

SEMARANG -- Dalam kiprahnya, Lazismu mendorong para amil mengikuti sertifikasi agar kompetensi yang dimiliki sesuai standar yang diakui oleh lembaga sertifikasi profesi.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, dalam Pelatihan dan Sertifikasi Amil BNSP Lazismu 2026, di Hotel Candi Indah, Kota Semarang, Jawa Tengah, pada Senin–Kamis, 2–5 November 2026, ketika berbicara amil menimbang, sebetulnya seperti apa keberadannya?
Sejauh ini ketika amil melayani muzaki, tidak lupa mendoakannya. Lalu kapan amil saling mendoakan amil lainnya? Ini terlihat sederhana, dalam bingkai persyarikatan, amil berada dalam gerakan ilmu.
Mujadid mengatakan Lazismu telah mengirimkan laporan kepada pimpinan pusat Muhammadiyah. Disebutkan Mujadid, dalam laporan itu tercatat bahwa amil Lazismu secara nasional jumlahnya masih terbatas yang telah memperoleh sertifikasi.
“Berdasarkan data amil secara nasional terdapat 147 amil yang tersertifikasi. Di Lazismu pusat sudah ada 49 amil. Hari ini, alhamdulillah jumlah amil yang mengikuti sertifikasi bertambah lagi menjadi 121 orang”, ujarnya.
Oleh karena itu, Lazismu memerlukan SDM yang mumpuni. Ada data menarik dari hasil riset yang disampaikan oleh Social Trust Fund UIN Jakarta dan survei Indikator Politik Indonesia. Dalam temuan riset itu, dikatakan bahwa masih banyak umat islam yang memilih bayar zakat langsung ke penerima manfaat.
Mereka menunaikan lewat masjid dan musola terdekat, kiyai atau tokoh agama dan ke penerima manfaat langsung. Jumlahnya sebesar 59,6 persen. Informasi ini penting, bagaimana data bisa menjadi bahan pendukung dalam menyusun strategi.
“Mengapa banyak orang-orang yang bayar zakat secara langsung ke penerima manfaat. Bukan melalui lembaga amil zakat”, kata Mujadid Rais menebalkan pernyataan itu.
Data menjadi informasi berharga, maka penting untuk susun strategi penghimpunan dan pendistribusian. Data penelitian tersebut, juga menyoroti perilaku muzaki yang jumlahnya masih minim yang membayar zakat maal.
Kenapa mereka ingin mengetahui lembaga amil zakat yang terpercaya. Ketika ditanya soal bayar zakatnya ke lembaga, jawabannya karena mereka ingin sesuatu informasi yang bernilai. Seperti kapasitas amilnya, mereka percaya bahwa amil yang meyakinkan itu bisa melaporkan secara transparans dari program penghimpunan dan pendayagunaannya.
Di hadapan 121 peserta pelatihan dan sertifikasi amil, Mujadid Rais berharap bahwa beberapa sekolah amil perlu digiatkan. Info terakhir akan diselenggarakan di Maros, Sulawesi Selatan. “Ini perlu terus digelorakan. Jadi amil itu adalah profesi. Amil profesi yang tertulis di dalam al- Quran”, terangnya.
Kita perlu menyampaikan dengan kepercayaan diri. Apa yang kita lakukan telah diperintahkan dalam ajaran Islam. Oleh karena itu, kembali kepada Muhammadiyah sebagai gerakan ilmu, maka gerakan dan ikhtiar ini bisa kita wariskan ke generasi setelah kita.
Di samping itu, kita perlu mendengar apa yang menjadi keresahan masyarakat. Kita bisa belajar dari tokoh-tokoh Islam sebelumnya ketika berhadapan dengan tokoh-tokoh yang giat di akar rumput yang cenderung menampilkan gerakan kiri.
Karena mereka terjun langsung ke komunitas buruh dan tani. Mereka mendengar langsung keresahan dan masalah yang dihadapi oleh masyarakat yang miskin. Apakah amil kita juga seperti itu. Berapa lama amil bisa tinggal bersama masyarakat untuk bisa mendengar keresahannya.
Muhammadiyah memiliki pusat-pusat keunggulan seperti perguruan tinggi dan amal usaha lainnya. Sekarang bagaimana dengan keunggulan-keunggulan itu mampu memperkuat kelembagaan di setiap komunitas itu. Misalnya, soal Local Champion, apa yang mereka lakukan selama ini. Ukurannya apa, jadi itu problem yang kita hadapi, bahkan Baznas mendata seberapa besar peran kita dalam pengentasan kemiskinan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

