana yaitu Sekolah Tangguh Bencana.
“Kami akan membangun kegiatan-kegiatan tanggap bencana. Dimulai dengan Sekolah Tanggap Bencana, sehingga anak-anak menyadari bahwa kebencanaan itu menjadi tanggung jawab bersama,” kata Agus dokter spesialis neurologi.
Kami Merasa Kehilangan
Keberadaan tim medis darurat Muhammadiyah mendapat kesan yang mendalam dari masyarakat setempat. Rumah Sakit Lapangan yang didirikan dengan standar WHO, merupakan tempat yang nyaman bagi penyintas untuk mendapatkan layanan kesehatan.
Camat Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Emilianus Sarjanit, merasakan langsung kehadiran relawan muhamamdiyah sejak awal. Kini merekan akan meninggalkan kami, kata Emilianus dalam agenda penarikan EMT Type 1 Fixed Muhammadiyah sekaligus penyerahan bantuan operasional kepada Posko Koordinasi Wilayah (Poskorwil) dan Posko Koordinasi Daerah (Poskorda) Muhammadiyah di Manggarai Timur.
Kami merasa kehilangan, penarikan EMT Muhammadiyah menjadi kabar yang mengharukan bagi masyarakat. Menurutnya kata dia, selama berada bersama warga terdampak para relawan telah membangun kedekatan dan dianggap sebagai bagian dari keluarga.
Emilianus menyampaikan apresiasi kepada Muhammadiyah melalui MDMC atas semua layanan yang diberikan selama masa tanggap darurat. Berulang-ulang saya sampaikan kehadiran Muhammadiyah telah menghapus air mata kami.
Ferni Riwu, Kepala Puskesmas Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara, mengaku terharu atas kehadiran relawan Muhammadiyah. Mereka membantu pelayanan kesehatan masyarakat sejak gempa Flores terjadi pada 15 Agustus 2026.
Hari pertama pascagempa dikenang betul oleh Ferni. Di saat tenaga kesehatan Puskesmas harus bekerja dengan keterbatasan, bantuan dari relawan Muhammadiyah baru tiba beberapa hari kemudian dengan memberikan dukungan penuh di sini.
“Pelayanan kesehatan yang dilakukan relawan Muhammadiyah tidak hanya terpusat di Puskesmas Dampek. Kerusakan bangunan puskesmas dan luasnya cakupan kerja membuat pelayanan kesehatan membutuhkan dukungan tambahan”, ujarnya.
Ferni sebelumnya tak mengira jika tenda-tenda yang didirikan tersebut (red: rumah sakit lapangan) di dalamnya terdapat sistem pelayanan kesehatan yang sangat bagus. Ia yakin masyarakat terlayani dengan baik. Hal itu terbukti di awal ketika jumlah kunjungan meningkat.
Mukhsin Masri putra asli daerah NTT yang juga Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Nusa Tenggara Timur (NTT) mengatakan perhatian Muhammadiyah terhadap masyarakat terdampak akan terus berjalanmeski tendanya sudah dibongkar.
Ia menyampaikan terima kasih atas kepedulian, kasih saying dan bantuan Muhamamdiyah kepada masyarakat terdampak terutama di Manggarai Timur dan sekitarnya. Pada kesempatan itu, Muhammadiyah juga menyalurkan bantuan stimulasi untuk mendukung penguatan gerakan Muhammadiyah di tujuh Poskorda, yakni di Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ende, Sikka, Nagekeo, dan Ngada, serta Poskorwil Muhammadiyah NTT.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Muhammadiyah.or.id]

