

CILACAP — Pemberdayaan terhadap narapidana terorisme (napiter) penting diberikan sebagai upaya konkret memutus rantai radikalisme. Langkah ini dilakukan untuk mencegah mereka kembali ke jaringan teror agar tumbuh kemandirian dan percaya diri bahwa stigma sosial kerap membuat sulit mereka kembali ke masyarakat.
Lazismu Cilacap bersama Indensos Densus 88 AT dan DPD Juru Sembelih Halal (JULEHA) Cilacap menggelar Pelatihan Juru Sembelih Halal bagi narapidana terorisme (napiter) di Lapas Besi Nusakambangan, Kamis (21/5/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari program deradikalisasi sekaligus pembekalan keterampilan bagi warga binaan agar memiliki bekal yang bermanfaat setelah kembali ke masyarakat. Pelatihan berlangsung di lingkungan Lapas Besi Nusakambangan, yang diikuti oleh 28 peserta yang berasal dari Lapas Besi, Lapas Gladakan, dan Lapas Ngaseman.
Hadir dalam kegiatan itu Iwan Zuli dan Kossa dari Indensos Densus 88 AT, Kepala Lapas Besi Muda Husni, Manajer Lazismu Cilacap Budi Santoso, serta Rofiqul Mustaqim bersama tim DPD JULEHA Cilacap.
Dalam pelaksanaannya, ungkap Manajer Lazismu Cilacap, Budi Santoso, peserta mendapatkan materi terkait tata cara penyembelihan halal sesuai syariat Islam, teknik penyembelihan yang benar, hingga praktik langsung di lapangan.
Program tersebut diharapkan mampu memberikan keterampilan produktif sekaligus membangun semangat perubahan positif bagi para warga binaan. “Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen Muhammadiyah dalam mendukung program pemerintah, khususnya dalam pembinaan warga binaan melalui pendekatan keterampilan dan pemberdayaan”, ujarnya.
“Persyarikatan Muhammadiyah melalui Lazismu berkomitmen mendukung program pemerintah dalam upaya memberikan pembekalan kepada warga binaan, termasuk melalui pelatihan juru sembelih halal ini,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Besi Nusakambangan, Muda Husni, menyambut baik sinergi berbagai pihak dalam mendukung proses pembinaan napiter. “Pelatihan semacam ini dapat menjadi bekal keterampilan yang bermanfaat dan membuka peluang usaha ketika para warga binaan telah menyelesaikan masa pidana”, jelasnya.
Melalui kolaborasi tersebut, Lazismu Cilacap berharap program pembinaan berbasis keterampilan dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya menciptakan proses reintegrasi sosial yang lebih baik bagi warga binaan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Cilacap]

INDRAMAYU – Program Kemaslahatan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), kembali memberikan nilai manfaat untuk bidang pendidikan kepada masyarakat di Haurgeulis, Kabupaten Indramayu. Kolaborasi bersama Lazismu di program ini, berhasil mewujudkan ruang kelas baru untuk peningkatan kualitas kegiatan belajar mengajar.
Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Haurgeulis, sebagai penerima manfaat mendapatkan bantuan program kemaslahatan tersebut. Secara resmi, kegiatan ditandai dengan prosesi penandatanganan serah terima dan pengguntingan pita, oleh BPKH dan Lazismu kepada Kepala Sekolah MI Muhammadiyah Haurgeulis, yang disaksikan jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah Indramayu dan instansi pemerintah setempat, pada Rabu, (13/5/2026).
Kepala MI Muhammadiyah Haurgeulis, Finda Fitria Trisno menyampaikan terima kasih kepada BPKH dan Lazismu, atas bantuan pembangunan ruang kelas baru. “Bantuan ini, harapan baru dalam peningkatan kualitas pembelajaran sehingga peserta didik merasa nyaman”, katanya.
Apresiasi juga disampaikan Ketua PDM Indramayu, Djunaidi Karso, bahwa atas sinergi program itu, program kemaslahatan BPKH bisa berkontribusi dalam mendukung pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan. “Pembangunan sarana pendidikan merupakan investasi besar dalam mencetak generasi Islam yang unggul dan berkemajuan”, ujarnya.
Pada kesempatan itu, Wakil Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Muarawati Nur Malinda, mengungkapkan nilai penting kolaborasi dalam membangun pendidikan. Ia menjelaskan, kemitraan strategis ini merupakan bagian dari upaya menguatkan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya di Indramayu.
Nilai manfaat itu kembali ditegaskan Deputi BPKH RI, Miftahudin, adanya program kemaslahatan BPKH untuk memberikan manfaat seluas-luasnya kepada umat. Sektor pendidikan sebagai prioritasnya yang juga akan berdampak di bidang sosial keagamaan. Ia berharap ruang kelas baru bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kemajuan pendidikan.
“Sumber dana pembangunan ruang kelas baru itu, berasal dari nilai manfaat Dana Abadi Umat (DAU) yang dikelola Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Kemudian dana ini dimanfaatkan kembali melalui program kemaslahatan untuk mendukung pendidikan”, paparnya.
Bersamaan dengan acara peresmian tersebut, BPKH, Lazismu, PDM Indramayu, Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Indramayu, Camat Haurgeulis dan tokoh masyarakat, melakukan peninjauan langsung ruang kelas baru. Kolaborasi ini menjadi penanda spirit gotong-royong dan kepedulian sosial terhadap masa depan pendidikan Islam di Kabupaten Indramayu.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

JAKARTA – Meningkatkan kompetensi dan etos kerja amil menjadi bagian dalam program pemberdayaan Lazismu Pusat. Salah satunya dengan menggelar sertifikasi amil yang tergabung dalam peserta program Philanthropy Academy dengan metode portofolio.
Program Philanthropy Academy merupakan program pemberdayaan yang didesain untuk meningkatkan kapasitas peserta dengan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman praktis, dalam pengelolaan program filantropi.
Uji kompetensi untuk peserta program Philanthropy Academy adalah babak baru Lazismu dalam program pemberdayaan untuk generasi muda. Ujian kompetensi digelar pada Senin, (11/5/2026), yang diikuti oleh 11 peserta di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah.
Menurut Direktur Program Pendistribusian dan Pendayagunaan Lazismu Pusat, Ardi Lutfi Kautsar, tujuannya, untuk mencetak generasi profesional yang kompeten dalam mengelola kegiatan filantropi, secara efektif, akuntabel, dan berkelanjutan sejalan dengan kebutuhan Masyarakat dan perkembangan zaman.
“Pendekatan portofolio adalah peningkatan kapasitas dengan pembelajaran yang menekankan perencanaan kegiatan yang hasil kerjanya kemudian dikumpulkan dalam satu periode waktu yang telah ditentukan”, jelasnya.
Perencanaan kegiatan, mencakup aspek penghimpunan, pendistribusian dan pendayagunaan, dan pengelolaan dana zakat, infak, dan sedakah. Ardi mengatakan, peserta ditempatkan di berbagai divisi sesuai dengan kebutuhan organisasi dan minat pengembangan masing-masing.
“Semua peserta diharapkan memperoleh pengalaman langsung dalam pengelolaan program filantropi secara komprehensif”, tuturnya.
Dalam Uji Kompetensi itu, Manager Program Pendistribusian dan Pendayagunaan Lazismu Pusat, Shofia Khaerunnisa, mengatakan bahwa secara teknis, sesuai sasaran programnya, menggunakan dua skema program sertifikasi.
“Pertama skema sertifikasi klaster pelaksanaan pendistribusian dan pendayagunaan zakat, dan yang kedua, skema sertifikasi klaster pelaksanaan penghimpunan donasi zakat”, paparnya.
Dari indikator kinerja, kata Shofia, ada meningkatnya jumlah sumber daya amil filantropi profesional dan peningkatan kualitas pengelolaan zakat di lembaga amil zakat, khususnya Lazismu Pusat.
“Setiap peserta mampu memiliki 1 dokumen portofolio dan memiliki suatu hasil berupa tersusunnya laporan praktik individu”, pungkasnya. Ia berharap sesuai perencanaan 80 persen peserta Uji Kompetensi dalam program Philanthropy Academy lulus sertifikasi.
Ihwaluddin Arya Putra, salah seorang peserta uji kompetensi sertifikasi melalui skema Pendistribusian dan Pendayagunaan menyampaikan bahwa melalui uji kompetensi metode portofolio saya merasa diberikan ruang untuk menunjukkan proses belajar, pengalaman, dan kemampuan yang selama ini dijalani.
“Terima kasih kepada pihak Lembaga Sertifikasi Profesi PP Muhammadiyah dan asesor yang telah mendampingi proses ini dengan baik. Semoga hasilnya membawa manfaat untuk langkah profesional ke depan”, imbuhnya.
Hal senada diungkapkan Hafiz Ardhiyansah, bahwa bersama yang lain, peserta Philanthropy Academy yang mengikuti proses uji kompetensi mengungkapan rasa syukur bisa mengikuti uji kompetensi ini.
”saya sangat senang bisa mengikuti uji kompetensi untuk sertifikasi profesi melalui skema penghimpunan”, katanya seraya mengucapkan terima kasih kepada Lazismu Pusat yang telah memberikan kesempatan untuk dapat magang selama satu tahun bahkan diberikan kesempatan untuk mengikuti sertifikasi ini.
Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) PP Muhammadiyah, Berlin, menyampaikan atas nama LSP, kami mengucapkan selamat mengikuti uji kompetensi kepada seluruh peserta. ”Berharap kegiatan ini dapat menjadi sarana pengakuan kompetensi yang objektif, profesional, dan bermanfaat bagi pengembangan karier peserta di masa mendatang”, ujarnya.
Adapun bertindak sebagai asesor yaitu, Muarawati Nur Malinda dan Edi Suryanto. Keduanya merupakan asesor tersertifikasi yang telah diakui kompetensinya berdasarkan LSP PP Muhammadiyah.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

Persoalan Dam memiliki dinamika dalam penyelenggaran haji. Khususnya bagi jamaah haji asal Indonesia. Kajian mendalam dilakukan untuk mengupas bagaimana pengelolaan Dam haji dalam perspektif Maqashid Syariah sebagai tujuan luhur yang dicapai oleh syariah.
Ketika Dam berbuah kajian fikih haji yang dinamis, Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengeluarkan fatwa bahwa Dam boleh dialihkan di tanah air. Fatwa ini tidak hadir seketika. Butuh waktu empat tahun, sejak 2022, bagi Muhammadiyah lakukan kajian lintas disiplin.
Demikian disampaikan Asep Shalahudin, Anggota Divisi Fatwa dan Pengembangan Tuntunan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, dalam Ziska Talk Spesial Qurban: Kupas Tuntas Fikih DAM Haji dan Praktik Baik Qurbanmu Bahagiakan Sesama, pada Selasa, (12/5/2026), di Studio TVMU, Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta.
Asep menjelaskan, merujuk pada arti inti Dam, yaitu darah yang dialirkan dari hewan. “Secara definisi Dam adalah penyembelihan kambing, sapi atau unta yang diwajibkan bagi seorang jamaah haji dikarenakan adanya beberapa sebab atau hal yang melatarbelakanginya,” jelas Asep.
Secara hukum asal, penyembelihan Dam memang dilakukan di Tanah Haram. Namun, menurut Asep, terdapat sejumlah kondisi yang memungkinkan terjadinya pergeseran hukum. Dengan kata lain, lanjut Asep, ada fenomena yang menjadi pertimbangan paling tidak ada tiga, yaitu kerusakan lingkungan, manfaat Dam yang tidak optimal, serta masih banyaknya masyarakat fakir - miskin yang membutuhkan.
Menurut Asep, penyembelihan hewan Dam dalam jumlah besar di Arab Saudi berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan, mulai dari limbah darah hingga sisa pengolahan hewan. Selain itu, distribusi manfaat daging Dam dinilai belum sepenuhnya optimal.
Dalam kajian Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Indonesia masih menghadapi persoalan kemiskinan dan rendahnya akses sebagian masyarakat terhadap protein hewani. Karena itu, pengalihan Dam ke tanah air dinilai tepat untuk menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas tanpa meninggalkan nilai syariah yang menjadi landasannya.
Fatwa tersebut, ungkap Asep, menjadi tantangan tersendiri bagi lembaga pengelola untuk memastikan pelaksanaan pengalihan Dam dilakukan secara amanah, transparans, dan tepat sasaran sehingga semangat ibadah dan solidaritas sosial dapat berjalan beriringan.
Solusi Atasi Ketimpangan Gizi
Pada perspektif lain, narasumber berikutnya, Rachmadin Ismail, Pimpinan Redaksi Tirto, mengatakan, ketimpangan konsumsi daging merah di Indonesia serta meningkatnya persoalan sampah plastik saat Idul Adha perlu perhatian berbagai pihak.
Ia menilai distribusi daging kurban perlu diarahkan lebih tepat sasaran agar mampu membantu memperbaiki kualitas gizi masyarakat, khususnya di wilayah dengan tingkat konsumsi protein hewani yang masih rendah, terutama kawasan terluar, terdepan dan tertinggal.
Wilayah Indonesia Timur, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), misalnya, masih menghadapi persoalan rendahnya konsumsi daging merah, meskipun daerah tersebut dikenal sebagai salah satu sentra peternakan sapi nasional.
“Di satu sisi mereka menghasilkan sapi, tetapi di sisi lain tingkat konsumsi daging masyarakatnya justru rendah,” pungkasnya. Persoalan storage adalah tantangan besarnya. Daging tidak bisa disimpan lama sehingga lebih banyak dijual keluar ketimbang dikonsumsi masyarakat lokal.
Rachmadin mengatakan, momentum Idul Adha menjadi sarana penting untuk memperbaiki pemerataan konsumsi protein hewani di Indonesia. Apa yang dilakukan Lazismu menjadi relevan, karena protein hewani memiliki kandungan penting seperti zat besi, vitamin B12, dan faktor pertumbuhan yang berpengaruh terhadap perkembangan kognitif anak.
Ia memahami bahwa secara umum, protein hewani tidak selalu dari daging merah. Namun, dalam konteks kurban, distribusi protein hewani merupakan langkah nyata solusi atasi ketimpangan gizi dan membantu perbaikan gizi masyarakat.
Menjangkau Penerima Manfaat Lebih Luas
Salah satu persoalan distribusi kurban adalah daging kurban masih terkonsentrasi di kota-kota. Menyoroti hal itu, Direktur Penghimpunan Lazismu Pusat, Mochammad Sholeh Farabi mengatakan program tersebut lahir dari kegelisahan Lazismu melihat penumpukan distribusi daging kurban di wilayah perkotaan, sementara masih banyak daerah tak tersentuh.
“Kami melihat ada fenomena penumpukan daging kurban di wilayah perkotaan, terutama di kalangan masyarakat menengah ke atas yang rutin berkurban di lingkungan masjid sekitar. Akibatnya, distribusi daging jatuh ke masyarakat yang tergolong mampu,” ujar Farabi.
Ia mencontohkan sejumlah wilayah di NTT yang justru menjual hewan ternaknya ke Pulau Jawa saat jelang Idul Adha. Sementara masyarakat setempat minim akses terhadap daging kurban. Lazismu juga menemukan daerah-daerah yang warganya belum pernah merasakan pelaksanaan kurban secara langsung dalam kerangka ketahanan pangan.
Melalui program Qurbanmu, kata Farabi, Lazismu mengarahkan distribusi kurban ke wilayah untuk mendukung ketahanan pangan, khususunya daerah dengan tingkat konsumsi daging rendah, kawasan terpencil, hingga kawasan terdampak bencana. Farabi juga menegaskan dalam pengelolaan, pengemasan dan distribusinya mengikuti aturan yang berlaku sehingga menjadi ramah lingkungan dan akuntabel.
Sementara itu, Faozan Amar, Dosen FEB Uhamka, menekankan nilai penting aspek penghimpunan menjadi tahapan penting yang harus dipahami amil Lazismu agar program kurban dapat berjalan maksimal. Ia menilai, segmentasi calon pekurban butuh pelayanan prima.
“Siapa sasaran calon pekurban, apakah dari kalangan menengah atas, menengah, atau menengah bawah. Dari situ kita bisa mengetahui sikap, perilaku, serta kebiasaan mereka sehingga pendekatan yang dilakukan menjadi tepat,” tandasnya.
Secara profesional, sambung Faozan, mulai dari jenis hewan yang dipotong, sumber pengadaan hewan, hingga penentuan harga harus dirancang dengan baik agar program berjalan efektif dan akuntabel.
Ia juga menekankan pentingnya menentukan sasaran penerima manfaat secara lebih spesifik. Menurutnya, istilah “kurban untuk semua” masih terlalu luas jika tidak diikuti penjelasan yang jelas mengenai kelompok penerima manfaat.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

TASIKMALAYA – Badan Pengelola Keuangan Haji terus berkomitmen memberikan nilai manfaat dari Dana Abadi Umat. Pada kesempatan ini, Lazismu sebagai mitra kemaslahatan kembali dipercaya menyalurkan bantuan di Pondok Pesantren Amanah Muhammadiyah, Jalan Sambong Jaya, Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, pada Rabu, (6/5/2026).
Mudir Pesantren Amanah Muhammadiyah, Arip Somantri, menyampaikan rasa syukur atas bantuan pendidikan ini. Arip menekankan, bantuan yang diterima akan dimanfaatkan untuk melengkapi fasilitas yang ada di pesantren.
"Bantuan program kemaslahatan dari BPKH, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh internal pesantren, tapi juga tamu yang datang ke pesantren”, paparnya. Bantuan fasilitas yang diterima pesantren berupa laboratorium sains, perpustakaan dan ruang multimedia.
Arip mengatakan, ada barcode tersedia di ruang makan dan ruang tamu yang bisa diakses untuk membaca di perpustakaan digital. Pesantren secara teknis akan menerapkan aturan dalam penggunaan teknologi dalam lingkungan pendidikan. “Salah satunya pengasuh bertanggung jawab atas santri yang membawa laptop dan HP pribadi melalui mekanisme yang ramah anak”, pungkasnya.
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat, Dadang Syarifudin, mengapresiasi kolaborasi antara BPKH dan Lazismu. “Sinergi yang dibangun bukti nyata peran pemerintah dan Muhammadiyah dalam mencetak generasi unggul di lingkungan pesantren”, ungkapnya.
"Mudah-mudahan kolaborasi ini tidak sekadar penyerahan biasa untuk meningkatkan keilmuan anak-anak dan masyarakat sekitar pesantren", kata Dadang yang juga sebagai Ketua Dewan Pengawas Syariah Lazismu Pusat. Prinsipnya, BPKH bermitra dengan Lazismu Pusat sebagai mitra kemaslahatan menjamin program berjalan tepat manfaat.
Seementara itu, Sekretaris Badan Pengurus Lazismu Pusat, Gunawan Hidayat, menegaskan Lazismu berkomitmen mengawal distribusi bantuan tersebut. “Aspek tata kelola dari awal sampai akhir dan pelaporan dilakukan secara akuntabel dan transparans”, bebernya.
Menanggapi hal itu, Anggota Dewan Pengawas BPKH, Deni Suardini, menyoroti sumber pendanaan yang digunakan. "Sumber dana berasal dari nilai manfaat Dana Abadi Umat (DAU). Bukandari setoran awal haji milik jamaah”, paparnya Karena itu, prinsip transparansi tetap terjaga yang dikelola dengan profesional dan nilai manfaatnya kembali kepada umat.
Pengasuh dan santri Pondok Pesantren berbahagia. Fasilitas baru untuk menunjang pendidikan nantinya bisa dimanfaatkan dengan tepat guna. Dalam kesempatan itu, BPKH, Lazismu, PWM Jawa Barat dan pengasuh pondok pesantren meninjau langsung bangunan yang sudah rampung.
Bangunan terdiri dari laboratorium untuk praktik sains dan teknologi, Ruang Multimedia sebagai pusat media pembelajaran digital, dan Perpustakaan yang berdiri representatif sehingga bisa meningkatkan minat baca para santri.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

BOGOR – Krisis lingkungan ada di sekitar kita. Kesadaran ekologis selalu mendapat perhatian luas. Muhammadiyah sebagai organisasi kemasyarakatan berbasis keagamaan mendorong aktualisasi gerakan lingkungan yang dimulai dari lembaga pendidikan untuk terlibat aktif yaitu pesantren.
Melalui infrastruktur pendidikan dalam merespons krisis lingkungan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah meluncurkan Pesantren Eco-Saintek Muhammadiyah, di Kampus Pesantren Eco-Saintek Muhammadiyah, Kawasan Rancamaya, Kota Bogor, Jawa Barat, pada Ahad, (3/5/2026).
Peluncuran pesantren tersebut menjadi momentum penting dalam menghadirkan model pendidikan pesantren modern yang mensintesiskan nilai keislaman, sains, teknologi, dan kesadaran ekologis dalam satu sistem kurikulum pendidikan terintegrasi yang berbasis filantropi.
Hadir dalam peluncuran itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu’ti, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim, serta Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hilman Latief.
Secara simbolik, prosesi peresmian dilakukan oleh Abdul Mu’ti bersama Hilman Latief, dan Dedie A. Rachim selaku Wali Kota Bogor. Hal ini kian mengukuhkan Muhammadiyah untuk terlibat aktif dalam krisis lingkungan bahwa pesantren menjadi bagian aktor penting di dalamnya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengatakan bahwa Pesantren Eco-Saintek Muhammadiyah lahir sebagai ikhtiar menyiapkan generasi masa depan yang cerdas dan progresif. “Diharapkan generasi ini memiliki dampak berkelanjutan yang dibentengi karakter iman, berakhlak mulia, unggul dalam sains dan teknologi, serta memiliki empati terhadap kelestarian lingkungan”, ujarnya.
Pesantren Eco-Saintek Muhammadiyah, sambung Abdul Mu’ti, dicitakan menjadi model pendidikan pesantren masa depan yang adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai Islam berkemajuan.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Majelis Dikdasmen & Pendidikan Non-Formal (Dikdasmen PNF) PP Muhammadiyah, Didik Suhardi, menyerahkan bantuan sebesar Rp50 juta sebagai dukungan nyata dalam pengembangan Pesantren Eco-Saintek Muhammadiyah.
Bantuan ini menurutnya bisa memperkuat sarana dan fasilitas pendukung pada program pendidikan inovatif berkelanjutan. “Ini adalah wujud komitmen kami dalam menggerakan lahirnya pesantren Muhammadiyah yang unggul, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta mampu melahirkan generasi berkemajuan,” pungkasnya.
Sebagai pesantren berbasis filantropi yang didukung penuh oleh Lazismu, dalam peresmiannya, Muhammadiyah turut meluncurkan Program Beasiswa Santri Unggul 2026 sebagai komitmen membuka akses pendidikan bermutu bagi putra-putri terbaik bangsa.
Kesempatan belajar di Pesantren Eco-Saintek Muhammadiyah diberikan kepada 60 santri terpilih dengan skema program beasiswa pendidikan. Beasiswa diberikan dalam bentuk pembiayaan pendidikan berbasis asrama meliputi pembelajaran terpadu, pembinaan karakter, hingga penguatan nilai-nilai kepemimpinan.
Program beasiswa pendidikan itu didesain sebagai alur kaderisasi untuk melahirkan generasi santri unggul tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, inovatif, yang siap menjadi kader pemimpin masa depan.
Sementara itu, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, mengungkapkan pesantren berbasis filantropi ini merupakan kolaborasi bersama lintas majelis dan lembaga yang ada di Muhammadiyah.
“Berbasis gerakan filantropi merupakan upaya mendayagunakan wakaf dan lahan berikut bangunan di kawasan Rancamaya ini melalui peran penting sinergi antara majelis pendayagunaan wakaf, Lazismu, Dikdasmen PNF, dan Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah (LP2PM)”, jelasnya.
Mujadid mengatakan, pendanaan awalnya untuk renovasi sebagian bangunan, jalan di dalam kompleks pesantren, hingga penyediaan beasiswa calon santri semua berasal dari wujud nyata gerakan filantropi Islam. Dalam perkembangannya, kata Mujadid, Lazismu menyalurkan Rp 250 juta untuk program beasiswa.
Sebagai informasi, Program Beasiswa Santri Unggul 2026 telah dibuka secara nasional dan memberikan kesempatan luas bagi calon santri dari seluruh Indonesia untuk mengikuti seleksi berbasis kualitas kompetensi.
Pesantren Eco-Saintek Muhammadiyah merupakan pesantren modern setingkat SMA yang mengintegrasikan kurikulum nasional, kurikulum pesantren, serta penguatan sains, teknologi, dan kesadaran ekologis dalam satu sistem pendidikan terpadu untuk mencetak generasi berdaya saing global, berkarakter, dan memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan alam.
Turut hadir dalam peresmian ini, Ketua Majelis Dikdasmen & PNF PP Muhammadiyah, Didik Suhardi, Wakil Ketua R. Alpha Amirracahman, dan Wakil Sekretaris Baharuddin, beserta jajaran pimpinan majelis dan lembaga Muhammadiyah serta masyarakat di lingkungan pesantren.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

