

Sragen – LAZISMU. Setelah mengalami kebakaran
akibat korsleting listrik, pada Rabu (20/2/2019), rumah Giyo mulai dibersihkan pada
Jum'at (22/2/2019). Rumah Giyo terletak di Sidomulyo Gani RT 15 Karanganom,
Sukodono, Sragen.
Kayu-kayu yang hangus sisa bekas rumah Giyo dibersihkan
dan dirapikan. Kayu-kayu itu dijadikan satu di rumah Giyo bagian belakang.
"Walaupun beberapa tetangga kami sudah ada yang
berencana bantu. Kemarin tetangga kami, seorang pengusaha meubel berencana
membantu kami dengan memberikan kursi,” kata Giyo.
Giyo
mengungkapkan, juga mendapat bantuan beberapa material. Tapi dari bantuan yang
ada masih belum cukup. Kami hanya ingin, bisa kembali berteduh di rumah kami
sendiri, terang Giyo.
Lazismu Kantor Layanan (KL) Sukodono, Sragen, mendengar
peristiwa itu langsung mengagendakan untuk bertemu keluarga Giyo.
Pada Selasa, 26 Februari kemarin, Lazismu melihat kondisi
rumah Giyo. Melihat keadaan itu, Lazismu menemui keluarga Giyo.
Ketua Lazismu Kantor Layanan (KL) Sukodono, Arifin, mengatakan,
akan membantu meringankan kleuarga Giyo. Arifin memberikan bantuan dana kepada
Giyo. Nantinya dana itu akan digunakan untuk pembangunan kembali rumahnya. (ls)
.

Sragen – LAZISMU.
Gilang Artiawan, dulu adalah pendiri EO (Event Organizer) Band Punk Muda
Kreatif di Sragen. Selain pernah menjadi EO, Gilang juga aktif menjadi pemain
band dalam event anak punk. Di grup bandnya ia bermain sebagai gitaris
sekaligus vokalis.
Kini dunia Punk telah
ditinggalkannya, Gilang telah hijrah menjalani kehidupan baru bersama Komunitas
Hijrah Sindrom. Seperti dikisahkan Gilang, titik baliknya hijrah ketika ia
bermain band melihat orang-orang tak sadarkan diri karena minuman keras dihadapannya
dengan tingkah laku tak wajar.
Tak kuat dengan kondisi itu, ia
memutuskan untuk membubarkan EO yang dibentuknya dan keluar dari bandnya. Selang
berapa waktu ia melihat teman-teman punk-nya dulu mulai kembali belajar agama.
Melihat pemandangan yang tak biasa itu, Gilang memutuskan bergabung untuk
belajar agama lewat komunitas yang ditemuinya.
"Kalau dihitung-hitung, saya
lebih banyak rasa bersalahnya dibandingkan mereka yang ikut acara punk. Mereka
mungkin hanya ikut acara kemudian mabuk-mabukan. Sedangkan saya sendiri EO-nya.
Saya yang mengajak mereka dan saya juga ikut terbebani dosa mereka semua,"
ungkap Gilang kepada amil Lazismu.
Selain bergiat di EO, Gilang juga
memiliki usaha sablon dan cutting stiker yang bernama Free Youth Screenprinting
di Sidorejo, Sragen Wetan, yang dirintisnya pada 2012. Gilang mengisahkan, saat
menjalankan usaha ini serba tidak tenang. Mungkin karena saya membangun usaha
ini dengan jalan yang keliru.
Walaupun usahanya terlihat agak
besar tapi sebenarnya hutang saya dimana-mana. Setelah tahu ancaman riba setiap
ada penghasilan saya kasihkan untuk pembayaran hutang. “Mungkin karena efek
riba itu saya harus mengeluarkan biaya yang tidak masuk akal seperti beberapa
mesin produksi yang rusak secara bersamaan dan ditambah lagi harus membayar
biaya kontrakan,” pungkasnya.
Gilang tergolong pemuda cekatan, melihat
kondisinya Lazismu Sragen berharap ruang kreativitasnya tidak berhenti begitu
saja. Ia harus diberikan ruang dan tempat untuk membuka usaha baru lainnya.
Karena itu, Staf Program Lazismu
Sragen, Tommy Arisaputra, membantu kelancaran usaha Gilang melalui program QH
dengan bekerjasama dengan BMT Hira pada Senin (4/3/2019). Gilang pun menandatangani
surat persetujuan Progam Qardu Hasan (QH) dari Lazismu Sragen bersama
Baitul Maal wa Tanwil (BMT) Hira.
"QH adalah bantuan modal usaha
berupa pinjaman dengan bunga 0%. Penyaluran bantuan ini adalah sebagai bentuk
kepedulian Lazismu Sragen kepada anak punk yang telah berhijrah sekaligus
memajukan UMKM Sragen. (ls)


Sragen – LAZISMU. Joko, warga Sidomulyo, Sragen Wetan duduk sambil memegang foto putrinya Reni Mustika Sari, Senin (18/2/2019). Putrinya kini terbaring di ranjang ruang ICU Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Soehadi Prijonenoro Sragen. Sudah sepekan ini gadis berumur 8 tahun itu menderita infeksi pada ususnya.
Joko mengisahkan, awalnya anak saya mengeluh perutnya
terasa sakit pada Senin (11/2/2019). Saya pun langsung membawanya ke Klinik
Sukarela Aisyiyah-Lazismu Sragen. Setelah cek di laboratorium dokter memvonis
anak saya menderita infeksi usus dan harus segera di operasi.
Kamis (14/2/2019), sekitar pukul sebelas, anak saya masuk
ruang operasi RSUD Sragen. Operasi itu berjalan selama 2 jam. “Operasi berjalan
dengan lancar dan putri saya kini masih menjalani masa pemulihan di ruang
ICU," ucap Joko saat ditemui amil Lazismu.
Esokan harinya setelah operasi, Reni sudah mulai dapat berbicara
walaupun infus masih menempel di tangannya dan selang masih terhubung di hidungnya.
Gadis yang hobi melukis itu berkeinginan nanti ketika dewasa menjadi seorang
dokter.
Karena ketika ia menjadi dokter, Reni bisa membantu orang
lain yang sakit agar bisa sembuh. Ketika dirawat Reni pernah meminta dokter
untuk menyayangnya. "Pak dokter, Reni mau disayang dong, sama nanti saya
minta maem bubur ya?" kata Reni penuh harap.
Untuk mencukupi kebutuhan keluarganya Joko sehari-hari
berjualan rica-rica menthok. Dia harus menawarkan rica-rica menthok ke
kantor-kantor dinas dan kampung-kampung. Satu per satu kantor-kantor dan
rumah-rumah ia datangi.
Penghasilannya sebagai penjual rica-rica pun tidak banyak,
kadang ia juga berhutang untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Sedangkan
istrinya, Darsi adalah seorang ibu rumah tangga.
Joko menjelaskan ia kebingungan membiayai berobat
putrinya. Senin (18/2/2019) Joko mengajukan permohonan ke Lazismu Sragen.
Mendapati permohonan tersebut, Lazismu Sragen melalui Staf divisi Program Rizki
Arif Hernawan membantu pengajuan berobat gratis putri Joko di RSUD dengan kartu
Saraswati Menur.
"Alhamdulillah kini biaya pengobatan Dek Reni Rp 0,-
alias gratis. Mulai dari masuk RSUD, kemudian operasi, lalu pemulihan di ruang ICU
hingga keluar nanti, Dek Reni dibebaskan biaya. Ditambah lagi biaya rawat inap
dan tes Lab, Dik Reni di Klinik Sukarela Aisyiyah-Lazismu Sragen yang harusnya
dibebankan kepadanya kini juga sudah di back up oleh Lazismu," ucap Rizki.
(ls)

Pekanbaru-LAZISMU.
Lembaga amil zakat nasional dalam hal ini Lazismu di Pekanbaru salurkan 250
kaleng infak program Filantropi Cilik kepada siswa SMP Muhammadiyah 2 Pekanbaru
di jalan Tengku Bey II No. 28, Simpang Tiga, Bukit Raya, Pekanbaru pada 27
Februari 2019.
Kepala Cabang LAZISMU Pekanbaru
Agung Pramuryantyo mengatakan program ini bertujuan untuk menyadarkan siswa
untuk senantiasa berinfak untuk membantu siswa-siswa yang kurang mampu yang
berada disekitar sekolah SMP Muhammadiyah 2 maupun yang berada diluar
lingkungan sekolah.
“Menumbuhkan kesadaran kepada
anak-anak siswa bahwa mereka memiliki potensi dan kekuatan untuk bisa berinfak
yang nanti uang yang mereka kumpulkan di kaleng infak tersebut bisa disalurkan
untuk siswa-siswi yang kurang mampu baik yang berada di lingkungan sekolah
maupun yang berada diluar lingkungan sekolah”. Jelas nya.
Untuk mempermudah pengumpulan kaleng
infak yang dikumpulan selama sebulan sekali, Lazismu Pekanbaru akan membuat
kantor layanan di SMP Muhammadiyah 2 Pekanbaru.
Ia berharap dengan penghimpunan
kaleng infak ini bisa membantu kegiatan tahsin serta takhfizh Quran di
lingkungan SMP Muhammadiyah 2 Pekanbaru, baik untuk siswa, orang tua dan
masyarakat sekitar sehingga dengan adanya program kaleng infak ini bisa
mewujudkan misi SMP Muhammadiyah 2 untuk menjadi sekolah yang berkemajuan
berbasis kepada Al Quran.
Humas SMP Muhammadiyah 2 Pekanbaru
Anwar Hasibuan mengatakan bahwa program kaleng infak tersebut merupakan program
yang bagus dan menarik untuk mengajaran kepada anak-anak tentang bersosial
dengan berinfak.
“ Semoga dengan program kaleng infak
ini bisa banyak terbantu baik untuk anak-anak untuk guru maupun masyarakat yang
berada dilingkungan sekolah” tutup nya saat di temui di SMP Muhammadiyah 2
Pekanbaru. (St)

Jakarta –
LAZISMU.
Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat, Majelis Ulama Indonesia, melangsungkan sidang
tahunan pada 25 – 27 Maret 2019, di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat. Sidang
tahunan itu mengusung tema “Memperkuat Kemandirian Ekonomi Umat Melalui
Kemitraan Strategis Dalam Bingkai NKRI.
Sebagai
amanat dari Kongres Ekonomi Umat 2017 tentang Arus Baru Ekonomi Indonesia, dalam
rilisnya yang diterima tim media Lazismu (26/3/2019), bahwa MUI ingin mendorong
kekuatan dan kemandirian ekonomi umat. Selama ini strategi MUI dalam memperkuat
ekonomi umat adalah mendorong, merangkul dan menarik.
Karena
itu, pada momentum siding tahunan tersebut MUI memberikan apresiasi berupa Arus
Baru Ekonomi Indonesia (ABEI) Award 2019 kepada berbagai pihak yang telah
berkontribusi besar dalam pemberdayaan ekonomi umat.
Penerima
Award itu diwujudkan dalam 5 kategori antara lain, kategori perusahaan ekonomi
umat, lembaga filantropi Islam peduli ekonomi umat, pesantren peduli ekonomi
umat, koperasi peduli ekonomi umat dan lembaga pendorong pelaku ekonomi umat.
Salah
satu lembaga amil zakat nasional yang menerima kategori lembaga filantropi Islam
peduli ekonomi umat adalah Lazismu. Hadir dalam penyerahan itu, Direktur Utama
Lazismu, Hilman Latief, menerima apresiasi tersebut disaksikan tamu undangan
dan peserta siding tahunan.
Hilman
Latief mengatakan ini adalah pengehargaan yang kesekian kalinya diterima
Lazismu. “Hari ini MUI memberikan kepercayaannya kepada Lazismu sebagai lembaga
filantropi Islam yang telah berdedikasi mendorong kemandirian ekonomi umat,”
katanya.
Alhamdulillah,
lanjut Hilman, Lazismu dalam kegiatan pemberdayaan ekonomi mikro di wilayah
yang ada di Indonesia manfaatnya telah dirasakan masyarakat. Mulai dari
penyediaan modal, penyediaan alat-alat berwirausaha dan lain sebagainya untuk
mendorong kemandirian usaha kecil menengah, jelasnya.
Dalam
kesempatan itu, Sekretaris jendral MUI, Anwar Abbas mengatakan, MUI ingin
berkontribusi dalam bidang-bidang strategis pemberdayaan umat. Maka
kewirausahaan perlu digali potensinya oleh umat Islam. Fokus pada aspek
kewirausahaan merupakan salah satu jalan memperkuat ekonomi umat.
“Umat
Islam harus belajar dari pengusaha sukses yang memiliki latarbelakang berbeda.
Mereka harus dirangkul sebagai tempat untuk belajar, jangan menjauhi mereka
karena berbeda,” ungkapnya. Belajar tradisi berwirausaha dan menabung adalah
ikhtiar membangun mental bisnis. Anwar yakin, Indonesia tinggal menunggu waktu
saja menyongsong era kemenangan, tutupnya mengakhiri sambutan. (na)

