

[Tim Konten Lazismu.org]

[PR Lazismu PP Muhammadiyah]


Berikut rangkuman tujuh jurus sukses itu:
Pertama: Menerapkan sistem keyakinan atau believe system.
Dengan keyakinan Abdurrahman Bin Auf memulai bisnis kebutuhan pokok karena menurut geografis Mekkah dan Madinah banyak yang membutuhkan kebutuhan pokok dibandingkan dengan pertanian.
Kedua: Menjadikan penduduk Madinah sebagai Partner Bisnis.
Dengan sistem seperti ini, semua penduduk Madinah membeli semua kebutuhan pokok kepada Abdurrahman Bin Auf walaupun membeli melewati penduduk Madinah.
Ketiga: Menjual barang dengan kualitas terbaik.
Abdurrahman Bin Auf belajar melalui Rasulullah SAW mengetahui seluruh cara agar dapat memilih barang dengan kualitas terbaik sehingga beliau berbisnis dengan menjual barang dengan kualitas the best.
Keempat: Membangun super team.
Kualitas Sumber Daya Manusia atau SDM sangat dibutuhkan dalam berbisnis. Maka Abdurahman Bin Auf menjalankan atau memilih SDM yang terbaik sehingga dapat membangun super tim.
Kelima: Menjadi pemimpin yang terpercaya. Abdurahman Bin Auf terkenal dengan berbisnis yang jujur, sehingga beliau menjadi pemimpin dan juga pengusaha yang terpercaya.
Keenam: Membangun sistem bisnis. Membangun sistem dalam bisnis juga dijalankan oleh Abdurahman Bin Auf. Dengan sistem dan SOP yang jelas bisnis bisa berjalan dengan baik.
Ketujuh: Melakukan sedeka terhadap setiap pendapatan yang diperoleh. Ingat, ada sebagian hak orang lain dalam harta yang kita miliki.(*)

Tetapi malam ini masih ada satu agenda, silaturrahmi dengan Lazismu Jatim. Jam 20.00 bersama Mas Aditya Sekretaris Lazismu Jatim aku berangkat menuju sebuah rumah makan di tepi jalan Raya Malang-Batu. Kami duduk di sebuah ruangan yang sudah dilengkapi dengan LCD. Pengurus Lazismu Jatim yang hadir: Ustadz Zainul, Mas Adit, Mas Imam, Mas Agus Edy Sumanto, dan Mas Masrukh. Hadir juga teman-teman dari Lazismu Malang dan Batu. Sebagaimana biasanya bersama Lazismu Jatim suasana selalu hangat. Bahkan kadang sedikit panas karena ide-ide progresif mereka. Pada kesempatan ini aku menyimak dengan seksama presentasi lazismu Jatim terkait target penghimpunan 1 Triliun untuk tahun 2022. Konsep yang dipresentasikan Mas Ali Sahidu terasa sangat realistis. Ia dilengkapi dengan data dan strategi implementasinya. Diharapkan konsep Jatim ini nantinya bisa diangkat ke tingkat nasional. Dalam hal ini Jatim siap menugaskan orang terbaiknya untuk membantu Lazismu Pusat.
Sekitar jam 20.00 ketika teman-teman Lazismu Jatim mulai asik dengan perbincangan soal bisnis, aku diantar Mas Adit kembali ke hotel. Sebelumnya sebuah kejutan kecil terjadi. Aku mendapat sepasang sepatu baru dari Lazismu Jatim. Sepatu lamaku menyerah tadi siang. Solnya lepas total. Sol sepatu tua ini tidak kuat menahan panasnya pasir Semeru ketika kami keliling Pronojiwo tadi siang. Aku harus mengikhlaskannya. Meski sepatu ini telah menemani banyak perjalananku ke berbagai penjuru. Bahkan sampai Manchester dan Seoul, sekian tahun yang lalu.
Ahad, 26 Desember 2021, setelah sarapan pagi, kami memulai perjalanan lebih jauh. Kami menuju lereng Semeru yang lain, Kota Lumajang. Sebenarnya kalau dari Pronojiwo langsung ke Kota Lumajang sudah dekat. Hanya 40 kilometer. Tetapi banjir lahar dingin membuat jembatan yang menghubungkan jalur ini putus. Maka kami harus memutar ke belakang, mengelilingi Gunung Semeru dan Bromo. Dari Pronojiwo kami harus kembali ke barat ke kota Malang. Dari sini kami mengarah ke utara ke arah Pasuruan. Lalu ke timur ke arah Probolinggo. Akhirnya belok ke selatan untuk bisa mencapai Kota Lumajang. Untungnya dari Kota Malang sampai Kota Probolinggo sudah tersedia jalan tol. Sehingga perjalanan menjadi lebih cepat. Kali ini kami hanya berempat: aku, Ustadz Zainul, Mas Masrukh, Mas Shodiqon wartawan TvMu, dan Mas Mamak sang driver lincah kami.
Agenda pertama kami di Lumajang adalah silaturrahmi dengan kelurga besar Muhamadiyah Lumajang. Acara berlangsung di ruang pertemun kantor PDM yang rapi dan bersih. Mungkin karena ada Ketua Lazismu Pusat hadir, dalam forum ini juga hadir pengurus Lazismu Lumajang, Lazismu Probolinggo, dan Lazismu Situbondo. Tentu juga ada Arif Jamali Muis Wakil Ketua MDMC Pusat sekaligus wakil ketua PWM DIY yang membidangi MDMC. Karena Wong Palembang maka aku sering memanggilnya dengan Dindo Arif. Tanpa kami duga ternyata Pak Aminuddin Ketua PDM Lumajang juga Wong Palembang. Maka kami bertiga segera terlibat obrolan sesama Wong Kito. Tentu dalam bahasa kampung halaman. Kebetulan kami sama-sama orang Sumatera yang sama-sama kuliah di Jawa. Dan sama-sama berjodoh dengan orang Jawa. Alhamdu lillaah...
Dalam forum ini kami menyamakan persepsi tentang kelanjutan program. Masa tanggap darurat sudah selesai. Logistik melimpah dan masih terus mengalir dari berbagai penjuru. Dalam hal ini Muhammadiyah Lumajang memiliki gudang logistik yang dikelola dengan manajemen yang baik. Awalnya gudang ini untuk ruko milik Aisyiyah Lumajang. Letusan Semeru membelokkan rencana itu menjadi gudang logistik. Kami sepakat beberapa program akan diteruskan. Layanan kesehatan melalui EMT sangat dibutuhkan masyarakat sampai beberapa bulan ke dapan. Demikian juga dengan layanan psikososial. Program baru adalah pembangunan hunian sementara (huntara). MDMC-Lazismu sudah siap dana untuk 200 unit huntara. Tinggal menunggu penetapan lokasi oleh pemerintah. Lainnya terkait permasalahan sosial, keagamaan, dan ekonomi. Untuk itu akan dilibatkan MPM, Majelis Tabligh, dan LDK. Tentu saja Lazismu bertanggung jawab dari sisi pendanaannya.
Hal menarik lainnya dari Lumajang adalah aktivitas Lazismu Lumajang dalam melakukan digital fundrising. Digital fundrising adalah arus baru penghimpunan dana yang akan dominan di masa mendatang. Dalam hal ini Mas Kuswantoro dan kawan-kawan di Lumajang menjadi contoh sukses yang layak ditularkan ke Lazismu di berbagai penjuru tanah air. Lumajang yang berada relatif jauh dari kota besar ternyata berhasil menjalankan fundrising melalui platform digital. Saat kami hadir di kantor PDM donasi yang masuk ke Lazismu Lumajang mendekati setengah miliar rupiah. Ini tentu sebuah jumlah yang fantastis karena dilakukan hanya dalam beberapa minggu. Bagi Lazismu Lumajang ke depan program ini bisa dioptimalkan lagi. Sebagai sebuah tools, digital fundrising memerlukan penekun. Dalam hal ini diperlukan anak-anak muda, khususnya generasi milenial. Tanpa mereka Lazismu segera digeser oleh lembaga lain yang lebih fokus dan intensif.
Agenda terakhir kami adalah menuju kompleks RS PKU Muhammadiyah Lumajang. RS ini baru dua tahun diresmikan dan berada dalam satu komplek dengan SMKM Lumajang. Menariknya, masih dalam komplek yang sama, di sebelah RS berdiri SPBU milik PDM Lumajang. SPBU ini cukup besar untuk ukuran kota yang tidak terlalu besar. Ini membuat komplek Muhammadiyah ini terlihat unik dan gagah menghadapi tantangan zaman. Semboyan dari rumah sakit ini adalah "Layananku Ibadahku". Aku merasakan kerapian dan kebersihan tenaga medis ketika menjalani tes antigen. Di sini aku merasakan tes antigen sebagaimana mestinya. Colokannya dalam dan pada dua lubang hidung. Ini berbeda sekali dengan tes antigen yang pernah aku lakukan di sebuah klinik di suatu tempat yang jauh. Nyaris tidak terasa, tidak ubahnya seperti mengambil upil.
Stasiun Probolinggo, 26 Desember 2021. Suasana sangat sepi. Tidak ada satupun KA parkir. Penumpang dan petugas hanya terlihat satu dua. Keretaku, Wijayakusuma, datang satu jam lagi. Sedangkan aku dalam kondisi kekenyangan. Sekitar jam 13.00 tadi kami makan siang bersama rombongan PDM di Lumajang. Menjelang masuk stasiun Ustadz Zainul tanpa bisa ditawar memasukkan kami dalam warung Bakso Pak Edy di dekat stasiun. Kata beliau paling enak dan paling laris dan ternyata memang demikian di Probolinggo. Ustadz Zainul memang hobi kuliner. Ketika sindir bagaimana dengan program dietnya, beliau yang berpostur seperti aku pendekarmu (pendek, kekar, dan lemu/gemuk) hanya senyum dikulum. Tepat jam 15.30 KA Wijayakusuma yang aku tumpangi bergerak menuju Jogja. Seperti biasa, setelah semua agenda pokok tuntas rasa lelah kembali datang menyergap. Bersama kantuk yang datang sesudahnya aku melanjutkan perjalanan pulang ke Jogja. Semoga program Lazismu-MDMC bersama unit-unit Persyarikatan mendampingi penyintas erupsi Semeru berjalan berkesinambungan. Sehingga kemanfaatannya bisa dirasakan dalam jangka panjang. Aamiin...
Tamantirto Jogja, 09 Januari 2022
Mahli Zainuddin Tago
[PR Lazismu PP Muhammadiyah/Mahli Zainuddin Tago]

Sebelum menuju lereng Semeru, kami singgah di dua titik. Titik pertama rumah makan. Sepiring nasi rawon, segelas kopi susu, dan suasana hangat rombongan menguatkan kembali jasmani dan ruhaniku. Titik kedua rumah dr. Sri Sunarti, Sp.PD pengurus Aisyiyah Kabupaten Malang. Beberapa kamar bersih ber-AC lengkap dengan kamar mandi siap menjadi tempat transit tokoh Muhammadiyah yang berkunjung di kawasan Malang Selatan. Aku kembali segar setelah mandi dan berganti baju dinas Lazismu. Kesegaranku berkembang menjadi haru ketika berkeliling ke bagian belakang rumah. Rumah ini seperti botol, besar ke dalam. Ada gedung asrama bertingkat, ruang-ruang kelas, dan kantor. Lalu ada 90 santri penghuni yang sedang menyambut pagi dengan gembira. Mereka bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris. Rumah keluarga ini ternyata sudah diwakafkan dan menjadi Panti Asuhan dan MBS Al Amin Putri. Orang-orang seperti keluarga Bu Dokter inilah yang banyak membesarkan Muhammadiyah dimana-mana. Orang-orang yang suka berbagi.
Selanjutnya kesegaran dan keharuanku bertambah dengan sebuah kebanggaan. Aku disinggahkan di SMK Muhammadiyah Gondang Legi. Sekolah ini sangat menarik. Gedung utamanya berlantai lima. Laboratoriumnya yang bernama Samsung Tech Institute dan arsitektur yang futuristik membuat aku merasa seakan sedang berada di Korea. SMKM ini telah menginspirasi banyak SMK Muhammadiyah lainnya. Salah satunya SMKM Adiwerna Tegal. Menurut Kang Amir, teman SMA-ku yang menjadi PCM Adiwerna, SMKM Adiwerna mulai bangkit dua tahun terakhir ini. Sebelumnya nyaris kehabisan murid. Tahun ini mereka harus menambah ruang baru seiring dengan peningkatan berlipat jumlah siswa baru. Ini semua berkat sentuhan dan inspirasi dari SMKM Gondanglegi. Pagi ini di SMKM Gondanglegi kami mengunjungi KL Lazismu yang sudah berdiri lama. Kami diantar Ustadz Anis, amil Lazismu sekaligus dai LDK untuk kawasan Malang Selatan. Kami menikmati kebanggaan ber-Lazismu dan ber-AUM di lembaga pendidikan yang hebat ini.
Kesegaran, keharuan, dan kebanggan, mengantarkan aku melanjutkan perjalanan bersama rombongan menuju lereng Gunung Semeru di Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Jarak Kepanjen-Pronojiwo tidak jauh. Hanya 57 km. Tetapi kondisi jalan berbelok-belok membuat perjalanan tidak bisa terlalu laju. Aku menikmati perjalanan ini karena serasa perjalanan menuju kampung halamanku di Kerinci di tengah Bukit Barisan Sumatera Tengah. Beberapa bukit dengan hutan primer yang masih terpelihara membuat kesan pulang kampung menjadi makin terasa. Udara juga terasa sangat sejuk. Seandainya rumah-rumah penduduk beratapkan seng maka suasana pegunungan di lereng Semeru ini persis sama seperti di kawasan bukit barisan di Sumatera. Aku memang sudah lama rindu kampung halaman. Sejak pandemi Covid-19 melanda dan aktivitas di Lazismu meningkat pesat, dua tahun sudah aku menahan rindu pada kampung halamanku. Dasar orang kampung.
Sekitar jam 10.00 pagi kami sampai di titik pertama pengungsian di Pronojiwo. Pronojiwo berubah menjadi kota relawan. Dimana-mana berdiri posko dengan bendera dan atribut masing-masing lembaga kemanusiaan. Nasional maupun lokal. Beberapa posko sudah menarik diri. Salah satu yang masih bertahan adalah pos koordinasi (Poskor) MDMC-Lazismu. Ketika kami tiba suasana Poskor ini sangat hidup. Puluhan anak muda berseragam Relawan Muhammadiyah sibuk melaksanakan tugas masing-masing. Menariknya ada banyak ibu-ibu yang tidak kalah sibuknya. Juga ada rombongan demi rombongan yang datang menyerahkan langsung bantuan untuk penyintas. Aku diminta teman-teman sebagai orang pusat mewakili mereka menerima bantuan demi bantuan itu secara simbolis. Tercatat ibu-ibu dari PCA DAU Malang datang dengan nilai bantuan sebesar Rp. 8.500.000,-. Mereka mereka juga menyerahkan beberapa kardus berisi berbagai barang keperluan para pengungsi.
Sekitar seratus meter di arah belakang Poskor sebuah rumah milik salah satu pengurus PCM Pronojiwo bertambah fungsi menjadi dapur umum. Di sini bersama rombongan aku menemui beberapa ibu. Mereka ternyata berasal dari Cabang-cabang Aisyiah di seputar Gunung Semeru. Atas izin suami mereka berjihad meninggalkan keluarga. Mereka menjadi juru masak selama beberapa minggu di dapur umum untuk keperluan para pengungsi korban letusan Gunung Semeru. Menariknya lagi di dapur umum ini juga terlihat aktif beberapa remaja Angkatan Muda Muhammadiyah, putra maupun putri. Sebagian dari mereka adalah anggota Tapak Suci. Mereka dengan gembira mengambil peran membantu ibu-ibu Aisyiah memasak di dapur umum. Kepada adik-adik ini dengan sedikit bergurau aku berpesan, "Adik-adik jaga kesahatan ya. Relawan tidak boleh sakit. Kalau ada takdir, kalian juga boleh menemukan jodoh disini. Orang baik tentu akan bertemu dengan orang baik juga."
Titik kunjungan kami berikutnya adalah lokasi psikososial. Lokasi ini berada di halaman rumah penduduk dimana penyintas mengungsi. Di atas bentangan terpal relawan memandu anak-anak yang duduk melingkar. Mereka melakukan permainan edukatif. Pada setiap bencana alam anak-anak sebagaimana orang dewasa juga menjadi korban. Bagi anak-anak bencana sering membuat trauma berkepanjangan. Maka kepada mereka diperlukan pendampingan psikososial. Pendampingan ini dilakukan oleh relawan yang umumnya adalah mahasiswa fakultas psikologi atau jurusan pendidikan. Di Pronojiwo ini mereka berasal dari beberapa perguruan tinggi Muhammadiyah di Jatim. Kegembiraan anak-anak ini membuat aku tidak tahan untuk tidak bergabung. Demikian juga dengan Arif Jamali Muis Wakil Ketua MDMC. Kami masuk ke dalam lingkaran anak-anak dan terlibat permainan yang menyenangkan ini. Penutup dari kebahagiaan bersama kami disini adalah penyerahan simbolis family kit yang berisi kebutuhan sehari-hari sebanyak 50 paket kepada para keluarga penyintas.
Selanjutnya kami meninjau lokasi terdampak langsung erupsi Semeru. Dengan tiga mobil lapangan triton milik Muhammadiyah yang selalu siap di lokasi kami menuju dusun terdekat. Mobil-mobil dobel gardan ini sudah dikenal masyarakat di sekitar bencana karena sering bolak-balik mengantar berbagai keperluan terkait kebencanaan. Bahkan Bupati Lumajang pun suka menaiki mobil ini ketika meninjau lokasi bencana. Sekitar lima kilometer perjalanan dari Poskor kami memasuki dusun Supiturang Desa Oro-oro Ombo. Dari sebelah timur dusun ini kami bisa melihat langsung sungai Curah Kobokan jalur aliran awan panas dan lahar dingin. Tiga minggu setelah kejadian (04/12/21) dampak letusan masih sangat terlihat nyata. Seluruh sisi-sisi sungai yang lebarnya ratusan meter dengan ketinggian tebing tidak kurang sepuluh meter seakan melepuh karena terjangan awan panas dan lahar dingin. Beberapa bangkai alat berat penambang pasir nampak di tengah sungai. Kepulan asap masih terlihat di tengah sungai yang tertutup lahar dingin. Puluhan rumah penduduk hancur berantakan.
Sepulang dari Oro-oro Ombo kami langsung menuju Pos Emergency Medical Team (EMT). Pos ini berada di tepi jalan raya Malang-Lumajang. Di jalur ini kami tidak bisa melihat jembatan yang putus diterjang lahar dingin di jalur ini. Kawasannya ditutup pihak berwajib dengan alasan keamanan. Di jalur ini selain Poskor MDMC, Muhammadiyah memiliki Pos EMT dan Pos PCM Pronojiwo. Pos EMT adalah pos kesehatan yang dibentuk oleh Majelis PKU Muhammadiyah. Tim Kesehatannya terdiri dari para dokter dan paramedis. Mereka berasal dari gabungan rumah sakit Muhammadiyah terdekat. Di Pronojiwo EMT memanfaatkan sebuah gedung pemerintah milik Dinas Pertanian. Dari titik ini layanan kesehatan untuk para pengungsi dikoordinasikan sejak hari-hari pertama gunung meletus. Sebagaimana di berbagai lokasi bencana lainnya layanan EMT Muhammadiyah ini sangat dibutuhkan masyarakat. Di Pronojiwo layanan EMT akan terus dipertahankan sampai beberapa bulan ke depan.
Terakhir kami singgah di Posyan milik Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pronojiwo. PCM Pronojiwo ini sebelumnya lama vakum dan baru saja dilantik oleh PDM Lumajang. Meletusnya gunung Semeru membuat banyak kader Muhamadiyah di kawasan ini kembali kompak. Umumnya mereka adalah para anggota Tapak Suci yang sudah lama berdiri disini. Untuk itu mereka mendirikan Posko PCM. Karena lama tidak aktif mereka tidak tahu bahwa MDMC maupun EMT adalah bagian dari Persyarikatan. Sedangkan tim MDMC ketika datang pertama kali tidak menemukan aset Persyarikatan yang bisa dijadikan Poskor. Akhirnya disepakati posko PCM ini menjadi Pos Layanan di bawah koordinasi Poskor MDMC. Di Posyan PCM ini terlihat kesibukan yang tinggi warga Muhammadiyah Pronojiwo. Logisitik melimpah dan suasana guyub sangat terasa. Kemudian kami mengakhiri peninjauan lapangan hari ini dengan makan bersama di rumah Pak Gunawan, ketua PCM Pronojiwo. Suasana kebersamaan, rumah Pak Gun yang asri, dan sajian makan siang yang enak dari tuan rumah membuat aku malas meninggaalkan Pronojiwo. (BERSAMBUNG)
Menteng Raya 62 Jakarta, 06 Januari 2022
Mahli Zainuddin Tago
[PR Lazismu PP Muhammadiyah/Mahli Zainuddin Tago]

