

NUSA TENGGARA TIMUR -- Dampak bencana gempa bumi terhadap kondisi kesehatan perlu mendapatkan perhatian serius. Terutama di saat warga terdampak berada di tempat pengungsian. Kelompok rentan adalah salah satunya yang membutuhkan akses kebutuhan dasar dan kesehatan.
Selama masa tugasnya, Emergency Medical Team (EMT) Type 1 Fixed Muhammadiyah berstandar WHO yang didukung penuh Lazismu melalui program Indonesia Siaga, telah melayani kebutuhan akan layanan kesehatan penyintas. Keberadaannya sebagai pendukung dan pelengkap puskesmas yang mengalami dampak pascagempa bumi di Nusa Tenggara Timur.
Menurut Ketua Roster List 2 EMT Type 1 Fixed Muhammadiyah, Dokter Triyunanto, beberapa kelompok rentan yang ditangani tim medis darurat, berdasarkan data yang dihimpun (16/9/2026), telah melayani kelompok rentan yang terdiri dari: Bayi sebanyak 145, Balita sejumlah 392, Anak-anak sebanyak 511, Lansia sejumlah 1336 dan Ibu Hamil sebanyak 77.
Dokter Triyunanto mengatakan dalam melakukan penanganan pada lansia beberapa kondisi kesehatan yang ditemukan tim medis darurat cukup beragam. Justeru yang dominan adalah penyakit kronis, terutama Hipertensi, termasuk beberapa kasus hypertensive urgency, Diabetes melitus tipe 2, termasuk kasus hiperglikemia, Stroke non-hemoragik, PPOK, termasuk eksaserbasi akut, CHF, termasuk beberapa kasus edema paru akut dan Osteoarthritis.
Selain penyakit kronis, Dokter Tri dan tim medis darurat juga menemukan beberapa kondisi akut dan kegawatdaruratan, seperti pneumonia, edema paru akut, eksaserbasi PPOK, hiperglikemia, serta hipertensi urgency.
“Pada kondisi pascabencana, juga cukup banyak menangani luka pascagempa dan perawatan luka”, ujarnya saat dihubungi Lazismu sebelum penarikan EMT di lapangan pada Sabtu (19/9/2026). Untuk penyakit lainnya, tim medis darurat juga menemukan TBC paru, diare termasuk amebiasis dan kasus yang mengarah ke kolera, ISK, dyspepsia, inkontinensia urin terkait BPH, myalgia, serta trauma dan infeksi mata.
Kami juga menerima beberapa laporan kasus gigitan anjing dan cakaran kucing, sehingga kebutuhan vaksinasi rabies cukup banyak. Dari sisi kesehatan mental, menurut dokter Tri, kami menemukan anxiety disorder, depresi ringan sampai sedang, dan schizophrenia.
Jadi, dari pengalaman aksi layanan kemanusiaan ini di lapangan, pada lansia masalah yang paling menonjol adalah penyakit kronis seperti hipertensi dan Diabetis Melitus tipe 2, disertai penyakit kronis lain serta komplikasi akutnya.
Tantangan lainnya adalah memastikan penyakit kronis tersebut tetap terkontrol selama kondisi pascabencana. Tak hanya itu, pasien anak yang selama ini kita layani baik di Posyan Rumah Sakit Lapangan maupun saat layan gerak (mobile clinic) ada temuan berupa kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut), Diare, nyeri perut, masalah kulit (dermatitis, skabies), varisella, serta permasalahan makan baik pada bayi maupun anak.
Tim Medis Darurat juga berbagi pengalaman lainnya saat di lapangan, ada satu pasien yang membutuhkan rujukan ke Rumah Sakit Borong, yaitu bayi usia 3 bulan dengan prolonged seizure, kita diagnosis dengan status epileptikus ec susp HDN (Haemorrhagic of the Newborn). Setelah kondisi bayi kita stabilkan, baru kemudian dirujuk untuk penanganan lebih lanjut.
Pada kondisi yang lain. ada dua bayi baru lahir yang didampingi persalinan secara SC di RS Kapal Terapung Airlangga, serta yang lahir normal. Kedua bayi itu diberikan perawatan rutin bayi baru lahir termasuk pendampingan IMD (Iniasiasi Menyusu Dini).
Kelompok rentan lainnya yang mendapat perhatian serius adalah ibu hamil. Layanan Ibu hamil selama di Rumah Sakit Lapangan EMT Type 1 Fixed Muhammadiyah di Dampek, sebaik mungkin diberikan penanganan. Tim Medis Darurat melakukan timbang berat badan terhadap ibu hamil, dan mendengarkan denyut jantung janin.
Ibu hamil juga mendapatkan vitamin dan tablet penambah darah. Sebagai bentuk layanan prima di saat masa tanggap darurat, dilakukan Skrining Risiko Tinggi pada ibu hamil jika terdapat risiko tinggi yang siap untuk dirujuk ke RSUD Borong.
Layanan kesehatan oleh EMT Muhammadiyah bersinergi dengan USG kebidanan, dokter kandungan dari ikatan alumni kedokteran. Dukungan itu menambah layanan kepada ibu hamil menjadi signifikan dalam melakukan Imunisasi Tetanus Toxoid pada ibu hamil TS 2, Pemberian Injeksi Benzatin Penicilin pada ibu hamil dengan IInfeksi Menular Seksual) dengan tetap memberikan edukasi dan pendampingan tanda bahaya pada ibu hamil.
Selaras dengan aksi layanan kesehatan itu, beberapa pasien anak dirawat sementara untuk observasi beberapa jam karena alami diare dehidrasi ringan/sedang dan demam tinggi. Layanan kesehatan berikutnya diberikan kepada Ibu Nifas dengan pemberian injeksi KB 3 Bulan, pendampingan pascaoperasi dan edukasi keluarga berencana yang dilengkapi manfaat laktasi (asi ekslusif) bagi ibu pasca melahirkan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

