

JAKARTA -- Bertepatan dengan puncak Milad ke-24 Lazismu, Lazismu melakukan penandatanganan kerja sama Ekosistem Digital dengan Bank Syariah Nasional. Penandatanganan kerja sama itu, berlangsung di Gedung Perpustakaan Nasional, pada Rabu, (29/7/2026).
Hadir dalam agenda tersebut, Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hilman Latief dan Digital Network & Digital Sales Division Head PT Bank Syariah Nasional Kurnia Muhammadi, Direktur Network & Retail Funding PT Bank Syariah Nasional Ari Kurniaman, serta Direktur Utama Lazismu PP Muhammadiyah Barry Aditya, Ketua Badan Pengurus Lazismu PP Muhammadiyah Ahmad Imam Mujadid Rais dan Direktur Penghimpunan Lazismu PP Muhammadiyah Saleh Farabi.
Bank Syariah Nasional (Bank BSN) menjalin kerja sama strategis dengan Lazismu PP Muhammadiyah untuk menghadirkan layanan digital yang lebih terintegrasi dengan sinergi digital pada platform Lazismu dan Bale Syariah by BSN, sehingga penghimpunan dan penyaluran zakat, infak, sedekah, serta dana sosial keagamaan di Lazismu dapat dilakukan secara lebih mudah, aman, transparans, dan akuntabel.
Seperti dilansir dari laman resminya, Bank BSN memandang digitalisasi layanan filantropi adalah bagian penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap layanan sosial keagamaan. Dengan sinergi ini kedua belah pihak akan menghadirkan inovasi layanan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat kepercayaan publik dalam pengelolaan dana sosial.
Kolaborasi yang ditandatangani dalam rangkaian Resepsi Milad Lazismu ini merupakan langkah nyata memperkuat sinergi antara lembaga filantropi dan perbankan syariah dalam memperluas nilai manfaat bagi masyarakat serta membangun ekosistem filantropi Islam yang semakin modern dan inklusif.
Kolaborasi ini bertujuan mempermudah penghimpunan serta penyaluran zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan secara lebih mudah, aman, transparan, dan akuntabel. Bank BSN memandang digitalisasi layanan filantropi sebagai langkah penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap layanan sosial keagamaan.
Melalui sinergi kemitraan ini, Bank BSN dan Lazismu berkomitmen membangun ekosistem filantropi Islam yang lebih modern, inklusif, serta memberikan nilai manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
[Kelembagan dan Humas Lazismu Pusat]

JAKARTA -- Milad ke – 24 Lazismu temanya menarik yaitu Integrasi Menguatkan Dampak. Ini yang sebenarnya sering disampaikan di berbagai pertemuan. Hampir semua orang membicarakan tapi tidak mudah.
Demikian disampaikan Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Waryono Abdul Ghafur, dalam Resepsi Milad ke-24 Lazismu, di Perpusnas, Jakarta pada Rabu, (29/7/2026). Menurutnya, kita sering berusaha mengintegrasikan uang, sementara mengintegrasikan data saja tidak mudah.
Inti yang ingin saya sampaikan pada resepsi milad ini, kata Waryono, sasaran badan atau lembaga amil zakat itu fakir dan miskin. Ini pekerjaan rumah kita di berbagai kesempatan. Sampai hari ini fakir dan miskin sama kondisinya dan bagaimana menaikan kelas mereka itu tidak mudah.
“Pengukurannyan juga perlu beberapa instrumen dan bagaimana menguatkan muzaki, maka pengumpulan besar sangat dipengaruhi oleh muzaki”, jelasnya. Menarik apa yang ditemukan dalam penelitian Amelia Fauzia, bahwa lima puluh persen lebih muzaki masih menyalurkan donasinya di luar lembaga amil zakat.
Alhamdulillah, sekali lagi, selamat kepada Lazismu yang usianya genap 24, artinya lembaga ini secara usia sudah matang. Oleh karena itu, saya berterima kasih ada beberapa lembaga amil zakat yang berdiri menjadi bagian dari ormas keagamaan. Lembaga amil zakat ini yang membantu kementerian agama yang tugasnya melakukan pembinaan dan pengawasan.
“Tanpa audit sebetulnya sudah bisa dipantau, betul tidak tata kelolanya. Artinya meringankan tugas negara”, ujarnya. Ada banyak harapan dari masyarakat yang diarahkan ke lembaga amil zakat untuk lebih besar lagi perannya dalam mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan.
Ukuran kesuksesan badan dan lembaga amil adalah seberapa banyak pada dampak. Ini tantangan kita semua hari ini. Meski dalam konteks negara, Baznas atau lembaga amil zakat itu bukan mandatori. “Mandatorinya lebih tinggi yaitu dari gusti Allah. Dampaknya lebih bisa dirasakan oleh Masyarakat”, tuturnya.
Jangan sampai kita bangga dengan pengumpulan yang besar, tapi di sisi kanan dan kirinya masih berkumpul orang miskin. Berarti kata Waryono, programnya belum berdampak pada orang miskin.
Selanjutnya kita akan punya dashboard bersama. Para pimpinan badan dan lembaga amil zakat semua harus ikut dalam system informasi data kemiskinan. Kemudian dari situ akan ada survei tentang pertumbuhan dan perubahan yang terjadi seperti apa.
Semua akan terloihat datanya secara langsung (real time). Berikutnya kami sebagai regulator yang bekerja sama dengen kementerian lain tentang dampaknya dan berusaha untuk orkestrasi agar jalannya memiliki tujuan yang sama. Tidak lain tujuan itu mengentaskan kemiskinan dan wujudkan kesejahteraan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

JAKARTA – Resepsi Milad ke-24 Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu), dihelat di Aula lantai 4 Perpustakaan Nasional, Gambir, Jakarta Pusat pada Rabu, (29/7/2026). Tema milad Lazismu tahun ini mengusung topik “Integrasi Menguatkan Dampak”.
Dalam acara puncak milad ini, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, mengatakan di hari ini kita melakukan refleksi perjalanan Lazismu selama 24 tahun, yang lahir pada 4 Juli 2022. Tema tersebut hadir dari spirit Lazismu dalam rakernas tahun 2025 di Kalimantan Selatan.
“Kita melihat kembali rencana strategis yang didalamnya ada spirit untuk melakukan transformasi yang terintegrasi dan berdampak”, ujarnya. Ini adalah momentum untuk memperkuat integrasi dalam tata kelola secara kelembagaan dan memperluas kolaborasi untuk meningkatkan dampak dalam program pemberdayaan masyarakat.
Mujadid Rais mengatakan, makna berdampak di sini artinya kita perlu memperkuat diri kita. Memperkuat tata kelola kelembagaan dan sistem data. “Integrasi antara sistem tersebut harus dilakukan berdasarkan kebutuhan masyarakat. Apa yang bisa kita bantu untuk memberikan solusi dari masalah yang mereka hadapi”, pungkasnya.
Maka integrasi harus menjadi landasan agar segenap potensi yang dimiliki Lazismu dapat bergerak dalam satu kerangka yang terarah dan menghasilkan dampak yang lebih luas. Lazismu harus hadir menyelami dan memahami apa yang dirasakan masyarakat. Dengan mendengar problem itu masyarakakat mendapatkan tempat yang tepat untuk mengutarakan isi hatinya.
Ia menilai, apa yang kita pikirkan dan bagaimana transformasi itu didesain dalam pemberdayaan masyarakat adalah mengubah seorang mustahik menjadi sejahtera. Indikatornya ada dua yaitu tata kelola dan dampak.
“Ikhtiar ini perlu duduk bersama untuk mengukur capaian yang diperoleh sehingga mustahik bisa menjadi muzaki”, tandasnya. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas mustahik juga penting karena yang jadi fokus utamanya adalah manusia.
Terakhir, lanjutnya, program-program yang ada dan dilakukan Lazismu agar bisa diukur yang dampaknya dapat dilihat dan para mitra mendapatkan umpan balik. Inilah yang Lazismu inginkan dalam tata kelolanya agar dapat mempertemukan semua pihak dan mitra-mitra Lazismu.
[Kelembagan dan Humas Lazismu Pusat]

DENPASAR -- Beberapa Lazismu wilayah setelah melakukan proses audit hampir selalu mendapat wawasan terkait tata kelola keuangan dan kepatuhan. Kini giliran Lazismu Wilayah Bali, pada Senin, (27/7/2026), menggelar proses audit keuangan.
Proses audit berkelanjutan ini menjadi langkah strategis Lazismu dalam menjaga komitmennya pada nilai transparansi, profesionalisme, serta akuntabilitas pengelolaan dana zakat, infak, sedekah dan dana sosial keagamaan lainnya di Pulau Dewata.
Pelaksanaan audit keuangan kali ini diikuti oleh tiga entitas kantor Lazismu di antaranya Lazismu Wilayah Bali, Lazismu Daerah Buleleng, dan Lazismu Daerah Denpasar, dengan melibatkan auditor independen dari Kantor Akuntan Publik (KAP) Abdul Hamid & Rekan.
Ketua Lazismu Wilayah Bali, Riza Putra, mengatakan bahwa audit eksternal secara berkala merupakan standar mutlak bagi lembaga pengelola dana publik untuk terus merawat kepercayaan masyarakat dan para muzaki.
"Syukur alhamdulillah, proses audit keuangan bersama KAP Abdul Hamid & Rekan hari ini berjalan dengan lancar secara daring. Pelaksanaan audit ini tidak melulu kewajiban administratif, tetapi wujud tanggung jawab moral dan bentuk komitmen Lazismu Wilayah Bali untuk terus menjaga Amanah”, tandasnya.
Kami ingin memastikan setiap rupiah yang dikelola oleh Lazismu dan dipercayakan kepada kami dapat dipertanggungjawabkan secara transparans. Tantangan dan peluang pengelolaan zakat di Bali menjadi realitas yang harus dicari solusinya.
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Audit dan Kepatuhan Lazismu Wilayah Bali, Edo Donnes, menjelaskan bahwa pemeriksaan menyeluruh ini bertujuan untuk memastikan tata kelola keuangan di seluruh tingkatan telah memenuhi standar akuntansi keuangan dan kepatuhan yang berlaku.
"Melalui audit independen bersama KAP Abdul Hamid & Rekan, kami melakukan evaluasi terhadap kepatuhan prosedur serta kelayakan laporan keuangan, baik di tingkat wilayah maupun daerah seperti Buleleng dan Denpasar”, ujarnya.
Harapannya, hasil audit ini semakin memperkuat sistem pengendalian internal Lazismu agar semakin akuntabel. Dengan selesainya rangkaian proses audit, Lazismu di Wilayah Bali, Daerah Buleleng dan Denpasar optimis dapat terus meningkatkan kinerja pelayanan zakat serta memperluas jangkauan penerima manfaat program pendayagunaan bagi masyarakat.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Bali]

LOMBOK -- Lazismu terus memperkuat komitmennya dalam tata kelola zakat yang profesional, akuntabel, dan terpercaya melalui penyelenggaraan Sertifikasi Amil Lazismu 2026. Kegiatan itu berlangsung di Kota Malang, Jawa Timur, pada 24–25 Juli 2026, yang diikuti 44 amil dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk tiga amil dari Lazismu Wilayah Nusa Tenggara Barat.
Salah seorang amil dari perwakilan Lazismu Wilayah NTB, Rahman mengatakan bahwa sertifikasi ini sangat penting diikuti agar menjadi bekal dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada muzaki dan mustahik. Rahman merinci, utusan amil terdiri atas satu orang dari Lazismu Wilayah NTB dan dua orang dari Lazismu Kantor Daerah Kota Bima.
"Bersama utusan amil lainnya, kami dalam kegiatan sertifikasi berupaya untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola dalam pelayanan kepada muzaki dan mustahik. Hal ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus belajar membangun tata kelola kelembagaan yang sesuai dengan standar nasional," kata Rahman.
Dalam proses sertifikasi, sambung Rahman, peserta mengikuti uji kompetensi berbasis portofolio yang mengukur kinerja amil dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai standar nasional. Aspek penilaian mencakup kepatuhan syariah, regulasi yang berlaku, etika pelayanan kepada muzaki, hingga kecermatan yang tepat dalam pendistribusian dan pendayagunaan program kepada mustahik.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Timur, Imam Hambali, mengungkapkan bahwa peningkatan kapasitas amil merupakan langkah pedagogis untuk menjawab ekspektasi masyarakat terhadap pengelolaan lembaga amil zakat yang semakin tumbuh dan berkembang.
"Lazismu berusaha untuk menerapkan prinsip good governance yang benar-benar terimplementasi di seluruh lingkungan Lazismu. Karena itu, kami mendorong amil untuk belajar meningkatkan kompetensinya”, pungkasnya.
Sertifikasi amil merupakan kewajiban yang harus diikuti amil sesuai standar nasional yang telah ditetapkan negara. Menurut Imam, melalui amil yang kompeten maka akan berdampak pada tata kelola lembaga sehingga meningkatkan kepercayaan para donatur dalam setiap amanahnya.
Komitmen terhadap peningkatan kualitas tersebut juga menjadi latar belakang Lazismu Jawa Timur untuk kinerjanya termasuk utusan amil dari Lazismu NTB. Sertifikasi Amil Lazismu 2026 dibagi dalam tiga skema kompetensi, yaitu Pelaksanaan Pengumpulan Zakat, Pelaksanaan Pendistribusian dan Pendayagunaan Zakat, serta skema gabungan Pelaksanaan Pengumpulan Zakat dan Pelaksanaan Pendistribusian serta Pendayagunaan Zakat.
Sebelum mengikuti asesmen dalam proses sertifikasi, seluruh amil diwajibkan menyusun dan melengkapi portofolio sesuai unit kompetensi yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2021.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Rahman]

MALANG – Komitmen amil untuk meningkatkan kapasitasnya merupakan langkah nyata meningkatkan kualitas tata kelola lembaga amil zakat yang profesional. Lazismu Jawa Timur melalui penyelenggaraan Uji Kompetensi Amil Bersertifikat BNSP Tahun 2026, memastikan setiap amil memiliki kompetensi yang terstandar, akuntabel, dan diakui secara nasional.
Uji kompetensi diselenggarakan selama dua hari, pada Jum’at – Sabtu, 24 – 25 Juli 2026, di UPT PTKS Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Kota Malang, dengan menghadirkan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) PP Muhammadiyah sebagai penyelenggara sertifikasi yang telah memiliki lisensi resmi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk skema kompetensi amil lembaga zakat.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Timur, Imam Hambali, mengatakan bahwa sertifikasi kompetensi merupakan kebutuhan yang tidak bisa lagi ditunda di tengah meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga amil zakat.
"Uji kompetensi batch pertama ini langkah strategis bagi Lazismu Jawa Timur dalam memperkuat kualitas kompetensi amil agar semakin profesional, memiliki standar kerja yang jelas, serta mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat”, paparnya. Profesionalisme amil fondasi utama dalam membangun kepercayaan publik terhadap pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya.
Selaras dengan hal itu, Sekretaris Badan Pengurus Lazismu Jawa Timur, M. Masrukh, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan pelaksanaan batch pertama sertifikasi amil di Jawa Timur dan akan menjadi program berkelanjutan.
Menurut Masrukh, keberadaan LSP PP Muhammadiyah yang telah memperoleh lisensi resmi BNSP membuka peluang besar bagi seluruh amil Muhammadiyah untuk memperoleh pengakuan kompetensi secara nasional.
"Uji kompetensi amil selanjutnya akan dilaksanakan secara periodik. Semakin banyak amil Lazismu yang memiliki sertifikat kompetensi maka kualitas layanan dan tata kelola lembaga zakat semakin meningkat sesuai standar nasional", harapnya.
Sementara itu, Wakil Sekretaris Badan Pengurus Lazismu Jawa Timur, Zaenal Abidin, sekaligus Tim Pelaksana kegiatan, menjelaskan bahwa sertifikasi kali ini menggunakan dua skema kompetensi, yakni Skema Penghimpunan ZISKA dan Skema Pendistribusian ZISKA.
Ada 43 peserta mengikuti uji kompetensi amil, tidak hanya berasal dari amil Lazismu se-Jawa Timur, tetapi juga diikuti oleh utusan dari berbagai wilayah Muhammadiyah seperti Kantor Layanan Lazismu Aisyiyah Banggai, sebanyak 2 orang, Lazismu Banjarbaru 4 orang, Lazismu Kalimantan Selatan 1 orang, Lazismu Kota Bima 3 orang, dan Lazismu Hulu Sungai Selatan 1 orang.
"Kami ingin meyakinkan bahwa amil tidak hanya memiliki semangat melayani, tetapi juga dibekali kompetensi yang terukur dan diakui negara. Dengan demikian, kualitas pelayanan kepada para muzaki, mustahik, dan seluruh pemangku kepentingan akan semakin baik," ujar Zaenal.
Hari pertama kegiatan diisi dengan penyegaran materi dasar sebagai penguatan substansi kompetensi. Materi penghimpunan dan pendayagunaan ZISKA disampaikan oleh para akademisi Muhammadiyah, yaitu Dian Berkah dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, Anwar Hariyono dari Universitas Muhammadiyah Gresik, dan Kumara Aji dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Pada hari kedua, seluruh peserta mengikuti asemen kompetensi yang dilaksanakan oleh asesor resmi dari LSP PP Muhammadiyah sesuai standar BNSP melalui serangkaian uji portofolio dan wawancara kompetensi.
Melalui sertifikasi ini, Lazismu Jawa Timur optimistis akan semakin memperkuat legitimasi kelembagaan sekaligus meningkatkan kepercayaan publik terhadap pengelolaan zakat. Profesionalisme amil bukan sekadar tuntutan organisasi, melainkan bagian dari ikhtiar menghadirkan pelayanan filantropi Islam yang berkualitas, berintegritas, transparans dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Ddt]

