Berita

Ikuti kabar terbaru dari Lazismu. Lihat laporan penyaluran, kisah inspiratif penerima manfaat, dan dampak nyata dari ZIS Anda
Lazismu Ajak Siswa SD Muhammadiyah 24 Gajahan Gemar Berbagi dengan Kencleng

Lazismu Ajak Siswa SD Muhammadiyah 24 Gajahan Gemar Berbagi dengan Kencleng

SURAKARTA -- Suasana berbeda mewarnai upacara bendera perdana awal tahun ajaran baru di SD Muhammadiyah 24 Gajahan, Surakarta, Senin (3/8/2026). Dalam upacara hari itu, dirangkai dengan seremoni penyerahan Kencleng Surga kepada perwakilan murid kelas I sebagai bagian dari penanaman pendidikan karakter tentang pembiasaan berbagi sejak dini.

Kepala SD Muhammadiyah 24 Gajahan, Gatot Suherman, memberikan apresiasi kepada para petugas upacara yang untuk pertama kalinya menjalankan tugas. Menurutnya, setiap proses belajar pasti diawali dengan kekurangan, namun keberanian tampil di depan umum merupakan bekal penting dalam membangun karakter peserta didik.

"Anak-anak yang hari ini menjadi petugas upacara telah menunjukkan keberanian dan tanggung jawab. Jika masih ada kekurangan, itu adalah bagian dari proses belajar yang harus terus diperbaiki," ujar Gatot dalam amanatnya.

Ia menegaskan upacara bendera rutin setiap hari Senin menjadi media pembelajaran untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan, kedisiplinan, serta tanggung jawab yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.

Gatot juga mengajak seluruh siswa menjaga kebersihan lingkungan sekolah sebagai bagian dari pendidikan karakter. Ia mengingatkan agar setiap siswa membuang sampah pada tempatnya dan memilah botol plastik bekas sebelum masuk ke keranjang berwarna biru.

Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti melepas tutup botol, meremas botol plastik, dan membuangnya ke tempat yang telah disediakan merupakan bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan sekaligus melatih budaya daur ulang sejak usia dini.

"Kebersihan adalah tanggung jawab bersama. Mari kita biasakan menjaga lingkungan sekolah agar tetap bersih, sehat, dan nyaman," pesannya.

Selain itu, Gatot menekankan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan ramah anak. Ia mengingatkan seluruh siswa agar tidak saling merundung dan mengejek antarteman sehingga semua dapat belajar dengan nyaman bebas dari perundungan.

Ia juga memotivasi siswa untuk selalu bersemangat mengikuti pembelajaran serta tidak ragu bertanya kepada guru apabila mengalami kesulitan. Menurutnya, keberanian bertanya merupakan salah satu kunci keberhasilan belajar yang diikuti budaya disiplin.

Usai upacara, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan Kencleng Surga kepada perwakilan murid kelas I, Wijna dan Hana. Program tersebut menjadi simbol pembiasaan gemar bersedekah sekaligus menanamkan nilai kepedulian sosial kepada peserta didik sejak dini.

Menanggapi peluncuran kembali program tersebut, Ketua Gerai Lazismu SD Muhammadiyah 24 Gajahan, Sugiharko, mengajak seluruh siswa membiasakan diri mengisi Kencleng Surga setiap selesai Salat Subuh bersama keluarga di rumah.

"Kencleng Surga merupakan sarana membangun kebiasaan berbagi sejak usia dini. Kami berharap anak-anak membiasakan mengisinya setiap selesai Salat Subuh, meskipun nominalnya kecil. Yang terpenting adalah istikomah dalam bersedekah," ujarnya.

Ia juga mengajak para orang tua untuk berperan aktif mendampingi sekaligus memberikan teladan kepada putra-putrinya agar semangat berbagi tumbuh menjadi karakter yang melekat.

Program Kencleng Surga merupakan bagian dari pendidikan karakter Islami di SD Muhammadiyah 24 Gajahan. Selain menanamkan nilai kepedulian sosial, program tersebut juga melatih keikhlasan, rasa syukur, dan semangat berbagi kepada sesama sejak usia sekolah dasar.

[kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Surakarta/suguharko]

SELENGKAPNYA
4 Agustus 2026
Peduli Kelompok Rentan, Lazismu Selenggarakan Seminar Nasional Anak Berkebutuhan Khusus

Peduli Kelompok Rentan, Lazismu Selenggarakan Seminar Nasional Anak Berkebutuhan Khusus

KENDARI -- Kondisi anak berkebutuhan khusus sebagai bagian dari kelompok rentan biasanya menghadapi pertanyaan tentang tumbuh kembangnya. Orang tua dalam menemui pertanyaan itu menceritakan keadaannya yang seringkali responsnya dengan dinamika berbeda-beda.        

Di Sulawesi Tenggara, praktisi pendidikan inklusi membahasnya dalam Seminar Nasional Anak Berkebutuhan Khusus 2026, dengan tema “Pola Asuh Anak Berkebutuhan Khusus: Membangun Keluarga yang Inklusif, Mandiri, dan Berdaya” pada Sabtu, (1/8/2026), di Aula Lantai 4 Universitas Muhammadiyah Kendari.

Seminar nasional ini, hasil kolaborasi Lazismu Sulawesi Tenggara dengan UPTD Penanganan Siswa Berkebutuhan Khusus Sultra, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kendari, Klinik Utama PKU Muhammadiyah Kendari, dan Universitas Muhammadiyah Kendari.

Seminar diikuti ratusan peserta yang berasal dari kalangan mahasiswa, guru, serta orang tua siswa anak berkebutuhan khusus (ABK). Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi dan berbagi pengetahuan mengenai pengasuhan, kesehatan, pendidikan, serta pengembangan potensi anak berkebutuhan khusus.

Kepala UPTD Penanganan Siswa Berkebutuhan Khusus Sultra, Nurhaerani Haeba, mengatakan bahwa orang tua merupakan lingkungan terdekat. Dalam membangun kesiapan psikologis, orang tua salah satu sumber dukungan utama bagi anak.

“Kemampuan orang tua dalam mengelola emosi, menerima kondisi anak, membangun komunikasi yang positif, serta memahami kebutuhan individual anak menjadi bagian penting dalam proses pengasuhan”, paparnya.

Kesiapan psikologis orang tua juga diperlukan agar pendampingan tidak hanya berfokus pada keterbatasan anak. Lebih jauh lagi, Haeba menambahkan orang tua harus mampu melihat potensi dan perkembangan yang dapat terus dikembangkan.

Dari perspektif kesehatan, Dokter Spesialis Anak Klinik Utama PKU Muhammadiyah Kendari, Rhenislawaty, menuturkan bahwa untuk memahami kondisi anak disabilitas, pendekatan medis juga perlu berjalan beriringan dengan pendekatan psikologis, pendidikan, dan sosial.

“Setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda sehingga penanganan dan pendampingan perlu disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan masing-masing,” ujarnya. Melalui pemahaman yang tepat, pendekatan dengan cara pandang medis diharapkan keluarga mampu mengambil langkah lebih baik dalam memberikan dukungan kesehatan dan tumbuh kembangnya.

Dalam kacamata pendidikan inklusi, Kabid Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kendari, Haslita, mengungkapkan bahwa pendidikan inklusi tidak hanya berbicara mengenai akses anak untuk bersekolah, tetapi juga bagaimana sekolah mampu menciptakan lingkungan belajar yang ramah, aman, dan mendukung kebutuhan peserta didik.

“Peran guru dan tenaga kependidikan juga sangat penting dalam menciptakan proses pembelajaran yang mampu mengakomodasi keberagaman kemampuan peserta didik”, pungkasnya.

Dengan demikian, menurut Reza Kurniawan, yang mengkaji dari aspek kebijakan dan praktik pendampingan anak berkebutuhan khusus menekankan arti penting kemampuan anak. Melihat kemampuan itu berarti ada keterbatasan. Inspirasi dari pengalaman penyandang disabilitas juga menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukan berarti hilangnya kesempatan mengasah potensi dan berkontribusi bagi masyarakat.

Oleh karena itu, belajar dari kisah, pengalaman dan inspirasi penting dari penyandang disabilitas menjadi penting, kata Reza, yang menempuh Master of Disability Policy & Practice di Flinders University, Australia.

Keterlibatan berbagai peran dari pemangku kepentingan menunjukkan bahwa isu anak berkebutuhan khusus merupakan persoalan bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Diharapkan dapat memperkuat ekosistem pendampingan bagi anak berkebutuhan khusus dan keluarganya.

Pendampingan anak berkebutuhan khusus tidak dapat dibebankan hanya kepada keluarga. Dukungan sekolah, tenaga kesehatan, psikolog, pemerintah, perguruan tinggi, organisasi sosial, dan masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung.

[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Sultra]

SELENGKAPNYA
3 Agustus 2026
Kick Off Program Orang Tua Asuh, Komitmen Lazismu Se-Bali Peduli Pendidikan Yatim Duafa

Kick Off Program Orang Tua Asuh, Komitmen Lazismu Se-Bali Peduli Pendidikan Yatim Duafa

JEMBRANA – Lazismu Wilayah Bali secara resmi melaksanakan Kick Off Program Orang Tua Asuh di Panti Asuhan Muhammadiyah Jembrana, pada Minggu (2/8/2026). Program ini menjadi tonggak dimulainya gerakan kepedulian berkelanjutan untuk mendukung pendidikan dan kesejahteraan anak-anak yatim-piatu dan duafa di seluruh Bali.

Kegiatan itu dihadiri oleh Wakil Ketua PWM Bali Miftahnurrahman, Ketua PDM Jembrana Edi Susilo, Ketua Lazismu Wilayah Bali Riza Putra, Ketua Program Orang Tua Asuh Lazismu Se-Bali Edo Donnes, jajaran pengurus Lazismu Kabupaten Jembrana, Lazismu Kabupaten Tabanan, Lazismu Kota Denpasar, para relawan, donatur, serta puluhan anak asuh Panti Asuhan Muhammadiyah Jembrana.

Menandai dimulainya program, Lazismu menyalurkan santunan kepada anak-anak panti secara simbolis lewat Program Orang Tua Asuh. Diharapkan ini menjadi gerakan bersama yang melibatkan masyarakat luas dalam memberikan dukungan pendidikan dan pembinaan karakter bagi anak-anak yang membutuhkan.

Ketua Program Orang Tua Asuh Lazismu Se-Bali, Edo Donnes, mengatakan bahwa program ini dirancang bukan hanya sebagai bantuan sosial, tetapi sebagai gerakan membangun masa depan generasi.

"Program Orang Tua Asuh menghadirkan kepedulian yang berkelanjutan. Kami ingin setiap anak merasakan mereka memiliki keluarga besar yang mendukung pendidikan dan cita-citanya. Kami mengajak seluruh masyarakat Bali menjadi bagian dari gerakan kebaikan ini", ujar Edo.

Ketua PDM Jembrana, Edi Susilo, menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Jembrana sebagai lokasi peluncuran program se-wilayah Bali. Menurutnya, program tersebut merupakan implementasi nyata dakwah Muhammadiyah yang berorientasi pada pemberdayaan umat.

"Muhammadiyah hadir bukan hanya melalui dakwah lisan, tetapi juga dakwah sosial yang memberi solusi bagi masyarakat. Program Orang Tua Asuh merupakan ikhtiar bersama untuk memastikan anak-anak yatim dan duafa memperoleh kesempatan yang sama dalam meraih pendidikan dan masa depan yang lebih baik", ungkapnya.

Ketua Lazismu Wilayah Bali, Riza Putra, menegaskan bahwa Program Orang Tua Asuh akan menjadi salah satu program strategis Lazismu Wilayah Bali yang akan dikembangkan di seluruh kabupaten/kota.

"Program ini merupakan bentuk komitmen Lazismu dalam mengelola amanah umat secara profesional, transparans, dan berdampak. Kami upayakan akan bangun ekosistem kepedulian yang berkelanjutan sehingga semakin banyak anak yang dapat mengakses pendidikan dan pembinaan melalui dukungan para orang tua asuh", jelas Riza.

Sementara itu, Wakil Ketua PWM Bali, Miftahnurrahman, mengatakan bahwa kepedulian terhadap anak yatim merupakan bagian dari ajaran Islam sekaligus misi utama gerakan Muhammadiyah.

"Merawat dan memuliakan anak yatim bagian dari tanggung jawab keumatan. Program Orang Tua Asuh Lazismu Se-Bali menjadi bukti bahwa nilai-nilai Islam tentang tolong-menolong dan keberpihakan kepada kaum yang membutuhkan terus diwujudkan dalam aksi nyata”, ungkapnya.

Kami berharap gerakan ini terus berkembang sehingga semakin banyak anak-anak yang tumbuh menjadi generasi yang berilmu, mandiri, dan mampu memberikan manfaat bagi bangsa.

Melalui peluncuran Program Orang Tua Asuh Lazismu Se-Bali ini, Lazismu berharap semakin banyak masyarakat, dunia usaha, komunitas, dan para dermawan yang terlibat dalam gerakan filantropi Islam. Dengan semangat kolaborasi, program ini diharapkan mampu menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak yatim dan duafa di seluruh Bali.

[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Bali]

SELENGKAPNYA
3 Agustus 2026
Lazismu Salurkan Bantuan untuk Penyintas Kebakaran di Pulang Pisau

Lazismu Salurkan Bantuan untuk Penyintas Kebakaran di Pulang Pisau

KALIMANTAN TENGAH -- Bencana tak mengenal tempat. Demikian juga dengan kepedulian terhadap sesama. Satu keluarga penyintas kebakaran di Desa Anjir Pulang Pisau, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, bersyukur mendapat perhatian dan bantuan kemanusian dari masyarakat.     

Bantuan kemanusiaan itu disalurkan kepada keluarga Dedy yang pada dini hari, 27 Juli 2026, rumah dan harta bendanya musnah dilalap api. Saat kebakaran terjadi, Dedy mengaku sedang berada di luar rumah untuk berburu burung. Sementara istri dan kedua anaknya berada di dalam rumah dalam kondisi pintu depan rumah terkunci dari luar.

“Alhamdulillah, istri dan kedua anak saya masih bisa menyelamatkan diri melalui pintu belakang. Namun mereka hanya sempat membawa pakaian yang melekat di badan dan satu telepon seluler”, kata Dedy dengan mata berkaca-kaca.  

Semua barang perabotan rumah habis terbakar, termasuk sepeda motor anak saya. Atas bantuan yang diterimanya, Dedi bersyukur dan menyampaikan terima kasih kepada Lazismu Pulang Pisau serta seluruh donatur yang telah memberikan perhatian untuk keluarganya.

“Terima kasih kepada Lazismu Pulang Pisau dan seluruh donatur yang telah memberikan bantuan untuk saya dan keluarga. Insyaallah akan kami gunakan untuk membeli kebutuhan pembangunan rumah”, pungkasnya. Semoga Lazismu Pulang Pisau semakin bisa memberikan  nilai manfaat bagi masyarakat.

Ketua Badan Pengurus Lazismu Pulang Pisau, Achmat Husen, mengatakan bantuan yang disalurkan merupakan bentuk amanah dari masyarakat yang mempercayakan zakat, infak, dan sedekahnya kepada Lazismu.

“Ini amanah dari para donatur yang telah menitipkan zakat, infak, dan sedekah melalui Lazismu. Tugas kami menyalurkannya kepada mereka yang membutuhkan. Semoga bantuan ini meringankan beban keluarga Bapak Dedi, meskipun kami menyadari untuk membangun kembali rumah yang terbakar memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang tak sedikit”, ujarnya.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh donatur yang selama ini telah mempercayakan Lazismu Pulang Pisau. Semoga Allah membalas setiap kebaikan dengan pahala yang berlipat dan keberkahan rezeki, serta menjadikan setiap amanah yang disalurkan bernilai ibadah,” tambahnya.

Melalui program pendistribusian bantuan kemanusiaan, Lazismu Pulang Pisau terus berkomitmen menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat yang terdampak bencana. Kepedulian yang diwujudkan Muhammadiyah melalui Lazismu menjadi bukti semangat memberi untuk negeri tidak hanya hadir dalam bantuan materi, tetapi juga melalui kehadiran, empati, dan penguatan moral bagi para penyintas bencana.

[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Bonni Febri]

SELENGKAPNYA
31 Juli 2026
Peluncuran Buku Jurnalisme Filantropi di Milad Lazismu, Revitalisasi Peran Media untuk Visi Kesejahteraan   

Peluncuran Buku Jurnalisme Filantropi di Milad Lazismu, Revitalisasi Peran Media untuk Visi Kesejahteraan   

JAKARTA – Dalam respsi milad ke-24 Lazismu, di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, 29 Juli 2026, Majalah Suara Muhammadiyah yang berkolaborasi dengan Lazismu meluncurkan buku berjudul, Jurnalisme Filantropi, Media dan Visi Kesejahteraan.

Penulis buku Roni Tobroni, Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyidin, Direktur Penanggulangan Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial Bappenas RI Tirta Sutedjo, dan Peneliti Filantropi Islam Amelia Fauzia, membedah buku setebal 345 halaman dari sudut pandangnya masing-masing.

Penulis mendedahkan bahwa buku ini lahir dari dua kegelisahan intelektual, pertama  jurnalisme yang terus mengalami guncangan disrupsi, kedua praktik kedermawanan yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia tidak terhubung baik dengan dunia jurnalisme.

"Buku ini digagas untuk menjembatani dua kegelisahan itu. Tetapi diksi jurnalisme filantropi, menjadi sebuah kajian keilmuan baru yang interdisiplin dan melahirkan cara pandang, pendekatan dan konsep baru dalam bidang jurnalisme”, ujarnya.

Roni mengungkapkan bahwa jurnalisme filantropi tidak sebatas mengabarkan sesuatu. Tidak berhenti pada menuliskan informasi tentang kegiatan dan aksi sosial, atau hanya memberitakan sisi lain penderitaan orang, tetapi juga mengawal realitas dibalik problem sosial yang dihadapi, menggerakan kedermawanan, dan mendorong publik untuk aksi bersama memberikan Solusi dari permasalahan yang ada.

“Oleh karena itu, ukuran keberhasilan jurnalisme filantropi bukan pada banyaknya berita, bukan pada seberapa viral, tetapi pada seberapa besar dampak yang dihadirkan bagi kehidupan sosial masyarakat," pungkasnya.

Menanggapi isi buku baru tersebut, Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyidin, mengatakan buku ini ingin menjembatani orang yang membutuhkan pertolongan dan masyarakat yang ingin membantu. Jurnalisme filantropi menjembatani dua hal itu.

"Karya Mas Roni ini akan sangat membantu. Buku ini berhasil merangkum, menceritakan tahap demi tahap dan juga bagaimana kemudian jurnalisme filantropi itu diterapkan," paparnya.

Andi menjelaskan, jurnalisme filantropi itu berarti memberitakan, lalu menampilkan empati dan melakukan aksi. Intinya di sana. "Kondisi itu yang sedang dilakukan oleh media-media besar. Mereka sedang bergerak ke arah sana, tapi kita juga perlu berdiskusi lebih lanjut soal ini" ungkapnya.

Selebihnya, bagaimana jurnalisme bisa membangun kepercayaan publik. Direktur Penanggulangan Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial Bappenas RI, Tirta Sutedjo menilai bahwa konsep jurnalisme filantropi sangat menarik untuk membangun kepercayaan publik.  Dengan konsep yang menarik itu, bisa menggerakan isu sosial dan kesejahteraan Masyarakat yang disertai dengan tawaran solusinya.

"Kita memiliki agenda besar tahun 2045, tepatnya 100 tahun Indonesia Merdeka. Harapannya, kita sudah menjadi negara maju. Artinya tidak ada kemiskinan lagi dan seluruh masyarakat Indonesia sudah sejahtera", ungkapnya.

Tirta mengatakan jurnalisme filantropi tentu perlu mengambil peran lebih dalam lagi. Salah satunya bagaimana menghapus pelabelan negatif terhadap kelompok rentan yang masih dominan di Indonesia.

"Ini menjadi tugas kita bersama. Baik pemerintah, masyarakat, jurnalis, dan media perlu bergandeng tangan sehingga agenda bersama ke depan bisa berjalan dengan baik dan lancar", tuturnya.

Perspektif lain dikemukakan oleh Peneliti Filantropi Islam, Amelia Fauzia. Ia mengatakan bahwa di Indonesia sudah mengakar sangat kuat praktik filantropi. Baik tentang filantropi yang melahirkan jurnalisme ataupun jurnalisme yang melahirkan filantropi.

"Ada Republika yang melahirkan Dompet Dhuafa. Ada Muhammadiyah yang melahirkan koran ataupun Suara Muhammadiyah. Ini sebagian contoh saja. Mungkin di luar Indonesia lebih banyak lagi," paparnya.

Amelia menyampaikan bahwa jurnalisme filantropi perlu memiliki kode etik. Sehingga memiliki standar yang jelas ketika hendak memberitakan, mengawal, bahkan mengadvokasi sebuah isu-isu sosial-kemasyarakatan yang ada.

"Bagaimana seorang jurnalis menjaga independensi jurnalistik. Paling tidak tetap saja jurnalisme filantropi harus ada kode etiknya. Bagaimana menyeimbangkan fungsi advokasi dengan prinsip-prinsip verifikasi, independensi, dan integritas," tandasnya.

Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media, Deni Asy'ari, dalam sambutannya menyebutkan bahwa kehadiran pers (jurnalis) tidak sekadar mewartakan, tidak sekadar memberitakan, tapi juga hadir untuk mencerahkan, memperkaya informasi, dan memberdayakan masyarakat.

"Kita berharap buku yang ditulis Kang Roni Tabroni ini, peran pers ke depan tidak sekadar mengungkap fakta, tetapi mulai membangun empati, memberi inspirasi, dan mengkoordinasi potensi, dan mengkonsolidasi sumber daya, termasuk di lingkungan Lazismu,” jelasnya.

Hal demikian jika diintegrasikan dengan kekuatan jurnalisme, Deni optimis dapat memberikan dampak yang sangat dahsyat. Kehadirannya akan menguatkan dampak dalam mengkonsolidasikan potensi ekonomi, zakat, infak, dan sedekah.

"Kami berharap buku ini memberi pengaruh bahwa dunia pers tidak melulu soal berita, tapi ke depan, dunia pers bisa menginspirasi, membangun empati, dan mengkonsolidasikan potensi-potensi besar secara ekonomi dan juga memberikan solusi untuk membangun negeri ini,” tandasnya.

Peluncuran buku tersebut menjadi momentum penting dalam memperkenalkan gagasan kritis mengenai peran media dan jurnalisme dalam memperkuat gerakan filantropi serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

[kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Soleh]

SELENGKAPNYA
30 Juli 2026
Resepsi Milad Lazismu, Dampak Sinyal Integrasi Data Pengentasan Kemiskinan Jadi Sorotan

Resepsi Milad Lazismu, Dampak Sinyal Integrasi Data Pengentasan Kemiskinan Jadi Sorotan

JAKARTA – Belum tuntas mengupas dampak program pemberdayaan, arena gerakan filantropi malah dikabarkan oleh Kemenag RI akan dibuatkan tampilan data visual (dashboard) bersama yang berbasis waktu nyata dalam agenda pengentasan kemiskinan.

Badan dan lembaga amil zakat akan bersama-sama menyajikan data itu dari aksi layanannnya. Kendati jalan program pemberdayaannya berbeda-beda, tujuannya sama yaitu pengentasan kemiskinan dan wujudkan kesejahteraan.

Jelang akhir Juli 2026, Lazismu menggelar Resepsi Milad ke – 24 di Gedung Perpustakaan Nasional RI, Jakarta pada Rabu (29/7/2026). Lazismu Wilayah secara nasional merapat lewat daring dan mitra kolaborasi dari entitas perusahaan hadir mengikuti jalannya resepsi yang berlangsung meriah.

Di hari jadinya yang jatuh pada 4 Juli 2022, acara puncak milad Lazismu mengusung tema Integrasi Menguatkan Dampak. Tema tersebut merupakan refleksi perjalanan Lazismu atas kiprahnya di kancah nasional gerakan filantropi Islam selama 24 tahun.

Ketua Badan Pengurus Lazismui Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais mengatakan bahwa makna dampak mengandung pesan untuk perlu memperkuat diri kita dari sisi integrasi tata kelola kelembagaan dan sistem data. “Integrasi tersebut harus dilakukan berdasarkan kebutuhan masyarakat. Apa yang bisa dibantu untuk menjawab persoalan masyarakat”, jelasnya.

Maka integrasi harus menjadi pijakan agar potensi yang dimiliki Lazismu dapat bergerak dalam satu kerangka yang terarah dan menghasilkan dampak yang lebih luas. Mujadid menilai bahwa amil itu harus mendengar dan peka terhadap isi hati masyarakat. Dengan mendengar problem itu amil dapat menjawan persoalan masyarakakat yang dibutuhkan secara tepat sasaran.

Lahan dakwah gerakan filantropi begitu luas, karena itu perlu dipikirkan dan direncanakan jalan transformasi yang hendak dicapai agar mustahik bisa menjadi sejahtera. Indikatornya, kata Mujadid ada dua yakni penguatan tata kelola dan program yang berdampak.

Luput Dari Perhatian

Integrasi data kemiskinan sebetulnya sudah sering dibicarakan banyak pihak termasuk pemerintah sendiri.  Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag RI, Waryono Abdul Ghafur mengaku hal ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Perhatian yang sama disampaikan Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hilman Latief bahwa sebagai peneliti dan pelaku gerakan  filantropi eksposur data masih luput dari perhatian.

Menurutnya, Ia masih sulit menemukan lembaga filantopi di Indonesia yang memiliki kualitas data. Ekosistem gerakan zakat memang tumbuh dan berkembang. Bahkan menjadi kekuatan tersendiri yang ditopang oleh sistem dan modal kulturalnya yang kompleks.

“Hanya saja kekuatan data itu belum terhubung oleh entitas lain seperti perusahaan dan industri keuangan. Impiannya berbagai program pemberdayaan yang dilakukan lembaga amil zakat saling terhubung. Potensi besar itu belum sepenuhnya didengar di kancah internasional”, pungkasnya.

Kita memiliki inovasi praktik baik yang banyak, tetapi belum cukup andal dalam eksposur kepada dunia. Oleh karena itu, dalam amanahnya, Hilman menggariskan bahwa data, literasi dan eksposur perlu diperkuat kembali.

Hingga kini, menurut Waryono, kita masih berusaha untuk melakukan integrasi keuangan. Sementara kita akan melangkah menuju integrasi data, tentu saja ini bukan hal yang mudah.

Dalam aspek integrasi dan program yang berdampak saja perlu beberapa instrumen. Lalu bagaimana menguatkan muzaki dan pengumpulan besar sangat dipengaruhi oleh muzaki.

“Ukuran kesuksesan badan dan lembaga amil adalah seberapa banyak pada dampak. Ini tantangan kita semua. Kendati mandatori lembaga amil zakat itu jelas namun dampaknya harus lebih bisa dirasakan oleh masyarakat”, tuturnya.

Yang menjadi perhatian bersama, jangan sampai terjadi bahwa dengan hasil penghimpunan yang besar tapi lingkungan di sekitar kita masih ada orang yang berselimut kemiskinan. Artinya, tegas Waryono, programnya belum berdampak pada orang miskin.

Kembali pada isu integrasi data, ke depannya kita akan mendesain dashboard. Suatu tampilan data visual bersama yang dapat dijadikan informasi untuk membaca pertumbuhan dan perkembangan layanan program lembaga amil zakat yang juga nantinya terhubung ke lembaga terkait seperti Kementerian.

Integrasi data berasal dari komunikasi dan koordinasi lintas lembaga. Wakil Ketua Baznas, Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan bahwa tema yang diangkat Lazismu sangat menarik. Sekaligus menjadi tantangan pengelolaan zakat selama ini, kata Sa’adi.

“Potensi zakat sangat besar dan kita sering mengitung, mengkalkulasi dan hanya sekian persen potensi itu kita raih. Potensi itu bisa terus hasilkan dengan dampak yang kuat bagi kehidupan masyarakat kita”, paparnya.

Hemat Sa’adi, tema milad Lazismu ini kita tangkap sebagai satu kekuatan agar kita bisa lakukan bersama. Sa’adi mewakili Baznas mengatakan setidaknya jalan integrasi itu menyajikan integrasi kelembagaan, integrasi data dan integrasi sumber daya. “Masing-masing saling melengkapi dan menjangkau kebutuhan masyarakat. Tidak semua bisa diintegrasikan paling tidak integrasi data untuk menyelesaikan tumpang tindih selama ini”, tandasnya.

Dalam kesempatan berbeda, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan empat pesan kepada Lazismu untuk menjadi kekuatan yang terintegrasi dan berdampak.  Pesan itu antara lain, kata Haedar yaitu konsolidasi jaringan Lazismu secara nasional dan Lazismu di luar negeri.

“Ini menjadi kunci utama tujuan integrasi dalam membangun soliditas di dalam sistem pengorganisasian”, jelasnya. Pesan kedua integrasi dinamika gerakan yang progresif dan meluas, dan pesan ketiga, integrasi aktivitas pentasyarufan dan pemanfaatan dana ZISKA yang terkumpul di lingkungan persyarikatan dengan lebih terpadu. Pesan terakhir, kata Haedar, meningkatkan jejaring sehingga kolaborasi dengan berbagai pihak terus menambah penghimpunan agar lebih luas dan besar jangkauannya.

Kemudian sambung dia, bagaimana potensi yang ada itu terus digali oleh Lazismu dengan berbagai pendekatan. Saluran publikasi harus terus dilakukan secara terus-menerus. Mari manfaatkan teknologi infomasi seperti media sosial. Ini langkah menemukan relasi baru yang masif dan strukturnya luas, tutupnya.

[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

SELENGKAPNYA
30 Juli 2026
LAZISMU adalah lembaga zakat nasional dengan SK Menag No. 90 Tahun 2022, yang berkhidmat dalam pemberdayaan masyarakat melalui pendayagunaan dana zakat, infaq, wakaf dan dana kedermawanan lainnya baik dari perseorangan, lembaga, perusahaan dan instansi lainnya. Lazismu tidak menerima segala bentuk dana yang bersumber dari kejahatan. UU RI No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

Alamat

Jl. Menteng Raya No.62, RT.3/RW.9, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10340
Jl. Jambrut No.5, Kenari, Kec. Senen, Jakarta Pusat 10430
info@lazismu.org
0213150400
0856-1626-222
Copyright © 2026 LAZISMU bagian dari Persekutuan dan Perkumpulan PERSYARIKATAN MUHAMMADIYAH
cross